Sekuel Ketos Itu Suamiku.
🍁🍁
"Nikah yuk, Bi!" ajak seorang cowok pada seorang gadis yang berjalan di dekatnya.
"Nggak mau!" balas gadis berkerudung lengkap dengan cadarnya tersebut. Menolak mentah-mentah ajakan menikah dari seorang cowok yang dia ketahui bernama Alther Davindra Bagaskara.
🍁
Siapa yang tidak mengenal cowok bernama Alther Davindra Bagaskara? Murid pindahan yang langsung menjadi most wanted di SMA Mahardika.
Wajahnya yang tampan paripurna, postur tubuhnya sesuai idaman para kaum hawa, serta praupannya yang dingin itu sungguh menjadikannya seorang pangeran di sekolah barunya. Bahkan statusnya sebagai ketua geng motor semakin menjadikan Al sebagai cowok idaman mereka.
Namun, siapa sangka jika cowok keren dan brandalan seperti Al malah jatuh hati kepada perempuan bercadar dan sangat menutup penampilan serta menjaga batasannya? Tidak akan ada yang percaya, bukan?
Siapakah perempuan yang berhasil menarik hati Al?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_yuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 20. Merasa Kotor
Bab. 20
"Kalau lo liat bidadari surga lewat sini, berarti lo udah ada di neraka, Jo!" sahut temannya dengan suara tawa yang keras.
Tangan Bina gemetar memegang erat setir motornya. Dia tetap berusaha untuk melewati sisi lain, namun sialnya bagian ujung motornya ditarik hingga terpaksa ia berhenti. Karena kini di depan dan di belakangnya ada dua orang pria yang menghadang jalannya.
"Maaf, bisa minggir sebentar. Saya mau lewat," ujar Bina tetap sopan meski suara nya terdengar gemetar karena takut.
Sedangkan beberapa pria itu malah tertawa dan saling menatap. Pria yang berada di depannya itu semakin mendekat, membuat Bina secara refleks segera turun dari motornya sebelum pria itu menyentuh atau menangkap dirinya.
"Hei, kenapa malah turun?" tanya pria itu. "Oh ... mau ikut kita nongkrong juga?" tawarnya dengan nada tidak jelas. Pria itu terus melangkah mendekat ke arah Bina, sedangkan Bina tetap berusaha menjauh.
Walau berat meninggalkan motor satu-satunya yang ia miliki, namun Bina lebih tidak rela kalau sampai orang itu menyentuh dirinya. Meskipun itu hanya sebatas tangan. Ia sangat menjaga batasan.
"Jangan mendekat!" pekik Bina tidak bisa menutupi rasa takutnya. Di tambah lagi keadaan jalan yang sangat sepi dan sedikit gelap.
Ia terus berjalan mundur, menjauh dari mereka. Namun, mereka juga tidak melepaskan Bina begitu saja.
"Tenang saja, Ukhti. Gue nggak akan nyakitin lo, kok. Palingan cuma ngajakin main dikit doang. Lo pasti belum pernah, kan?" kata pria itu seraya cengengesan. Sedangkan temannya yang lain menggeleng kepala melihat sikap pria yang paling aktif dari awal mengganggu Bina.
"Jangan lo sentuh, Jo! Lo nggak liat pakaian dia kayak gitu. Cewek mahal itu!" ujar salah satu temannya yang tetap duduk di tempat mereka, dengan beberapa botol yang ada di depannya.
Pria yang dipanggil dengan sebutan Jo itu malah tertawa.
"Justru karena dia Ukhti, gadis solehah, sudah jelas dia belum pernah disentuh, kan? Makanya gue mau kenalkan dia dengan permainan enak itu. Pasti ketagihan. Ya kan, Ukhti?" ujar Jo begitu kurang ajar. Apa lagi tatapan matanya yang menelisik penampilan Bina dari ujung kaki hingga kepala.
Walaupun tidak terlihat lekuk tubuh Bina sedikit pun, namun, dari pancaran mata indah yang berkedip gelisah sedari tadi sudah mampu membuat pria itu semakin tertarik. Lebih tepatnya tertantang untuk bisa menikmati produk mahal seperti gadis di hadapannya itu. Karena tidak semua orang bisa melihat aslinya.
"Tenang saja, Ukhti. Gue yakin kalau lo nanti pasti bakalan ketagihan. Ayo, sini! Gue ajarin. Nggak sakit kok. Malah bikin lo merem melek," rayu Jo yang semakin melantur.
Mendengar semua perkataan pria yang terus mendekat ke arahnya, membuat Bina semakin meremas bajunya. Keringat dingin bercucuran keluar dari balik bajunya. Kakinya bahkan terasa lemas, sangking takutnya. Namun ia tidak boleh seperti ini, ia harus segera pergi dari sini dan merelakan motornya kalau memang diminta mereka. Asal dirinya terselamatkan.
"Kalau kalian mau minta motorku, ambil saja. Biarkan aku lewat sini," ujar Bina mencoba memberi penawaran pada mereka.
Mereka terdiam, saling pandang, lalu setelahnya tertawa terbahak.
"Kita nggak butuh motor lo, Ukhti. Tapi kita butuh kehangatan tubuh lo," ujar pria iru secara terang-terangan.
Tidak mau bermain main lagi, pria itu melangkah lebar ke depan dan meraih tangan Bina yang berlapis handsock.
Bina menjerit memberontak. Sekuat tenaga berusaha lepas dari cengkeraman pria itu.
"Jangan sentuh saya! Toloooonggg!" teriaknya penuh emosi.
Air mata mengalir di kala merasakan jemarinya yang bersentuhan langsung dengan tangan pria itu. Sedangkan tangan pria itu yang berada di pinggang dan terus menarik tubuhnya agar merapat.
"Percuma lo teriak di sini. Nggak bakalan ada yang nolongin lo!" gertak pria itu. Dengan kasar terus menyeret tubuh Bina ke tempat yang lebih gelap dan menjauh dari jalan.
pengen tau kelanjutannya