Kisah ini menceritakan tentang seorang gadis yang bernama Annisa Khairunnisa patah hati berulang kali, dan membuatnya ingin berhijrah dari pacaran, namun tak semudah yang Annisa bayangkan karena ketika dia sedang berhijrah mendapatkan hinaan dari sahabatnya, apakah Annisa mampu melwati semua itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ridwan jujun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 20
Selepas sholat Isya' & tidur sebentar, badanku sudah cukup membaik & tidak lemas lagi. Aku terbangun untuk memberesi seluruh barang-barangku & buku-buku di kamarku ke dalam koper. Ya, besok rencananya setelah upacara pemakaman Adam selesai, aku harus pulang ke Garut untuk mempersiapkan Seleksi Masuk UGM. Di tengah beres-beres kamar, aku menemukan buku-buku album kenangan. Tentu saja, isinya foto-foto bersama Adam. Aku kembali menitikkan air mata. Lalu aku buru-buru menyekanya. Aku tidak boleh terus-terusan berlarut-larut karena kepergian Adam. Aku mengumpulkan semua barang-barang yang ada hubungannya dengan Adam dan meletakkannya di kardus besar. Kertas-kertas puisi, buku lagu kesukaan Adam, foto-foto yang berserakan di laci, dan lain sebagainya. Aku mulai menyobek satu per satu foto-foto aku & Adam yang tertempel di kamarku. Ada juga foto Adam yang sedang bermain gitar & lukisan saat Adam memberiku cincin di cafe.
Lalu, dengan langkah mantap aku menuju halaman belakang tempat Adam biasa berlatih bela diri bersama Om Dewa. Aku menghela nafas panjang. Bayang-bayang Adam masih begitu terasa di sini. Dengan mengucap bismillaah, aku menyalakan korek api untuk membakar kardus berisi seluruh kenangan-kenangan tadi. Aku duduk sambil merasakan kehangatan api di depanku yang perlahan-lahan mulai membesar. Aku memutar-mutar cincin yang diberikan oleh Adam. Bingung, harus diapakan. Saat sedang sibuk berfikir, Bibi datang lalu duduk di sampingku.
"Adam tadi meninggalnya jam berapa, Bi?" tanyaku.
"Jam setengah 3 siang, Nak. Saat kamu akan dimasukkan ke ruang pemeriksaan sinar X, tiba-tiba Adam kesakitan memegang pinggang kirinya & menunjukkan tanda-tanda sakaratul maut," jelas Bibi mulai berlinang air mata, "Bunda Adam langsung datang untuk membimbing Adam mengucap kalimat tahlil, alhamdulillaah Adam bisa mengikuti beliau. Lalu, Adam menghembuskan nafas terakhirnya. Kami langsung memanggil Dokter & Dokter menyatakan Adam sudah tidak ada. Kami menunggu obat biusmu hilang & tidak ada yang berani memberi tahumu. Lalu, Bunda memberanikan diri memberi tahu kamu saat kamu keluar dari kamar," lanjut Bibi.
Lalu, kuletakkan kepalaku di atas pundak Bibi & kami berdua hanyut dalam tangisan.
Dan kembali lagi, aku teringat kalimat dalam buku Motivasi Islami. "Mengapa menjalin cinta sebelum menikah hanya akan membuat sakit hati?"
.
***
Suasana haru menyelimuti rumah Adam. Aku menyandarkan kepalaku di atas pundak Bunda. Sanak saudara & tetangga Bunda menemani kami di ruang tamu. Anak-anak SMA satu sekolah & semua Bapak Ibu Guru bergantian menghibur Bunda sekalian pamit pulang. Upacara pemakaman Adam telah selesai. Kami tadi juga sudah melaksanakan sholat jenazah berjama'ah. Beberapa jam kemudian, rumah Bunda sudah agak sepi. Hanya beberapa sanak saudara & tetangga Bunda saja. Aku, Meli, Bibi, Bu Nana & Om Dewa berniat pamit pada Bunda. "Bunda, Annisa pamit dulu ya. Annisa harus pulang ke Garut sekarang. Mungkin kita akan jarang bertemu lagi, Bun. Maafkan semua kesalahan Annisa sama Bunda," pamitku sambil memeluk Bunda.
"Iya, Nak. Tidak apa-apa, karena di setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Sama-sama sayang, Bunda juga minta maaf. Kamu jaga diri baik-baik ya. Tetap jaga sholat dan tetap teguh di jalan Allah," nasihat Bunda, mungkin untuk yang terakhir kalinya.
Aku melepas pelukanku, lalu mencium tangan Bunda.
"Assalaamu'alaikum," salamku.
"Wa'alaikumussalaam," jawab Bunda.
Meli juga mencium tangan Bunda. Sedangkan Bibi & Bu Nana bercipika-cipiki bergantian dengan Bunda. Kami melangkah menuju parkiran yang agak jauh dari rumah Bunda karena saking banyaknya org yang melawat. Bunda hanya mengantar sampai di depan rumah. Aku masuk ke mobil bersama Paman & Bibi. Sedangkan Meli masuk ke mobil Bu Nana. Perlahan, mobilpun berjalan dan aku melongok rumah Adam melalui jendela mobil untuk yang terakhir kalinya. Adam, selamat jalan kekasihku. Semoga kau bertemu dengan bidadari-bidadari surga.
.
***
Beberapa menit kmudian.
"Udah adzan tuh, kita sholat di masjid sebelah sana dulu, Pak Dewa," kata Paman pada Om Dewa, menunjuk sebuah masjid di pinggir jalan.
"Baik, Pak," jwb Om Dewa.
Lalu kami turun dari mobil & masuk masjid untuk sholat berjama'ah. Selesai sholat, Paman mengajak kami mampir ke warung makan yang letaknya tak jauh dari masjid. Om Dewa & Bu Nana menyetir mobil untuk dipindah ke parkiran warung makan, sementara kami berjalan menuju warung makan. Ketika berjalan, aku menengok ke sebuah counter HP & aku minta izin Paman untuk mampir ke counter trsebut sebentar, baru nanti menyusul Paman.
"Mbak, mau flash in HP biar seperti baru lg bisa mbak?" tanyaku pada salah satu Pramuniaga.
"Bisa mbak. Silakan tunggu sekitar 15 menit lagi," jawab Pramuniaga. Ia melepas kartu SIM & MMC ku lalu masuk ke dalam counter.
Aku memotong-motong kartu SIM & membuangnya ke tempat sampah. Kartu memorinya juga kubuang. Ya, aku berniat ingin benar-benar move on dari Adam. Sebab sebesar apapun cintaku padanya, ia tak kan pernah bisa kembali lagi.
.
***
Bersambung.