Dirga Harun purnomo Adalah seorang pengusaha muda yang memiliki beberapa buah perusahaan besar. Dalam hidup dia memiliki segalanya.harta melimpah, wajah yang tampan serta istri baru yang sangat cantik dan terkenal.
saat bulan madu ke Hawai pesawat pribadinya terjebak badai hingga mengalami kecelakaan.
Untung saja semuanya selamat karena pilot yang cekatan.
Sayangnya Dirga mengalami kebutaan Akibat matanya terkena serpihan kayu yang berasal dari ledakan pesawat.
Hidup dan perkawinannya hancur, karena istrinya meninggalkan dirinya yang cacat.
Mampukah Dirga bangkit dari keterpurukannya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lara hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab19 Perasaan misterius
Bening dan semua pelayan melambaikan tangan melepas kepergian Harun dan Mitha.
Dirga berdiri dibelakang bening memegang tongkat menatap kosong keluar.
Kupingnya saja yang mendengar deru mesin mobil keluar dari gerbang dan semakin menjauh.
Satu persatu pelayan masuk kamar untuk beristirahat.
Bening pun berniat pergi.
Saat dirga menarik tangannya.
"Bening temani aku.."Dirga mengajak bening duduk di sofa.
mereka duduk di sofa panjang bersisian namun bening menjaga jarak agar tak berada terlalu dekat dengan Dirga.
"kamu, bicara apa siang tadi dengan Mama?" tanya Dirga memulai percakapan.
" Tuan tahu saya mengobrol dengan mama?'
" Aku mencarimu siang tadi, Adam mengatakan kau sedang bicara dengan ibu"
"Hanya percakapan antar wanita" Sahut bening.
" Bening maafkan aku.."
" Kenapa tiba-tiba minta maaf.."
" Tadi papa memberitahuku, jika kau terlihat begitu lusuh dan semua pakaianmu sudah usang, mengapa kau tak pernah bicara jika kau tak memilki uang.. bahkan untuk membeli baju" ucap Dirga dengan muka bersalah. mengapa dia lupa hal yang paling dasar, lupa memperhatikan istrinya, padahal dulu ia melimpahi Bianca dengan baju-baju mewah merek terkenal dengan harga selangit.
" Aku tak membutuhkan semua, lagipula baju saya masih layak pakai" kata bening menunduk malu, malu hati Dirga mengetahui bertapa miskin dan kumuhnya ia, pria itu pasti makin tak tertarik padanya.
"kupikir mama Mitha membayarmu setiap bulan, besok pergilah beberlanja pakailah kartu ini.." Dirga menyerahkan kartu kredit miliknya pada bening, namun bening menolak tegas.
" Ti-tidak saya tidak mau, terima kasih, nanti saat mama Mitha membayar, saya akan membeli memakai uang sendiri" sahut bening keras kepala.
" Kamu membuat harga diriku jatuh dihadapan para pelayan, istri seorang Dirga memakai baju yang bahkan jauh lebih usang dari baju mereka..pantas saja Sarah menuduhmu sebagai gadis peminta sumbangan.." ucap Dirga tanpa berpikir panjang bila bening bisa tersinggung dan sedih.
" Maaf jika hal tersebut membuat anda malu kata bening cepat
" Tuan sepertinya aku mengantuk,aku kekamar dulu.." pamit bening menahan Isak tangis yang hampir pecah.
" Be-.bening.." panggil Dirga heran sekaligus panik.
Tangannya meraba coba menyentuh sosok bening. tapi bening sudah pergi. Dirga panik, sadar telah menyakiti hati Bening, Dia berdiri mengejar istrinya, sayangnya kakinya tersandung kaki sofa dan jatuh terduduk dilantai.
" Aduuuuh...! pinggangku encok.
Dia meringis serta bangun pelan - pelan.
Tangan halus seorang wanita menarik lengannya pelan.
" Bening.." panggil Dirga melihat kosong ke atas.
" Kenapa tidak hati-hati" umpat bening marah.
Dia kesal pada Dirga tapi melihat Dirga jatuh dan kesakitan dia sungguh tak tega.
Setelah Dirga berdiri dengan benar bening cepat- cepat melangkah kembali.
Dirga langsung menangkap bajunya dan menarik keras.
" Lepaskan aku.." ucap bening ketus.
" Kau marah bening.? Maaf aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu" Kata Dirga merasa bersalah
Bening terisak.
" Anda tidak salah tuan, aku memang miskin. Sejak dulu memang sudah begini, Saat kekota, Aku hanya membawa lima setel pakaian layak pakai yang kumiliki. sebelumnya, di kampung, aku bekerja sebagai penjaga warung milik tetangga, kadang mengajar ngaji anak- anak kecil Disurau, gajinya ku pakai untuk melunasi hutang lama, hutang saat adikku yang cacat masih hidup, aku butuh banyak uang untuk membesarkan seorang adik yang mengindap polio, dan hanya bisa terbaring sepanjang hari ditikarnya ." Bening bercerita sambil menangis.
" Maafkan aku bening, sungguh aku
tak bermaksud menyinggung perasaanmu, aku hanya tak suka bila ada orang lain menghina serta merendahkanmu, bagaimanapun kau orang yang sangat berjasa padaku.."
Dirga menarik tubuh bening dan memeluk gadis itu erat didadanya.
Diperlakukan begitu lembut oleh Dirga. Membuat bening semakin terisak.
Seolah semua kesedihan dan rasa sakit, lelahnya, selama ini meluap.
Dia makin tersedu-sedu
Dirga melepaskan tongkat dan memperdalam pelukan memakai kedua tangan. mengusap kepala bening lembut menghibur.
" Maaf..maaf.." hanya kata itu yang keluar dari mulutnya berulang kali.
Setelah beberapa lama menangis Bening melepaskan diri dari pelukan.
" Terima kasih tuan, aku merasa lega" Dia..bening mengusap mata dan wajahnya yang sembab.
Dirga tersenyum
" Kau merasa lega..?"
Bening mengangguk lalu sadar jika Dirga tak bisa melihatnya
" i-iya"
Dirga mendekatkan wajahnya dan mengecup keningnya pelan.
Bening terperanjat, hampir saja dia terjengkang, Dirga menahan tangan Bening agar tak jatuh.
Dia kembali memeluk bening. Kali ini dia memegang pinggang ramping dan mungil milik Bening.
Tubuh keduanya saling menempel ketat
nafas mereka saling memburu,hangat menerpa wajah keduanya.
Keduanya bagai terhipnotis suasana hening dan lenggang memunculkan riak panas diantara mereka
jantung bening berpacu cepat, waktu seolah berhenti.
mereka hanyut dalam Susana syahdu
Jantung berdetak semakin kencang bersahutan. Seiring bertambah intim pelukan itu. Dirga merasa getaran halus didada ketika Aroma nafas bening menembus rongga hidungnya sadar bertapa dekatnya posisi mereka saat ini.
Wajah Dirga memerah.
Pria itu sadar dan buru- buru melepas pelukannya.
Dia tak mau keadaan itu terus berlanjut
" Maaf.." Dirga menjauh, dia duduk dilantai dan mencari tongkat yang ia lepaskan tadi.
Setelah menemuka tongkatnya Dirga pergi begitu saja tanpa pamit.
Wajahnya linglung dan aneh sekali
Bening menahan rasa sesak didada. dia bernafas lega. sekaligus hampa
heran dengan sikap Dirga mendadak dingin. meninggalkannya seorang diri tanpa pamit atau basa - basi sedikitpun.
Dirga memegang dadanya.
Masih terasa hangat menjalari tubuh.
desiran halus itu juga masih ada disana.
" Perasaan apa ini?" Dirga bertanya pada diri sendiri.
Tubuhnya terasa menghangat mengingat pelukan intim tadi. bahkan jauh lebih nikmat dari sebuah ciuman panas yang sering ia lakukan dengan bianca selama ini
Mengapa tubuh bening menyimpan begitu banyak rasa nyaman serta sering menimbulkan gelora aneh di tubuh Dirga.. mengapa dia merasakan euforia yang meledak-ledak saat tubuh mereka saling melekat dan kulit bersentuhan.
Ada apa dengan tubuhnya, bahkan Dirga belum.pernah melihat bagaimana wajah bening sebenarnya. Tapi Dirga tahu bening cukup cantik.
Dirga merebahkan tubuhnya.
Dia ingat belum memberikan kartu kreditnya pada Bening.
lebih baik dia menitipkan saja pada Adam besok.
Diluar masih gelap, bening dan semua pelayan Dirga sudah sibuk beraktivitas. seperti biasa bening menyiapkan sarapan pagi untuk Dirga yang dibantu pelayan
Adam menyiapkan semua kebutuhan Dirga dikamar.
Lalu membangunkan pemuda itu untuk mandi dan bersiap bekerja.
Dirga sudah siap dengan stelan jas yang rapi.
" Adam tolong temani Bening berbelanja bawa di ke butik atau ke mall, belikan dia beberapa baju yang pantas. aku tak mau melihat bening dalam keadaan lusuh dan memakai baju yang tidak pantas" titah Dirga memberikan salah
satu kartu kredit miliknya pada Adam.
" Baik tuan.. dengan senang hati" sahut Adam patuh.
Aku tak akan sarapan dan langsung berangkat suruh Darmo menyiapkan kendaraan.
" Dan katakan pada bening siang nanti tak usah mengantar makan siang ke kantor"
Adam berkenyit, bukankah sudah menjadi kebiasaan, Bening selalu mengantar makan siang untuk Dirga.
Namun dia tak berani membantah atau bertanya. memendam saja rasa penasaran itu.
Dirga melamun sambil melihat kosong keluar jendela.
Dia bersandar di meja sambil bersedekap
Dirga ingin menghindari bening, dia tak ingin terlibat lebih jauh lagi dengan gadis itu, khawatir terjadi hal-hal yang tidak dia inginkan.
Bening sering membawa effek berbeda pada tubuh Dirga.
Bagaimana jika Dirga khilaf dan melakukan suatu hal yang akan dia sesali nanti.
Lebih baik menjaga jarak aman demi kebaikan mereka bersama.
Dirga termasuk tipe pria pemaksa. takutnya akan memaksa Bening memenuhi hasratnya.
bisa gawat.
Dirga menoleh saat seseorang mengetuk pintu.
" Masuk?" titahnya
" tuan" sapa seseorang, Dirga hafal suara itu
" Duduklah bay, apa ada hal penting?" tanya Dirga sambil berjalan perlahan menuju kursi.
" Aku membawa banyak berkas " Kata Bayu meletakan semua fail diatas meja.
Dirga merabanya.
" Apa ini?"
" Semua ini adalah fotocopy surat -surat kepemilikan Asset milik Fadhil di berbagai daerah," jelas Bayu.
"kau hebat sekali bagaimana kau mendapatkan semua?"
"pengacara Fadhil adalah kenalanku dimasa lalu." Bayu tersenyum bangga.
"Tetap saja seorang pengacara tak bisa membocorkan rahasia client"
" Aku memegang rahasia penting dan menekan pengacara itu" ucap Bayu.
" Dan apa rahasia penting yang membuat pengacara itu takut?" tanya Dirga penasaran.
"Dia berselingkuh dengan sekretarisnya dan aku mengancam akan melaporkan pada istri sahnya"
" Apa!?, kau memang gila Bayu..?" Dirga tertawa geli dan menggelengkan kepala gemas.
" Maaf Bos, aku tak punya pilihan" Bayu menggaruk kepalanya salah tingkah.
" Ya sudah!! sudah terlanjur terjadi.." kata Dirga kalem.
" Sekarang minta seorang ahli untuk menyelidiki harta milik Fadhil agar kita bisa menyita semua kemudian menjebloskanny ke penjara.
" Baik.bos siap?" sahut Bayu.
" Kau boleh keluar.."
Bayu membereskan kertas - kertas itu kemudian menyimpan bersama berkas penting lain seperti biasanya.