"Karena hati tidak perlu memilih, ia selalu tahu kemana akan berlabuh"
Begitu juga dengan Darren yang rela menjadi seorang playboy agar bisa menemukan wanita yang tidak sengaja ia nodai. Setelah 6 tahun lamanya Darren baru bisa bertemu dengan Celine wanita yang selama ini dia cari. Darren tidak menyangka kalau dirinya memiliki dua anak kembar laki-laki yang genius hasil perbuatannya dulu.
Akankah mereka bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirwana Asri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyusun Rencana
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Darren kepada wanita yang di sebelahnya.
"Iya terima kasih sudah menolongku," kata Celine.
Setelah beberapa lama mereka di dalam mobil, Darren menghentikan lajunya. Mereka sudah sampai di apartemen Celine.
"Aku duluan," kata Celine sambil turun dari mobil.
"Hei mulutmu itu kurang gula apa bagaimana tidak ada manis-manisnya." kata Darren kesal karena Celine lupa berterima kasih kepada dirinya.
"Besok akan ku tambahkan gula, sekaramg cepat pulanglah, terima kasih sudah mengantarkan aku dengan selamat," akhirnya kata-kata yang ditunggu diucapkan Celine juga.
"Masuklah aku pulang dulu," Darren kemudian melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan Celine.
Saat Celine membuka pintu apartemen Celine tidak melihat anak-anaknya. Lalu dia menuju ke kamar si kembar. Benar saja mereka sudah tertidur.
"Maafkan mommy sayang, mommy tidak pernah menepati janji pulang tepat waktu," sesal Celine sambil mencium kening anak kembarnya satu per satu.
Kemudian Celine menutup kamar mereka kembali dan berjalan menuju kamarnya sendiri untuk beristirahat.
Saat Celine merebahkan badannya di atas ranjang, Celine teringat akan perkataan Anabel.
"Apa yang dia maksud kalau aku dan ibuku sama-sama pelakor." gumam Celine.
"Agh sebaiknya aku tidak menanggapi omong kosong Anabel. Namanya seburuk perangainya sama-sama horor," Celine menggedikkan bahunya.
...***...
"Mommy aku bosan di rumah bolehkan aku datang menemui daddy?" kata Jaden.
"Tapi daddymu sedang bekerja sayang jangan ganggu dia, oke," Celine mencoba memberi pengertian kepada anak bungsunya itu.
"Lebih baik aku telpon daddy dulu mom biar memastikan daddy sibuk atau tidak," timpal Julian.
📞 Kring kring
"Hallo daddy, apa daddy sibuk sekarang? bolehkan sekali-kali kami main ke kantormu?, emm baiklah," Julian menutup sambungan teleponnya
"Mom daddy mengijinkan kami pergi ke kantornya, apa mommy mau ikut?" tanya Julian.
"Tidak sayang mommy ingin di rumah saja," kata Celine
"Baiklah, nanti sopir daddy akan menjemput kami," kata Julian menambahkan.
Setelah Julian dan Jaden pergi Celine menuju ke dapur saat membuka kulkas dilihat susu anak kembarnya mulai habis. Dia pun berniat membeli susu di supermarket.
...***...
Di sisi lain Jaden dan Julian yang sudah sampai di kantor daddy nya merasa kagum karena baru pertama kali mereka menginjakkan kantor yang mewah dan terlihat sangat bersih itu.
"Wow daddy kita hebat ya punya perusahaan sebesar ini," Jaden sangat kagum denagn pemandangan yang dilihatnya.
"Gak salah mommy ketemu daddy," mereka berdua terkekeh.
"Tuan kecil," sapa Bagas asisten pribadi Darren.
"Om Bagas kami ingin bertemu dengan daddy," kata si kembar.
"Mari saya antarkan," Julian dan Jaden mengikuti langkah Bagas.
"Silahkan tunggu di dalam tuan kecil, tuan besar sedang ada meeting di ruangan lain, mari masuk tuan," kata Bagas dengan sopan sambil membukakan pintu untuk mereka.
Bagas pergi meninggalkan mereka berdua setelah menyuruh anak-anak itu masuk. Selang beberapa lama Darren memasuki ruangan kerjanya.
Ceklek
"Dorr angkat tangan anda saya kami tangkap karena telah mencuri," Jaden menodongkan pistol ke arah Darren daddynya.
Darren yang kaget lalu mengankat kedua tangan
"Ampun pak polisi jangan tangkap saya, saya hanya mencuri hati mommy kalian," seketika tawa itu pecah saat Julian dan Jaden mendengar perkataan daddynya.
"Daddy kami kangen," Jaden dan Julian memeluk erat ayahnya.
"Iya sayang daddy juga kangen, Jaden dari mana kamu dapat senjata itu?" tanya Darren penasaran.
"Dari dalam lemari dad, kenapa daddy menyimpannya?" tanya Jaden.
"Hanya untuk berjaga-jaga, boleh kamu serahkan senjata itu pada daddy?" Darren meminta senjata yang dipegang Jaden.
"Fhuf akhirnya kalau sampai anak ini menarik pelatuknya aku bisa mati konyol di tangan anak kecil," batin Darren yang merasa lega karena senjata itu sudah ada di tangannya.
"Terima kasih sayang, oh iya kenapa kalian hanya berdua? mana mommy kalian?" tanya Darren penasaran.
"Mommy tidak mau ikut katanya dia ingin menghabiskan waktu di rumah saja," kata Julian.
"Huh padahal aku sangat merindukannya sehari saja aku tidak melihat dia aku bisa gila karena tidak melihat senyumnya yang manis." bagin Darren sambil tersenyum.
"Dad kapan daddy mau menikahi mommy? aku juga ingin seperti anak-anak lain yang bisa sekolah," tanya Julian
"Bersabarlah sayang daddy belum bisa membuat hati mommy mu luluh," raut muka Darren tampak sedih.
"Daddy bisa bermain musik?" tanya Jaden.
"Lalu? apa yang harus daddy lakukan?" tanya Darren yang meminta pendapat putranya.
"Kalau aku nonton di film-film biasanya laki-laki yang tertarik dengan wanita akan menyanyi sambil memainkan gitar agar terlihat romantis di mata pasangannya," kata Jaden menjelaskan.
"Sial kenapa tidak terpikirkan olehku, bagus juga ide Jaden, dia memang mirip seperti ku tapi kenapa sekecil ini ada darah playboy?" batin Darren dalam hati.
"Oke nanti kita susun rencana, toss dulu dong," Darre mengajak anaknya berhigh five ria.
...***...
Sementara itu Celine yang pergi ke supermarket sendirian telah selesai memilih belanjaan yang ditaruh di keranjangnya. Saat Celine sudah berada di kasir Celine lupa membawa karru atm miliknya, di dompetnya hanya ada uang sedikit itu pun tidak cukup untuk membayar belanjaan.
"Aduh mana ya atmku?" Celine mengobrak abrik isi dalam tasnya tapi tetap tidak menemukan kartu atm miliknya.
"Ini mbak bisa pakai punya saya," seseorang menyodorkan kartu ATM miliknya ke kasir. Kemudian Celine menoleh ke arah suara bariton itu.
"Devon kenapa kita selalu bertemu secara kebetulan, kenapa kamu membayar semua belanjaku?" Celine merasa tidak enak hati.
"Mungkin ini yang dinamakan jodoh," Devon berpura-pura padahal Devon mengikuti Celine sejak keluar dari apartemen.
Awalnya Devon mengunjungi apartemen Celine untuk meminta maaf setelah kejadian semalam. Akan tetapi Devon melihat Celine menaiki taxi kemudian Devon berinisiatif mengikuti wanita itu. Lalu Devon melihat Celine berdiri lama di depan kasir sambil mengobrak abrik tas miliknya. Devon pun menghampiri Celine dari belakang kemudian melihat barang belanjaannya yang belum dibayar. Akhirnya Devon menyodorkan kartu atm miliknya ke kasir.
"Terima kasih kau selalu membantuku," kata Celine dengan tersenyum dan mengambil barang belanjaan miliknya.
"Biar aku bantu," Devon pun meraih tas belanja dari tangan Celine.
"Ayo naiklah ke mobilku," Devon menawarkan tumpangan.
"Tidak aku tidak mau merepotkan mu terus. Aku bisa naik taxi." kata Celine dengan lembut agar Devon tidak tersinggung saat Celine menolaknya.
"Masuklah ada yang ingin ku bicarakan denganmu," Devon sedikit memohon.
Devon mulai menyalakan mesin mobilnya.
"Celine aku minta maaf atas kejadian semalam," terlihat penyesalan di wajah Devon.
"Lupakan, aku tidak apa-apa. Maaf semalam aku pulang duluan." kata Celine
"Aku tahu," jawab lelaki itu.
"Aku tahu kamu pulang dengan kakakku Darren, sebenarnya aku tidak suka tapi aku tidak bisa mencegahmu pergi," tambah Devon.
"Aku..." belum selesai Celine bicara, Devon sudah menyelanya.
"Tenanglah aku tidak akan mempermasalahkan itu," Devon menghentikan laju mobilnya. Mereka sudah sampai di depan apartemen Celine.