Banyak sekali yang harus dilakukan Ananta Shakira sebagai bukti baktinya pada orang tuanya. Demi mendapatkan simpati publik, papanya memasukkannya sebagai tenaga pengajar di sebuah Taman Kanak Kanak.yang sudah terkenal dedikasinya dalam menelurkan anak anak pintar yang berbakat.
Kemudian dia juga harus mau dijodohkan dengan Arsen Angkasa, pewaris pengganti yang sedang naik daun, karena pewaris sebelumnya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.
Pewaris pengganti itu butuh power keluarganya yang merupakan pengusaha lokal dan salah satu wakil ketua dewan yang terhormat untuk memperkuat posisinya. Sedangkan keluarganya membutuhkan pewaris ini untuk bisa sejajar di kalangan bisnis dengan menjadikannya sebagai menantu keluarga konglomerat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyampaikan kabar baik
Latif Jaffar menemui mamanya di ruang kerjanya. Walaupun sudah menyerahkan kuasanya pada putranya yang sekarang jadi CEO, mamanya masih tetap saja bekerja di belakang layar. Karena beliau masih memiliki pengaruh yang kuat dan disegani oleh para pemegang saham.
"Siapa yang dipilih Arsen?" tanya mamanya tanpa basa basi ketika melihat kedatangan putra tunggalnya.
"Ananta, ma. Anak Gala Aghia."
Widari Bintani menganggukkan kepalanya. Dia tersenyum.
"Yang anggota dewan itu?"
"Jabatannya wakil ketua komisi, ma," koreksi Latif cepat.
"Iya, mama tau."
Latif tersenyum lega, akhirnya Arsen mau juga menikah dengan salah satu pilihan mamanya. Dia yakin jalan putranya akan semakin lancar ke depannya.
"Undang gadis itu dan keluarganya makan malam di rumah kita. Malam ini," ucap Widari Bintani memberi perintah sambil mengetukkan jari jari tangannya bergantian di atas meja.
"Iya, ma. Aku akan minta kepala chef menyiapkan menunya sekarang," ucap Latif sambil menatap jam di pergelangan tangannya.
Waktunya masih sangat cukup, batinnya.
"Ajak Danisa juga. Dia istri sahmu."
Latif terdiam. Sejak Annette datang, hubungannya dengan istrinya jadi dingin. Hampir tiap hari Danisa mengunjungi makam putra mereka. Latif tau kalo Danisa sangat kecewa dengannya.
Tapi dia tidak pernah mengkhianati Danisa. Hubungannya dengan Annette sudah terjadi sebelum mengenal istrinya itu.
"Katakan aku yang menyuruhnya datang," tukas Widari lagi ketika melihat keraguan di wajah putranya.
"Iya, ma."
"Annette juga." Walau tidak menyukai mantan kekasih putranya, tapi Widari ngga mungkin mengabaikannya. Arsen bisa menggagalkannya jika mamanya tidak dianggap di acara sepenting ini.
Latif menatap mamanya tak berkesip. Dia ngga menyangka Annette akhirnya dilibatkan juga dalam acara keluarganya.
"I iya, ma."
"Calon besan juga harus berkenalan dengan Annette."
"I iya, ma." Hatinya senang mendengarnya. Dia sudah ngga sabar untuk menemui mantan kekasihnya itu.
"Om dan tantemu juga," lanjut Widari lagi memberi titah.
Kali ini Latif terkejut.
"Buat apa mengundang mereka, ma?" tolaknya malas. Kedua orang itu malah akan menggunakan kesempatan ini untuk menjatuhkan putranya di depan calon besannya.
"Biar bagaimana pun juga mereka masih keluarga kita. Mereka harus hadir di acara bahagia ini." Widari tersenyum penuh makna.
Latif tau maksud mamanya. Pasti mau menunjukkan kalo rezimnya sulit dijatuhkan pada kedua saudaranya itu.
*
*
*
Annette sedang menata bunga bunga yang sudah dia potong ke dalam vas. Selama berada di rumah barunya ini, untuk mengusir kebosanan, dia menanam banyak bunga dan juga tanaman obat.
Putranya Arsen juga selalu pergi pagi dan pulang larut malam. Bekerja ngga kenal waktu.
"Keadaanmu sudah membaik?" tanya Latif ketika sudah berada di depan Annette.
Annette yang ngga menyangka akan kedatangannya, berusaha menyembunyikan kekagetannya.
"Yah, begitulah." Pengobatan yang rutin membuat kondisinya lebih baik dari dulu. Mungkin juga sekarang hatinya sudah jauh lebih tenang karena melihat masa depan Arsen yang sudah cemerlang, jadi pikirannya sudah tidak sekusut dulu lagi.
Memang benar yang dikatakan para ahli, pikiran tenang membuat penyakit lebih mudah disembuhkan.
"Arsen sudah menentukan pilihannya," ucapnya sambil menatap dalam pada wajah yang pernah membuatnya hampir gila karena kehilangannya.
Tangan Annette berhenti memasukkan potongan bunganya ke dalam vas. Dia agak terkejut mendengarnya karena Arsen belum memberi taunya soal ini.
"Siapa?" tanyanya penuh minat. Latif sempat menunjukkan foto foto gadis yang akan dijodohkan degan Arsen. Semuanya cantik cantik dan dari keluarga terpandang.
"Ananta, anaknya Gala dan Prameswari."
"Oooh." Annete meletakkan bunga potong itu ke dalam vas dan mengatur posisinya. Dia tidak kenal. Semua orang tua para gadis yang dijodohkan dengan putranya itu tidak ada yang dia kenal.
"Namanya mirip dengan namamu,"
Annette hanya menganggukkan kepalanya.
Kebetulan sekali, batinnya. Dia pasti mau sama Arsen karena putranya pewaris wanita tua egois itu, batinnya lagi mencela.
"Mama mengundang keluarga mereka malam ini ke rumah. Kamu juga diminta datang."
Annette terdiam. Dia merasa salah mendengar ucapan Latif. Mama Latif tidak menyukainya. Dia juga begitu.
'Istrimu juga datang?" Annette balik bertanya.
"Aku belum mengabarinya." Latif lebih dulu menemui mantan kekasihnya. Dia lebih memprioritaskan Annette dari pada Danisa.
"Kamu datang, ya? Sebentar lagi desainer akan membawakan beberapa gaun yang bisa kamu pilih untuk acara nanti malam," bujuknya lembut.
Annette ngga nyangka setotalitas itu Latif melakukannya. Dia jadi teringat kenangan kenangan mereka dulu.
"Kamu ngga malu dengan kehadiranku?" Pancingnya ngga mau terpengaruh dengan sisa sisa romantisme mereka dulu.
"Kenapa? Aku malah bangga. Pegang janjiku, setelah putra kita menikah, aku juga akan menikahimu," tegas Latif. Hubungan mereka harus diresmikan. Apalagi kondisi Annette seperti ini. Dia ingin ikut merawatnya. Rasa cintanya masih ada juga ditambah dengan perasaan bersalahnya. Berkali kali dia mengutuki kebodohannya yang dengan mudah percaya kalo Annette sudah berselingkuh darinya.
"Danisa akan menolak. Sama seperti aku kalo berada di posisinya." Annete menatap Latif dengan tatapan tajam.
Latif Jaffar tersenyum lembut sambil mengusap lengan istrinya.
"Kalo aku denganmu sejak dulu, aku tentu tidak akan menikahi Danisa."
DEG DEG
Perasaan berbunga itu kembali hadir di hati Annette.
*
*
*
Hari ini adalah hari yang paling sibuk untuk Latif. Setelah pulang menemui Annette, dia kemudian menelpon istrinya.
Tidak ada jawaban. Padahal telpon itu sudah tersambung.
Latif menghela nafas panjang. Istrinya masih marah dan sekarang dia pasti sedang mengadu di kuburan putra mereka.
Dia kemudian memilih mengirimkan pesan, juga pada Arsen. Karena setelah ini dia harus menemui Gala Aghia, calon besannya.yang pasti sudah ngga sabar menunggu kabar baiknya sejak acara kencan anak anak mereka. Baru setelah itu dia akan menemui om dan tantenya.
*
*
*
Gala Aghia menaruh banyak harapan ketika Latif Jaffar datang ke ruangannya. Senyum lebar tersungging di bibirnya menyambut kedatangan calon besannya.
"Aku tidak mengganggu waktumu, kan?" Laki laki paruh baya itu segera duduk di hadapannya.
Gala Aghia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Mau kopi," tawar Gala pada tamu yang menjadi harapannya dan istrinya, agar putri mereka dapat dipilih menjadi menantunya.
"Boleh." Di tempat Annette tadi dia menolak minuman yang ditawarkan mantannya itu.
Aghia meminta sekretarisnya menyuruh ob untuk membuatkan kopi pesanannya.
"Susana di ruang dewan bagaimana hari ini?" tanya Latif Jaffar berbasa basi.
"Masih seperti biasa. Coba aja besok kamu mencalonkan diri," tawar Gala Aghia dengan segaris senyum di bibirnya.
"Aku ngga bakat mengurus banyak kepentingan," kekeh Latif Jaffar menyindir.
Gala Aggia balas tertawa. Tidak marah karena memang itu kenyataannya.
"Kedatanganmu ke sini bukan untuk pembahasan konyol ini, kan?" tudingnya setelah tawa mereka berakhir. Dia sudah ngga sabar untuk mendengar maksud dan tujuan kedatangan Latif.
Latif Jaffar menatap penuh arti. Dia hampir membuka mulutnya, tapi dibatalkan karena mendengar suara ketukan.
TOK TOK
"Kopi kita datang," ucapnya bersamaan dengan pintu ruangan yang terbuka dan seorang ob laki laki muda, masuk dengan tangan memegang nampan yang berisi dua cangkir kopi yang masih mengepulkan uap. Harumnya sudah memenuhi ruangan Gala.
Setelah OB meninggalkan ruangan, keduanya menyesap pelan kopi yang masih panas itu.
"Aku dan mama mengundang kamu dan keluarga makan malam di rumah," ucap Latif Jaffar sambil meletakkan cangkirnya ke atas meja.
Hampir saja Gala Aghia tersedak. Binar di matanya terlihat jelas. Jantungnya berdebar keras.
"Kapan?" tanyanya sambil menenangkan degup kencang jantungnya.
"Malam ini."
DEG DEG
Detak jantung Gala Aghia makin kencang dan sulit dia kendalikan saking bahagianya mendengar kabar ini.
Mereka memilih putrinya!
semangat😉
cerita keluarga baru apa?