Seorang gadis cantik, ia mahasiswa berprestasi tinggi bernama Sheril Mehrunissa. Ia terjebak dalam situasi yang sulit. Kesucian yang ia pertahankan selama ini akhirnya direnggut oleh pria yang tidak di kenalnya.
Tidak sampai disitu saja. Ternyata dia hamil. Pihak kampus langsung mencabut semua pasilitas yang dia dapatkan, ia di keluarkan secara tidak hormat karena sudah mencoreng nama baik kampus.
Nasib buruk terus saja menghampiri Sheril, sampai-sampai ia terkena tekanan batin saat ayah dari bayinya sendi menculik dan mengurungnya di sebuah villa.
Sheril terpaksa menikah sirih dengan pria yang sudah memiliki istri.
ikuti kisah selanjutnya ...
jangan lupa dukungannya
berikan 🔯 5 jika kalian terkesan.
wajib like dan vote jika sudah membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon desi m, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan sahabat
Ririn menatap kepergian suaminya dari tempat tidur. Mulutnya bungkam, ia sama sekali tidak menghawatirkan kemana suaminya akan pergi.
Zian pergi membawa kekesalan di hatinya. Entah kemana ia akan pergi, ia pun belum tau. Zian mengemudikan mobil sport mewahnya dengan kecepatan tinggi.
Sementara Simba beserta teman-temannya baru saja tiba di vila untuk mengurung Sheril di sana.
Jam menunjukkan 11 malam. Sheril tertidur dalam keadaan mata sembab karena kebanyak menangis.
"Hai Nona! Ayo turun!" Bentak salah satu dari mereka.
Sheril langsung kaget saat mendengar bentakan dari seseorang. Ia langsung mengerjapkan matanya. Dalam keadaan belum sadar Sheril melihat ketiga pria itu menggoncang kan tubuhnya.
"Beraninya kalian memegang tubuhku! Pergi dari sini, pergi ...! " Teriak Sheril.
"Ayo cepat, bawa dia masuk," titah pria yang bernama Simba.
Mereka langsung menyeret Sheril keluar dari mobilnya.
Seketika Sheril sadar kalau dia di culik. Sheril meronta-ronta saat kedua pria itu menyeretnya dengan kasar. Sheril langsung menjerit. Meminta pertolongan rasanya percuma, tidak akan ada yang mau mendengarkan ucapannya.
"Tolong lepaskan saya, pak! Saya ingin kembali dengan keluarga saya hiks-hiks-hiks, keluarga saya pasti menghawatirkan saya," mohon Sheril dengan genangan airnya matanya.
Namun ketiga pria tinggi besar itu tidak mengindahkan rintihan Sheril, mereka tetap saja menyeretnya dengan paksa.
Sheril bukan di kurung dalam sebuah gudang, melainkan dalam sebuah kamar yang besar. Kamar itu memiliki tempat tidur yang besar, desain kamarnya tampak elegan dengan nuansa abu-abu.
"Pak tolong buka pintunya! Jangan kurang saya di sini! Saya ingin pulang!" Teriak Sheril sambil menggedor-gedor pintu kamar itu.
Sheril sudah pasrah. Berteriak pun percuma, mereka tidak akan mendengarkan Sheril. Sheril menghampiri kaca jendela. Ia mulai berpikir mencari jalan keluar agar ia bisa kabur dari sana. Tapi sayangnya kaca jendelanya tidak bisa di buka.
Sheril baru ingat bahwa ada ponsel di dalam tas miliknya. Ia segera mengambil tas nya dan mengeluarkan benda pipi tersebut. Sheril langsung mencari nomer ponsel sahabatnya Elian. Setelah menemukannya Sheril segera melakukan panggilan. Sheril tidak menyadari kalau ponselnya tidak memiliki jangkauan jaringan.
"Sial! Disini tidak ada jaringan sama sekali," gumam Sheril. Sheril kesana kemari, beralih tempat di beberapa sudut ruangan itu, ia berharap bisa menemukan jaringan ponselnya agar ia bisa menghubungi Elian. Tapi sayangnya ia tidak menemukanya.
Iya, Sheril tidak akan bisa menggunakan ponselnya, karena anak buah Alzian sudah memutuskan semua jaringan sesuai dengan perintah atasannya.
Sheril menatap keluar dengan mata sembabnya.
"Laki-laki bajingan! Kau sudah membuatku menderita, untuk apa kau mengurung ku di sini, apa salahku hiks-hiks-hiks,"
tangisan Sheril kembali pecah. Ia melorotkan tubuhnya di tembok dekat jendela, ia sangat tersiksa dengan keadaannya sekarang ini. Dengan perasaan yang sangat tersiksa, dadanya berasa sangat nyeri, tubuh yang mulai melemah, akhirnya Sheril tertidur dengan pikiran yang tertekan.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Sore itu, Elian akan menjemput sahabatnya Sheril di cafenya. Tapi ia tidak menemukan sahabatnya. Elian sudah menanyakannya pada semua karyawan yang bekerja di sana. Tapi mereka hanya mengatakan kalu Sheril sudah pulang sejak sore, bahkan ada juga yang mengatakan kalau Sheril seperti habis menangis usai berbicara pada tamunya pagi tadi.
Elian langsung pulang setelah mendapatkan penjelasan dari beberapa karyawannya. Ia berharap Sheril sudah ada di rumahnya.
"Tapi kenapa Sheril menangis? Ada apa dengannya?" Gumam Elian sendirian.
Elian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Tiba di rumahnya. Elian langsung mencari Sheril ke-kamar milik sheril. Tapi tidak ada siapa-siapa di dalam sana. Elian juga masuk kedalam kamarnya, ia berharap Sheril lagi istrahat di dalam kamar miliknya, tapi juga tidak ditemukannya.
Elian langsung berjalan ke-kamar mamanya.
"Mama ...! " Teriak Elian.
"Kenapa sayang! Kenapa kamu teriak seperti itu," ujar Maria menatap putrinya.
"Ma, Sheril mana?" Tanya Elian.
"Loh bukannya kamu jemput dia," ujar mama Maria mengeryitkan dahinya menatap Sheril.
"Iya, tapi Sheril tidak ada di cafe," ujar Elian melipat dagunya.
"Mungkin dia masih dalam perjalanan, tunggu saja," ujar Maria datar.
"Tadi karyawan bilang, Sheril habis menangis usai bertemu dengan pelanggan cafe, Ma, terus sorenya dia sudah pulang, makanya aku cepat-cepat pulang, tapi ngk ada," ujar Elian sendu.
"Coba kamu telpon dulu, siapa tau dia ada kesulitan di jalan," ujar Maria.
"Sudah, Ma, sudah puluhan kali Elian menelponnya tapi di luar jangkauan terus, Elian khwatir saja, takut terjadi apa-apa dengannya," ujar Elian.
"Mudah-mudahan dia ngk kenapa-napa sayang, jangan mikir yang macem-macem ya, tunggu saja. Mungkin dia pergi kemana gitu, sengaja tidak memberitahu mu," ucap Maria.
"Iya, Ma, Elian ke-kamar dulu," ujar Elian berjalan gontai meninggalkan mamanya. Maria menggelengkan kepalanya melihat kekhwatiran anaknya pada sahabatnya itu.
🌹🌹🌹🌹🌹✅
"Ma, Pa, Sheril belum juga kembali," ujar Elian setelah menarik kursinya menghadap papa dan mamanya, karena waktunya mereka untuk makan malam. Biasanya Sheril lah yang akan menghilangkan makan malam buat mereka. Tapi malam ini anak itu tidak tau kemana, pergi ke mana? Tidak ada yang tau.
"Apa Sheril mengatakan sesuatu padamu pagi tadi?" Ujar Chandra menatap putri semata wayangnya.
Elian menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Tunggu saja, mungkin dia ada keperluan, atau ada sesuatu yang penting hingga Sheril tidak sempat memberitahu mu," ujar Chandra.
"Iya, Pa. Kalau Sheril juga tidak kembali, kita harus apa, Pa, Ma?" Ujar Elian.
"Elian, kita tunggu saja, mungkin sebentar lagi juga pulang," ucap Maria.
"Tapi, Ma. Ini sudah jam berapa, aku takut terjadi sesuatu padanya," ujar Elian sendu.
Elian sangat menghawatirkan sahabatnya itu. Sementara Chandra dan Maria saling pandang.
"Elian, tidak usah khwatir, sahabatmu pasti pulang, tunggu saja. Sekarang kita makan dahulu," ujar Chandra.
"Kalau tidak pulang bagaimana, Pa, Ma?" Ujar Elian melirik papa dan mamanya.
"Kalau tidak pulang, ya besok kita lapor kantor polisi saja, dan kita sebarkan berita kehilangan juga, " ujar Chandra.
"Ayo, sekarang makan dahulu," ucap Maria seraya mengambil nasik dan lauk pauk, lalu memberikan pada suaminya. Elian mengambil nasi seperti yang di lakukan mamanya.
Lalu mereka makan tanpa Sheril malam ini.
Tok-tok-tok ....
Pintu tiba-tiba di ketuk dari luar. Elian, Chandra dan juga Maria saling pandang, sementara Elian langsung tersenyum.
"Itu pasti Sheril, biar aku saja yang buka pintunya," ujar Elian beranjak dari tempat duduknya. Ia meninggalkan makanan yang masih tersisa di dalam piringnya.
Sementara Chandra dan Maria menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku putrinya. Semenjak Sheril tinggal bersama mereka, rumah keluarga Elian tampak ramai, bahkan Elian nampak bersemangat kalau sedang di rumah.
Elian langsung memutar kenop pintu tanpa mau mengintip tamunya dahulu dari kaca jendelanya, karena ia mengira itu adalah Sheril.
"Sheril, dari mana saja k ... " ucapan Elian langsung terhenti saat melihat sosok laki-laki paru baya berdiri lurus di depan pintunya.
"Pak RT!" Ucap Elian cengengesan.
" "Ayah mu ada?" Tanya pak RT. "Ada pak, papa masih makan, silahkan masuk," ujar Elian dengan ramah. "Baiklah, saya menunggu di luar saja," ujar pak RT. Elian masuk dengan muka yang kecewa. "Siapa sayang? Kenapa wajah kamu seperti itu?" Tanya Maria. "Bukan Sheril, Ma, tapi pak RT mau bertemu dengan Papa," ujar Elian. Kebetulan Chandra sudah menyelesaikan makannya, ia langsung menemui pak RT di luar. "Ma, bikin teh ya," titah Chandra pada istrinya. "Iya, Pa," jawab Maria. "Elian, tidak usah di pikirkan. Nanti juga Sheril akan kembali, sekarang istrahatlah," ujar Maria. "Baik, Ma, Sheril keatas dulu," ujar Elian beranjak meninggalkan meja makan. Wajib vote dan like setelah membaca ya reader. yuk komen, biar author update lagi. jangan lupa follow author ya. terimakasih 💕💕