Kiara Tizania tidak menyangka takdirnya akan seburuk ini, hanya karena dia pergi ke rumah temannya untuk meminjam buku yang tidak bisa dia beli karena harganya yang mahal.
Gadis yang akan lulus SMA itu harus terus berjuang agar bisa lulus sekolah di tengah kejadian buruk yang sudah menimpanya.
Arthur Maxian Lucas-- Pria dingin pemilik manik hijau yang adalah kakak dari teman Kiara, dia tidak sengaja sudah merebut hal berharga dari diri Kiara saat Kiara datang ke rumahnya.
Arthur yang kala itu terpengaruh minuman keras dan menyangka Kiara adalah kekasih yang mengkhianatinya dengan tega mengambil kesucian Kiara yang hanya ingin menolongnya waktu itu.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya setelah kejadian buruk itu terjadi? Akankah Arthur akan bertanggung jawab pada Kiara atau malah membungkam mulut Kiara dengan kekuasaan yang dia miliki.
IG : rinitri_87
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Putus part 1
Kaki Kiara sudah lebih baik dari kemarin. Dia sudah bersiap-siap untuk berangkat sekolah walaupun dia masih memakai tongkat.
"Ara, kamu makan dulu sana, ibu mau mengambil dompet ibu di kamar."
"Iya, Bu."
Kiara berjalan malas di meja makan. Di depannya sudah tersedia beberapa menit makanan yang adalah kesukaannya, tapi entah kenapa Ara tampak tidak berselera melihatnya.
"Ya ampun ini anak! Kenapa kamu belum mengambil makanan di piringmu, Ara? Cepat sarapan dulu terus minum obat dan pergi ke sekolah. Mba Tami akan mengantar kamu dulu ke sekolah, kemudian akan lanjut mengantarkan ibu ke rumah sakit untuk mendaftar buat kontrol."
"Aku tidak lapar, Bu. Apa boleh aku langsung berangkat sekolah saja," ucapnya malas.
"Tentu saja tidak boleh. Kamu harus makan dan minum obat supaya kaki kamu cepat sembuh. Apa kamu mau minum obat tanpa makan? Kalau malah menyerang lambung kamu bagaimana?"
"Iya, Bu." Kiara dengan terpaksa mengambil nasi dan ikan, dia makan dengan rasa malas.
"Nak, kamu ada masalah? Apa masalah dengan Elang?"
Kiara langsung melihat pada ibunya saat ibunya menyebut nama Elang. "Aku sama Elang baik-baik saja, Bu."
"Jangan bohong! Kenapa ibu tidak pernah mendengar kamu bicara sama Elang di telepon?"
"Kemarin dia menghubungiku dan kita bicara." Kiara melanjutkan makannya, tapi tidak lama dia kembali berhenti dan meletakkan sendoknya.
"Habis makanan kamu, Ara. Apa masakan ibu tidak enak?"
"Enak kok, Bu." Ara terdiam sejenak, dia seperti melamunkan sesuatu. "Bu, aku mau putus dengan Elang," ucap Kiara lirih sembari melihat pada ibunya.
Wajah wanita paruh baya terlihat sedih mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya.
"Kenapa putus? Apa Elang menyakitimu atau dia berselingkuh?"
Kiara menggelengkan pelan kepalanya. "Aku ingin putus saja, Bu. Aku mau fokus sama sekolahku dulu."
"Bukannya sejak kamu berpacaran dengan Elang, kamu semakin rajin, katanya supaya bisa kuliah bersama dengan Elang. Kenapa sekarang mau fokus sekolah seolah-olah Elang jadi masalah?"
Kiara bingung harus menjelaskan bagaimana. "Aku sudah tidak memikirkan masalah kuliah lagi, Bu. Aku mau membantu Ibu saja di toko kue."
"Nak, sebenarnya ibu juga tidak mau ikut campur urusan hubungan kamu dengan Elang. Kalau kamu memang ingin mengakhiri hubungan dengannya, ibu tidak akan melarang, asal setelah itu jangan ada yang sampai sakit hati atau sedih yang berkepanjangan. Bagaimanapun juga ibu lihat kalian selama ini saling mendukung satu sama lain. Ibu sangat bahagia melihat kalian berdua."
Ucapan ibunya ini malah membuat Kiara semakin merasa bersalah jika harus mengatakan putus pada Elang.
"Kiara, sudah sarapan dan minum obat? Kalau sudah, kita berangkat sekarang saja karena nanti Mba mau mengantar ibu kamu ke rumah sakit ambil darah sekaligus mendaftar karena kalau semakin siang akan lebih lama antrinya."
Kiara mengambil obatnya dan segera meminumnya. "Kita pergi sekarang saja. Eh, Mba Tami sudah makan?"
"Sudah, tadi ada tetangga sebelah mengantarkan nasi bungkus untukku."
"Tetangga sebelah? Oh ... Mas Banni itu." Kiara tampak tersenyum menggoda.
"Kenapa kamu mukanya seperti itu? Sudah, ayo!"
"Kamu itu sukanya menggoda Mba Tami saja."
Kiara terkekeh kecil. Dia mengecup punggung tangan ibunya dan berjalan keluar dengan memakai tongkat.
Kiara agak kaget saat sampai di depan pintu dan di sana ternyata sudah berdiri sosok yang sebenarnya dari kemarin dia rindukan.
"Elang?"
nanti kalau dapat omongan g baik mewek dan sakit hati padahal Kiara sendiri yang cari masalah sendiri kr g pernah mau berterus terang..