Freya Pranata Putri menyukai kakak dari sahabatnya sejak kecil. Tapi keluarganya membawanya pergi ke luarnegeri, sehingga mereka terpisah.Saat dewasa perasaan suka Freya tumbuh menjadi cinta. Freya seringkali menyatakan cintanya kepada cinta pertamanya, tapi selalu diabaikan oleh Revan.
Revan yang sudah dewasa pun memiliki seorang kekasih, tapi ternyata tanpa sepengetahuan dirinya, orang tuanya menjodohkan dirinya dengan Freya. Hingga Revan membenci Freya. Pernikahan tetap terjadi tapi Revan akan menceraikannya setelah enam bulan.
Lika liku kehidupan membuat Revan jatuh cinta pada Freya, tapi dia pun masih bingung harus memilih antara istri atau kekasih.
akankah Freya mendapatkan cinta pertamanya setelah berkali-kali disakiti?,ataukah harus menyerah dan bertemu cinta yang lain?
selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 19
"Reya..... Reya... Dimana kamu...", Revan membuka semua pintu kamar dan kamar mandi berharap menemukan Reya disana, tapi hasilnya nihil. Revan terduduk menjambak rambutnya frustasi, bingung perasaan apa yang kini dirasakannya. " apa aku mulai jatuh cinta pada Reya ",Revan menggelengkan kepalanya." tidak...tidak mungkin, perasaanku untuk Aurel masih tetap sama,tapi aku tidak ingin kehilangan Reya ",perasaan bimbang menyelimuti hati Revan. Revan bangkit dan bergegas mencari Reya.
.
.
.
.
.
.
.
Kini Freya telah mengganti pakaiannya yang tadi basah di butik milik keluarga Arvin."apa kamu jadi ikut ke kantor ku", tanya Arvin.
" tentu ,aku ingin melihat bagaimana Doraemon bekerja ",mereka tertawa bersama.
" baiklah ayo".
"Emm.."
Arvin dan Freya keluar dari butik dan akan menuju kantor Arvin. Dalam perjalanan mereka tak berhenti saling bercanda dan mengejek.
"Kak Ar, apa kau sudah memiliki kekasih?".
"Aku akan memiliki kekasih saat melihatmu bahagia".
Freya mengerutkan keningnya." Aku bahagia, aku menikah dengan orang yang kucintai, kaya pula ",kemudian Freya tertawa.
" sebenarnya aku mencintai seseorang, tawanya adalah semangat hidup ku,aku akan bahagia saat dia bahagia, hatiku sakit saat melihat dia menangis dan bersedih, saat ini aku bingung antara memperjuangkannya atau melepasnya ".
Freya tertegun mendengar penuturan Arvin.
"Ternyata kak Arvin so sweet banget,bikin aku meleleh, gadis beruntung mana yang kak Arvin cintai",ucap Freya penasaran.
" gadis yang ada di sampingku saat ini ",ucap Arvin yang masih fokus menyetir.
Freya diam terpaku mendengarnya.
"A..a..apa".
" hahahaha... Lihatlah ekspresi mu itu ",Arvin menyentil kening Freya dengan sebelah tangannya."Kamu pikir aku akan menyukai gadis cengeng seperti mu", Arvin masih terus tertawa. Dia tidak ingin Freya tahu isi hatinya yang sebenarnya.
"Kak Ar...... Jantung ku hampir copot kau mengatakan itu", Freya mencubit lengan Arvin.
"Aduh...duh...sakit Yaya hentikan".
"Pokoknya aku marah sama kak Ar".
"Beneran nih,dikulkas ruangan ku ada ice cream strawberry loh", Arvin menaik turunkan alisnya.
"Mau..mau..".
"Di maafin gak nih?".
"Ok.. Ok..di maafin deh",Freya memasang senyum manisnya.
Akhirnya Arvin dan Freya sampai di kantor. Mereka berjalan menuju ruangan Arvin dengan saling melempar canda.
Para karyawan yang melihat bosnya saling berbisik membicarakan bosnya yang terkenal tidak menyukai wanita.
"Bos ke kantor dengan siapa,cantik sekali dan manis, apa itu pacar nya, wah ternyata bos kita menyukai wanita, syukurlah", begitulah bisik-bisik para karyawan.
"Siang bos, selamat ya bos?",ucap setiap karyawan yang berpapasan dengan Arvin. Arvin pun bingung dibuatnya.
"Kenapa karyawan mu semua aneh kak", Freya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jangan hiraukan mereka, ayo".
Setelah sampai di ruangannya Arvin mengambil ice cream strawberry di kulkas mini di ruangannya.
"Ternyata kak Ar CEO disini, wah beruntungnya aku"
"Masih mau", Arvin menyodorkan ice cream strawberry. Freya langsung mengambilnya.
" makasih Doraemon ".
"Sama-sama Nobita,makanlah aku akan menyelesaikan pekerjaan ku dulu".
" siap Pak bos".
Arvin mulai mengerjakan pekerjaannya sedangkan Freya sibuk memakan ice cream nya.
.
.
.
.
.
Sedangkan Revan masih sibuk mencari Freya. Kini dia akan ke rumah Mama Nia dan Papa Hadi.Revan membawa martabak sebagai alasan kalau nanti Freya tidak ada di sana.setelah lamanya perjalanan akhirnya Revan sampai di rumah mertuanya.
Revan menekan bel dekat pintu, tidak berapa lama kemudian Bi Sum membuka pintu.
"Eh den Revan, kesini sendiri?, non Reya mana den?", tanya Bi Sum celingukan mencari Freya.
"Apa...ternyata Freya tidak kesini", batin Revan.
" Freya di rumah Bi, saya tadi beli martabak,eh ingat Papa, yasudah deh mampir, ini Bi nanti kasihkan ke Papa ya, saya mau ngecek kerjaan di kantor dulu ".
"Lho Aden nggak masuk dulu, bibi buatkan minuman dulu".
"Tidak usah Bi makasih, dah bibi".
" yasudah den hati-hati ".
" iya Bi ",Revan melajukan mobilnya keluar dari rumah mertuanya. Sekarang Revan bingung harus mencari Freya kemana. Akhirnya Revan memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya.
.
.
.
.
.
Freya mulai bosan menunggu Arvin bekerja, akhirnya dia memutuskan untuk menelpon Resty. Telpon pun tersambung.
"................."
"Hay Res, lagi ngapain, kenapa lama sekali kamu tidak menghubungiku, kata Mama kamu punya gebetan?,siapa sih gebetan yang bikin kamu lupain aku?".
"...................."
"Iya-iya deh di maafin, apa.. Kamu mau ketemu sama dia, pokoknya aku harus ikut, kamu harus ngenalin aku sama dia, seberapa ganteng sih cowok gebetan kamu itu".
".........................."
"Biarin pokoknya aku harus ikut, kamu jemput aku di cafe J oke daah...", Freya langsung mematikan ponselnya. Dia cekikikan mengerjai Sahabatnya.
" kak Ar, aku mau pergi sama sahabat ku, sekalian nanti aku pulangnya sama dia ".
Arvin yang masih banyak tumpukan berkas yang harus di tanda tangani mengizinkannya.
"Kalau begitu aku ke cafe depan kak, aku janjian di sana".
" biar ku antar ",Arvin hendak berdiri
" tidak usah kak, aku sendiri saja lagi pula pekerjaan mu masih banyak ",Freya meyakinkan Arvin.
" baiklah, hati-hati",ucap Arvin pasrah.
"Ok bosku...,dah kak Ar", ucap Freya yang kini menghilang di balik pintu.
"Aku harap kau selalu bahagia Yaya", ucap Arvin kemudian melanjutkan pekerjaannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
.
.
.
.