Kinanti Larasati, seorang ibu rumah tangga yang sudah memiliki 2 orang anak. Kesehariannya hanya mengurusi urusan rumah dan buah hatinya.
Sebagai seorang istri, Kinanti ingin diperlakukan manis oleh sang suami, tapi nyatanya, suaminya itu tidak peduli. Yang ada, suaminya itu selalu mengomel dan menuntut setiap apa yang dikerjakan oleh Kinanti.
Hingga suatu hari, Kinanti lelah dengan sikap suaminya yang tidak memperdulikannya dan juga kedua anaknya.
Follow Ig dan FB othor.
- Ig : Roliyah579
- FB : Roliyah Roliyah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Kinanti tersenyum melihat Amar dan Sasa datang menjenguknya. Kekhawatiran nya yang sempat dirasakan, hilang sekejap. Bagaimana tidak, sebelum kecelakaan itu terjadi, ia mendorong Sasa dan Amar dan pastinya ada luka di tubuh Amar dan Sasa.
Kinanti kini tengah memeriksa tangan dan kaki Amar dan Sasa secara bergantian. Mencari luka di sekitar sana.
"Apa ini sakit?" tanya Kinanti, sambil menekan luka memar di siku Sasa.
Sasa mengangguk. "Tapi sekarang nggak terlalu sakit," jawab Sasa.
"Bener. Nggak bohong nih?"
"Bener mama ...."
"Kalau Abang, lututnya sakit nggak?" Kini Kinanti beralih ke Amar.
"Ini mah cuman luka kecil," jawab Amar enteng.
Sementara itu, Ibu Rohayani yang sejak tadi diam, kini mengelus tangan Kinanti. Ada setitik rasa bersalah karena Yoga sudah menyakitinya.
"Bu ...," Sapa Kinanti.
"Gimana keadaan kamu?"
"Sudah lebih baik," jawab Kinanti, sambil tersenyum.
"Syukurlah, ibu lega mendengarnya."
Ibu Rohayani menatap sendu wajah Kinanti.
"Kinanti ...."
"Iya, Bu, kenapa?'"
"Ibu mohon ... Lain kali jangan pergi lagi. Ibu sangat mencemaskan kamu dan cucu-cucu ibu."
Kinanti mengangguk pelan.
"Ibu juga minta maaf atas kesalahan Yoga, yang sudah menyakiti hati kamu. Jujur ibu sangat kecewa sama Yoga," sambungnya sedih.
Kinanti tak menjawabnya, rasa sakitnya masih sangat terasa di hatinya. Kinanti tak mungkin melupakan pengkhianatan Yoga terhadapnya.
Sakit tak berdarah. Itu yang dirasakan Kinanti.
"Sekarang ibu serahkan kepada kamu, keputusan apa yang ingin kamu pilih dan Ibu tidak akan melarang kamu meminta pisah sama Yoga. Itu hak kamu, karena kamu berhak bahagia."
Kinanti belum bisa memutuskan jalan apa yang akan ia ambil. Yang ingin Kinanti lakukan adalah ingin menata hatinya yang hancur.
Ya ... Yoga sudah menorehkan Luka yang sangat dalam di hatinya.
Perhatian Kinanti teralihkan kepada dua bocah yang tengah rebutan remote televisi.
"Ih, Abang jangan di ganti !" Seru Sasa, karena Amar Menganti serial kartun anak kembar yang kepalanya botak.
"Abang nggak suka sama kartun si botak itu. Mendingan ini bagus," tukas Amar yang lebih bagus kartun kesukaannya.
"Apaan! Ini tuh jelek, apalagi si bintang lautnya," ejek Sasa.
"Ini tuh lucu, daripada si botak." Amar tak mau kalah.
Sasa mencebikan bibirnya. "Mama ...!" Seperti biasa, Sasa mengadu.
"Abang ... adek, tolong jangan berisik. Kasihan mama, kan lagi sakit," ucap ibu Rohayani memberi peringatan.
Di saat itu juga, Yoga datang membawa makanan untuk Amar dan Sasa.
Kakak beradik itu langsung terdiam melihat papanya datang. Amar dan Sasa saling merapatkan tubuhnya dan tidak berani menatap wajah papanya. Sudah bisa dipastikan, kalau Amar dan Sasa bakal dimarahi jika bergaduh memperebutkan sesuatu.
Yoga mendudukkan dirinya di dekat Amar, lalu Yoga menarik Sasa dan membawanya ke pangkuannya.
"Jangan takut. Papa nggak akan memarahi Abang sama Adek," ucap Yoga lembut. "Tapi lain kali jangan rebutan, ada kalanya Abang harus mengalah sama adek, begitu juga sebaliknya, adek juga mengalah sama Abang."
Amar dan Sasa mengangguk mengerti.
Dibelainya rambut Amar dan Sasa. Yoga menatapnya penuh kelembutan, tak ada kemarahan yang tergambar dari bola mata Yoga.
"Maafin papa, karena selama ini papa selalu cuek sama Abang dan adek. Papa janji, papa akan selalu ada buat anak papa yang cantik dan ganteng ini." Seraya menoel hidung Sasa.
"Beneran ... Papa nggak bohong kan?" Seloroh amar.
"Papa tidak bohong dan papa janji akan ada buat Abang, adek dan juga ... Mama," ucap Yoga seraya menatap Kinanti.
Akan tetapi, Kinanti tetap terlihat dingin. Sekedar membalas tatapan Yoga pun Kinanti tidak mau.
Senyum Amar dan Sasa tersungging, lalu Amar dan Sasa langsung memeluk Yoga. Keduanya sangat merindukan kasih sayang sang papa yang sudah lama tidak didapatkannya.
"Adek sayang papa," ucap Sasa.
"Abang juga," timpal Amar.
Yoga tersenyum bahagia, akhirnya Amar dan Sasa memaafkannya. Sekarang tinggal Kinanti yang harus ia raih kembali hatinya.
Ibu Rohayani yang mengerti, ingin memberi ruang buat Yoga dan Kinanti. Ibu Rohayani mengajak Amar dan Sasa keluar dari sini.
"Abang, adek temani nenek ke minimarket."
Amar dan Sasa pun keluar menemani sang nenek pergi ke minimarket.
Setelah ibu Rohayani keluar, Yoga mendekati Kinanti. Namun, Kinanti justru membelakanginya.
'Sabar, Yoga , sabar ... Jika kamu ingin Kinanti memaafkan kamu, maka kamu harus pelan-pelan meraih hatinya lagi,' ucap Yoga di hatinya.
Beberapa menit saling diam, Yoga memberanikan diri membuka suara.
"Aku minta maaf ... Aku tahu kalau aku sudah menyakiti kamu dan aku sudah menyesalinya. Kesalahan ku memang sudah tidak bisa ditolerin lagi. Aku memang pantas mendapatkan hukuman dari kamu, tapi tolong ... Tolong maafkan aku." Yoga bersungguh-sungguh meminta maaf.
Namun, Kinanti tak menghiraukan permintaan maaf Yoga.
Hatinya sudah terlanjur sakit, walaupun ia bisa memaafkan Yoga, tapi rasa cintanya tidak akan seperti dulu lagi. Seperti gelas yang sudah retak, tidak mungkin bisa diperbaiki dengan baik. Begitu pula dengan cintanya, tidak akan sama.
Yoga menghela napasnya pelan. Yoga sangat sedih melihat wanita yang sudah menjadi istrinya tak lagi menganggap keberadaannya.
"Sayang ...." Lirih Yoga. Menyentuh kepala Kinanti, tapi Kinanti bergeming. Ia masih mempertahankan posisinya membelakanginya.
Akhirnya Yoga bungkam, tak bisa berkata-kata lagi.
Setelah lama saling diam, kini Kinanti mulai membuka suara.
"Aku ingin kita pisah."
Yoga terperangah mendengar perkataan Kinanti. Yoga tak percaya kalau Kinanti akan meminta pisah darinya.
"Aku nggak mau." Tolak Yoga tegas. "Aku tahu, aku salah sudah mengkhianati kamu. Aku sadar kalau aku tidak pantas mendapat kata maaf dari kamu, tapi kalau untuk pisah, maaf ... Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan kamu."
"Tolong ... Beri aku kesempatan kedua. Aku ingin memperbaiki kesalahan ku."
"Tapi aku nggak bisa. Hati ku sangat sakit atas pengkhianatan kamu."
Yoga bangkit dari duduknya dan memeluk Kinanti.
"Tolong ... Jangan hukum aku dengan perpisahan. Aku nggak akan sanggup berpisah sama kamu. Aku janji akan berubah dan tidak akan menyakiti kamu lagi."
Kinanti meronta, ia tidak sudi di peluk sama lelaki yang sudah menyakitinya.
"Kenapa baru sekarang kamu menyesalinya? Kamu tahu hancurnya hati aku, hah! Saat kamu selingkuh sama wanita lain, apa kamu memikirkan perasaanku? Tidak kan? Tapi kenapa saat aku sudah lelah dan ingin menyerah kamu ...."
"Aku minta maaf," potong Yoga cepat. "Ampuni aku ...."
"Maaf ! Gampang kamu bilang maaf. Percuma juga kamu menyesal. kepercayaan ku sudah hilang, bersamaan dengan luka yang sudah kamu torehkan."