Nayla Arthama seorang yang lugu, lemah, dan terlalu baik. Menjalani kehidupan yang begitu tragis, dikhianati oleh suami dan sahabatnya. Kedua orang tua, harta, bahkan nyawa yang satu-satunya ia miliki direnggut secara paksa.
Ia terbangun, dan kembali pada 3 tahun yang lalu sebelum menikah dengan suaminya. Kesempatan itu ia gunakan untuk merubah keadaan dan melakukan balas dendam.
Akankah Nayla berhasil merubah keadaan? Dan bagaimanakah cara dia membalas dendamnya?
***
Baca juga cerita My Son Is My Strength' yang sudah tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naaila Qaireen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan
Nayla menatap lurus pada beberapa paper bag yang baru saja diberikan oleh Abimayu. Dan ini merupakan pemberian pertama dari laki-laki itu selama mereka menikah. Dibukanya salah satu yang ternyata berisi dres merah.
“Kamu bisa mengenakannya di pesta nanti.” Abimayu masuk ke dalam kamar, memperhatikan Nayla yang tengah melihat hadiah pemberiannya. “Semoga saja ukurannya pas,” lanjutnya, lalu masuk ke kamar mandi untuk bersiap.
Abimayu menunggu Nayla yang masih berada di ruang ganti, malam ini keduanya akan menghadiri undangan dari Adison group.
Ceklek.
Nayla keluar dengan penampilan yang memukau, dres merah selutut sungguh pas di tubuhnya memperlihatkan pinggang yang ramping dengan betis putih mulus. Rambutnya ia biarkan tergerai dengan indah.
“Ayo, aku sudah siap.” Ajak Nayla pada Abimayu yang menatapnya tanpa berkedip. “Ayo,” ulang Nayla, dan barulah Abimayu menyahut.
“Y-ya.
Nayla mendorong kursi roda Abimayu menuju lift untuk turun, di sana sudah ada Alex yang menunggu mereka.
Tibanya di sana mereka berdua memasuki sebuah hotel ternama di kota itu. Baik Abimayu maupun Nayla, kedua langsung menjadi pusat perhatian dan perbincangan hangat.
“Tentu saja walau pun lumpuh pesona Tuan Muda Bhaskara tidak bisa diabaikan.”
“Ya, kau benar. Tapi walau begitu aku tetap tidak mau dengannya, dia itu tidak bisa apa-apa.”
“Apa maksud mu, buktinya bisnis keluarga mereka masih berjaya sekarang.”
“Ah, kau jangan sok polos. Dia itu tidak bisa memuaskan mu.” Kedua perempuan itu saling berbisik, lalu sama-sama tergelak.
“Hanya perempuan bodoh yang mau bersama laki-laki cacat,” gumam mereka.
Nayla sebenarnya ingin tidak peduli, tapi mendengar mereka mengatainya juga mengingat Abimayu adalah suaminya membuat ia tidak bisa diam lagi.
“Apa maksud kalian berkata seperti itu?!” Nayla menghampiri kedua perempuan itu yang mengenakan pakaian kurang bahan dengan make up tebal.
Abimayu sudah berusaha menghentikannya, tapi tak digubris oleh Nayla. Ia bukan lagi Nayla yang dulu, Nayla yang selalu membiarkan saja orang-orang menghinanya.
Kedua perempuan itu menatap remeh pada Nayla, berani sekali perempuan miskin ini meninggikan nada bicara pada mereka.
“Heh, kami tahu kau perempuan miskin dan murahan yang rela menikahi laki-laki cacat demi iming-iming harta!” kata salah satu dari mereka yang paling berani. “Asal kamu tahu, aku bisa saja membuat keluarga mu hancur dalam jentikan jari.” Lanjutnya lagi. Orang-orang mulai berkumpul memperhatikan, ikut mencemooh. Karena kebanyakan dari mereka tidak mengetahui latar belakang dari Nayla.
“Dan asal kau tahu dia berasal dari keluarga Andara pemilik perusahaan konstruksi terkenal di kota ini, juga merupakan tunangan dari tuan muda pertama Adison.” Ujar temannya.
“Jadi sebelum dia marah, lebih baik kau minta maaf atau tidak keluarga mu benar-benar akan hancur!”
“Itu benar,” Sania menanggapi dengan bangga, perempuan yang merupakan anggota keluarga Andara sekaligus tunangan dari tuan muda keluarga Adison.
“Oh ya?” Nayla menyunggingkan senyum. “Kita lihat, keluarga siapa yang akan hancur.” Perempuan itu meraih benda pipih canggihnya, jarinya menari dengan cepat di sana.
“Hallo.” Nayla melakukan panggilan.
“Ada apa mengganggu papa?” Nayla ingin sekali mencebir papanya, tapi saat ini tentu tidak tepat.
“Aku mau Papa menarik semua sahan keluarga kita dari perusahaan konstruksi keluarga Andara.”
Awalnya Arsyad bingung dengan permintaan tiba-tiba dari putrinya, tapi karena putrinya sedang menghadiri perjamuan tentu ia bisa menebak apa yang terjadi.
“Akan papa lakukan sekarang juga.” Panggilan mereka pun berakhir.
Satu dua orang yang mengenal Nayla menahan napas mendengar percakapan perempuan itu dengan ayahnya, dalam hati mereka merasa kasihan dengan tuan Andara atas perlakuan putrinya.
“Hahahah ... drama mu luar biasa.” Tawa Sania pecah, mengira itu hanya main-main. Nayla menyimpan kembali ponselnya dengan menatap dingin perempuan itu.
“Sania!” dua pria memanggil Sania secara bersamaan, kedua orang itu tak lain adalah tuan Andara dan tunangan Sania.
“Apa yang kamu lakukan?!” bentak tuan Andara murka, ia diberi tahu oleh kenalannya bahwa Sania tengah membuat masalah dengan keluarga Arthama dan apalagi ia baru saja mendapatkan panggilan dari Arsyad yang merupakan pemegang saham tertinggi di perusahaannya mencabut semua saham itu. Rasa marahnya mencapai ubun-ubun membuat ia sangat murka pada putrinya.
Tuan muda Adison langsung membatalkan pertunangan mereka, ia tidak ingin kebodohan Sania menghancurkan bisnis keluarga mereka yang baru saja naik daun.
Sania yang tampak bingung kini baru menyadari kesalahannya, ia menyadari sedang berurusan dengan orang yang salah. Teman Sania yang mendukungnya tadi hilang entah ke mana setelah mengetahui identitas dari Nayla. Ia tidak ingin mengambil resiko keluarganya ikut hancur seperti keluarga Sania.
“Tolong, maafkan putri saya Nyonya Bhaskara dia memang bodoh tidak bisa menjaga mulutnya.” Tuan Andara meminta maaf dengan sungguh-sungguh, berharap Nayla mau memberikan belas kasih. Karena kalau tidak, perusahaannya sudah dipastikan akan bangkrut. Tentu saja tidak akan ada yang mau memberikan suntikan setelah insiden ini.
“Maaf?! Tentu saja sangat mudah mengatakan itu.” Kata Nayla dingin. “Dia tidak memikirkan perasaan orang lain saat mengatakan itu, dan juga aku tidak akan menggunakan perasaan. Apalagi dia sudah menghina suami ku.” Perasaan tuan Andara mencelos, berbanding terbalik dengan Abimayu yang merasa Nayla sangat memedulikannya.
Sikap yang ditunjukkan Nayla membuat Abimayu kembali memikirkan perkataan Maya, perempuan itu merencanakan sesuatu untuk Nayla tapi tidak membiarkan ia mengetahuinya. Hanya menyuruhnya untuk melancarkan aksinya nanti.
“T-tuan Bhaskara, tolong maafkan atas segala ucapan putri saya.” Mohon tuan Andara yang kini berlutut pada Abimayu diikuti oleh sang anak Sania. “Tolong beri pengertian pada Nyonya Bhaskara,” lanjutnya mengatupkan kedua tangan, Abimayu diam tidak tahu mau merespon seperti apa. Jujur saja ia tidak terlalu memikirkan masalah mereka, karena fokusnya kini pada apa yang akan Maya lakukan kepada Nayla nanti.
“Percuma kau melakukan itu, aku tidak berbelas kasih. Lebih baik kalian menyingkirlah dari pandangan ku dan suami ku sebelum aku melakukan hal yang lebih jauh lagi.” Kata Nayla santai, namun terdengar menakutkan di telinga tuan Andara. Laki-laki itu pun menarik anaknya dengan paksa.
“Selamat datang Tuan Abimayu dan Nyonya Bhaskara. Maaf telah membuat kalian tidak nyaman di pesta kami,” sapa seorang pria paruh baya. Dia menjabat tangan Abimayu dan menyapanya dengan ramah. Lalu diikuti oleh istrinya.
“Saya senang, Anda datang pada acara anniversary perusahaan kami.” Ucap tuan Danu Adison yang merupakan pemilik acara.
“Tentu saja, dan selamat atas anniversary perusahaan Adison.” Balas Abimayu, dengan perasaan tak tentu. Ia tidak bisa menunjukkan rasa senangnya menghadiri acara ini. “Dan ini istri saya, juga datang mewakili Arthama Group.” Tuan Danu melakukan hal yang sama pada Nayla, memperlakukannya dengan ramah. Ia tidak boleh menyinggung perempuan ini yang identitasnya tidak sembarangan.
Tak lama ada rekan kerja Abimayu yang memanggil, membuat laki-laki itu harus meninggalkan Nayla. Kursi rodanya dibantu dorong oleh tuan Danu, yang bertingkah sangat ramah untuk mencari perhatian.
“Pergilah, aku baik-baik saja.” Kata Nayla dan barulah Abimayu meninggalkannya.
Selepas Abimayu pergi, laki-laki yang tak ingin Nayla lihat datang menghampirinya. Orang itu tak lain adalah Barra.
“Senang bisa bertemu dengan mu di sini.” Sapa laki-laki itu. “Dan terima kasih telah memberikan ku pekerjaan yang sangat menguntungkan.” Katanya dengan senyum yang dipaksakan serta nada bicara yang menahan amarah.
Nayla tak ingin meladeninya ia lebih memilih mengambil minuman dari seorang pelayan yang baru saja menawarinya.
Barra saling lirik pada pelayan itu, lalu melihat punggung Nayla yang semakin jauh. Ia pun menyunggingkan senyum devil.
Abimayu ijin ke kamar mandi, untuk mencuci tangannya. Tapi ia malah mendengar percakapan seorang pelayan yang memunggunginya.
“Target sudah meminum minumannya, Nona.”
*****
Bersambung...