Orang Jahat adalah orang baik yang merasa sakit hati dan kecewa akan suatu hal yang membuatnya merasa tidak adil.
Perjuangan Axel dalam membalas dendam kepada Eric yang telah membunuh seluruh keluarganya.
Apa saja yang akan dilalui Axel ketika menjalankan misinya?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rais Laiseu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabur
Jam bebas tahanan kini sedang berlangsung, mereka kembali diberi kebebasan bercrengrama satu sama lain. Waktu yang sangat berharga bagi mereka, terlebih bagi seorang Widia, ini adalah sebuah kesempatan untuk dirinya agar bisa mengobrol dengan luluasa bersama Joni.
Widia menarik tangan Joni menuju tembok belakang, "Cepat ceritakan semua tentang Axel yang kamu ketahui" ucap Widia begitu melihat situasi yang sudah aman.
"Aku takut Axel tahu, bisa mati aku" seru Joni ketika Widia terus memaksanya.
"Tenang saja aku akan menyimpan rahasia ini rapat-rapat" ucap Widia meyakinkan.
Joni pun mulai menceritakan semua hal yang dia ketahui tentang Axel, dari mulai kenapa Axel bisa ditahan, kekasih Axel yang bernama Jean serta hubungan percintaan Axel dengan Jean yang ditentang oleh Ayahnya Jean, semuanya Joni ceritakan kepada Widia.
"Kamu harus janji tidak akan memberi tau Axel bahwa aku lah yang memberi tahu semua rahasianya kepadamu" Joni memperingkatkan Widia agar tidak membocorkannya kepada Axel.
"Siap, kau tenang saja" ucap Widia yang kini sudah memasang kembali wajah riangnya.
Sementara itu di kediaman rumah Jean, terdapat Jean yang sedang berusaha kabur dari kamarnya. "Pokoknya aku harus kabur dari sini" ucapnya sambil melihat sekeliling kamarnya. Kemudian matanya tertuju kepada jendela kamarnya, "Ah, ini sangat tinggi. Bagaimana caranya aku turun" ucapnya prustasi.
Jean memijat kepalanya pusing, "Tidak, bagaimana pun aku harus menemui Axel" kemudian dirinya teringat adegan dalam serial film ketika seorang putri yang terkurung dalam istana, Putri itu mengunakan selimut yang di ikat menjadi untaian tali panjang. Jean pun mencoba menirunya lalu mulai mencari selimut yang ada di dalam lemarinya.
"Ini dia" ucapnya begitu berhasil menemukan selimut-selimut itu. "Axel tunggu aku, sayang" ucapnya sambil mengikat satu persatu tiap ujung selimut yang ada di kamarnya.
Jean mulai mengulurkan tali yang terbuat dari sambungan dari beberapa selimut itu turun kebawah dari atas balkon kamarnya. Dia mengikatkan ujungnya ke tiang penyangga dan ujung satunya di lilitkan ke perutnya, "Tinggi sekali" cicitnya begitu melihat kebawah. "Kamu pasti Jean" ucapnya terus meyakinkan dirinya bahwa dia bisa.
Duk.
Jean mendarat dengan mulus, "Axel, aku datang" Jean melepas ikatan tali itu dari perutnya lalu berjalan mengendap-endap menuju ke gerbang.
"Taksi-taksi" ucapnya begitu melihat sebuah taksi yang akan lewat ke arahnya. Jean sangat beruntung. "Kantor Polisi Pelita Pak" ucapnya pada sopir taksi.
Selama di perjalanan Jean terus memikirkan Axel tentang, bagaimana keadaan kekasihnya sekarang, apakah dia makan dengan baik, dan yang terpenting apakah Axel masih mengingat tentang dirinya.
Cit.
Bagitu sampai Jean langsung berlari masuk kedalam kepolisian, "Pak, saya mau membesuk tahanan yang bernama Axel" ucapnya kepada Pak Polisi.
"Saudara Axel terdakwa pembunuhan itu bukan" tanya Pak Polisi.
"Iya benar Pak, apakah bisa dibesuk sekarang" tanya Jean lagi kepada Pak Polisi.
"Bisa, silahkan tunggu disebelah sana. Sebelumnya nama Mba siapa" ucap Pak Polisi.
"Jean Pak" balas Jean cepat.
Polisi itu meninggalkan Jean, melangkah pergi hendak memanggil Axel. Dirinya sudah tidak sabar entah kenapa tiba-tiba dadanya berdebar, perasaan seperti akan selalu muncul jika berkaitan dengan Axel.
"Saudara Axel silahkan keluar ada yang ingin membesukmu sekarang" ucap Pak Polisi.
Axel terheran, siapa yang membesuknya dia sudah tidak punya kerabat dekat. Keluarganya saja sudah tiada, siapa yang membesuknya. "Siapa yang datang" tanya Axel.
Polisi itu mengaruk kepalanya yang tidak gatal "Gadis itu mengatakan bahwa namanya Jean". Perkataan dari Pak Polisi membuat Axel terkejut, ternyata pujaan hatinya yang datang. Axel pikir Jean sudah melupakannya, karena sudah terhitung lumayan lama dia mendekam dalam sel tahanan tapi tidak kemunculan Jean satu kalipun dan hari ini telah tiba dimana Jean membesuknya. Axel berniat ingin menanyakan kenapa kekasihnya itu tidak perna datang.
Deg.
Pandagan mereka bertemu, Jean sudah berkata-kata disana. Axel yang tadinya ingin mengabaikan Jean pun tidak kuasa melakukan itu sekarang, hanya Jean yang mampu membuat dirinya menjadi lemah seperti sekarang. Jean berlari lalu memeluk tubuh Axel yang terlihat kurus.
Tap.
Mareka berpelukan sekarang, Jean mendekap Axel begitu erat. "Hiks.. hiks.. A-xel" tumpahan air mata Jean sudah membanjiri pundak Axel.
"Hey" ucap Axel lalu menyuruh Jean untuk duduk.
"M-maf a-ku baru datang, Ayah mengurungku dikamar" Jean mengadu kepada Axel. "Ayah ga mau kalau aku berhubungan dengan kamu, hiks"
"Sttttt, jangan nangis" tangan Axel sudah terulur mengusap air mata Jean.
"T-tapi hiks" saat Jean ingin mengatakan sesuatu lagi omongannya di potong oleh Axel. "Kesini naik apa"
"Aku kabur dari rumah, Ayah ngunciin aku di kamar makanya aku ga bisa tenggokin kamu hiks" seru Jean tak kuasa menahan tangisnya.
Mendenger penuturan Jean tersebut, Axel menjadi bersalah karena telah berprasangka buruk sebelumnya. Di peluknya kekasihnya itu, "Sudah ya jangan nangis, aku ga apa kok disini. Kamu nurut sama Ayah jangan kabur-kabur kaya gini lagi" ucap Axel sambil mengelus rambut Jean.
"T-tapi hiks, aku kangen kamu. Liat tubuh kamu sekarang kurus gini hiks" ucap Jean sesegukan. "Maaf aku ga bawa apa-apa kesini hiks" ujar Jean lagi.
Axel terkekeh melihat gadisnya, Jean begitu mengemaskan ketika sedang menangis seperti itu. "Ga apa, kamu dateng kesini aja aku udah seneng" Axel menyentil kening Jean.
"Aww, sakit tau" seru Jean sambil mempoutkan bibirnya.
"Saudara Axel silahkan masuk kembali, jam besuk sudah selesai" Pak polisi tiba-tiba datang menghampiri Jean dan Axel yang tengah asik mengobrol.
Jean tidak rela, dia masih ingin bersama dengan Axel, "Aku masih kangen" cicit Jean sambil menarik ujung seragam Axel.
Axel memegang kepala Jean, "Patuh ya, pulang gih"
"Ga mau, Ayah pasti ga akan izinin aku kesini lagi hiks. Aku ga mau pulang" ucap Jean.
Axel meminta waktu kepada Pak Polisi agar tidak membawanya sekarang, beruntung mereka mengiyakan permintaan Axel. Dia segera berbalik menghanpiri Jean yang masih menangis, "Je, pulang ya" pinta Axel lembut kepada gadisnya yang sudah menggeleng bahwa dia tidak mau menuruti permintaan Axel.
"Ga.. ga.. hiks, aku mau sama Axel aja disini" melihat ke arah Pak Polisi. "Pak Polisi tahan saya disini bisa kan" ucapnya mulai ngelantur.
Axel membentak Jean, "Jeje.." dipegangnya kedua bahu Jean. "Jeje patuh bisa kan hmm" ucap Axel penuh penekanan.
Jean tersentak, ini pertama kalinya dia dibentak oleh Axel. Tangisnya langsung berhenti, "Tapi Axel janji harus baik-baik saja disini" Jean mengulurkan jari kelingkingnya kepada Axel.
"Hmmm" jawab Axel menautkan jari kelingkingnya dengan milik Jean.
"Yaudah, aku pulang dulu ya" pamitnya kepada Axel.
┎┈┈┈┈┈┈┈୨ ♡ ୧┈┈┈┈┈┈┈┒
Kk saya sudah membawa
like👍“30”
jgan lupa back📖 ya💪
like nya👍
Komentar💬
Dan jgan lupa tingalkan jejak👣
Di-Novel “Wanita Raja Hantu😍👌
Saya tunggu✨ kehadiran nya🖤
Skian trimakasih👋
̲┖┈┈┈┈┈┈┈୨ ♡ ୧┈┈┈┈┈┈┈┚.