Percayakah kamu adanya kesempatan kedua?
Seolah semesta ingin menghukum sekaligus memberikan kesempatan kedua bagi Senja, gadis Arogan yang selalu bersikap sesuka hatinya, entah bagaimana saat membuka mata setelah dibunuh oleh kekasih dan asistennya, Senja berada dalam dunia novel yang dia tulis sendiri.
Lantas, bagaimana kisah Senja di dunia Novel?
Siapkan imajinasi liar Anda, berpetualang dengan Airin Senja!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.angela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolong
Senja masih tidak percaya apa yang dia dengar. Dengan santai, tuan Rudolf kembali menuturkan segalanya. Dia mengatakan bahwa saat berada di ruang operasi itu dia mendengar bahkan melihat apa yang sudah terjadi di sana, ketika rohnya terlepas dari tubuhnya.
Mungkin itu juga penyebab pria itu bisa melihat kalau orang ada di hadapan itu adalah Senja bukan Dinda.
"Sejujurnya aku juga tidak tahu, Tuan, bagaimana aku bisa terdampar, tempatku bukan di sini. Ini adalah dunia yang mana aku ciptakan sendiri dalam kisah novel. Entah apa tujuan alam semesta melempar ku ke dunia ini, hanya satu yang aku syukuri dari semua yang terjadi kepadaku, aku bisa bertemu kembali dengan kedua orang tuaku yang sudah lama meninggal."
"Kau tahu, mungkin kalau tidak karenamu, aku juga tidak akan selamat, artinya yang kusadari Tuhan mengutus mu untuk memberikanku kesempatan kedua. Menurutku begitu juga untuk dirimu, kau masuk ke dunia yang bukan dunia sebenarnya untuk mengajarimu menjadi manusia yang lebih baik seperti katamu tadi sikap dan juga perilakumu sangat buruk di dunia nyata dan surat yang menjelaskan apa yang harus kau perbuat di sini, semata membuat diri mu menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Kalau aku bisa kasih saran, mengapa kau tidak mengikutinya saja? Lihat masih ada 18 beban yang harus kau selesaikan agar kamu bisa kembali ke dunia mu," ucap tuan Rudolf.
Senja mengangguk lemah. Kenyataannya memang seperti itu, dia sendiri tidak tahu 18 perkara apalagi yang harus dilalui agar bisa kembali.
"Sudah jangan dipikirkan, intinya Om berhutang budi padamu, Om janji akan membantumu dan untuk sementara waktu tidak usah kamu ceritakan kepada orang lain mengenai hal ini, nanti kamu dianggap gila lagi," ujar tuan Rudolf sembari tertawa.
Senja setuju, dia juga tidak pernah membahas hal itu kepada siapapun. Dia tidak mau dikatakan berhalusinasi dan juga sudah gila. Tampaknya bicara kepada pria itu sangat menyenangkan, tidak hanya dirinya yang diberikan kelahiran baru tapi juga pria itu, kalau tuan Rudolf sudah bisa mensyukuri dan menerima kesempatan kedua mengapa dirinya juga tidak ikhlas saja untuk melakukan tugasnya di dunia ini? Kalaupun nanti dia kembali ke dunia nyata biarlah dia meninggalkan kesan yang baik bagi orang-orang yang mengenal dirinya di sini, atau kalau sebaliknya dia harus selamanya tinggal di dalam dunia novel ini, maka dia pun harus bisa dengan ikhlas menerimanya anggap saja itu sudah menjadi suratan tangannya.
Tuan Rudolf juga berjanji akan membantu mencari seseorang yang punya ilmu kebatinan untuk membantunya. "Ingat, jangan panggil tuan lagi, panggil Om!" perintahnya setengah memaksa, namun dibarengi senyuman.
***
"Apa yang kau bicarakan dengan ayahku? Apa kau mencoba memeras dengan meminta imbalan karena sudah menyelamatkannya?" ucap Edward yang langsung menodong pertanyaan pada gadis itu, setelah menutup pintu ruangan tuan Rudolf, bahkan Senja hampir terpekik kaget mendapati pria itu berdiri di depan pintu menunggunya keluar.
Senja memutar bola matanya, tidak menanggapi lalu meninggalkan pria itu. Tentu saja tidak semudah itu menghindar dari Edward, pria itu mengikutinya dan menarik tangannya membawa ke satu koridor yang jarang dilalui oleh orang.
"Lepaskan! Dasar brengsek! Untuk apa kau menarikku ke sini?" protes Senja menarik tangannya kembali tepat saat Edward juga menghempaskan tangan gadis itu hingga terlepas.
"Apa yang kau bahas dengan ayahku? mengapa dia ingin bicara denganmu secara pribadi?" ulang Edward, dia masih puas dengan tanggapan Senja.
Senja mendongak, memandangi wajah pria itu. Hatinya tergelitik karena mengakui bahwa pria itu ternyata tampan, bukan... tidak sekedar tampan, bahkan sangat tampan, hanya saja perilakunya yang seperti monster.
Tiba-tiba Senja ingat kepada Nasya, gadis yang pernah bertemu di mall bersama pria itu. Mengapa wanita itu bisa betah menjadi kekasih pria yang sombong dan juga kasar itu.
Satu ide muncul di pikiran Senja dengan membalas perilaku Edward yang sudah dari awal pertemuan mereka bersikap kurang ajar padanya.
"Aku minta kau menjawab, bukan malah memandangiku. Jangan bilang kau menyukaiku," tanya Edward malah dengan sombong.
Mendengar perkataan Edward yang penuh percaya diri membuat Senja semakin yakin untuk mengerjainya.
"Apa yang dibicarakan ayahmu denganku? Yakin kau mau tahu? Baiklah. Aku akan memberitahumu, ayahmu menyukaiku pada pandangan pertama dan karena rasa terima kasihnya sudah menyelamatkan nyawanya, tadi dia melamarku dan meminta untuk menikah dengannya, yang artinya aku akan menjadi ibu tirimu, maka mulailah belajar menjaga sikap terhadapku," ucap Senja dengan penuh berani menepuk pelan lengan pria itu dua kali sebelum berlalu pergi dari sana.
Edward belum bisa memaksimalkan pendengarannya, memastikan bahwa apa yang dikatakan gadis itu adalah hal yang tidak masuk akal, sementara Senja yang berjalan meninggalkannya tidak bisa mengulum senyum, bahkan dia tertawa merasa puas menggoda pria itu.
Senja membayangkan bagaimana Edward akan menanyakan hal itu kepada ayahnya. Biar saja mereka bertengkar, dia percaya tuan Rudolf akan bisa mengatasi putranya yang sok tahu itu.
***
Rudolf meminta kepada rumah sakit untuk menugaskan Senja yang memeriksanya. Dia tidak mengizinkan siapapun dokter menangani dirinya sampai dia dinyatakan sudah sehat dan boleh dibawa pulang. Jadi, selama ada di sana, Senja berperan menjadi dokter pribadi pria itu..
"Kamu mau kemana?" tanya Tina yang baru melihat Senja keluar dari lift, memeriksa dan memberi obat untuk tuan Rudolf.
"Mau tidur, beristirahat sejenak, aku lelah sekali," jawabnya terus berjalan.
Mes terlalu jauh untukmu kalau hanya untuk beristirahat sejenak, mengapa kau tidak tidur di ruangan pribadimu?" jawab Tina yang mengikuti langkah Senja.
Berhenti sesaat, Senja menoleh ke arah Tina untuk mencari kebenaran atas apa yang diucapkan sahabatnya itu.
"Kau belum tahu kalau pihak rumah sakit sudah menyediakan tempat beristirahat untukmu dan beruntungnya kamu juga boleh beristirahat di sana dan semua berkat dirimu. Duh, senang banget memiliki sahabat sepertimu," terang Tina memeluk Senja dengan tulus hatinya.
Dari Tina, Senja sudah tahu bahwa itu adalah perintah tuan Rudolf, selaku pemilik rumah sakit ini untuk menyediakan tempat khusus untuk dirinya.
Senja baru membuka matanya, tidurnya siang itu terasa sangat puas. Bahkan, dia terbangun kala senja sudah tenggelam. Kini dia merasa segar dan siap untuk beraktivitas tepat saat dia berada di lantai 1 ruang UGD di mana teman-temannya sering bertugas untuk pasien yang baru masuk, Senja melihat banyak pasien yang membludak, anak-anak kecil yang terluka di kaki dan juga tangan mereka.
"Ada apa, Tin? Kok banyak anak kecil di sini?" tanya Senja memperhatikan pasien yang memakai pakaian seragam yang sama, dia menebak bahwa pakaian pasien kali ini adalah anak-anak dari satu sekolah yang sama.
"Anak-anak ini melakukan study tour tapi bus yang mereka tumpangi terbalik hingga banyak yang terluka. Syukur kamu sudah bangun Din, saat ini banyak anak-anak yang memerlukan bantuan. Ada dua anak-anak yang tidak sadarkan diri, terlempar dari bus dan kepalanya terbentur ke batu," terang Tina sembari membersihkan luka seorang anak kecil berkepang dua.
"Lantas di mana pasiennya?" tanya Senja merasa iba, tangis anak-anak yang kesakitan kini memenuhi ruangan.