Jin Fei fan harus menerima pemegang takdir sang penjaga berikutnya. Dia harus berjuang lebih keras untuk pantas menjadi sang penjaga dan agar dapat berjumpa dengan kedua orang tuanya yang dia ketahui berada di dimensi berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neneng selfia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beri ampun atau tidak?
Melihat itu semua para warga yang bersembunyi diam-diam bersorak gembira dalam hati. Apa yang menimpa para bandit hari ini seolah menjadi pelampiasan kebencian dan kekesalan mereka terhadap para bandit yang selalu bersikap semena-mena di kawasan itu.
Semua bandit terbaring tak berdaya di atas tanah. Sementara Yang ruo dan yang lainnya berdiri santai menatap remeh ke arah mereka.
"Maafkan kami tuan muda. Kami bersalah karena telah menyinggung kalian." ucap seorang pria sambil bersujud.
"Maafkan kami tuan muda, ampuni nyawa kami." ucap Wie li.
"Mengampuni atau tidak itu bukan keputusan aku." ucap Yang ruo.
"Tolong ampuni nyawa kami nona muda." mendengar ucapan Yang ruo, mereka beralih ke Fei fan untuk memohon pengampunan karena mereka lihat, Yang ruo dan yang lainnya menghormati Fei fan.
"Kami tidak seharusnya menyinggung orang yang kuat seperti nona muda. Tolong ampuni kami nona muda." ucap pemuda lainnya.
"Jika itu berbalik kalian semua kalah dari mereka semua, maka nyawa kalian tidak akan pernah mereka ampuni." tiba-tiba Fei fan mendengar suara entah dari mana.
"Apakah itu sebuah transmisi suara?" gumam Fei fan.
"Tapi, ucapan orang itu ada benarnya. Bahkan kakek mengatakan bahwa mengampuni musuh sama artinya dengan jahat pada diri sendiri." gumam Fei fan lagi.
"Tapi, menghabisi nyawa manusia begitu saja juga bertentangan dengan ajaran kasih sayang yang nenek buyut juga nenek ajarkan padaku." gumam Fei fan bimbang.
"Mengapa anak muda itu tidak menghabisi saja para bandit itu?" tanya seorang pria yang sedang bersembunyi pada temannya.
"Mungkin karena mereka tidak pernah membunuh orang sebelumnya. Mereka ragu untuk menghabisi nyawa mereka." jawab seorang wanita tua.
"Tapi, apakah anak-anak itu tidak tahu kalau para bandit itu bisa saja kembali membalas dendam jika tidak dihabisi?" tanya pemuda yang lain.
"Mungkin bagi mereka, para bandit itu hanya sampah yang tidak berguna yang hanya bisa mengotori tangan mereka. Aku tidak menyangka kalau sekumpulan anak muda dapat mengalahkan para bandit yang bahkan raja tidak berani mengusik mereka." ucap seorang pria tua.
"Ya, mereka semua sangat hebat. Sepertinya, nona muda mereka yang masih sangat muda itu jauh lebih hebat dari mereka semua." ucap pemuda yang lainnya.
Ada banyak bisikan bisikan dari para warga yang bersembunyi di sekitar. Fei fan yang memiliki kultivasi tingkat tinggi tentu mudah untuk mendengarkan suara bisikan mereka.
"Lumpuhkan saja kemampuan bertarung mereka jika kau tidak tega memb*nuh mereka." kembali suara itu terdengar oleh Fei fan.
"Sepertinya itu pilihan paling tepat." gumamnya.
Fei fan berdiri lalu mengangkat tangan kanannya. Sekumpulan energi terkumpul di atas telapak tangannya. Setelah itu energi itu menyebar seperti sambaran petir lalu mengenai semua tubuh para bandit itu.
"Argh akh...." mereka semua memekik kesakitan lalu terkulai lemah.
"Aku mengampuni nyawa kalian semua. Tapi, karena kalian selalu membuat para warga resah dengan ulah kalian semua. Aku melumpuhkan kekuatan kalian dan selamanya tidak akan bisa berkultivasi ataupun bertarung." ucap Fei fan lalu meninggalkan tempat itu.
"Oh Dewa... Apakah gadis kecil itu utusan para Dewa yang diutus untuk menyelamatkan kita dari para bandit itu?" ucap seorang wanita tua penuh haru.
"Suamiku kau pasti melihat itu dari atas sana bukan? Lihatlah dendam kematian kau juga ayah dan ibu mertua telah dibalaskan." seru seorang wanita dengan air mata berderai membasahi pipinya.
"Kalian jangan terlalu cepat bahagia. Apakah kalian lupa dengan kakek leluhur para bandit itu?" ucap seorang pria muda.
"Oh, kami melupakan pria gila itu. Apakah nona kecil itu dapat menandingi kekuatan pria tua itu?" ucap wanita yang berseru haru tadi.
"Sulit untuk mengatakan iya. Walau bagaimanapun, pria tua itu sudah berkultivasi selama puluhan tahun sedangkan nona muda itu baru berumur sekitar 10 tahun saja. Apakah mereka dapat dibandingkan?" saut pemuda tadi.
"Kalian bertiga ikuti kelompok itu diam-diam. Siapa tahu kakek gila itu akan membalas dendam anggotanya. Kita harus tahu apa yang terjadi pada mereka nantinya." ucap pemuda itu pada dua orang yang sepertinya adalah pelayan pribadinya.
Di tempat lain tidak jauh berbeda, dua kelompok lainnya juga diserang dan para bandit kalah telak. Bahkan di dua kelompok itu, tidak ada satupun bandit yang dibiarkan selamat. Sebagai pemimpin kerajaan juga keluarga besar, Wei Yan dan si kembar Ouyang memang dididik lebih keras. Mereka tidak ada ampun untuk musuh yang menginginkan nyawa mereka.
Mereka bertemu kembali di tengah kota lalu memutuskan untuk segera kembali ke kapal karena semua toko dan kedai sudah tutup.
"Mengapa kota ini begitu cepat sepi? Masih terlalu awal tapi kedai dan toko sudah tertutup rapat bahkan tidak ada seorang pun yang berlalu lalang di sekitar selain kita?" tanya Huang si.
"Apakah kelompok kalian tidak dicegat oleh bandit sebelum ini?" tanya Fei fan.
"Iya, kami dicegat bahkan di tengah jalan dekat pertokoan." jawab Huang hu.
"Kami juga." saut Yuan li.
"Mereka semua pasti takut pada para bandit itu. Lihat saja, para bandit bahkan berani bertindak di tempat yang seharusnya ramai." ucap Fei fan.
"Ternyata menghabisi mereka semua adalah pilihan terbaik." ucap Huang si.
"Ya, mereka semua lebih baik tidak ada di muka bumi ini." saut Huang hu.
"Bagaimana dengan kalian?" tanya Huang hu.
"Aku melakukan hal yang sama dengan kalian." jawab Wei Yan.
"Aku hanya melumpuhkan kekuatan mereka sehingga tidak bisa kembali berkultivasi dengan cara apapun." saut Fei fan.
"Itu jauh lebih mengerikan nona muda." ucap Huang hu.
"Ya, di dunia yang mementingkan kekuatan, mereka yang memiliki banyak musuh pasti lebih memilih mati dari pada hidup menjadi orang tidak berguna." saut Huang si.
"Sebaiknya kita segera kembali ke kapal karena aku sudah sangat lapar dan tidak ada kedai makanan yang terbuka untuk kita makan." ucap Wei Yan.
"Kita harus lebih waspada. Para bandit itu memiliki keberanian untuk menindas rakyat dengan sesuka hati pasti ada seorang ahli yang menaungi mereka." ucap Fei fan.
"Ya, ucapan nona muda ada benarnya. Kita harus lebih waspada." saut Yuan li.
"Apakah kalian merasakan kalau ada yang mengikuti kita?" tanya Huang hu.
"Ya, biarkan saja. Mereka hanya rakyat biasa yang penasaran apa yang akan terjadi jika kita bertemu dengan orang terkuat di perkumpulan para bandit itu." saut Fei fan.
"Bagaimana nona muda itu tahu apa tujuan kami mengikuti dirinya?" batin salah satu dari 3 orang yang memang mengikuti mereka.
Jangan lupa klik like, love dan komentar ya😊
terhura aq thor.....