Cinta hadir tanpa permisi, menelusup masuk melalui celah hati yang sebenarnya sudah bertuan.
Cinta memang buta dan tuli, hingga tanpa sadar Bryan seorang CEO perusahaan tembakau ternama, yang sudah memiliki tunangan meminta wanita yang berprofesi sebagai penari sekaligus karyawan di perusahaannya untuk menjadi wanita simpanannya. Wanita itu bernama Naina Anaclara.
Cinta tidak pernah salah, yang salah adalah waktu. Waktu mempertemukan mereka di saat yang tidak tepat. Karena cinta juga, Naina mau menerima untuk menjadi wanita simpanan Bryan.
Baru menjalin kasih terlarang selama dua bulan, Naina mengandung anak dari hubungan gelapnya bersama Bryan.
Akankah kisah cinta Naina berakhir bahagia bersama Bryan tanpa sepengetahuan dari Istri pertama lelaki yang sudah menjadikannya wanita simpanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeChan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20
British Madrid Tobacco
Naina telah tiba di kantor pukul 08.00 dengan menaiki taxi, karena hari ia merasa kondisinya kurang fit.
Biasannya Naina selalu menaiki lift khusus Bryan, yang hanya boleh dinaiki oleh CEO, asistennya, sekretarisnya dan klien yang menginginkan meeting di perusahaan BMT.
Karena ia merasa bukan bagian dari Bryan, ia memilih naik lift umum yang bebas dinaikin oleh siapapun. Setibanya di lantai 12 Naina langsung disambut oleh Mike yang sudah berdiri di depan pintu ruang kerjanya.
"Selamat pagi Nona Naina." sapa Mike dengan rasa hormat.
"Pagi Mike, tumben berdiri di sini? Mau mengawal Bos kamu?" tanya Naina sembari mengedarkan pandangannya mencari keberadaan seseorang.
"Anu, nona saya ke sini mau memperkenalkan asisten baru nona di kantor yang menggantikan Alice."
Mike menyampaikan dengan rasa gugup, karena perintah ini sangat dadakan yang keluar langsung dari mulut Bosnya. Naina menautkan kedua alisnya.
"Padahal belum satu bulan kerja di sini sudah ganti asisten saja, yah kerja dua kali deh."
"Tapi nona tenang saja, asisten kali ini sama cekatannya dengan Alice, tanpa nona menjelaskan padanya dia sudah tahu lebih dulu apa yang ingin nona perintahkan."
"Eh kenapa dia bisa baca pikiranku."
"Hem baiklah, semoga asistenku sama seperti kamu, selalu mengikuti perintah Bosnya yang entah benar atau salah tetap dikerjakan." kata Naina sengaja meledek Mike.
"Lupakan ucapanku yang barusan. Dimana asisten yang baru?"
Naina mengalihkan pembicaraannya karena melihat ekspresi Mike yang datar-datar saja, seperti tidak suka diajak bergurau olehnya.
"Dia ada di dalam sedang mempelajari berkas-berkas yang menjadi tugasnya."
"Oke terima kasih, sekarang kamu boleh kembali pada Bosmu." ujar Naina yang tidak tahu kalau Bryan masih berada di London.
Mike hanya mengangguk, ia tidak ingin banyak bicara dengan Naina sesuai perintah Bryan, padahal ia ingin sekali menjelaskan pada Naina bahwa Bosnya tidak ada di kantor.
"Ya sudah tunggu apa lagi? Silahkan pergi."
"Baik nona." jawab Mike sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Mike berlalu menuju ruangannya yang berbeda satu lantai di atas ruangan Naina. Naina ikut berlalu dan masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Terlihat sosok wanita yang tengah berdiri sambil memegangi beberapa lembar kertas, yang mungkin berkas pekerjaannya. Wanita itu membenarkan posisi berdirinya dan memberi salam pada Naina.
"Selamat pagi Ibu Naina. Saya Elsa Rosalinda Anastasia, yang akan menggantikan asisten Ibu yang sebelumnya." sapa Elsa dengan ramah sambil tersenyum manis.
"Selamat pagi Elsa, nama yang cantik sama seperti orangnya, kamu asli Spanyol?" tanya Naina seraya duduk di bangku kebangsaannya.
"Terima kasih atas pujiannya Bu, betul saya asli Spanyol." jawab Elsa lugas sembari berjalan menuju meja kerjanya yang berada di depan meja Naina.
"Semoga kamu kerasan dan menjadi partner kerja yang baik untuk kita berdua."
Elsa menganggukkan kepalanya sambil memperlihatkan senyuman manisnya lagi pada Naina, setelah itu ia duduk dan memulai kerjanya.
London
Elvia berjalan menyusuri anak tangga yang menghubungkan langsung ke kamar tamu yang ditempati oleh Bryan. Ia masuk ke dalam kamar Bryan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu karena pintu kamar tidak terkunci.
"Bryan tidak ada di ranjangnya, mungkin sedang mandi mau bersiap untuk pergi ke MANGO Corporate."
Elvia duduk di atas ranjang yang semalam bekas ditiduri oleh Bryan, semerbak harum tubuh Bryan menempel pada sprei membuat Elvia merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menciumi bantal bekas Bryan.
"Ehem"
Suara dehaman membuat Elvia terperanjat kaget, ia langsung bangun dan menatap tubuh Bryan yang ternyata hanya memakai handuk melilit di pinggangnya.
"Kamu ketahuan cium-cium tempat tidur bekas aku, cium aja langsung orangnya, nih" ujar Bryan memberikan tubuhnya untuk Elvia.
Bryan duduk di samping Elvia yang hatinya sedang berdegup kencang, tangannya bergetar dan mengeluarkan keringat dingin jika berada di dekat Bryan dalam keadaan sedekat ini, ditambah Bryan tidak memakai kaos untuk menutupi otot-otot sexy-nya.
Elvia memandang wajah Bryan sambil tersenyum, lalu ia mengecup kilas bibir Bryan dan berlari keluar dari kamar Bryan untuk menutupi wajahnya yang sudah bersemu merah merona.
"Dasar Elvia." gumam Bryan sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Bryan membuka almari yang katanya ada beberapa stel pakaian yang disediakan khusus untuknya bila sewaktu-waktu Bryan menginap di rumah Elvia. Ia mengambil setelan yang berada paling atas dan memakainya.
Setelah berpenampilan rapih, Bryan turun ke lantai 1 menuju meja makan karena semua penghuni rumah sudah menunggunya untuk sarapan bersama.
Mereka semua menikmati sarapan pagi dengan ditemani candaan dan gurauan yang dilontarkan pada kedua calon pengantin. Elvia senyum-senyum mendengar petuah dari kedua orang tuanya dan calon Mama mertua.
"Kalian mau kemana?" tanya Reina saat baru sadar melihat Elvia dan Bryan sudah rapih.
"Kita mau ke perusahaan MANGO Corporate Mam, katanya Bryan mau lihat produk-produknya langsung, siapa tahu bisa di ajak join bisnis, iyakan sayang?"
Bryan mengangguk mengiyakan. Kemudian keduanya berpamitan pada orang tua yang belum beranjak dari meja makan.
"Mah, nanti siang kita pulang ke rumah ya, kalau urusan aku di luar sudah selesai aku akan langsung jemput Mama."
Bryan memberitahu Reina agar berkemas untuk pulang dan memuaskan melepas rindu dengan sahabatnya, yang tak lain adalah Elisa. Karena Bryan tidak bisa jauh dari Naina terlalu lama.
"Bryan kok cepat banget sih pulangnya, kan baru sehari kita nginep di rumah Elvia."
"Mah kerjaan di kantor lagi numpuk banget, karena kan perusahaan kita lagi mau launching produk baru."
"Bryan biarin aja Mama kamu di sini dulu sampai seminggu ke depan, pasti Mamamu kesepian juga di rumah karena kamu terlalu sibuk bekerja."
Elisa mencoba membujuk Bryan agar mengizinkan Reina untuk menetap di rumahnya lebih lama lagi.
"Iya sayang, nanti Mama pulang bareng aku saja karena kebetulan seminggu lagi jadwal kita reading sama perusahaan media kan."
Elvia ikut membujuk Bryan demi kebahagiaan calon Mama mertuanya yang masih ingin bersama Ibunya.
Kemarin sore Bryan sudah membicarakan soal launching produk terbarunya pada Elvia, Bryan juga sudah memberitahu jadwal reading dan shooting iklan yang dibintangi oleh Elvia, Naina dan Tiger Shroff.
"Baiklah kalau itu bisa membuat Mamaku bahagia." kata Bryan mengalah untuk tidak memaksa.
Akhirnya Bryan sekalian pamit pada Reina, Elisa dan Edward, karena sepulangnya dari MANGO Corporate, ia akan langsung pergi ke bandara.
"Sayang ayo berangkat sekarang, karena Tuan Raymond nanti siang ada meeting di luar kantor." ajak Elvia pada Bryan yang ditahan oleh Edward karena diajak mengobrol.
Bryan berlalu menaiki mobil yang disupiri oleh supir pribadi Elvia, ia duduk di samping Elvia dan merebahkan kepalanya di pundak Elvia. Hari ini ia sangat merasa bahagia karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan Naina.
Aku mampir
Salam kenal, 💐😄