NovelToon NovelToon
Devil Dosen

Devil Dosen

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Misteri / Tamat
Popularitas:967.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Rainawjy

Secepatnya bakal direvisiz supaya tidak mengandung plot hole

Mereka bilang, itu nasib baik bila bertemu dengan Dosen tampan. Tapi, bagi Nara, itu tidak!

Kehidupan bebas menjadi penuh kekangan, misteri, tragedi, dan tangisan. Sempat dia tahu Nara melarikan diri, jangan salahkan dia memberikan hukuman setimpal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rainawjy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20: Swim

"Kau ingin berenang? Mungkin itu lebih menyegarkan dirimu," saran pria itu. "Aku akan menjagamu."

"Boleh," Nara setuju. Dia mengubah posisinya menjadi duduk di kasur. Dia tersenyum kepada pria itu. "Adam, sebenarnya kau baik, tapi kadangkala kau keterlaluan."

Pria itu tersenyum. "Ayolah," ajaknya.

Nara turun dari kasur. Pria itu bangkit dari kursi. Mereka mengambil barang yang diperlukan untuk renang seperti kacamata, baju, dan handuk. Mereka turun ke bawah, di mana kolam renang dibangun. Sederhana saja desain-nya, tapi ini sudah tampak mewah di mata Nara. Ada 2 kursi tidur untuk berjemur dan juga ada ayunan.

Matahari terik membuat air biru berkilauan. Kelihatannya sangat dalam. Nara tak berani mencemplungkan diri ke kolam itu.

"Aku pendek," Nara memprotes.

Pria yang sedang menaruh barang di meja, tersenyum pada Nara. Pria itu telah mengganti pakaiannya. Hanya celana pendek yang ada di tubuh pria itu. Otot-otot kekarnya terlihat. Bidang dadanya berbentuk. Perut bak roti terbelah 6, membuatnya lebih gagah. Pria itu memghampiri Nara yang duduk di kursi bawah payung besar.

"Kalau aku di sana, kau pasti tinggi," pria itu memberanikan Nara. "Kapan kau akan maju bila terus di keadaan itu, heh? Aku bisa mengajarimu renang, bukan?"

Nara mendongak. Dia tersenyum pada pria itu. "Aku melihatmu saja. Aku tidak ingin ikut masuk ke kolam," kata Nara.

"Hemmm," pria itu bergumam, "kau takut?"

"Emm... iya," Nara jujur. Pria itu menepuk halus kepala Nara seraya membelai rambutnya.

"Aku ada di sini, kenapa kau mesti takut? Aku bisa menjagamu. Kau tidak ingin belajar renang bersamaku? Itu menyenangkan, Nara! Ada manfaat belajar renang. Kau tidak akan tenggelam suatu hari nanti. Sebentar lagi, aku akan mengajarimu bagaimana cara menggunakan pistol," ujar pria itu. Nara tersenyum saja.

"Kau baik sekali hari ini," puji Nara. "Ada salah apa di uratmu?"

Pria itu tersenyum penuh. "Tidak ada, hanya ingin baik saja. Lagipula, aku ingin berubah. Bukankah kau suka bila aku berubah, Nara? Aku tidak akan kejam lagi."

Nara mengangguk. "Nah, itu baru bagus. Berubahlah! Jangan terlalu otoriter dan posesif. Aku takut," Nara jujur lagi.

"Hem... tidak ada lagi kata kejam, Nara. Tapi malaikat maut," pria itu bercanda. "Ayolah, kau tidak mau berenang? Ah... aku semacam memohon pada anak kecil yang takut pada air."

"Adam, itu dalam! Aku pendek-"

"Sudah kubilang, aku akan mengajarimu renang, kan? Jangan pernah takut tenggelam. Ini sama halnya dengan, jangan takut gagal. Kau belum mencoba, jadi jangan pesimis. Kalau kau tenggelam pun, aku akan memberimu napas buatan," pria itu terkekeh, "tidak... hanya bercanda."

"Emm... tidak. Pergilah sana. Aku tidak-"

Pria itu langsung menggendong tubuh Nara. Nara memukul bidang dadanya.

"Hentikan! Ish! Aku takut! Dasar! Cepatlah turunkan!"

"Aku tidak peduli! Hahaha!" pria itu tertawa keras.

Nara melihat ke depan. Sudah dekat dengan kolam.

"Kau dulu!" jeritan itu terdengar dan tubuh Nara terlepas dari gendongannya.

Nara dibuang seperti sampah ke kolam. Suara manusia tercebur ke kolam, membuat Nara terkejut sendiri. Pendengarannya mendadak berdengung. Hidung tak bisa mengambil napas lagi. Mulutnya yang menyemburkan gelumbung-gelembung. Tubuhnya terasa berat untuk digerakkan. Matanya agak perih tanpa kacamata. Warna air biru muda tampak jernih dilihatnya. Nara melemaskan dirinya di kolam yang menurutnya dalam ini. Nara berusaha memberdirikan dirinya, tapi semakin lama semakin dalam. Kakinya berusaha menginjak lantai dasar. Saat dia berdiri, rupanya dia berada di bawah permukaan air. Jarak kepala dengan atas permukaan air, kira-kira 15 cm.

Suara seseorang mencemplungkan diri ke air, membuat Nara sadar akan pria itu. Wajah pria yang sedang menuju ke arahnya, membuatnya hampir tertawa. Pria itu sudah dekat dan memeluk dirinya. Pria itu berusaha sekuat tenaga untuk mengangkatnya dan membawanya ke tepi kolam agar bisa bersandar di permukaan lantai.

Nara megap-megap saat dia berada di atas permukaan air. Rambutnya basah kuyub dan setengahnya menutup wajahnya. Tubuh pria itu berada sangat dekat dengannya dan menahan Nara agar tidak terjatuh. Mereka saling berhadapan. Tangan pria itu membenarkan rambut Nara.

"Bagaimana? Itu menyenangkan bukan? Dasar pendek," ejeknya.

Nara spontan memeluk pria itu. "Aku tidak berani," kata Nara dengan napas tersenggal-senggal.

"Lagi, ya? Ayolah, tampaknya menyenangkan!" pria itu membuatnya lebih takut.

"Tidak! Tidak! Aku tidak mau!"

Pria itu berusah melepaskan pelukan Nara, tapi tetap tak bisa terlepas. "Astaga, kau macam koala," ejeknya lagi. "Cepat lepaskan! Akan kupakaikan kacamata renang agar lebih gampang melihat di bawah air. Aku akan mengajarimu renang."

Nara melepaskan pelukannya. Pria itu memakaikan kacamata renang kepada Nara begitu juga dirinya. "Baik, kita mulai sekarang."

"Sekarang?! Tidak! Aku ingin kembali saja!" Nara memekik. Pria itu menertawakannya.

"Sial, baru beberapa menit saja. Aku butuh waktu yang sangat lama denganmu, Nara. Kau masih tetap cantik bila basah kuyub seperti ini.

Pria itu membujuk Nara terus-menerus hingga Nara mau menurutinya. Pria itu mengajarinya bagaimana cara mengontrol kaki saat ingin kepala tetap berada di atas permukaan air. Pria itu memperkenalkan berbagai jenis gaya renang, seperti gaya kodok, bebas, dan yang lainnya. Pria itu juga mengajari Nara bagaimana cara berenang, mengambil napas, membuang napas, dan yang lainnya.

"Kau seperti atlet renang," Nara memujinya.

"Haha, aku dilatih, Nara dan ini dipaksa," kata pria itu. Dia menggenggam erat pergelangan tangan Nara. "Baik, sekarang kita teruskan lagi. Buka kakimu lalu tangan. OK?"

"Siap!"

Waktu demi waktu berlalu. Mereka naik ke daratan. Pria itu masih merasakan betapa bahagianya hari ini. Tertawa bersama Nara, menurutnya itu adalah berkah terbesar. Selama hidupnya, dia tak pernah merasa seperti ini. Rupanya merubah sifatnya merupakan hal terbaik. Dia sudah bisa membuat Nara tidak takut dengannya lagi.

Pria itu mengambil handuk yang tadi ia letakkan di meja. Ditempatkan handuk itu di punggung Nara. Nara duduk di kursi sejenak.

"Mandi bersama?"

Nara mengernyitkan kening saat mendengar perkataan konyol dari si pria. Memikirkan apa yang akan terjadi dan katanya, mandi bersama seperti itu, bisa hamil. Nara menggeleng-gelenggkan kepala.

"Tidak!" jawab Nara. Dia menatap wajah tampan milik pria itu yang dipenuhi butiran air. Perut bak roti sobek enam itu, membuat Nara gemas dan ingin memakan setiap potongan. Astaga, pikiranku kotor, batin Nara.

"Haha, aku hanya bercanda. Jangan bawa serius." Pria itu tertawa. Dia duduk di kursi yang berada di hadapan Nara. Mata Amber miliknya menatap Nara. Bibir datar tipisnya tiba-tiba melengkung, membentuk sebuah senyuman manis yang membuat hati Nara tentram dan hangat.

Nara menyentuh pipi pria itu. Dicubit kedua sisi pipinya. Semua tinggal tulang, dagingnya cuman sedikit. Nara tidak suka dengan pipi seperti itu. "Kau harus tambah daging di pipimu supaya aku bisa mencubitmu, ok?" kata Nara.

"Aku tidak mau. Nanti aku tidak setampan ini lagi." Pria itu tertawa, diikuti Nara. Candaan menciptakan perasaan tenang. Nara lupa dengan siapa pria itu.

-oOo-

1
Mxxnlight._
terbaikk
Nurul Hofa
kurang suka sama visual lorence
Nisa Larasati
aq benci pada mu lorent ingin rasanya membunuh mu saat kau tertidur 😈🗡🪓
Nisa Larasati
maafin aq kk tapi aq beneran trauma baca nya tapi aq juga selalu penasaran sama cerita nya 😭
Nisa Larasati
HAH sumpah aq bisa mati klo jumpa sama cowok yg modelannya begini 🤬 lagi pula si nara di ksih kebebasan walau hanya 15 menit kenapa gx lari ke dapur aja sih ambil pisau bunuh diri aja 😂 atau bunuh si adam nya aja 😂 canda bunuh diri 😂
n a n a
devan deh kek nya
Yenny Rachman
thor.. ini sudah tamat kah😅😅😅
ak sukaaa cerita muuuu😍😍😍😍
Yenny Rachman
lanjut thor😅😅😅🥰🥰😍...
ak sukaaa cerita muuuu👏👏👏
paulaa
seru
Yesika novel03
lanjut donk udh nunggu lama nie
Hesti Sagita
Akhirnya Nara sampe ke tahap itu
kasian aja klu Adam cuma pura'' suka ke Nara
Hesti Sagita
stress
Hesti Sagita
mengunci diri di dlm kamar mandi
ahh hasil nya sama aja
Hesti Sagita
Adam kah
Hesti Sagita
penasaran awal mula Adam suka ke Nara
Hesti Sagita
kasian si Nara
Hesti Sagita
cinta dan obsesi
Hesti Sagita
mamapir baca kak.
berawal dr WP
lucia de lamendoza
lorence itu adam ?
lucia de lamendoza
kynya adam atasan nya gk sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!