Rika harus menanggung bebannya yang bertubi-tubi didalam rumah tangganya. Ia harus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka, karena suami yang dinikahinya notabennya seorang pengangguran.
Tak disangka, setelah sekian lama berumah tangga, akhirnya Rika mengetahui kebenaran tentang suaminya, bahwa suaminya bukanlah orang biasa. Dan pada saat itu juga guncangan hebat melanda rumah tangganya setelah suaminya membeberkan kebenarannya. Kebenaran alasannya menikahi Rika dan kebenaran alasannya menyembunyikan statusnya dihadapan Rika.
Langkah apa yang selanjutnya akan diambil Rika dalam menempuh hidupnya setelah ia tahu kebenarannya dan juga setelah ia mendapat cobaan yang bertubi-tubi menghampirinya?
Lalu bagaimana kisah selanjutnya, langkah apa yang akan dilakukan oleh suaminya saat semua terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Sha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Bumi bergoncang memporak-porandakan isi hatiku, aku masih bisa tersenyum walaupun halilintar saling menyambar disiang bolong, tetap akan ku ukir senyum penawar luka
______________________________________
Tok tok tok
Baru saja Rika ingin membawa piring kotor kearah bak cucian, pintu rumahnya sudah diketok oleh seseorang. Dengan segera ia menuju kearah pintu. "Tidak mungkin itu mas Angga, karena ia tidak biasanya mengetok pintu terlebih dahulu kecuali pintunya dikunci. Lalu siapa ya, sepagi ini sudah ada tamu yang datang? Mungkin tetangga yang sedang meminta pertolongan," Rika bermonolog dengan dirinya sendiri. Ia sudah berdiri dibelakang daun pintu.
Ia mengintip dibalik gorden kaca terlebih dahulu untuk melihat siapa yang datang. Rika mengerutkan dahinya saat melihat tiga lelaki yang sama sekali tidak dikenalnya. Penampilan mereka terlihat sangat mengerikan, sangar dan seperti preman.
"Mau apa mereka kesini, aku sama sekali tidak mengenal mereka," gumam Rika yang tampak heran dengan keberadaan mereka didepan pintu rumahnya. Ia terperanjat setelah ketiga preman kembali menggedor pintunya dengan sangat keras. Nyalinya tiba-tiba menjadi sedikit lebih ciut, apalagi menyadari dirinya yang hanya seorang diri saja dirumah.
"Hei! buka pintunya!! saya tahu kalau masih ada orang didalam!!" pintu rumahnya kembali digedor disertai dengan teriakan keras.
"Ya, sebentar!" teriak Rika yang sudah memegang gagang pintu. Ia benar-benar menyiapkan nyalinya untuk sesuatu yang akan terjadi kedepannya.
Begitu pintu terbuka, ia sudah dihampiri ketiga preman tersebut. Mereka menatap Rika dengan garang.
"Angganya ada?" tanya yang lebih gemuk dari dua temannya, ia juga agak putih ketimbang dua orang yang lainnya.
"Dia sedang keluar. Memangnya ada apa ya mencari mas Angga?" tanya Rika keheranan. Setahunya Angga tidak pernah memiliki seorang teman seperti mereka.
"Oh, kamu istrinya. Kebetulan sekali kalau begitu. Bayar hutang Angga sekarang juga, cepat!!" hardiknya dengan setengah membentak. Ia menatap Rika dengan garang.
Rika terkesiap mendengarnya. Ia tidak menyangka kalau suaminya memiliki utang diluar sana tanpa sepengetahuannya. Inikah alasan perubahan wataknya Angga setelah ia datang kerumah. Bermanis muka pada Rika hanya untuk menutupi hutang yang tidak diketahuinya.
"Berapa hutangnya?"
"Hutangnya totalnya 350 juta bersama dengan bunganya 10%," ucap renteiner tersebut sambil membuka buku catatan dan memperlihatkannya pada Rika.
Rika melotot mendengar hutang sebanyak itu, rasanya segala sendi yang menopang tubuhnya lunglai tidak berdaya. Darimana dia akan mendapatkan uang sebanyak itu untuk membayarnya, sedangkan dia sudah dipecat dari pekerjaannya. Seumur hidup juga dia bekerja, hutang sebanyak itu tak akan lunas. Ia tampak gelisah dan juga cemas sambil melirik kearah dua bodyguard yang ada dikanan dan kirinya si Renteiner tersebut sambil mengepal-ngeplkan kedua belah tangannya.
"Sebentar, saya telpon mas Angganya dulu," ucap Rika yang merogoh saku baju gamisnya. Ia menekan tanda telpon warna hijau pada handphonenya dengan tangan gemetar. Bahkan keringat dingin sudah mulai mengucur dari pelipisnya saat ia berusaha menghubungi suaminya, namun justru panggilannya selalu dialihkan. Walaupun begitu, ia tetap terus mencoba menghubunginya hingga beberapa kali. Namun hasilnya tetaplah sama, nihil.
"Apa tidak bisa menunggu dia pulang dulu, baru kalian balik kesini lagi," tawar Rika dengan takut-takut dan perasaan cemas saat melihat mereka yang cengengesan.
"Hahaha...," tawa mereka berderai pecah. "Memangnya siapa kamu, berani mengatur kami!!" gertak preman yang berbaju hitam dengan penampilan sangat sangar.
"Kami tidak bisa menunggu seperti keinginanmu itu, ini sudah jatuh tempo dari beberapa hari yang lalu. Karena rumah kalian selalu kosong setiap saya kemari. Jadi, semua akan tetap dibayar hari ini juga, sekarang juga, bagaimanapun caranya," tekan Renteiner tersebut.
"Tapi, saya hanya ada uang sedikit saja, tunggu sebentar," ucap Rika kembali masuk kedalam rumah. Ia bergegas meraih uang gajihnya yang hanya tersisa beberapa lembar saja. Ia menatap uang tersebut dan segera melangkah keluar rumah sebelum mereka berubah pikiran.
"Ini uangnya, saya bayar segitu dulu. Beri saya tempo sekali lagi, saya pasti akan melunasinya dengan segera." Sambil menyerahkan amplop yang ada ditangannya pada Renteiner tersebut.
Renteiner mengeluarkan uang tersebut dari dalam amplop, ia tampak begitu marah dibuatnya. "Apa-apaan ini, bunganya saja tidak mampu kamu lunasi. Kamu ingin mengejekku dengan menyerahkan uang seperti ini, yang tidak ada artinya sama sekali bagiku." ucapnya sambil melempar amplop tersebut kewajah Rika.
Rika begitu terkejut saat diperlakukan dengan begitu kasar oleh mereka. Ia benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa sekarang. Ia hanya bisa pasrah dengan keadaan.
"Bayar sekarang juga, kalau tidak maka rumah ini akan saya sita sebagai bayarannya!!" bentaknya pada Rika dengan mata yang melotot.
"Jangan tuan! kalau rumah ini disita, lalu saya akan tinggal dimana? Ini rumah saya, bukan rumah mas Angga," ucap Rika yang tampak memohon. Ia tidak tahu harus berbuat apalagi untuk bernegosiasi dengan renteiner tersebut.
"Itu bukan urusanku!!" bentaknya pada Rika. "Keluarkan barang-barang yang dia perlukan!" perintahnya pada kedua bodyguardnya yang segera bertindak setelah tuannya mengeluarkan titahnya.
"Jangan! kumohon jangan! Tuan, beri aku waktu Tuan!" ucap Rika yang kembali memohon untuk yang kesekian kalinya, namun tidak dihiraukan sama sekali oleh renteiner tersebut.
"Makanya jangan berani ngutang kalau tidak bisa membayarnya. Tanggung resikonya sendiri!" ucap salah satu preman sambil melemparkan tas yang ada ditangannya. Ia menatap Rika dengan tatapan mengejek.
Rika meraih tasnya yang sudah dilempar oleh mereka keluar rumah tersebut. Ia menatap rumah tersebut dengan pilu, rumah itu begitu banyak meninggalkan kenangan mereka sejak awal mereka menikah hingga sekarang. Rumah itu juga hasil kerjanya sendiri dan ia membelinya sewaktu mereka belum menikah.
"Sekarang aku harus kemana?" tanya Rika pada dirinya sendiri yang dengan gontai menyeret kopernya kearah jalanan. Ia merasa seperti gelandangan sekarang tanpa tempat tinggal dan tanpa tahu arah tujuan. Ia tidak tahu kemana ia akan membawa langkahnya. Haruskah ia meminta tolong pada sahabatnya. Tapi tidak mungkin itu akan dilakukannya, ia tidak ingin membuat sahabatnya kembali kerepotan karena dirinya.
Rika menghentikan sebuah taksi yang melintas didepannya, ia segera masuk kedalam taksi tersebut. Ia tahu sekarang kemana tujuannya, dengan sedikit senyuman ia menyuruh sopir untuk menuju kearah alamat yang sudah diberitahukannya sebelumnya.
Pandangan Rika beralih menatap kearah jalanan ibukota yang ramai. Pikirannya tidak pernah lepas dari hutang yang dimiliki oleh Angga. Sampai segitu banyaknya, entah digunakannya untuk apa uang tersebut. Bahkan setahunya, Angga selalu mengaku tidak memiliki uang karena pengangguran. Untuk setiap apapun yang diperlukannya, Angga selalu meminta uang pada istrinya. Rasanya Rika masih tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja dialaminya.
Setelah ia menaruh harapan besar pada Angga, justru Anggalah yang sudah mematahkan harapan itu. Rika benar-benar kecewa sekarang dengan sikap Angga yang sangat egois akhir-akhir ini. Angga yang berbuat tapi justru dirinyalah yang menanggung akibatnya. Tapi ia tidak bisa marah pada Angga karena rasa cintanya lebih besar dari rasa kecewanya. Walau bagaimanapun, Angga tetaplah suaminya.
Rika menatap handphone yang ada ditangannya. Ia tahu kalau Angga sekarang pasti sedang sibuk sehingga ia begitu sulit untuk dihubungi, hingga pesan yang dikirimnya pun belum dibaca oleh Angga.
•
•
*********
**Segitu dulu ya :)
Jangan lupa tinggalkan jejak, walaupun sekedar saling menyapa** ;)
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
karakter utama mleyot kayak gubug reot