NovelToon NovelToon
Residu Ingatan

Residu Ingatan

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Time Travel / Tamat
Popularitas:486
Nilai: 5
Nama Author: yopoyoi

Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.

Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.

Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?


Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Halusinasi

"Ini kita mau kemana?" tanya Arinta yang sudah ngos-ngosan.

"Kemana aja, asal pergi yang jauh. Siapa tau kita mati kelaperan, terus balik ketahun kita lagi."

Kalimat itu sukses mendaratkan sentilan maut dibibir Tami dan pelakunya adalah Tama.

"Sembarangan banget kalo ngomong," oceh Arinta.

Mereka bertiga menepi ditepi sungai, duduk menghadap kearah mengalirnya air sambil menatap langit malam yang masih terlihat banyak sekali bintang-bintang bertebaran.

"Jam berapa sih ini? Kayaknya udah tengah malem ya?" Tama mengucek-ngucek matanya yang mulai berair.

"Kita ngga ada yang bawa jam, diliat dari posisi bulan sih kayaknya iya udah tengah malem," jawab Arinta.

Tami menggulung-gulung tangannya kedalam baju, lalu melepaskannya, lalu menggulung lagi, sudah berbulan-bulan lamanya ia berkawan dengan rasa bosan.

"Pelajaran apa yang bisa lu ambil selama ditahun ini, Ta? Atau ada cerita apa? Gua liat-liat lu sibuk banget ngejalanin perannya."

Arinta melihat langit-langit, sedikit memanyunkan bibir kebawah, lalu berpikir sebelum bersuara.

"Terlalu banyak cerita, terlalu banyak juga pelajarannya-" ia menjeda kalimatnya.

"-tapi.. Kalo bisa sebutin satu hal, mungkin.. kepedulian sekecil apapun yang kita perbuat hari ini, bakal ngebuat perubahan besar dimasa depan. Bahkan hal sesimpel posisi duduk aja bisa nentuin perubahan besar. Seandainya selama disini gua duduk paling depan dikelas sama anak ambis, mungkin sekarang gua lagi ngurus berkas buat beasiswa."

"Betul," Tama membenarkan.

"Dan kalo boleh gua kasih tambahan, jangan pernah nyesel atas apapun keputusan yang udah diambil."

"Sekalipun itu ngebawa kita ke kondisi terburuk?" tanya Tami.

Tama mengangguk, "Dan jangan pernah nyesel juga udah menghamburkan uang untuk kebahagiaan diri sendiri, jangan sampe kebahagiaan itu harus ditukar dengan cacian penyesalan dimasa depan oleh diri kita sendiri. Toxic banget, parah kalo sampe nyalahin diri sendiri cuma perkara pernah ngebahagiain diri sendiri."

Semakin larut, semakin dalam pula percakapan tiga sekawan yang tak pernah serius ini.

"Mulai ngelantur nih bocah, apa wae diomong," Tami memecah kekhusyukan Tama, melayanglah tamparan itu ke pipi Tami.

"Ga apa-apaan sekali-sekali Utama Pradipta merangkap jadi motivator, kapan lagi bisa jadi pendengar VIP kayak gini," Arinta mengangkat-angkat kedua alisnya menatap Tama.

Tami menyadari gerak-gerik salting dari kembarannya, lalu ia terbatuk keras dibuat-buat.

"Orang udah pada tidur Pea!" ditoyorlah kepala kembarannya itu, yang berujung saling toyor-menoyor.

"Stop!! Lama-lama gua ceburin juga lu berdua," ujar Arinta yang berada ditengah-tengah.

Manjur, keduanya langsung menjaga jarak satu meter. Mereka bertiga jadi duduk berjauhan.

"Eh tapi jujur deh, kayaknya masalah gua belom bener-bener selesai disini," ucap Arinta.

"Masalah apalagi sih?" tanya Tama.

"Masalah keluarga gua. Bang Miza, bang Rio, teh Ria, belom pada akur."

"Emang itu masalah harus lu juga yang nyelesaiin?" masih Tama yang menyahut.

"Entah. Tapi kayaknya hari ini gua masih harus pulang ke rumah."

"Terus gua sama kembaran gua kemana? Balik ke panti lagi dong?"

"Emang mau kemana? Lagian kita juga ngga punya pilihan lain, semesta juga belom ngebawa kita pulang ketahun yang semestinya, berarti kita emang harus disini dulu. Bertahan sebentar lagi ya?" pinta Arinta pada Tama.

Tama menarik napas berusaha membuangnya sepelan mungkin, "Oke."

***

Mario, Maria dan Miza sedang duduk didepan rumah ketika Arinta pulang dengan seragam SMA yang sudah lusuh. Ekspresi ketiga kakaknya itu terlihat separuh khawatir, separuh kesal menatap Arinta.

"Kemana aja sih? Abang sampe neleponin semua orang, sekarang udah jam berapa, Ta? Jam dua belas lewat," tunjuk Miza pada jam dinding didalam rumahnya.

"Bi Asih bilang kamu langsung pergi abis pulang sekolah."

Mario dan Maria tak ikut menghakimi, keduanya hanya menatap Arinta dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

"Kemana aja kamu?" tanya Miza lagi.

Arinta masih enggan menjawab.

"Udahlah bang, yang penting sekarang Arinta udah disini. Biarin dia istirahat dulu," ucap Mario.

Miza memijat kepalanya, "Masuk!"

Arinta menurutinya. Namun, ia terus menatap Maria entah karena apa.

"Teteh boleh ikut masuk kamar kamu?"

Semua yang mendengar tak menyangka kalimat itu keluar dari bibir Maria, tapi tak ada yang berani komentar.

"Boleh," jawab Arinta.

Begitu sampai dikamar, Arinta langsung membersihkan diri dan berganti pakaian, mengabaikan Maria yang ternyata sudah duduk diatas kasur sambil membuka-buka album foto.

"Maha tuh mirip banget ya sama kamu," gumamnya.

Arinta tidak merespon, ia sudah duduk disebelah kembaran beda generasinya.

Maria beralih menatap Arinta, tatapannya seakan mencari sebuah harapan dari mata yang ditatap.

Arinta terheran-heran atas pelukan yang tiba-tiba menyergapnya. Pelukan asing yang tak pernah ia rasakan seumur hidup.

Ia tak membalas, tak juga bertanya mengapa kakak perempuannya itu kini menangis.

Ingatannya tiba-tiba muncul, berantakan, ingatannya bercampur dan alurnya berubah-ubah, termasuk kejadian awal tahun yang Andre tulis dalam suratnya.

"B4ngsat, lu mau ngapain 4njing?" Andre menendang lalu menonjok sosok pemuda jangkung yang sudah menindih tubuh kecil Arinta.

Arinta terduduk dengan tubuh bergetar hebat. Ia tak sepenuhnya ingat apa yang terjadi, entah karena apa ia seperti orang linglung.

"Pulang! Jangan pernah lewatin jalan sepi sendirian lagi."

Ingatannya berpindah kebagian lain, tapi masih dengan Andre.

"Kamu tuh kenapa sih? Ini ngga ada tulisannya daritadi, mungkin kamu cuma kecapekan jadi halusinasi."

Bagian lain lagi.

"Obat yang aku kasih ke kamu masih ada? Kamu kayaknya udah lebih berseri-seri dari sebelumnya."

Berganti lagi, lagi dan lagi. Semua ingatannya bercampur. Arinta merasa seemosional itu, tawa, sedih, marah, semua emosi bergantian hadir. Sampai tanpa sadar, Mario dan Miza juga ikut memeluk Arinta yang seperti orang kerasukan.

Entah apa yang sudah terjadi selama Arinta pergi. Sampai keempatnya bersaudara itu tiba-tiba akur.

Terlepas pelukan itu, Arinta menatap ketiga kakaknya yang juga menatapnya sendu. Sesaat kemudian ia merogoh kantongnya, surat dari Andre tadi siang. Ia membolak-balikan kertas itu lalu merogoh kantongnya lagi, tulisan yang mengatasnamakan Andre tidak ada, kosong. Hanya ada tulisan yang diatasnamakan Aguil, yang tadi ia lihat bersama si kembar.

Ia seperti orang gila menunjuk-nunjuk kertas kehadapan kakak-kakaknya.

Arinta beranjak ketulisan yang waktu itu terselip dibuku romance, ia ingat sekali sudah memasukan kertas kedalam buku itu lagi, karena jenis kertasnya juga berbeda.

Kosong. Tak ada tulisan apapun disitu. Arinta malah semakin delusi. Ia kebingungan sendiri kenapa tulisan-tulisan itu bisa menghilang. Ia jadi terus menggumamkan kalau ada yang masuk ke kamarnya dan menghapus tulisan itu.

Maria kembali memeluk dan menenangkan sang adik. Sedangkan Mario dan Miza tak kuasa menahan tangis.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!