Cinta itu tak bisa dijelaskan seberapa besarnya. Orang mungkin menilai cinta itu sebesar dunia, samudera, bahkan langit. Namun, tak ada seseorang pun yang bisa menakar seberapa besar cintanya dengan logika. Ketika kamu telah menemukan cinta sejati, peluk dan genggamlah ia selama kamu masih memilikinya.
"Apa itu sangat menyakitkan? Kamu ingin menguburnya saja?"
"Ya, begitulah."
"Kamu bilang 'cinta yang sebenarnya akan mengikat jiwa, memenuhi semua pikiran, cinta memiliki ruang tersendiri di dalam hati.' Bagaimana dengan itu? Jiwamu telah terikat pada cintanya, jadi kamu akan terus memikirkannya?"
"Hanya satu cinta yang bisa mengikat jiwa seseorang. Tempatnya tidak akan berubah di hati. Itulah cinta yang sebenarnya, cinta sejati. Sedangkan cinta yang lain, bisa berada di mana saja, bisa datang dan pergi."
"Jadi, jiwamu belum terikat sama sekali? Aku yang akan mengikat jiwamu."
'Sudah sejak lama Ardi. Hanya saja telah tersimpan, kunci hatiku entah hilang kemana, kamu harus cari.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rikha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa ini.
🍂🍂🍂
Akan selalu ada hari-hari menyakitkan dan kita tidak tahu kapan hari itu menghantam kita. Tapi akan selalu ada hari-hari berikutnya, memulai bab yang baru bersama matahari terbit. Selama matahari terbit, kehidupan seseorang masih bisa berubah jauh lebih baik. Jangan biarkan bayangan masa lalu merusak sinar matahari untuk hari esok, hiduplah untuk hari ini.
Sinar matahari menembus ke celah-celah jendela kaca kamar Ardian. Perlahan tirainya digeser ke samping. Rindu mengerjapkan mata menetralisir cahaya yang tiba-tiba masuk. Sebelah tangannya menghalangi sinar yang mentari yang hangat itu.
Ardian tersenyum! Perlahan ia mendekat dan berlutut di samping wanita yang masih saja terbaring. Diraihnya tangan yang menghalangi sinar tadi dan menggantikan perisai dengan tubuhnya. Kemudian dikecupnya punggung tangan itu lalu beralih ke telapak tangannya, lalu berkata.
"Aku mencintaimu di pagi hari, tengah hari, di saat-saat kita bersama, dan saat-saat kita berpisah. Selamat pagi cintaku!"
Netra hitamnya menatap dengan penuh cinta. Rindu tidak siap diperlakukan seromantis ini. Hari masih pagi, hatinya telah dibuat berbunga-bunga. Wajahnya telah mulai memerah. Ardian telah melancarkan aksinya sedemikian romantisnya. Jika terus seperti ini mungkin Rindu akan cepat membuka kembali hatinya.
"Emmm…. Masih pagi kamu sudah menggombal."
"Ini bukan gombalan sayang, aku hanya membuatmu yakin betapa aku sangat mencintaimu," bisik Ardian kemudian. Suaranya sangat lembut terdengar di telinga Rindu.
"Apapun itu… kamu membuatku berbunga-bunga pagi ini!"
"Benarkah? Apakah itu cinta untukku?"
"Heemm… berharap saja."
"Baiklah… aku akan terus berharap kamu bisa mencintaiku lagi. Dan hal kecil seperti akan terus aku lakukan."
Ardian menyelipkan kedua tangannya di leher dan lipatan kaki Rindu. Kemudian perlahan mengangkat tubuh itu hendak ke kamar mandi. Rindu yang kaget reflek mengalungkan tangannya di leher Ardian.
"Aaaahhhh… Ardi… apa yang kamu lakukan?"
"Membawamu ke kamar mandi."
"Aku bisa jalan sendiri, cepat turunkan aku," Rindu menggoyangkan kakinya hendak turun.
"Tidak… setelah kita sampai disana," Ardian semakin mempererat pegangannya.
"Ya Tuhan ini terlalu berlebihan… apa kamu juga akan membantuku untuk mandi?"
"Jika kamu mengizinkan," matanya berbinar.
"Hhaahh… dasar mesum," dipukulnya pelan pundak Ardian.
"Hahaha… aku mesum hanya padamu, kamu juga boleh begitu padaku. Hanya saja mungkin akan akan memakanmu," seringai Ardian.
"Aahh… kamu…," Rindu tertunduk, pipinya bersemu kemerahan.
Perlahan Ardian berjalan menuju kamar mandi. Senyumnya sangat lebar, karena berhasil melancarkan aksi romantisnya pagi ini dan membuat Rindu berbunga-bunga. Perlahan diturunkannya tubuh Rindu di depan wastafel. Rindu kemudian berbalik menghadap cermin. Setengah melotot ia melihat sesuatu mengejutkan. Terdapat beberapa tanda kemerahan di lehernya. Lalu ia melirik Ardian melalui cermin persegi itu. Seperti baru ketahuan melakukan sesuatu, Ardian menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Apa ini… Ardi!" tanya nya sinis.
"Itu… itu… Maaf sayang… aku khilaf," senggir Ardian merasa bersalah.
Rindu kemudian mengintip ke dalam dadanya. Untung saja disana tidak ada.
"Kamu… ini… setelah ini gak ada acara menginap lagi," tatapan tajam menusuk mata Ardian. Pria itu bergidik ngeri.
"Maafkan aku sayang… aku janji tidak akan terjadi lagi."
"Sudahlah… keluar sana, aku mau mandi"
"Ok… sayang… muachh," Ardian melayangkan ciuman jauh melalui pantulan di cermin. Lalu segera keluar dari sana. Rindu menggeleng dan tersenyum tipis.
Pagi-pagi sekali Ardian memang sudah bangun. Matahari pun belum bangun. Saat melihat wajah Rindu yang tertidur pulas di dekapannya, saat Itulah Ardian melancarkan aksinya. Ketika kepalanya ingin menelusup ke dada montok Rindu ia menyandarkan dirinya. Dan segera berlari ke kamar mandi melepaskan hasratnya tersebut.
🍂🍂🍂
"Kamu urus saja sebagaimana seharusnya… ini pekerjaan mudah. Jika dia berani menyebarkan berita yang merugikan, layangkan saja gugatan dan minta ganti rugi."
"....."
"Terserah kamu saja…. selagi tidak merugikan biarkan saja. Ini hari minggu, jadi biarkan aku menikmati hari liburku"
"....."
"Kali ini berbeda…. mulai sekarang hari Minggu adalah waktu istirahatku, jangan berikan pekerjaan apapun untukku."
"....."
"Eemmm…."
HP itu dilemparkan begitu saja ke meja. Kemudian melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda tadi. Rindu yang baru selesai mandi langsung menuju dapur. Ia mengenakan setelan yang dikirim atas perintah Ardian semalam. Ardian menyalakan api dan mulainem goreng telur mata sapi. Dan Rindu mendekat hendak membantunya.
"Ada masalah di kantor?"
"Mmm… hanya masalah kecil, bukan tugas CEO, mereka bisa mengurusnya."
"Oo…."
"Tunggulah di meja makan sebentar lagi sarapan siap."
"Tidak mau aku bantu."
"Gak usah sayang… aku mau melayanimu hari ini," ucapnya teduh.
"Oo… baiklah."
Sambil menunggu Rindu menyibukkan diri dengan media sosialnya. Melihat-lihat apakah ada berita menarik perhatiannya. Saat terhenti di sebuah postingan, sontak membuatnya kaget. Rindu membaca caption yang terdapat videonya dan Ardian viral.
'CEO perusahaan besar menggandeng kekasih'
Walau wajahnya tidak begitu jelas, tapi beberapa komentar menyebutkan bahwa ia seorang penyanyi di Cafe itu. Kebanyakan komentar bertanya-tanya siapakah sang CEO itu. Rindu memeriksa kotak DM nya. Ternyata teman-temannya telah mengirimkan pesan dari semalam. Dari kemarin Rindu mematikan semua notifikasi di HPnya.
"Rin… itu kamu sama Ardian bukan? Kalian sudah ketemu? Aku gak mau ketinggalan berita, cepat kasih tahu aku?"
Dian.
"Rin... kapan kita ngumpul lagi."
Dimas.
"Rin… kamu sama siapa?"
Tia, teman sekantornya.
"Woii… selera kamu orang kaya yah, pantesan sombong."
orang yang selalu iri padanya.
Dan banyak lagi pesan lainnya dari orang-orang yang mengenalinya. Rindu gelisah, tidak mau kejadian ini berimbas pada Kanaya putri kecilnya.
Saat Ardian menghampiri, terlihat jelas kegelisahan itu di wajahnya. Ardian meletakkan hasil masakannya di meja.
"Rin… apa yang sedang kamu pikirkan?" Ardian mengerutkan keningnya, memandangi Rindu sedang tertunduk melihat layar telponnya. Rindu terdiam.
"Kamu sudah melihatnya?"
Rindu mengangguk pelan. Ardian mengambil HP dari tangan wanita itu, lalu meletakkannya di meja. Ia berlutut di samping menggenggam tangan Rindu erat.
"Rin… lihat aku," Rindu pun menoleh, mereka bertatapan.
"Apa yang kamu khawatirkan?"
"Kanaya… Ardi."
"Kanaya? Itu nama putrimu?"
"Iya…."
"Kenapa dengan gadis kecil itu? Apakah terjadi hal buruk?" Rindu menggeleng.
"Mantan suamiku pernah mengancam akan mengambil Kanaya secara paksa jika aku… punya kekasih."
"Hah… apa maksudnya!"
"Aku tidak tahu… aku hanya ingin segera berpisah dengannya, dan menyetujui syarat itu."
"Laki-laki bajingan…. Mengancam seorang wanita sangat tidak berperasaan!" nadanya marah.
Perkataan Rindu membuatnya semakin membenci pria yang telah menjadi mantan suami wanita yang dia cintai.
"Lalu… sekarang bagaimana? unggahan video itu telah menyebar. Bagaimana kalau dia sampai melihatnya?" matanya berkabut, air bening itu hampir terjun dari pelupuk matanya.
"Kamu tidak usah khawatir, orang suruhan ku sedang menghapus semua postingan itu. Semoga saja dia belum melihatnya. Jika terjadi sesuatu, aku akan melindungi kalian."
"Terimakasih," mata cantiknya berbinar, terharu dengan cara Ardian mencintainya.
"Tidak usah berterima kasih sayang, aku melakukan semuanya untuk dirimu."
Ardian mengecup punggung tangan Rindu. Diusapnya pelan pelupuk mata Cinta pertamanya itu.
*
*
*
*
*
Jangan lupa tinggalkan jejak nya ya...
LoPe dan JemPol kamu yang berharga. 🥰
Komen Yuk ramein, biar Aku semangat nulisnya...
Dukung terus author ya...
Love U all ☺️😘
diMangatoon lah tempatnya 😁
Hari ini kutemui karyamu 😊
Mari salkung bersama - sama 🤣
Semangat Kaka 🤗 !!!
Jika kak Author ada waktu mari mampir kekarya saya :
" MISTERI DUA CINCIN DIBALIK RUNTUHNYA ISTANA ANDALUSIA " .
Semangat terus 👍👍
...
Nanggung Ardiii...
😭😁🤣