Kanaya, perempuan kaya raya keturunan darah biru dari keluarga Mahendran, sejak kecil terikat perjodohan.
Davin suaminya menolak secara terang-terangan saat malam pertama . Satu kamar tidur terpisah
Di sinilah penderitaan Kanaya perang batin menghadapi suami yang dingin
Apakah Kanaya mampu mendapatkan cinta dan malam pertamanya dari suaminya?
Sedangkan suaminya selalu terbayang-bayang oleh perempuan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Foto mereka
Sore itu setelah aku pulang praktek dari rumah sakit aku melihat mami sedang sibuk menyirami bunga. Mami memang suka sekali dengan tanaman bunga. Banyak sekali koleksi bunga yang aku gak tau namanya. Di atas kolam ikan pun di penuhi dengan bunga.Ada bunga anggrek, tanduk rusa juga bunga kertas, masih banyak yang lainnya yang gak bisa aku sebutkan satu persatu.Ada air mancur yang gemricik setiap sunyi pasti terdengar nyaring. Apalagi di samping kamarku, setiap malam sunyi hanya air mancur ini yang selalu menjadi teman setiaku.
Banyak juga buah-buahan yang di tanam sama mami yang ukuran pohonya gak besar. Ada anggur, jeruk, apel dan lainnya yang masih banyak lagi jumlahnya. Semua tertata apik di halaman rumah. Rumah megah bak istana tapi terlihat asri karna di tata dengan tangan ajaib mami yang begitu telaten.
Aku masih terdiam di dalam mobil memperhatikan mami yang begitu semangat menata dan membersihkan bunga, juga mengambil daun yang sudah kering. Meskipun banyak maid tapi kalau masalah bunga d
mami pasti langsung turun tangan. Sampai akhirnya mami menghampiriku ke mobil dan mengetuk pintu mobil. Ku tarik nafas yang panjang sebelum aku berhadapan dengan mami.
"Kay kok belom turun?"
"Iya mi bentar tadi balas Chat dari Caca."
"Sudah makan belom Kay? Kalau belom makan dulu nanti temenin mani di sini."
"Siap mi." Jawabku dengan semangat. Setelah semuanya selasai aku segera menyusul mami di taman.
"Sini Kay, lihat ikannya udah pada besar." Aku tersenyum mami seperti anak kecil kalau saat bersamaku. Manjanya pasti kumat.
"Kay."
"Iya mi."
"Kamu tau dulu papi mu ini yang semangat buat kolam ikan ini. Setelah melamar kamu. Katanya kelak cucu kami bisa main ikan dan air mancur." Aku melihat raut wajah mami yang tidak bisa di jabarkan. Tatapan yang sendu membuat hati bergetar. Aku tau mami dan papi sangat mengharapkan cucunya segera hadir. Setiap saat berdoa agar kami segera mendapat keturunan. Aku cuma berdoa dalam hati agar putra mami hatinya cepat melunak.
Aku tau sebenarnya mas Davin bukanlah orang yang angkuh dan arogan.Melihat sikapnya di di cafe dengan karyawan dia sangat ramah, tidak menunjukkan dia bos. Bahkan saat makan bubur ayam dia sangat telaten menyuapiku dan dia bergaul tanpa pandang status. Terbukti dia tidak jijik saat makan bubur di pinggir jalan. Sikap mas Davin dingin mungkin karna dia perang batin dan sakit hati karna perjodohan ini. Sama sepertiku yang selalu berusaha menyembuhkan sakit hatiku. Ingin pergi mencari cintaku. Dan waktu lah yang dapat menyembuhkannya. Sampai akhirnya sekarang aku berusaha keras untuk tidak meninggalkan mas Davin.
Mas Davin maaf, karena aku selalu berprasangka buruk tentangmu. Aku gak tau kesulitan yang kamu hadapi. Bahkan aku juga gak tau kehidupanmu di luar.
"Kay besok kalau Davin sudah pulang kamu bulan madu ya."
"Ah gak usah mi. Lagian usia pernikahan kami sudah berjalan 1 tahun lho. Masa mau bulan madu."
"Sejak menikah kan kalian belom pernah bulan madu."
"Aku gak papa kok mi. Lagian aku juga masih praktek dan mengurus yang lainnya, gak gampang meninggalkan tanggung jawab ini mi."
"Gak papa Kay, 3 hari gak akan jadi kacau, kan masih banyak asisten yang bisa menanganinya." Anak temen-temen mami juga bulan madu Kay, terus mereka segera dapat cucu."
"Gak usah mi malu kan bukan pengantin baru kagi."
"Eits gak ada penolakan. Besok kalau Davin pulang mami akan bicara."
"Ya udah mi, Kay ikut aja." Pasrah Kanaya.
Tiba-tiba aku rindu dengan mas Davin. Ingat ketakutan saat aku mengancamnya pulang. Saat dia memelukku dari belakang dengan erat, seolah dia ingin menguasai tubuh dan hatiku.Apakah setelah pulang mas Davin akan tidur satu ranjang denganku, atau dia akan memilih tidur di sofa?
Mami mengajakku masuk ke perpustakaan dan membaca buku kesehatan. Hpku berdering. Hatiku berdetak. Pasti mas Davin yang hubungiku dan dia sudah selesai dengan kegiatan nya.
Aku gak sabar mendengar suaranya dan hembusan nafasnya yang bisa membuatku menggelepar tak berdaya. Serta genggaman tangannya yang membuatku tak berkutik. Aku juga ingat pesan mami yang menyuruh kami bulan madu. Kira kira bagai mana tanggapan mas Davin ya? apa dia akan menolak permintaan mami? Aku segera membuka WA, ternyata bukan dari mas Davin tapi dari caca.
Deg... jantungku seolah berhenti berdetak melihat foto yang dikirimkan oleh Caca. Seolah lamunan indah yang tadi aku bayangkan musnah, terganti bayangan yang menghancurkan hati. Aku langsung memegang dinding perpustakaan mencari kekuatan karna kakiku tidak kuat menampung beban tubuhku.
Di sana ada foto mas Davin dan Ratna yang sedang makan malam berduaan. Dengan pemandangan taman. Sepertinya tempat mereka pilih tempat terbuka. Sangat memanjakan mata. Ku lihat mas Davin juga terlihat senyum mempesona seperti biasa. Dan Ratna menggunakan dress yang sangat anggun dengan menatap mas Davin begitu memuja.
Aku tau dia patner kerja. Tapi melihat mas Davin yang begitu bahagia, membuat hatiku hancur berkeping-keping. Baru saja aku menaruh sebuah harapan yang begitu besar langsung hancur seketika. Cemburu? Ya aku cemburu dengan kedekatan mereka. Disana cuacanya dingin dan mereka saling memuja. Bagaiman jika mereka saling menginginkan dan saling menghangatkan? Bayanganku ke mana-mana. Aku gak sanggup bila itu terjadi.
"Kay kamu gak papa? Aku gak punya maksud lain. Tapi waspada itu harus, dia milikmu dan selamanya akan menjadi milikmu. Kamu harus menyikapinya dengan sabar dan kepala dingin."
Rasanya tangisku akan meledak. Jika tidak ada mami mungkin aku sudah meraung-raung.
Aku ingin menghubungi dan menanyakan tentang foto itu tapi itu gak mungkin. Jadi lagi dan lagi batinku harus tersakiti. Aku takut jika Ratna mengambil posisiku. Dia yang cantik dan anggun dan sikap ramahnya dapat membuat mas Davin kembali beku terhadapku. Apa yang aku lakukan jika itu terjadi? Baru aja aku merasakan sikap hangat mas Davin tapi sekarang sudah terancam di abang kebekuan lagi.
Air mataku lolos begitu saja. Aku dah gak kuat menahannya. Kulirik mami masih asik dengan bukunya. Aku gak boleh gegabah. Aku harus memikirkan keutuhan rumah tangga ku. Ku yakinkan hatiku sendiri, mas Davin dan Ratna cuma patner gak lebih. Mereka cuma masa lalu dan aku lah sekarang yang menjadi masa depan mas Davin. Biarkan waktu yang akan menyelesaikan urusan mereka.
"Kay."
"Ya mi." Ku usap air mataku agar mami gak tau kalau aku habis menangis.
"Davin kapan pulang?"
"Lusa mi."
"Kamu udah hubungin Davin, kok dari pagi mami hubungi gak bisa?"
"Sibuk mungkin mi."
"Sesibuk apa sih Davin masa nyampe jam segini gak hubungin mami."
Lagi dan lagi aku menangis dalam diam. Pikiran ku dikuasi prasangka buruk. Angin berhembus menerpa wajahku seolah dia tau kalau aku sedih dan memberiku ketenangan. Mami berjalan meninggalkanku di perpustakaan sendiri. Baru aja mami punya rencana bulan madu yang sangat ku inginkan tapi harus di terjang dengan rasa cemburu ku. Aku gak tau setelah mas Davin pulang dari luar kota akan masih hangat atau justru semakin membeku. Aku takut kehilangan mas Davin.
**Kepoin terus cerita menunggu cintamu. Masih banyak kejutan yang lainnya. Jangan lupa coment dan likenya agar author semangat.....
dan sebaliknya aku lebih jijik novel karya wanita yang begitu lembut pada pebinor, karya ini adalah pemikiran wanita murahan dan munafik
*pelakor kalian laknat habis2an tidak ada maaf bagi pelakor tapi kelian begitu lembut pada pebinor (pemikiran wanita murahan)
*kalian akan melaknat jika suami kalian berbuat baik dan lembut pada pelakor tapi kalian begitu lembut sampai menangisi, bahkan berkali2 merasa bersalah dan meminta maaf pada pebinor (pemikiran wanita munafik)
coba suami kalian memperlakukan pelakor kayak gitu, pakai otak kalian wanita2 (author dan readernya)munafik
isi novelnya cuman menceritakan isi kisah nya.
jadi kaya baca dongeng sebelum tidur..