"Siapa bilang Mutiara selalu indah berkilau?
Tidak, aku menggeleng. Mutiara yang kumiliki menyakitkan. Bahkan dalam keadaan tak tersentuh sekalipun. Apalagi seandainya bila aku menyentuhnya? Pasti kilauannya membuat kedua mataku buta." Jimmy~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ya, kami sedekat itu
"Aku akan setia nunggu kamu Mut, sampai kapanpun. Aku mencintai kamu" ucap Frans kepada Mutia.
Bagaimana kalau seandainya Frans tahu bahwa dirinya sudah menikah? Bagaimana jika seandainya Mutia sudah benar-benar menjanda? Apa Frans masih mau menerima dirinya? Baik secara status, lahir maupun batin?
"Hei!"
Mutia mengerjap begitu Frans mengagetkannya. "I-iya maaf Frans."
"Kok malah melamun? Coba aku tanya tadi aku bilang apa?"
"Iya aku dengar kok Frans, makasih udah mau nunggu aku. Aku juga cinta sama kamu."
"Kita dah berapa lama coba disini?" ucap Frans.
"Iya sudah hampir satu jam, waktu istirahatku sudah hampir habis..."
"Yaudah, aku pulang dulu ya."
"Iya Frans, hati-hati ya" Mutia beranjak dari duduknya. "See you!"
"Tunggu!"
Frans menarik tangan Mutia hingga tubuh Mutia berbalik menatapnya. Sejenak mereka saling menatap dengan penuh arti sebelum akhirnya, Frans berucap lirih. "Terima kasih sudah meluangkan waktunya buat aku. Biarpun pertemuan ini cuma sebentar, tapi waktu ini sangat berharga untukku."
"Iya, aku tahu."
"Minggu depan, kamu akan ku kenalkan dengan kedua orang tuaku."
Deg!
"Mut?"
Mutia terdiam dan kembali menatap Frans tanpa berkedip. Perasaan bersalah begitu menguasainya. Sampai sekarang Mutia belum tahu apa penyebab Papa melarangnya berhubungan dengan laki-laki yang berada di depannya saat ini. Padahal menurutnya, Frans begitu baik, serius dan tak main-main.
"Kamu mau kan?"
"Iya, aku mau. Mau banget." Mutia mengangguk-anggukkan kepalanya pedih. "Yaudah aku balik ke tempat kerja, udah hampir telat nih. See you Frans! Bye!"
Mutia berjalan cepat menjauh dari tempat itu Tak ingin jika dirinya sedang menjatuhkan buliran bening dari pelupuk matanya.
"I love you Mutia!" sayup-sayup terdengar Frans menyeru, mengatakan cinta.
Berada di toilet, Mutia menatap cermin dan melihat dirinya yang menyedihkan disana. "Maafin aku Frans, maafin aku... aku juga sayang sama kamu... aku nggak mau kita pisah... tapi kenapa takdir harus memisahkan kita seperti ini... hiks..."
"Aku dah nyakitin banyak orang... aku jahat! aku dah jahat!! hiks..."
Beberapa menit berlalu.
"Hei, Mut! Kamu disini? Kamu kemana aja, kita nyariin kamu dari tadi? Ayo balik jam istirahat dah mau selesai." Ulfa mendekati Mutia dan memperhatikan secara seksama. "Ka-kamu nangis?"
Mutia terdiam dan menunduk. "Aku tadi ke resto dekat kantor."
Ya ampun, teman perempuan terjutek, termisterius dan terdingin yang Ulfa kenal sekarang ini terlihat menangis? Sulit dipercaya.
"Kamu ada masalah sama Frans?" tanya Ulfa lagi. Bukannya menjawab, Mutia malah memeluk Ulfa sehingga membuat Ulfa mengira dugaannya adalah benar. "Sabar ya Mut... semoga masalah kalian masih bisa diperbaiki. Aku nggak tega lihat miss jutek-ku galau kayak gini."
***
"Ayo dek, nanti telaaat!" teriak Jimmy dari luar.
"Iya sebentar!" Mutia sedang cepat-cepat bersiap di kamarnya.
Mereka berdua sore hari ini akan menghadiri undangan party anniversary pernikahan Vano Hendri B. Daddy-nya James sekaligus mentornya, investornya, pembimbing, penasihat, sahabat, saudara, dan teman terbaiknya.
Tak menyangka, pertemuannya dengan orang itu membawa banyak perubahan dalam diri Jimmy. Dia mampu berdiri kokoh saat ini karena bantuan laki-laki itu.
Setelah bersiap keduanya memasuki mobil dan mulai meninggalkan komplek.
"Mas kenal... eumm teman kamu itu siapa namanya?" Mutia tampak sedang mengingat.
"Vano?" Jimmy menyela.
"Iya, kenal dimana?" tanya Mutia lagi.
"Beberapa bulan lalu Mas pernah nganterin anaknya kerumah."
"Anaknya main ke rumah kamu Mas?"
"Engga, jadi waktu itu Mas ketemu anak kecil di jalanan. Dari pengakuannya, anak itu baru saja kabur dari rumah Papanya."
"Di jalanan?"
"Iya, tepatnya di seberang cafe Luby."
"Ya ampun, kok bisa" dari raut wajahnya, Mutia begitu sangat penasaran. "Gimana singkat ceritanya? Aku nggak ngerti. Dia bukan anak kandung Vano?"
"Sebut namanya James, panggilannya Jajam, umurnya delapan tahun. Jajam itu bukan anak kandung Vano, tapi anak kandung dari Rocky. Dari cerita yang Mas dengar, Rocky memenangkan perkara hak asuh anak kandungnya. Tapi setelah James ikut bersamanya, ternyata James nggak betah disana."
"Kenapa dirumah Papa kandung sendiri malah nggak betah?"
Jimmy menghela nafas sebelum ia kembali berucap. "Kurang lebih delapan tahun lalu, datang seorang perempuan yang mengaku sedang mengandung. Vano yang merasa telah berhubungan dengan perempuan itu lantas bertanggung jawab. Tapi setelah keduanya lama bercerai, datang seseorang yang bernama Rocky mengatakan bahwa James itu sebenarnya anak kandungnya."
Mutia terdiam, sebab mendengarkan seksama.
"Delapan tahun itu bukan waktu yang singkat, Vano sangat menyayanginya James sebagaimana mestinya seorang ayah yang menyanyangi anaknya."
"Kenapa istrinya mesti berbohong?"
"Karena Rocky enggan bertanggung jawab."
"Apa sebabnya?"
"Karena perempuan itu bukan perempuan baik-baik."
"Tapi setelah James besar, kenapa justru Rocky ingin mengambil anak yang sempat nggak dia akui?"
"Entahlah. Tapi sekarang mereka sudah sepakat untuk membesarkan James sama-sama."
"Oh, udah clear masalahnya..."
"Iya,"
"Kamu temenan udah lama sama dia Mas?"
"Belum lama kok,"
"Tapi kedengarannya udah akrab banget."
"Iya, kami memang sudah sedekat itu."
***
To be continued.
thank author novelnya kereeeeen 👍👍👍
sukses terus yaa😊
tp sdh ada yg nyesek didada🙁
sayangya aku baru Nemu novel ini..Sukses terus Kaka othor 😍
tidak mau membahas masa lalu.
nyesek berada diposisi Jimmy😭