Halsey Diana, itu namaku sebenarnya aku cukup dini untuk menikah karena aku baru saja beranjak usia 17 tahun dan aku juga masih duduk dibangku SMA kelas 3 semester akhir. Bukan, bukan aku bukan hamil duluan seperti kebanyakan dari pernikahan dini.
Aku menikah dengan seorang pria 15 tahun lebih tua dariku, aku ingatkan kembali aku menikah bukan karena hamil atau jadi simpanan om-om namun ini karena perjodohan orang tuaku.
Tapi, mampuhkan aku bertahan didalam pernikahan dengan pria 32 tahun itu. Aku atau dia yang akan gagal mempertahankan pernikahan ini atau pernikahan ini akan berhasil sampai aku menua dengannya.
Ayo lanjutkan membaca ceritaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon safira a, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18
Seperti biasa pagi-pagi sekali aku sudah bangun dan seharusnya sedang membersihkan rumah ini namun, saat ini aku tidak melakukannya mataku sebab dan sakit karena semalaman aku menangis entah sampai kam berapa dan berakhir dengan ketiduran.
Tenggorokanku kering banget, pipiku kerasa lengket akibat air mata aku bangun dari posisi tidurku di atas lantai keramik itu dan berjalan menuju kamar mandi untuk menyuci muka dan sikat gigi. Setelahnya barulah aku keluar menuju dapur untuk mengambil minum.
Padangan yang aku lihat setelah aku menuruni anak tangga adalah mas irwan yang sedang terbaring di sopa dengan memeluk tubuhnya sendiri. Suhu ruangan begitu dingin itu penyebabnya ia memeluk tubuhnya kenapa dari banyaknya kamar dia tidur disitu.
Aku melewatinya begitu saja tampa menghiraukan pria itu. Aku mengambil satu botol air putih yang berada di kulkas dan membawanya ke patry menuangkan air dingin itu pada gelas, aku meneguk air itu secara perlahan merasakan dinginnya air itu di tenggorokan ku.
Aku masih terduduk ditempat itu sambil berpikir, berpikir banyak hal. Aku punya 1 hari lagi di rumah dan besoknya aku harus ikut kegiatan di sekolah jangan lupakan itu aku masih anak sekolah.
Aku menghembuskan nafas berat sekali sih 1 bulan ini rasanya bulan ini berjalan begitu lama dan banyak masalah yang terjadi.
Tiba-tiba suara deringan ponsel terdengar, aku menatap kearah ruang tengah dimana mas irwan tertidur disana. Aku coba tidak memperdulikannya tapi semakin lama deringannya semakin kencang.
Aku berjalan menghampirinya aku pikir itu telepon atau alarm ternyata itu pesan yang masuk kedalam ponsel pintar milik mas irwan, awalnya aku tidak perduli dan tak ingin perduli namun entah bagaimana aku malah berjalan kearah meja itu dan melihat ponsel itu.
Saat aku ingin menggapai ponsel itu sebuah tangan dari belakangku lebih dulu mengambilnya. "Ekhmm..." suara deheman mas irwan membuatku sangat terkejut dan aku menatap wajah pria itu yang terlihat biasa saja.
"Maaf" saat aku akan beranjak meninggalkan mas Irwan sendirian, pergelangan tangan ku di cengkalnya membuatku harus kembali membalik menatap pria itu.
"Saya yang seharusnya meminta maaf" aku tersenyum, tersenyum miris menatap pria itu. Hatiku saat ini terluka, sangat bahkan rasanya aku ingin teriak didepannya dan menangis tapi aku tidak ingin terlihat terlalu menyedihkan didepannya.
"Mas lepasin tangan saja" ucapku lirih aku masih menahan rasa sesak dan sakit di hatiku bahkan untuk sentuhan dengannya sama saja membawa diri untuk diriku sakit.
"Tidak, biarkan saya menjelaskan semuanya dulu" aku memejamkan mataku menarik nafas dalam mencoba menetralisir kan rasa sesak didalam hatiku namun, tidak kunjung hilang.
Tangan mas Irwan menarik ku untuk duduk di sofa itu bersama dengannya. "Mas lepasin, saya belum siap mendengar semuanya. Hati saya terluka saat ini" itu apa adanya, itu yang keluar dari mulutku tatapan pria itu melembut tidak seperti biasanya.
"Maafkan saya membuat kamu sakit begitu dalam" mas Irwan menyium punggung tangan kanan ku yang ia genggam. "Mas berikan waktu untuk aku nyembuhin luka ini" setelahnya aku menarik tanganku kasar dan kembali ke atas, aku menangis lagi rasanya sangat menyakitkan.
*****
Setelah puas menangis aku membuka pintu di sana ada mas Irwan "saya harus kekantor" aku mengangguk mempersilahkan ia masuk kedalam kamar. Aku mengambil jas hitam dan kemeja merah aku lakukan saat mas Irwan sudah masuk kedalam kamar mandi.
Aku menggosok pakaian itu dan beralih turun kebawah menyiapkan sarapan, aku membuatkan susu coklat dan nasi goreng untuk anaknya mas Irwan entah bagaimana aku malah tersenyum miris dengan luka yang kembali semakin dalam. Aku mengusap air mataku ketika mas Irwan turun.
Aku tidak bilang apa-apa aku langsung pergi ketika mas irwan memasuki meja makan. Tak lama aku kembali dengan anak Anka yang sudah terbangun, anak itu bercerita jika ia sudah bangun sejak tadi dan kaget juga ketika melihat kamarnya yang berbeda.
"Anka sarapan dulu yah" ucapku sambil membimbingnya kemeja makan, sakit dan remuk itu yang aku rasakan di hatiku. "Aku Rafly bukan Anka" protesnya "tapi nama belakang kamu ada Anka nya jadi kakak panggil itu aja" tatapan bingung terlihat jelas dari wajah anak itu.
Bagaimanapun aku harus menjalin sebuah interaksi dengan anak kecil itu, aku tidak ingin dia hidup di kecanggungan.
"Untuk apa kamu bawa anak itu kemeja ini" tatapannya mas Irwan sinis melihat anak yang aku gandeng, bener loh ini anak dia kenapa natalnya seakan-akan aku membawa anakku kedalam rumah ayah tirinya.
"Mas apaan sih" aku menatapnya tak kalah sinis. "Saya nggak suka anak itu berada disekitar saya" aku merasakan tanganku diremas oleh tangan kecil yang aku genggam, tampak jelas anak itu ketakutan sialan.
"Anka ke kamar mandi dulu yah cuci muka nya, kamar mandinya di sana" aku menunjukan kamar mandi yang didekat dapur.
Setelah memastikan anak itu sudah masuk aku kembali menatap mas Irwan sengit. "Mas, mas punya masalah apa sih sama anak itu ? Apa karena menurut mas anak itu kesalahan mas ? Nggak anak anak yang merupakan kesalahan yang salah itu mas ! Ke brengsek kan mas yang membuat dia ada dan tanpa mau mas mengakuinya dan play vitem anak itu dengan menyebutnya kesalahan aku nggak habis pikir" aku marah semarah-marahnya, aku tidak bisa membayangkan jika suatu saat nanti anakku atau aku yang diperlakukan seperti itu.
Setiap anak tuh berhak memiliki keluarga yang menyayanginya bukan membuat dia merasa jadi sampah yang terbuang,menjadi kesalahan atau beban keluarga katanya.
"Kamu tidak mengerti" dengan datarnya mas Irwan berkata seperti itu dan meninggalkan meja makan ia keluar sepertinya akan pergi kekantor.
Tanpa sadar air mataku benar-benar jatuh lagi untuk kesekian kalinya. Aku merasakan tarikan diujung bajuku, alangkah terkejutnya ketika aku melihat Anka yang menariknya. Aku menghapus air mata yang tertinggal di pipi dan tersenyum susah sih tapi aku paksakan.
"Kakak di marahi sama Daddy yah ? Gara-gara Anka ?" Aku menyamakan tinggi ku dengan Anka dan menatap anak itu sampai mengangkat tanganku untuk mengusap kepalanya sampai pipinya.
"Bukan gara-gara Anka kok" jujur saja aku ada rasa kasihan sama sakit hati, tapi seperti yang aku katakan diatas jika dia bukan yang bersalah disini.
"Tapi Anka sudah biasa di marahi sama daddy, kakak nggak usah khawatir yah" dia mengangkat tangannya mengusap air mataku, aku jadi nggak tega beneran. Sebanyak apa sih yang di rasakan sama anak ini.
_____________________________________________
[Sabtu, 04 Desember 2021]
Author : Safira Aulia Hamidah
Wtpd : Safira Auliya Hamidah
Instagram : Safira19989
spoiler saja kedepannya per part bisa sampai 1500 kata.
Terima kasih telah membaca