Di balik sapu yang digenggamnya, Bagas menyimpan kecerdasan yang tak pernah disadari siapa pun. Ia pun diam-diam memendam rasa pada Naya, wanita yang dunianya terasa sejauh langit dan bumi darinya. Dihimpit kemiskinan dan biaya pengobatan ibu yang mahal, ia bertekad mengubah setiap informasi yang didengarnya menjadi jalan keluar. Cintanya yang tulus perlahan meluluhkan hati Naya, meski harus berhadapan dengan penghinaan, saingan licik, dan larangan tegas orang tua. Saat segalanya tampak mustahil dan terhalang tembok kasta tinggi, Bagas pergi membangun kerajaan bisnisnya sendiri dari nol. Ia kembali bukan lagi sebagai OB yang diremehkan, melainkan pengusaha sukses yang membuat semua orang terdiam kagum. Bukti nyata bahwa kesabaran dan ketajaman akal mampu mengangkat derajat setinggi langit. Akhirnya, ia bersanding dengan pujaan hati, hidup bahagia, dan membuktikan bahwa nasib buruk bisa diubah menjadi kemewahan yang abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Hati yang Goyah & Kabar Buruk dari Jakarta
Malam itu hujan turun deras, memukul atap kontrakan kecil dengan irama yang membuat suasana hati makin kelabu. Bagas duduk di sudut ruangan, di dekat lampu bohlam yang cahayanya remang-remang. Di tangannya, ia menggenggam ponsel layar sentuh miliknya, satu-satunya jembatan yang menghubungkannya dengan Jakarta, dengan Naya, dan dengan semua kenangan yang menjadi alasannya bertahan sejauh ini.
Di layar ponsel itu, terbuka percakapan pesan singkat yang baru saja masuk beberapa menit yang lalu. Tulisan di layar itu, meski hanya rangkaian huruf digital, terasa menusuk jauh ke dalam ulu hati Bagas. Pesan itu datang dari Naya, wanita yang menjadi satu-satunya alasan ia banting tulang di tanah rantau, wanita yang janji setianya ia bawa kemana pun ia pergi.
Namun, isi pesan itu bukanlah kabar gembira atau kata-kata penyemangat seperti biasanya. Kalimat-kalimat yang tertulis di sana terasa kacau, penuh keraguan, dan seolah ditulis di tengah derasnya air mata yang tak terlihat.
"Bagas... Ayah semakin sakit. Dokter bilang kondisinya makin menurun, sering sesak napas dan sangat lemah. Aku takut sekali, Bagas. Keluarga besar terus menekan Ibu dan Ayah. Mereka bilang aku sudah tidak wajar menunggu begitu lama, menunggu ketidakpastian yang entah sampai kapan berakhir. Mereka sudah menentukan pilihan untukku. Ada seorang pemuda, anak pejabat, kaya raya, terpandang, dan menurut mereka, jauh lebih pantas mendampingiku daripada siapa pun."
"Aku sudah berjuang menolak, aku sudah menangis dan berdebat, tapi Ayah yang sedang sakit itu ikut memohon padaku. Dia ingin melihatku menikah dan bahagia sebelum kondisinya makin buruk. Aku bingung, Bagas, Haruskah aku terus menunggu di sini dalam ketidakpastian? Atau haruskah aku menyerah dan menuruti kemauan semua orang demi ketenangan Ayah? Beritahu aku, Bagas... apa yang harus kulakukan? Aku sudah tidak kuat menahan semua tekanan ini sendirian..."
Setiap kata yang muncul di layar itu terasa seperti pisau yang menyayat hati Bagas. Dunianya serasa runtuh seketika. Selama ini, ia berpikir bahwa meski berjauhan, cinta dan janji mereka cukup kuat menahan segala badai. Tapi kenyataan pahit kini datang menghantam lebih keras dari yang ia bayangkan. Di zaman yang serba cepat ini, jarak yang jauh dan waktu yang lama ternyata menjadi musuh terbesar. Janji yang dulu terdengar suci dan kuat, kini terasa samar, jauh, dan penuh tanda tanya.
"Apakah perjuanganku ini sia-sia?" batin Bagas bergetar hebat. "Aku di sini banting tulang, menahan hinaan, menghadapi bahaya, mengorbankan segalanya demi bisa pulang dan mempersuntingnya. Tapi di sana, dia mulai ragu, dia mulai didesak. Apakah aku bodoh karena menggenggam sesuatu yang mungkin sudah tidak ada lagi untukku? Apakah aku salah karena terlalu percaya pada janji di tengah dunia yang berubah begitu cepat ini?"
Di tengah kekalutan yang mendalam itu, sosok Laras kembali hadir, nyata dan hangat di depan matanya.
Hanya beberapa jam yang lalu, Laras datang berkunjung. Ia membawa obat-obatan terbaru untuk Ibu yang dipesannya lewat aplikasi, membawa makanan bergizi yang dipesannya secara daring dari restoran terbaik, dan seperti biasa, membawa senyum yang selalu meneduhkan hati. Ia duduk di samping Ibu, mengusap tangan wanita tua itu, berbicara lembut, dan mendoakan kesembuhannya. Laras tidak pernah bertanya seberapa besar saldo rekening Bagas, tidak pernah menuntut kapan Bagas akan sukses, tidak pernah membandingkan Bagas dengan orang lain. Laras hanya menerima Bagas apa adanya, seorang pemuda pekerja keras, jujur, dan berbakti.
"Bagas," kata Laras sore itu saat mereka sempat berbicara berdua di beranda sambil menyesap teh hangat, "Aku tahu berat sekali perjuanganmu. Aku tahu banyak yang menghalangi, aku tahu dunia ini kadang tidak adil. Tapi ingatlah satu hal, kamu tidak sendirian. Ada aku, ada Ayahku, kami ada di sini, nyata dan dekat. Kalau kamu lelah, berhentilah sejenak. Kalau kamu merasa beban ini terlalu berat, ingatlah ada bahu ini untuk bersandar. Kebahagiaan itu tidak harus dicari sampai ke ujung dunia atau menunggu bertahun-tahun lamanya, Bagas. Kadang ia sudah ada di depan mata, tinggal menunggu tanganmu untuk menyambutnya."
Kata-kata itu begitu manis, begitu damai, dan menawarkan kepastian yang selama ini makin hilang dari hubungan jarak jauhnya dengan Naya. Laras ada di sini. Laras nyata. Laras bisa ia hubungi kapan saja, bisa ia temui kapan saja, dan selalu ada untuknya. Bersama Laras, hidup akan terasa aman, terjamin, dan penuh kasih sayang. Ibu pun begitu menyayangi Laras, terlihat jelas betapa ibunya merasa tenang dan bahagia setiap kali gadis itu ada di dekatnya.
Namun, seolah tak cukup membuat hati Bagas retak, ancaman dari musuh pun datang semakin nyata dan mengerikan, masuk hingga ke depan pintu rumah mereka.
Malam itu, tepat saat hujan turun semakin deras dan pesan dari Naya baru saja masuk, terdengar suara gaduh di luar pagar kontrakan. Suara teriakan kasar, batu yang dilemparkan menghantam dinding rumah, dan tawa-tawa jahil yang mengerikan.
"Hei anak kampung! Keluar kau!" teriak suara lantang dari luar, disertai bunyi klakson motor yang dibunyikan berkepanjangan. "Ingat pesan kami? Minggir atau kami bakar sarang tikusmu ini! Jangan harap kalian bisa tidur nyenyak di sini!"
Bagas langsung melompat berdiri, darahnya mendidih bercampur ketakutan. Ia tahu siapa pelakunya. Dimas. Pemuda itu tidak puas hanya memblokir jalur usahanya lewat koneksi bisnis dan perbankan. Ia kini menyewa preman-preman jalanan untuk datang mengganggu keamanan mereka di malam hari, membuat hidup Bagas dan ibunya tak pernah tenang sedetik pun. Dimas bahkan tahu kapan Bagas ada di rumah, seolah ada mata-mata yang selalu mengawasi gerak-gerik mereka.
Di dalam kamar, terdengar suara Ibu yang terbangun kaget dan ketakutan. "Bagas... Bagas... ada apa itu? Siapa yang datang?" Suaranya gemetar, penuh kecemasan. Ibu yang kondisi kesehatannya belum stabil, kini kembali diserang rasa takut yang hebat. Jantungnya berdebar kencang, napasnya kembali memendek dan tersengal-sengal karena kaget mendengar teriakan dan benturan keras itu.
Bagas berlari masuk ke kamar, memeluk tubuh ibunya yang gemetar hebat. Ia mendengar suara-suara makin riuh di luar, disusul bunyi benda keras menghantam atap seng.
"Tenang, Bu... tenang... tidak ada apa-apa, hanya orang iseng," bujuk Bagas sambil menahan amarah dan air mata yang menggenang. Ia merasa begitu tidak berguna. Ia merasa begitu gagal. Ia yang berjanji akan memberikan kehidupan layak dan aman bagi ibunya, malah membawa wanita tua ini ke tempat di mana nyawanya terancam, tempat di mana ia harus hidup dalam ketakutan setiap malam.
Suara-suara itu baru pergi setelah cukup lama, meninggalkan suasana yang sunyi namun menakutkan. Ibu akhirnya bisa terlelap kembali, tapi dengan wajah yang masih pucat dan tangan yang masih dingin karena rasa takut.
Bagas duduk kembali di sudut ruangan, menatap layar ponselnya yang masih menyala, menatap pesan sedih dari Naya. Di sisi lain, ia seolah masih bisa merasakan kehangatan kebaikan Laras yang baru saja pergi. Di luar sana, ada ancaman nyawa dari Dimas yang mengintai setiap saat.
Konflik batinnya memuncak sampai ke titik paling tajam. Dua pilihan berat menggoda dan menekan jiwanya bersamaan.
Di satu sisi, ada Naya, cinta pertamanya, janji masa mudanya, mimpi yang ia bangun sejak ia masih menjadi petugas kebersihan. Tapi cinta itu kini terasa jauh, penuh ketidakpastian, terancam oleh keadaan, dan mungkin saja akan berakhir sia-sia. Mengejar Naya berarti ia harus terus bertarung mati-matian, menghadapi bahaya, menahan sakit, dan mungkin harus melihat ibunya terus hidup cemas dan terancam demi sebuah tujuan yang belum tentu bisa diraih.
Di sisi lain, ada Laras, wanita cantik, lembut, kaya raya, berhati mulia, dan ada di depan mata. Laras menawarkan cinta yang pasti, perlindungan yang kuat, dan kehidupan yang aman, nyaman, serta dihormati. Bersama Laras, ancaman Dimas akan lenyap seketika karena ia akan menjadi bagian dari keluarga pengusaha terbesar itu. Bersama Laras, Ibu akan hidup tenang, sehat, bahagia, dan dihormati orang. Bersama Laras, ia tidak perlu lagi kelaparan, tidak perlu lagi dihina, dan tidak perlu lagi takut pada siapa pun.
"Apa gunanya aku bertahan pada janji yang mungkin sudah tidak diharapkan lagi?" batin Bagas berteriak di dalam hatinya yang kacau. "Kalau aku menyerah pada mimpiku dan tinggal di sini... menerima kebaikan Laras... mungkin Ibu akan lebih bahagia. Ibu tidak akan sakit karena kekurangan gizi, tidak akan ketakutan mendengar suara gaduh di malam hari. Aku bisa hidup tenang, aman, dan dicintai sepenuh hati. Apakah salah jika aku memilih kebahagiaan yang ada di depan mata, daripada terus mengejar bayangan yang makin lama makin kabur dan menyakitkan?"
Malam itu menjadi malam terpanjang dan tersulit dalam hidup Bagas. Di antara deru napas ibunya yang lemah, di antara sisa suara hujan, dan di antara rasa sakit hati karena pesan dari Jakarta, Bagas terduduk diam, terbelenggu oleh dua pilihan yang sama beratnya. Ia sadar, keputusan apa pun yang ia ambil malam ini, akan mengubah seluruh nasib hidupnya selamanya.