Menjadi seorang anak yatim piatu yang ditinggalkan kedua orang tuanya karena kecelakaan, kini Ayuna Kinanti Pradipta diasuh dan dibesarkan oleh om nya, Davian Robert adik dari Ibu Ayuna.
Biasa tinggal bersama Davian, membuat perasaan Ayuna perlahan berubah, jantung Ayuna bahkan berdebar kencang saat berada di dekat Davian.
Tak bisa lagi menahan perasaannya, Ayuna pun akhirnya mengungkapkannya kepada Davian.
Lantas bagaimana tanggapan Davian saat keponakannya sendiri mengungkapkan cinta padanya?
Akankah Davian menolak perasaan Ayuna atau justru menerimanya?
Ikuti ceritanya yuk di novel berjudul You Are My Sunshine, hanya di Noveltoon!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 1PM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Yuna menatap Winda dengan pandangan memelas, dia ingin menyalakan Winda, karena gadis itu mengagetkannya, bahkan sampai membuat dia jadi mengirim pesan yang tidak seharusnya dikirimkan.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Winda yang melihat Ayuna kembali melihat ponselnya.
Buru-buru Winda merebut ponsel Ayuna dan matanya membelalak seketika.
"Kamu…" ucapnya menggantung.
"Bagaimana ini?" Tanya Ayuna bingung sambil terus melihat pesan yang tadi dikirimnya.
Winda tampak berpikir kemudian mengetikan sesuatu, kemudian mengembalikan ponsel kepada pemiliknya.
"Gampang kan?" Ucapnya tersenyum.
Ayuna melihat apa yang tadi Winda ketik, kemudian ikut tersenyum.
"Makasih Winda," Yuna kemudian memeluk Winda dan Winda pun membalas pelukan Yuna sambil menepuk-nepuk punggungnya.
"Tunggu!" Yuna buru-buru kembali melepaskan pelukannya.
"Lalu jika Om Davian bertanya?"
Keduanya tampak berfikir.
"Ah aku tahu," Yuna dan Winda berucap bersama menjentikan kedua jari mereka saat tahu jawabannya.
Ayuna kemudian menatap Winda yang tengah tersenyum kemudian menyadari sesuatu lalu berkata.
"Winda kamu sudah tidak marah lagi kan sama aku?"
Senyum Winda seketika hilang, kemudian kembali mengalihkan wajahnya tidak mau menatap Ayuna lagi.
"Winda jangan marah ya, maafkan aku…" rengek Yuna membuat Winda menghela nafasnya.
"Baiklah aku akan memaafkanmu," ucapnya kemudian.
Tentu saja hal itu membuat Ayuna senang dan langsung memeluk Winda.
"Akh sakit," Ayuna meringis pelan, merasakan sakit saat terlalu kencang memeluk temannya.
"Makanya pelan-pelan! sakit kan jadinya," ucap Winda melepaskan pelukan dan menatap tangan Yuna, merasa ngilu sendiri saat melihatnya. Winda kemudian mengangkat wajahnya kembali menatap Yuna menanyakan sesuatu yang baru diingatnya.
"Tunggu jadi kamu…"
Ayuna mengernyitkan dahi tidak tahu maksud perkataan temannya itu.
Winda mendekat dan berbisik pada Ayuna. Seketika membuat Ayuna melotot.
"Darimana kamu tahu?" Tanya Ayuna menanggapi ucapan temannya.
"Jadi benar?"
Ayuna mengangguk lemah, "Tapi Om Davian tidak menyukaiku, dia sudah memiliki kekasih," lirih Ayuna dengan wajah yang menunduk.
Winda ikut terdiam, dia lihat jika temannya itu benar-benar menyukai om nya.
"Masih kekasih bukan? Bisa putus, kamu bisa mendapatkannya," ucap Winda dengan seringaiannya.
Ayuna refleks menoleh dan menatap Winda.
"Dan kau bisa menggoda Om Davian," tambahnya lagi.
Ayuna terdiam tampak memikirkan pada apa yang Winda katakan.
"Tunggu!" Winda membuka tasnya dan menyerahkan sebuah buku pada Ayuna.
"Kamu bisa belajar dari buku itu," ucapnya lagi.
Ayuna menatap buku yang ada di atas meja ragu. Hingga kemudian terdengar bel masuk berbunyi dan Ayuna buru-buru mengambil buku itu dan memasukkannya ke dalam tas.
*
*
Saat meeting sedang diadakan, dan ketika seseorang sedang berdiri di depan menjelaskan tentang project yang akan dijalankan, Davian pelan-pelan membuka ponselnya yang tadi berbunyi.
Membaca pesan itu, refleks membuat tangan Davian mengepal erat.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, aku pasti akan menggagalkannya," geram Davian dengan suara yang cukup kencang lupa jika dirinya kini sedang di ruang rapat.
Semua orang baik pemegang saham dan karyawan terkait dengan project baru mereka menatap heran ke arah Davian. Ada yang tersenyum dan ada yang menunduk takut dengan apa yang baru saja dirinya katakan.
"Tuan apa Anda tidak setuju dengan ide kami kali ini," kata karyawan yang berdiri tadi takut-takut dan harap cemas, Davian akan menolaknya.
"Tuan!"
"Tuan!"
Panggilan seseorang menyentak Davian dari lamunannya.
"Menurutku ide mu cukup bagus, kamu bisa melanjutkan presentasinya," ucap Davian kemudian.
Ternyata walaupun sedari tadi pikirannya tertuju pada Ayuna, pria itu tetap fokus dengan pekerjaan, terbukti dia masih bisa memberi tanggapan tentang presentasi salah satu karyawannya itu.
Davian berharap agar meeting ini cepat selesai dan dirinya sudah tidak sabar untuk pulang untuk menanyakan apa maksud Ayuna sebenarnya. Dia tidak setuju dengan apa yang Ayuna katakan pada pesan yang dikirimkannya.
Rapat berakhir, Davian buru-buru bangkit dan berjalan keluar, di luar Reza sudah menghadangnya dan membisikkan sesuatu.
"Bagus, kalau bisa dimulai besok, aku tidak mau terlalu membebaskan Ayuna lagi," kata Davian yang melanjutkan langkahnya di ikuti Reza yang mengekor di belakangnya.
…
"Yuna kamu sudah pulang sayang?"
Yuna yang baru mau naik ke tangga langsung menghentikan langkahnya begitu mendengar suara seseorang.
"Iya aunty," kata Yuna yang kemudian berjalan mendekat ke arah Ana.
Di sofa, Ana dan Ello tengah menonton tayangan televisi kesukaan Ello.
"Aunty sudah memasak, kamu ganti baju dulu, nanti kita makan sama-sama, oh ya bagaimana dengan Om mu? Kapan dia pulang biasanya?"
Yuna melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sepuluh menit lagi juga pulang, ya sudah aunty, Yuna mau ke kamar dulu," pamit Yuna dan segera menaiki tangga menuju kamarnya.
"Yuna apa perlu aunty bantu untuk mengganti bajumu?" Tanya Ana.
Yuna menggeleng, dia akan meminta bantuan Bibi seperti tadi pagi. Sebenarnya dirinya ingin Davian yang membantu, tapi rasanya tidak mungkin karena di rumahnya masih ada aunty Ana.
Begitu sampai di kamar, dia langsung merebahkan dirinya di atas ranjang.
"Akh!" Dirinya meringis saat merasakan sakit pada tangannya, rasanya Ayuna ingin segera sembuh dan bebas melakukan apa saja.
Dirinya kemudian buru-buru bangun saat mengingat buku yang Winda berikan. Dia membuka tas nya kemudian membuka dan membacanya, wajah Yuna memerah saat tiba-tiba dirinya membayangkan seperti apa yang dituliskan di buku. Yuna membuka lembar demi lembar dan berhenti ketika mendengar pintu kamarnya diketuk.
"Masuk!" ucap Yuna dan buru-buru menyembunyikan bukunya di bawah bantal. Yuna kini tengah sibuk merapikan bantal agar terlihat lebih rapi.
"Bibi tolong ambilkan pakaianku dulu," ucap Yuna tanpa menoleh.
Dan Yuna bisa mendengar langkah seseorang menjauh yang Ayuna yakin sedang menuju ke walk in closet tapi tak lama, sudah segera kembali.
"Cepat sekali Bi…," ucapan Yuna terpotong saat melihat bahwa ternyata orang yang masuk bukan Bibi yang bekerja di rumahnya melainkan adalah Davian om nya.
"Om aku kira tadi…"
"Tumben," ucap Davian sebelum Ayuna menyelesaikan ucapannya.
Dahi Yuna mengernyit tidak mengerti.
"Tuh!" Davian menunjuk bantal Yuna dengan dagunya.
"Oh ini? Tadi aku tidak sengaja menjatuhkannya, dan ini baru saja di
ambil, ya sudah sekalian aku rapiin. Oh ya Om ngapain kesini?" Tanya Yuna menatap Davian.
"Om hanya…"
"Kok kalian malah ngobrol disini sih," ucap Ana yang tiba-tiba saja ada di belakang Davian.
"Ayo kita makan dulu!" Ajaknya menatap Davian dan Yuna bergantian.
Hingga tatapan Ana berhenti pada Ayuna.
"Yuna kenapa dari tadi kamu belum mengganti baju? Apa Bibi belum kesini? Ya sudah kalau begitu biar aunty yang membantumu," ucap Ana dan mengusir Davian keluar.
Davian diam dan menurut, dia meninggalkan kamar Yuna dan menuju ruang makan terlebih dahulu. Seperti biasa Davian duduk di samping Ello yang sudah duduk di kursi menunggu mereka semua.
Dan tak lama Ana dan Yuna pun turun. Mereka menarik kursi masing-masing dan duduk disana.
"Oh ya Davian katanya kamu sudah memiliki kekasih? Kenapa kau tidak mengajak kesini dan memperkenalkan pada Kakak selagi Kakak masih ada disini?" Tanya Ana menatap Davian yang sedang mengambil makanannya.
Mendengar pertanyaan Ana, Ayuna yang penasaran ikut menatap ke arah om nya, ingin tahu bagaimana jawaban Davian pada apa yang tadi Ana tanyakan.
Apakah cinta baru akan mampu bertahan saat cinta pertama memiliki kenangan dan ruang tersendiri? Cari jawabannya di MY OWN KOREAN DRAMA
Chris McKenzie akan membawa kalian mengarungi indahnya cinta pertama dan bagaimana akhirnya dia dipertemukan dengan cinta baru. Siapa yang akhirnya dapat memenangkan aktris Korea Selatan Christina MacKenzie? Mantan bosnya atau member boyband GuBoy? Well.... kalian harus mengikuti kisahnya agar mengerti.
baru nyimak💪💪💪