NovelToon NovelToon
Koh, Ini Salah

Koh, Ini Salah

Status: tamat
Genre:Berondong / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.

Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."

Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.

Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.

Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.

Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.

Empat tahun kemudian, badai datang lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15

Goresan di Loteng

Kevin tidak langsung pergi setelah Chisen masuk.

Ia berdiri di bawah payung, menatap pintu utama yang baru saja tertutup, lalu menoleh pada Erlyn dengan ragu.

"Itu kakak tirimu?"

Erlyn mengangguk. "Iya."

"Aku membuat masalah?"

"Tidak." Jawaban itu keluar terlalu cepat. Erlyn menarik napas, lalu mengulang dengan lebih tenang. "Tidak. Sopirku memang terlambat. Kamu cuma membantu."

Kevin tampak belum sepenuhnya percaya, tetapi ia tidak memaksa. "Kalau begitu aku pulang dulu."

"Terima kasih sudah mengantar."

"Sama-sama."

Ia menunduk sopan sekali lagi, lalu kembali ke mobil. Erlyn menunggu sampai mobil itu keluar dari pagar Jalan Kenanga sebelum masuk ke rumah.

Di dalam, udara terasa berbeda.

Bukan karena hujan. Bukan karena lantai marmer yang dingin. Ada sesuatu yang tertinggal dari tatapan Chisen tadi, sesuatu yang tidak bersuara tetapi membuat ruang tengah terasa lebih sempit.

Jing muncul dari arah dapur sambil mengelap tangan.

"Er, sudah pulang? Tadi Mama cari kamu."

"Iya, Ma. Sopir macet, jadi aku ikut teman."

"Teman sekolah?"

"Iya. Kevin."

Jing mengangguk, tidak curiga. "Lain kali kabari Mama juga, ya. Mama sempat khawatir."

"Aku sudah kabari sopir."

"Sopir bukan Mama."

Nada itu lembut, tetapi cukup membuat Erlyn menunduk. "Maaf."

Jing menyentuh pipinya sebentar. "Tidak apa-apa. Ganti baju dulu. Nanti makan malam."

Erlyn mengangguk, lalu menatap ke arah tangga. Dari atas tidak terdengar apa pun. Chisen sudah menghilang ke loteng seperti biasa, tetapi kali ini ketiadaan suaranya membuat Erlyn lebih gelisah daripada suara apa pun.

Ia naik ke kamar, mengganti seragam, lalu berdiri lama di depan cermin.

Tidak ada yang salah.

Ia tidak melakukan hal aneh. Kevin hanya mengantar pulang karena hujan. Mereka duduk terpisah di mobil. Kevin bahkan turun hanya untuk memayunginya sampai teras. Semua itu normal. Sangat normal.

Lalu kenapa ia merasa seperti harus menjelaskan pada Chisen?

Pertanyaan itu membuatnya kesal pada diri sendiri.

Chisen bukan Papa. Bukan Mama. Ia juga bukan orang yang punya hak mengatur dengan siapa Erlyn pulang. Ia hanya kakak tiri yang kebetulan sering benar dan terlalu sering muncul di saat Erlyn tidak tahu harus bagaimana.

Hanya kakak tiri.

Kalimat itu seharusnya menenangkan.

Tidak.

Ponselnya bergetar di atas meja rias.

Kevin: Sudah aman masuk rumah?

Erlyn menatap pesan itu beberapa saat. Pertanyaan itu sopan. Wajar. Tidak ada kata yang melewati batas. Siapa pun yang baru mengantar teman pulang saat hujan bisa menulis kalimat seperti itu.

Tetap saja, ia menurunkan volume ponsel sebelum membalas.

Sudah. Terima kasih.

Kevin membalas dengan stiker kecil bergambar payung. Erlyn hampir tersenyum, tetapi suara langkah dari koridor membuatnya cepat-cepat mengunci layar. Setelah itu ia berdiri memandangi ponsel gelap di tangannya, kesal karena merasa seperti menyembunyikan sesuatu padahal tidak ada yang perlu disembunyikan.

Rasa itu menempel sampai ia turun makan.

Bahkan sop terasa sedikit hambar.

Saat makan malam, kursi Chisen kosong.

Om Changli menatap kursi itu, lalu bertanya pada orang rumah, "Chisen?"

"Tuan muda bilang masih di atas. Belum lapar."

Erlyn menunduk pada piringnya.

Jing meletakkan semangkuk sop ayam jahe di tengah meja. "Mungkin sedang mengejar lukisan."

"Dia selalu mengejar lukisan," kata Om Changli, tetapi tidak terdengar marah. Lebih seperti lelah yang sudah lama dikenal.

Erlyn mengambil nasi terlalu sedikit. Mama memperhatikannya.

"Kamu juga tidak lapar?"

"Lapar."

"Nasinya cuma segitu."

Erlyn menambah setengah sendok. Jing masih menatapnya, tetapi tidak bertanya. Kadang Mama terlalu pandai membaca wajahnya. Kadang itu membuat Erlyn ingin bersembunyi.

Setelah makan, ia membawa satu mangkuk kecil sop ke atas.

Jing melihatnya dari dapur. "Untuk Koh Chisen?"

"Mama yang suruh?"

"Mama belum suruh."

Erlyn terdiam.

Jing tersenyum tipis, tidak menggoda, hanya lembut. "Hati-hati. Mangkuknya panas."

Erlyn hampir membatalkan niatnya karena malu, tetapi mangkuk sudah berada di tangannya. Ia naik tangga pelan-pelan. Setiap langkah terasa terlalu keras. Di depan pintu loteng, ia berhenti.

Dari dalam terdengar suara kuas bergerak cepat.

Gesek.

Berhenti.

Gesek lagi, lebih panjang.

Erlyn belum pernah mendengar Chisen melukis seperti itu dari dekat. Biasanya loteng menyimpan suara halus, langkah pelan, kursi bergeser, botol cat terbuka. Malam ini, suara kuasnya kasar, seperti kain diseret di atas lantai, seperti sesuatu sedang dicoret sebelum sempat selesai.

Ia mengetuk pintu.

Suara di dalam berhenti.

"Koh?"

Tidak ada jawaban.

"Mama menyuruh makan."

Itu bohong kecil. Mama tidak menyuruh. Tetapi mengatakan bahwa ia sendiri yang membawa sop terasa terlalu aneh.

Beberapa detik kemudian, suara Chisen terdengar dari dalam.

"Taruh di luar."

Erlyn menatap pintu. "Nanti dingin."

"Tidak apa-apa."

"Koh marah?"

Sunyi.

Pertanyaan itu keluar sebelum sempat ia tahan. Begitu terdengar, Erlyn langsung ingin menariknya kembali. Ia menggenggam mangkuk lebih erat sampai panasnya menyengat telapak tangan.

"Kenapa aku harus marah?" suara Chisen akhirnya.

Datar.

Terlalu datar.

"Tidak tahu," jawab Erlyn pelan.

"Kalau tidak tahu, jangan tanya."

Kalimat itu seharusnya mengakhiri percakapan. Erlyn seharusnya meletakkan mangkuk dan pergi. Namun ia tetap berdiri di depan pintu, memandangi garis cahaya tipis di bawahnya.

"Kevin cuma mengantar karena hujan."

Di dalam, tidak ada gerakan.

"Sopir macet. Angie sudah pulang duluan. Aku tidak mau menunggu sendiri di sekolah."

Masih tidak ada jawaban.

Erlyn merasa dadanya makin panas. "Koh yang bilang jangan terlalu dekat. Aku mengerti. Tapi aku juga tidak bisa bersikap seolah semua orang punya niat buruk."

Kali ini, kursi di dalam bergerak.

Langkah Chisen mendekat ke pintu. Erlyn menahan napas.

Pintu tidak dibuka.

Suaranya terdengar sangat dekat, hanya dipisahkan kayu.

"Aku tidak bilang semua orang."

"Lalu?"

"Aku bilang dia."

Erlyn menunggu kelanjutan yang tidak pernah datang.

"Koh bahkan tidak kenal dia."

"Aku tidak perlu mengenal semua orang untuk tahu mana yang harus dijauhi."

"Itu tidak adil."

"Dunia memang tidak adil."

Erlyn menggigit bibir. "Kalau begitu Koh juga tidak adil."

Sunyi turun lagi.

Kali ini lebih berat.

Erlyn sadar ia sudah terlalu jauh. Tetapi pintu tetap tertutup, dan itu membuat keberaniannya berubah menjadi luka kecil. Ia meletakkan mangkuk sop di lantai dekat pintu.

"Makan sebelum dingin," katanya.

Ia berbalik turun.

Baru dua langkah, suara dari dalam loteng terdengar lagi.

Bukan suara pintu dibuka.

Bukan suara Chisen memanggil.

Melainkan goresan kuas yang menghantam kanvas dengan kasar, panjang, dan dalam.

Erlyn berhenti di tangga.

Suara itu datang sekali lagi.

Lebih kuat.

Seperti ada sesuatu di dalam loteng yang tidak bisa Chisen katakan dengan kata-kata, jadi ia melukainya ke atas kanvas.

1
May Maya
baru mampir Thor semoga cerita nya bgus n GK berhenti d tngh jln
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!