Pernikahan yang bahagia adalah dambaan setiap insan. Namun didalam perjalanan mahligai pernikahan tidak selalu indah seperti yang diimpikan. Karena setiap pernikahan pasti ada masalah dan cobaan yang datang silih berganti. Kerikil dan bebatuan datang menghadang langkah tiada henti.
Guntur dan Sovia adalah sepasang kekasih yang belum lama mengarungi bahtera rumah tangga. Pernikahan yang berawal dari perjodohan tidak membuat Sovia membenci suaminya. Ia berusaha sepenuh hati untuk menjadi istri yang shalihah.
Apakah Sovia bisa melewati halangan dan rintangan yang dihadapinya? Apakah Sovia dan suaminya bisa bahagia dalam membina rumah tangga?
Buruan baca dan subscribe novel ini sekarang juga! Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Walet Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reuni
...Beberapa Minggu Kemudian...
Malam itu, Bu Maya, Guntur, dan kedua istrinya sedang asyik menikmati makan malam bersama. Wina yang manja dan tidak mau mengalah, duduk di samping kiri Guntur. Sedangkan Sovia duduk di hadapan mereka berdua.
"Dek Sovia, tadi temanku SMS, katanya besok pagi ada acara reunian teman-teman SMA. Besok Kamu ikut Mas ya!" Pintanya.
"Tapi kan itu acaranya Mas Guntur sama teman-temannya. Masa Aku ikut, malu Aku Mas!" Balas Sovia.
"Tapi katanya besok acaranya di rumah makan Dek! Katanya boleh ngajak anak istri! Kamu mau ikut kan Dek?" Guntur sangat berharap.
"Insha Allah mau, Mas!" Jawabnya.
"Makasih Dek!" Guntur tersenyum bahagia.
"Gun, istrimu kan bukan cuma Sovia! Jadi Kamu harus ajak Wina juga! Iya kan Win?" Ucap Bu Maya.
"Iya betul Bu! Aku juga mau ikut! Biar teman-temannya Mas tahu, kalau Aku ini istrinya Mas Guntur!" Kata Wina dengan manja.
"Tapi sebelumnya Aku minta maaf sama Ibu dan Kamu Wina! Aku nggak bisa mengajak Kamu untuk ikut datang ke acara reunian teman-teman SMA-ku!" Ucap Guntur sambil memandang ke arah ibunya dan Wina.
"Kenapa Guntur?" Bu Maya kecewa.
"Iya Mas, kenapa Aku nggak diajak? Sedangkan Sovia diajak!" Wina menimpalinya.
"Karena teman-teman SMA-ku tahunya istriku yaitu Dek Sovia! Karena sewaktu pernikahanku dulu, Aku mengundang teman-teman SMA-ku!" Balasnya.
"Kalau itu masalahnya, kan Kamu tinggal bilang saja, kalau Wina ini istri keduamu!"
"Nggak segampang itu Bu! Apa kata mereka, kalau Aku punya dua orang istri! Aku malu Bu, kalau jadi bahan ledekan mereka!" Balasnya.
"Jadi, Kamu malu kalau punya istri dua Mas? Jadi Kamu malu punya istri sepertiku Mas? Makanya Kamu lebih memilih Sovia yang diajak ke acara reunian teman-teman SMA-mu!" Seru Wina dengan keras. Air matanya seketika langsung menetes di pipinya.
"Bukan begitu maksudku Win! Yang menjadi alasanku mengajak Dek Sovia, ya seperti yang Aku ceritakan tadi!" Balasnya.
"Persetan dengan alasan! Kamu memang nggak pernah mencintaiku! Kamu menikah denganku karena terpaksa kan Mas? Kamu hanya ingin bertanggung jawab atas bayi dalam perutku kan?" Teriak Wina. Air matanya semakin deras membasahi kedua pipinya.
"Jangan berkata begitu Win! Aku menikah denganmu bukan hanya sekedar untuk bertanggung jawab atas perbuatanku! Tapi Aku juga perlahan untuk belajar mencintaimu!" Guntur pun menggenggam jari-jemari tangan kanan Wina. Mendengar ucapan suaminya, Sovia pun cemburu.
"Aku memang menikahimu karena terpaksa! Di dalam hatiku hanya ada Sovia seorang!" Seru Guntur dalam hati.
"Lebih baik besok yang ikut Wina aja, Mas! Maaf Aku nggak bisa ikut! Soalnya Aku lagi kurang enak badan!" Sovia pun bersuara.
"Kamu sakit Dek?" Guntur terkejut.
"Iya Mas, sedikit pusing sama kadang-kadang mual!" Balasnya.
"Besok periksa ke dokter ya Dek! Maaf ya, Aku terlalu sibuk. Jadi kurang memperhatikan dirimu!" Katanya.
"Nggak apa-apa Mas! Besok Aku bisa pergi ke dokter sendiri kok Mas! Jadi, besok pagi Mas pergi sama Wina aja! Kalau ada teman Mas yang tanya tentang Wina, bilang aja sejujurnya Mas! Kalau Wina istri keduanya Mas Guntur! Kan nggak ada yang salah dengan poligami! Dalam Islam juga memperbolehkan!" Pintanya dengan lapang dada dan berusaha untuk ikhlas.
"Kamu memang istri shalihah Dek! Makasih ya Dek, sudah mengizinkanku untuk berpoligami dan mengajak Wina untuk datang ke reunian besok!" Ucapnya.
"Iya Mas!"
"Baguslah kalau begitu! Jadi istri tua kan harus mengalah sama istri muda! Wina, besok pagi Kamu dandan yang cantik ya! Biar teman-temannya Guntur tahu, kalau Guntur punya istri secantik Kamu!" Celoteh Bu Maya.
"Iya Bu!" Wina pun mengusap air matanya yang jatuh di pipinya. Dalam hatinya ia sangat merasa bahagia.
Mendengar ucapan ibu mertuanya, Sovia berusaha untuk menahan dirinya agar tidak meneteskan air mata. Walaupun hatinya begitu hancur mendengar ucapan Bu Maya yang menyindir dirinya, dan memuji-muji madunya.
Dengan gugup Sovia mengambil piring-piring kotor bekas untuk makan mereka semua. Ia pun bergegas membawa piring-piring yang ditumpuknya, ke arah wastafel yang berada di dapur. Sambil mencuci piring, air mata yang sejak tadi ditahannya, akhirnya tumpah bercucuran di pipinya.
Pagi itu, di dalam kamarnya Guntur dan Wina tampak sibuk berpakaian dan berdandan. Guntur berdiri di depan cermin sambil menyisir rambutnya yang hitam. Ia terlihat tampan dengan memakai kemeja bermotif kotak-kotak berwarna hitam. Sedangkan dibagian bawah ia memakai celana jeans panjang, berwarna biru. Untuk alas kakinya ia memakai sepatu sneaker berwarna putih.
Wina yang berwajah manis terlihat cantik dengan memakai baju berlengan panjang berwarna putih. Sedangkan dibagian bawah ia memakai rok pendek hitam.
Setelah selesai berdandan, mereka akhirnya keluar dari dalam kamarnya dengan sedikit terburu-buru. Ketika sampai di ruang keluarga, mereka berdua melihat Sovia sedang menyapu lantai.
"Dek, Kita berangkat dulu ya!" Ucap Guntur.
"Iya Mas. Hati-hati di jalan!" Balasnya datar.
"Kalian mau berangkat sekarang?" Seru seorang perempuan dari arah dapur.
"Iya Bu! Soalnya acaranya mulai jam sembilan! Iya kan Mas?" Tanya Wina sambil memegang lengan kanan Guntur.
"Iya."
"Kamu cantik sekali Wina! Nanti pasti semua teman-temannya Guntur akan terpukau dan kagum melihat kecantikanmu!" Puji Bu Maya setinggi langit.
"Tadi juga sampai bingung mau pakai baju yang mana Bu! Untung Mas Guntur ngasih saran, katanya Aku cocok pakai baju yang ini! Betul cocok nggak Bu?" Tanya Wina.
"Cocok sekali Win! Kalian sangat serasi, bagai pasangan Romeo dan Juliet!" Jawabnya.
"Ibu bisa aja deh!" Wina tampak malu-malu.
"Ya sudah, Kita berangkat sekarang dulu Bu, Dek!" Seru Guntur.
"Hati-hati di jalan ya!" Balas Bu Maya.
"Iya. Assalamu'alaikum." Salam Guntur.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Bu Maya dan Sovia berbarengan. Guntur dan Wina pun bergegas masuk ke dalam mobil. Dengan cepat mobil itu melaju meninggalkan rumah itu.