Blurb :
"Saya harus menikahi Hanin Minggu depan," ucap Ammar dengan berat hati.
Mereka sama-sama terdiam membisu selama beberapa waktu.
"Selain itu ... saya juga mohon izin untuk menghapus kontakmu dari ponsel ini," lanjutnya seakan ingin menghapus semua jejak tentang Nadeen.
Sepintas, kita bisa memilih jodoh yang kita impikan. Menjalin hubungan dengan seseorang yang kita katakan memiliki kecocokan. Namun, berbagai kemungkinan masih bisa terjadi di luar keinginan.
Jangan bersedih, Nadeen. Allah akan mengatur semua menjadi seindah-indahnya kisah cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Bandung
Nadeen tiba di Bandung ketika hari sudah petang. Ayahnya menunggu di teras rumah. Namun, dia tengah sibuk berbicara via telepon. Nadeen hanya mengucap salam lalu menunggu hingga sang ayah menyelesaikan urusan dan tidak berani untuk menyela pembicaraan.
“Semoga ibumu cepat sembuh, Nak. Cepatlah kembali ke Bandung,” ucap ayah Nadeen kepada lawan bicaranya di balik telepon. Tak lama ia menutup pembicaan karena harus segera menyambut Nadeen yang sudah ditunggunya sedari tadi.
“Kamu sudah datang, Nak. Bagaimana perjalananmu dari Jakarta?” tanyanya pada sang Anak.
“Alhamdulillah lancar, Pa. Papa sibuk banget, ya?” Nadeen segera meraih punggung tangan sang ayah dan menciumnya. Lantas, Nadeen mengajaknya masuk karena hari sudah hampir gelap.
“Kita bicara di dalam, ya, Pa.” Dengan cekatan tanggannya menggandeng sang ayah memasuki rumah.
“Dia teman yang papa ceritakan kemarin. Dia bilang ibunya sedang sakit, jadi harus pergi ke Jakarta,” tuturnya membuat Nadeen mengangguk-angguk tanda mengerti.
“Jadi karena dia gak ada, baru Papa ingat Nadeen? Minta Nadeen pulang. Kesepian, iya?” selorohnya sambil mengerutkan bibir.
Damar tergelak melihat anaknya yang pura-pura cemburu pada teman barunya. “Ya, mau gimana lagi. Selama kamu sibuk di Jakarta, cuma dia yang rajin telepon Papa. Menanyakan keadaan papa. Dia tau papa tinggal sendiri di rumah.”
Nadeen semakin mengerutkan wajahnya.
“Dia orang yang sangat baik dan pintar. Papa bisa bertanya banyak hal padanya,” lanjut Damar sambil menatap sekilas wajah putrinya.
Dia teringat bagaimana pertemuan mereka berikutnya berlanjut di sebuah masjid. Ada hal yang menarik perhatian Damar untuk selalu datang ke sana. Sejak itu mereka bersahabat.
“Begitu, ya. Padahal, Nadeen juga sering telepon Papa. Nadeen khawatirin Papa juga. Bukan cuma dia, loh.” Nadeen belum berhenti merajuk pada ayahnya.
“Memangnya, Papa ada masalah apa selama Nadeen di Jakarta? Kenapa tidak tidak langsung bicara pada Nadeen?”
“Gak ada masalah. Papa baik-baik saja. ” Dia menghela napas.
“Papa bilang sama kamu tentang teman papa yang baik itu supaya kamu tidak terlalu mengkhawatirkan papa. Supaya kamu tidak berpikir bahwa papa kesepian. Kamu fokus saja dengan pekerjaan kamu, tapi ya jangan lupa pulang juga, sih, sekali-sekali.” jawab ayah Nadeen sambil mendudukan tubuhnya di sofa ruang keluarga.
“Selama di Jakarta, Nadeen tidak bisa untuk tidak mengkhawatirkan Papa. Gimana kalau Nadeen carikan seorang asisten rumah tangga untuk menyiapkan keperluan Papa sehari-hari?”
“Tidak perlu, sejauh ini Papa bisa sendiri, kok.”
Nadeen menggeleng sambil menatap ayahnya yang begitu keras kepala meski usianya sudah mulai tua. Dia memeluk ayahnya itu sambil duduk di sofa sebelum bersiap untuk salat magrib.
***
Keesokan harinya di rumah sakit Jakarta. Bu Sarah masih di temani Ammar--anak bungsunya. Hanya dia yang bisa standby siang dan malam saat ini meski Ammar harus meninggalkan beberapa pekerjaannya. Bahkan suaminya yang tengah berada di Yogja saja tidak ia beritahu perihal kesehatannya. Karena ia tidak mau membuat semuanya terlalu khawatir.
Sepanjang waktu, dia hanya membujuk anaknya supaya menemui Dokter koas yang biasa merawatnya setiap hari. Sementara Ammar merasa jika keinginan ibunya itu terlalu berlebihan.
“Mar, bisakah ibu meminta bantuanmu untuk mencari keberadaan dokter cantik yang merawat umi selama ini?”
“Umi bilang, dia sedang pulang kampung. Biarkan saja dia libur sementara dari tugas-tugasnya. Kita jangan terlalu mengganggu dia, lagi pula sekarang ada Ammar yang akan menemani Umi di sini.”
“Umi hanya ingin berpamitan dan mengucapkan banyak terima kasih. Besok umi sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit ini. Jika besok dia belum kembali ke Jakarta, umi tidak akan bisa menemuinya lagi karena mungkin umi akan segera pulang ke Yogja, Mar.” Wajah Bu Sarah nampak sedikit kecewa.
Sesungguhnya Ammar baru saja ingin mengatakan bahwa dia akan coba menuruti keinginan ibunya karena merasa tak tega.
Namun, tiba-tiba datanglah Dokter Aris yang akan memeriksa keadaan Bu Sarah dan memastikan kesehatannya supaya besok dia benar-benar bisa pulang.
“Selamat pagi ….”
“Pagi, Dokter. Kebetulan sekali Dokter Aris datang,” sahut Bu Sarah. Wajahnya mulai berseri-seri karena dia sedang ingin menanyakan sesuatu tentang Nadeen.
“Kenapa memangnya, Bu?” tanya Aris sambil memasang stetoskop di telinganya.
“Saya cuma mau tanya, kapan Dokter Nadeen kembali ke Jakarta?”
Ammar sempat kaget ketika mendengar nama Nadeen disebut oleh ibunya, tetapi dia sadar bahwa di dunia ini ada banyak orang yang memiliki nama yang sama.
Dengan wajah yang semringah, Aris segera menjawab pertanyaan Bu Sarah.
“Mungkin beberapa hari lagi, setelah saya beserta keluarga besar datang ke rumahnya.”
“A-apa …?” ucap Bu Sarah seraya mengerutkan keningnya. “Apakah Dokter Aris berniat melamarnya?” tanya Bu Sarah kemudian.
Sambil tersenyum simpul, Aris menjelaskan bahwa dirinya telah mengutarakan maksud baik ini secara pribadi terhadap Nadeen melalui telepon. Setelah meminta waktu untuk berpikir, akhirnya Nadeen menerima lamaran Aris dan secara resmi Aris akan datang bersama keluarga besar dalam rangka meng-khitbah di depan ayahnya.
Saat itu juga, wajah Bu Sarah tiba-tiba berubah. Karena dia harus mengubur harapannya dalam-dalam. Ammar menyadari kekecewaan sang ibu, akan tetapi dia masih tak habis pikir dengan keinginan ibunya ini, siapa sebenarnya dokter koas bernama Nadeen yang begitu disayang Bu Sarah?
“Umi, ada apa dengan Umi? Kenapa terlihat tidak senang mendengar dokter Nadeen akan dilamar?”
“Entahlah, tiba-tiba saja umi menyukai dokter Nadeen, karena dia memang menyenangkan. Umi berniat ingin melamarnya untuk dijadikan menantu.”
“Astagfirullah, Umi … Umi.” Ammar menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
“Mana bisa kita melamar wanita yang sudah dilamar orang lain. Agama tidak memperbolehkannya.”
▬▬▬▬▬▬▬•◇✿✿◇•▬▬▬▬▬▬▬
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Janganlah seorang laki-laki melamar di atas lamaran saudaranya, hingga pelamar sebelumnya itu meninggalkan lamarannya atau ia mengizinkannya” (HR. Bukhari)
“Janganlah sebagian kamu melamar di atas lamaran sebagian lainnya” (HR. Muslim)
“Jangan melamar di atas lamaran saudaranya, kecuali ia mengizinkannya” (HR. Muslim)
“Janganlah salah seorang di antara kalian melamar di atas lamaran saudaranya, sampai ia menikahi atau meninggalkan lamaran tersebut” (HR. An Nasa’i)
▬▬▬▬▬▬▬•◇✿✿◇•▬▬▬▬▬▬▬
Semangat, Kak. 😍😍
sabar menunggu ala2 nadeen 😙😙😙
aku menanti cepat lah cepat lah