Hiatus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alput2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buku Olimpiade
"Gua udah kalah 8 kali. Masa lu gak kalah kalah?", Fina protes dalam permainan quis biologi dengan Tiara. Wajahnya sudah full dengan tepung . Mulai dari pipi, hidung rambut, leher, bahkan sampai baju sudah banyak bercak tepung.
Sebaliknya, Tiara masih bersih.
Permainannya, dimulai dari kuis biologi secara bergantian. Siapa yang tidak bisa menjawab dalam 5 detik, atau jawabannya salah, maka harus mencemplungkan wajahnya ke dalam tepung.
Tiara sengaja memilih pelajaran biologi supaya dia tidak bisa kalah.
"Ya jawaban gue bener terus, ya gak kalah lah"
"Udah deh, kita main yang lain aja", ujar Fina lalu berfikir sejenak.
"Truth or dare", lanjut Fina sambil tersenyum miring, lalu cengengesan sendiri.
"Ah, lu diem diem pingin tau rahasia gue ya?", Tanya Tiara sembarangan . Fina menatap datar ke arah Tiara, dan memilih tak menjawab pertanyaan anak itu.
"Ya udah mulai", lanjut Tiara.
Lalu Fina pun memutar pinsil. Kalau arah ujung pinsil ke arah Tiara, atau mendekati Tiara, berarti Tiara yang akan ditanya truth or dare. Begitu juga sebaliknya.
"Yahh, malah gue yang kena", ujar Fina sambil menatap kecewa ke arah pinsil yang tertuju ke arahnya.
"Truth or dare?", Tanya Tiara.
"Dare", jawab Fina.
"Yakin?", Tanya Tiara.
"Iya"
"Yaudah, gua mau lu ngomong I Miss you ke mantan lu", ujar Tiara santai tanpa merasa berdosa.
"Heh!"
"Kan lu minta dare"
"Tukar deh, truth aja truth"
"Oke, pertanyaan nya, pernah gak lu ngomong I Miss you ke mantan lu?", tanya Tiara.
"Ih! Gitu amat pertanyaan nya!", Protes Fina .
"Tinggal jawab ya atau enggak"
"Enggak!", Jawab Fina galak.
Setelah itu mereka memutar pinsil lagi. Pinsil menuju ke arah Tiara.
"Gue mau truth", ujar Tiara. Fina terlihat berpikir sejenak.
"Oh! Iya!", Tiba tiba Fina seperti orang yang baru mendapatkan ide baru.
"Apa bunga kesukaan Lo?", Tanya Fina.
Tiara mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Fina.
"Lu mau ngasih gue bunga kah?", Tanya Tiara.
"Udah, jawab aja napa"
"Bunga.. anu, bunga bangkai, Raflesia Arnoldi", jawab Tiara bohong.
Sementara Fina menatap datar ke arah Tiara.
"Serius dong jawabnya!", Protes Fina.
"Udah serius itu", jawab Tiara.
Lalu mereka kembali memutar pinsil. Tiara kena lagi.
"Gue mau truth aja deh", ujar Tiara.
"Hm.. apa makanan kesukaan Lo?", Tanya Fina.
Nih anak kenapa nanyain makanan kesukaan gue?, Batin Tiara.
"Itu.. anu, sate .. biawak"
"Serius!"
"Udah serius, sumpah!", Ujar Tiara.
"Kalo gue kasih sate biawak lu makan sampe habis ya.."
"Enggak enggak. Makanan kesukaan gue... apa ya? Gua di kasih makanan apapun ya mau mau aja", ujar Tiara.
Fina menghela nafas mendengar jawaban itu. Mereka lalu putar pinsil lagi. Tiara kena lagi.
"Ini pinsilnya lu dukuni ya? Kok kena ke gue terus?", Protes Tiara.
"Udah cepet, truth or dare?", Tanya Fina.
"Truth"
"Oke.. dimana tempat kesukaan Lo?", Tanya Fina.
Tiara berfikir sejenak.
"Tempat kesukaan gue... surga", jawab Tiara.
"Maksud gue tempat kesukaan lu di sekitar kota kita ini!", Ujar Fina .
"Gak tau, gua gak pernah kemana mana. Yang pernah ke toko buku doang, sama ke sekolah", jawab Tiara.
Tapi itu memang benar. Tiara tak pernah jalan jalan.
"Nyebelin banget sih Tiara!", Pekik Fina.
"Protes mulu Lo", lanjut Tiara .
"Plis Tiara, coba ketiga pertanyaan gue tadi jawab dengan benar", ujar Fina.
"Yang gue jawab semuanya udah bener kok", Tiara tetap ngeyel .
Fina pun turun dari kasur dengan wajah kesal ( mereka tadi main tepung tepungan di atas kasur juga ).
"Udah deh, selesai", ujar Fina sambil berjalan menuju pintu untuk keluar dari kamar.
Tak berapa lama kemudian, Fina kembali ke kamar dengan wajahnya yang sudah bersih dari tepung. Lalu mereka berdua pun beranjak untuk tidur.
Tiara menutup mata, dan memeluk guling.
Lalu membuka mata lagi.
"EH!", Pekik Tiara tiba tiba.
"Apa?", Tanya Fina.
"Buku olimpiade gua ketinggalan di gedung basket padahal mau dipake besok!!!"
*
Keesokan harinya...
Hari bersekolah seperti biasa. Tapi hari ini ialah hari olimpiade antar kelas di mulai. Jadi, bagi siswa yang mengikuti olimpiade tidak akan mengikuti pelajaran jam pertama dan kedua, sementara yang tak ikut olimpiade akan belajar seperti biasa.
Di halaman sekolah, terlihat seorang lelaki berambut cepak Agam coklat tengah berlari menuju lantai dua.
Setelah ia berada di lantai dua, ia bertanya kepada dua siswi yang tengah berbincang bincang, tak jauh dari anak tangga.
"Kalian tau siswi kelas 12 IPA 1 yang bernama Tiara?", Tanya Ares pada salah satu murid perempuan tak dikenalnya.
"Enggak tau, maaf", jawab siswi itu.
Karena siswi itu tak tau, Ares pun pergi dari sana.
"Ganteng ya, hihihi", bisik siswi tadi kepada siswi lain di sebelahnya. Kedua siswi itu terkekeh kekeh sendiri. Ares mendengarnya, tapi ia tak peduli .
Sekarang ia harus mengantarkan buku matematika milik Tiara ini kepada Tiara langsung, karena sebentar lagi olimpiade nya akan dimulai.
"Ares.."
Mendengar seseorang memanggil namanya, Ares berbalik . Lalu terlihat Arsenio yang baru keluar dari kelasnya berjalan mendekat.
"Itu buku siapa?", Tanya Arsenio.
"Buku.. ngg, ada junior eskul basket yang ninggalin buku ini, semalem di gedung Basket. ", Jawab Ares.
"Namanya?", Tanya Arsenio lagi.
Ares segera membuka halaman pertama buku matematika setebal 340 halaman itu.
"Tiara Angelista"
"Oh, aku kenal. Aku aja yang ngasih ntar. Sini bukunya", ujar Arsenio. Ares pun memberikan buku itu .
"Kasih ke dia sekarang juga ya, soalnya aku denger dia ikut olimpiade matematika, dia butuh buku ini sekarang", ujar Ares lalu segera pergi dari sana.
Sementara Arsenio, ia menimang nimang buku itu, lalu tersenyum senyum sendiri entah memikirkan apa.
*
Disisi lain, Tiara sedang panik sambil melihat ke arah jam tangan nya.
"Aduhh, buku matematika aku kemana sih? ", Gumam Tiara yang sudah entah keberapa kali.
Tak berapa lama kemudian, datang Fina sambil menyodorkan sekotak pocky .
"Nih, buat kamu", ujar Fina. Tiara tetap mengambil Pocky tersebut walaupun hatinya tengah sangat panik. Tiara doyan makan dalam keadaan apapun.
"Aduh, Fin. Buku matematika gue hilang. Mana harganya seratus empat puluh ribu. Nangis nih gue", ujar Tiara dengan wajah yang hampir menangis sambil memakai Pocky nya.
"Udah kamu cari ke gedung basket?", Tanya Fina.
"Udah, gak ada. Pasti udah dicuri orang", ujar Tiara.
"Olimpiade matematika akan dimulai 5 menit lagi yaa. Para peserta diharapkan segera memasuki ruang ujian yang telah ditentukan", ujar seorang petugas dengan sebuah mic kecil . Tiara semakin kebingungan.
"Ya elah, terus buku aku gimana? Gak bisa.."
"Udah, masuk ke ruang ujian aja dulu", Fina memotong rengekan Tiara.
Tiara mau tak mau segera memasuki ruang ujian yang berada di lantai tiga. Tapi sebelum ia sampai di ujung anak tangga lantai tiga, hp nya berbunyi. Ada yang menelepon.
Arsenio.
"Ini anak ngapain dah nelpon nelpon? Orang mau ujian", ujar Tiara lalu mematikan telepon tersebut.
Tapi telepon berbunyi lagi, dan yang menelepon masih orang yang sama.
Tiara pun segera mengangkat telepon dengan malas.
"Halo? Ada apa?"
"Buku Lo sama gue"
Tiara diam sejenak mendengar jawaban Arsenio. Kurang ngeh.
"Buku yang mana?", Tanya Tiara.
"Buku olimpiade matematika Lo"
"Kok bisa?"
"Ya bisa lah"
"Arsen, bisa kasih ke aku sekarang gak? Butuh banget. Lombanya mau dimulai .. 4 menit lagi!"
"Oke, tapi ada syaratnya"
Tiara hampir saja membanting hp nya ke lantai dan mengeluarkan kata kata mutiara kalau ia tak mengingat bahwa di sekitar nya sedang ramai petugas olimpiade.
"Jangan main main, tolong cepat, Arsen"
"Oke, tapi ada syaratnya"
"Iya, iya, apaan syaratnya?"
"Syaratnya... Besok sore temani aku ke Cafe El mounte"
Tiara langsung mengernyitkan dahi mendengar nya. Tiara diam beberapa saat. Anak ini sebenarnya mau apa?
"Setuju?"
"Gue gak ada duit"
"Lu gak usah mikirin masalah duit, itu gampang"
"Iya iya. Setuju", jawab Tiara asal.
Lalu telepon ditutup .
Tiara memang asal jawab setuju saja. Setelah Arsenio memberikan bukunya pada nya, dia berniat tak kan memenuhi syarat tersebut.
Sekitar beberapa detik kemudian, Arsenio datang dengan membawa buku Olimpiade matematika milik Tiara yang Tiara tunggu sejak tadi .
"Eh? Kok bisa cepet banget? ", Tanya Tiara heran.
"Ya cepet lah, aku dari tadi ada di balik tembok tangga. Jaraknya cuma 5 meter dari kamu", jawab Arsen.
Rasanya Tiara ingin menggebuk lelaki ini sekarang juga. Awalnya Tiara fikir, Arsen sedang berada di halaman sekolah, atau di gedung basket, atau dimana. Ternyata Arsenio bersembunyi dibalik tembok tangga, dan ternyata dari tadi mereka bertelepon hanya dibatasi tembok saja.
Kalau Tiara tau begini, lebih bagus Tiara merebut buku itu dari tangan Arsenio langsung tanpa harus teleponan seperti tadi, mana pakai syarat.
"Besok sore janji ya", Arsenio mengingatkan.
Tiara mengambil buku itu dari tangan Arsenio dengan gusar, lalu berjalan menuju ruang ujiannya.
aku nyicil aja takut kakak tipe yang ga boleh bom like
awal yang menyenangkan