Rasa kecewa yang berkali-kali kualami atas perlakuan suamiku, Bram, dan keluarganya yang tidak pernah mengahargai sebagai istri dan menantu, akhirnyanya terlampiaskan.
Setelah bertahun-tahun tertindas, aku akhirnya menunjukkan perlawanan.
Ternyata tanpa aku duga sebelumnya, orang tua yang mengasuhku selama ini, bukanlah orang tua kandungku.
simak kelanjutannya dan mohon dukungan dari pembaca, untuk karya baru ku ini.🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
" Ketika air mata telah kering, seiring waktu rasapun hilang. Jangan dendangkan lagi syair cinta. Karena itu adalah kesia-siaan."
"Bram....," teriakan keras di depan pintu, lalu di ikuti gedoran pintu. Membuat aku dan Bram terkejut.
"Seperti suara ibu," pikirku. Aku dan Bram tengah menikmati sarapan pagi. Ketika ibu dengan emosi yang tertahan menerobos masuk, ke rumah.
"Ibu, ada apa datang pagi-pagi, Bu?" tanyaku heran.
"Hem," dengus ibu. "Mana, Bram?" ucap ibu mengacuhkanku. Karena dihalangi kulkas, ibu tak melihat, Bram, yang duduk di depanku.
Aku melihat wajah Bram yang mendadak, pias. Namun, aku tak paham apa yang telah terjadi. Ibu langsung duduk di sampingku.
"Bram, kamu lupa, ya? Ini sudah tanggal berapa?" lanjut ibu lagi. Bram hanya menunduk, seolah tak peduli dengan ucapan ibu. "Bram!"
"Maaf, Bu. Seperti yang sudah aku katakan, Bram tidak bisa lagi menyisihkan gaji, Bram, seperti dulu."
"Kenapa begitu mendadak! Kamu tau 'kan, Bram, kebutuhan ibu sangat banyak?" bujuk ibu memelas. Aku tersenyum mendengar percakapan itu. Ternyata, Bram, serius dengan ucapannya. Tentu saja, dia pasti ketakutan setengah mati dengan ancamanku.
"Ibu, sejak hari ini, mulailah berhemat. Bram, kira pensiunan mendiang Bapak sudah lebih dari cukup, untuk biaya hidup, Ibu."
"Jangan ajari, Ibu, soal gaya hidup, Ibu. Jika kamu memang tidak mau berbakti pada, Ibu, bilang baik-baik. Ini pasti ada kaitannya dengan, Reny. Iya 'kan?" cibir ibu ke arahku. Aku diam saja, bersuara pun percuma juga.
"Anak-anak sudah besar, Bu. Sudah waktunya, memikirkan hunian yang layak bagi mereka," jelas Bram.
..."Apa rumah ini sudah tidak layak kalian huni? Jikacuma kurang luas, kalian cukup renovasi beberapa bagian," saran ibu....
"Ini 'kan rumah, Ibu?"
"Apa yang salah dengan itu. Selama ini kalian menempati ini, atas izin Ibu. Pokoknya Ibu tidak mau tau. Bulan depan, kamu harus trasnfer uang seperti biasa pada ibu," tandas ibu lalu bergegas pergi.
Bram, hanya diam memandang kepergian ibu. Lalu ia menatapku penuh kebencian. "Sekarang kamu boleh tertawa puas, tapi ingat segera sesudah rumah itu selesai. Kita tak punya hubungan apa-apa lagi. Kewajibanku juga atas diri kalian selesai," ucapnya dingin. Diraihnya tas kerja yang di atas meja, pergi tanpa menoleh lagi.
Tidak semudah itu, Bram. Kami memang akan pergi, tapi sebelumnya akan kupastikan hidupmu hancur lebih dulu. Guman hatiku, memandang kepergiannya.
Bram, memang ingin kami segera hengkang dari kehidupannya.
Mungkin juga dia takut dengan vidio itu. Takut aku menyebarkannya. Dalam tempo 3 bulan rumah itu akhirnya selesai di bangun. Tinggal tahap penyelesaian saja.
Bram, memenuhi keinginanku membuatkan rumah untukku.
Aku sampai heran, sedemikian takutnyakah, Bram, akan ancamanku atau memang dia ingin aku segera pergi dari kehidupannya? Entahlah!
Bagiku semua itu tak penting lagi. Jika memang berpisah adalah cara yang terbaik, aku hanya cukup menjalaninya saja.
"Eh, bu Reny. Diam-diam aja udah mau pindah," sapa Bu Rani, saat jumpa di warung Wak Ratmi. Aku sedikit jengah mendengar kata-kata itu.
"Siapa yang mau pindah, Bu Rani?" Wak Ratmi bertanya memperjelas pendengarannya.
"Ini, Bu Reny. Rumah barunya udah selesai dibangun. Tinggal menempati aja. Senangnya, yang punya rumah baru. Semoga aku juga bisa nyusul bu, punya rumah baru. Dari pada ngontrak, pusing setiap bulan."
"Oh, Dek Reny mau pindah, ya? Ke rumah baru? Baguslah itu. Tapi, Wak akan merindukan, Devan dan Mitha," ucapnya menahan sedih karena akan kehilangan.
"Gak jauh kok, Wak. Tuh, di kaplingan Matahari Senja. Masih bisa main sesekali," ucapku menanggapi kesedihan Wak Ratmi.
"Iya, tapi dengan kesibukan Wak ini, mana sempat lagi main-main."
"Nanti, kami yang datang, Wak, saat ada waktu senggang."
Saat kami asyik, bicara. Ponselku berdering. Aku merogoh kantong celanaku, mengambil ponsel dan melihat siapa yang menelepon. Aku memberi kode untuk menerima telepon. Lalu, pergi ke ujung warung.
"Ada apa, Bu?" tanyaku saat kulihat ibu mertualah yang menelepon.
"Kamu di mana?" tanya ibu mertua dengan suara nada tinggi. Refleks, aku menjauhkan ponsel itu dari telingaku.
"Lagi, belanja di warung, Bu? Ada apa, Bu?" seruku heran.
"Cepat pulang, Ibu ada di rumah sekarang," perintahnya tanpa mengubah intonasi suaranya.
Hem, ada apalagi ini. Sepertinya ibu mertua tengah marah-marah dan menahan amarahnya padaku.
"Bu Rani, Wak Ratmi, aku pulang dulu, ya." Buru- buru kubayar belanjaanku.
"Siapa yang datang, Ren?" tanya Bu Rani heran.
"Ibu mertuaku, kok gak liat melintas dari sini, tadi?" tanyaku heran.
"Mungkin didalam becak yang baru melintas tadi," jelas Wak Ratmi. Jelas aku tak melihat karena membelakangi jalan raya. Segera aku pamit.
Setiba di rumah, kulihat Ibu dan Sarah telah duduk dengan angkuhnya di ruang tamu. Pintu memang tidak kukunci, jadi saat ibu mertua datang, beliau langsung bisa masuk rumah.
Tumben wajah ibu dan Sarah, seperti menahan kesal. Aku acuh saja.
Ada hal penting, bu? Tumben masih pagi, sudah main ke sini," ucapku basa-basi.
"Kamu ini, Reny, benar-benar keterlaluan," semprot ibu. Belum lagi aku sempat duduk di sofa.
"Keterlaluan bagaimana, maksud Ibu?"
"Masih juga pura-pura bodoh. Gegara kalian bangun rumah, ibu jadi kalian telantarkan!" Sarah yang menjawab.
"Maaf kak Sarah, aku bertanya sama ibu. Kakak ipar tidak ada hak menjawab. Karena memang bukan ranah kak ipar. Jadi tolong jangan turut campur," delikku tajam menikam.
"Ibu, apa yang telah aku lakukan sehingga ibu bilang, Reny keterlaluan. Jika soal, Bram, yang tidak memberi ibu jatah bulanan, bukankah Bram sudah menjelaskan secara gamblang sama ibu? Bram mendirikan rumah untuk keluarganya, anak- anaknya. Kenapa ibu protes dan keberatan? Selama ini Bram, memberi jatah sama ibu, Reny gak pernah keberatan. Sampai kami kelaparan, karena orang yang tidak seharusnya jadi tanggungan Bram juga ikutan minta jatah!" sindirku tajam.
"Maksud kamu, ibu tak pantas menikmati jerih payah anakku, begitu," sebut ibu emosi.
"Soal Ibu, Reny tak pernah keberatan. Dari dulu aku selalu ridho, Bu. Yang tidak aku ridho, Bu, ada perempuan asing yang turut menikmati, seolah itu pantas jadi haknya. Padahal dia masih punya suami!"
"Maksudmu, Bram, selama ini selingkuh? Siapa perempuan itu. Kamu jangan sembarangan memfitnah, ya!" serang ibu geram.
"Masalah itu, sebaiknya ibu tanyakan kakak ipar. Mungkin kakak ipar bisa jelaskan, secara detail," ungkapku.
"Apa maksudnya ini, Sarah. Jadi, selama ini kamu juga tau kalau, Bram, selingkuh. Kenapa, tak pernah cerita sama, Ibu," tatap ibu mertua penuh selidik pada Sarah.
"G-gak, Bu. Aku juga gak ngerti apa maksud, Reny," ucap Sarah gelagapan.
"Reny bilang, Bram, punya selingkuhan dan kamu pun mengetahuinya. Kenapa kamu tak pernah cerita ke Ibu?"
"Reny, ngaco, Bu. Aku tidak tau menahu soal itu," elak Sarah pucat pias. Matanya menatap tajam padaku.
Huh! Beraninya bawa ibu, ke sini pasti tujuannya untuk melabrakku. Memprotes atas pembangunan rumah itu. Setelah 3 bulan dia lupa ya kejadian malam itu. Tentang vidio yang aku kirimkan padanya. Dasar pecundang!
*****