Hai, novel sebelumnya adalah karya terburuk bagi saya. Jadi, ijinkan saya mengubah hampir keseluruhan alurnya. Ada banyak sekali kesalahan dan seharusnya tidak ditulis, maafkanlah saya🙏
Pada saat itu saya seperti anak kecil yang sangat di luar batas, menulis bukan dari jiwa. Saya tidak mengakui dan sungguh menyesal menulis karya tersebut. Mohon kerjasamanya. Jika ada yang hendak mereview, tolong ijinkan saya menyelesaikan dulu🙏🙏
Dunia ini identik dengan cinta, kasih sayang. Tampak terdengar begitu indah. saya pikir semua itu bertahan, rupanya ketika kita berharap akan hal itu. Dunia seakan begitu kejam. No! Bukan dunia yang kejam, karena dasarnya dunia ini memang demikian. Di mana cinta yang tak berdasarkan iman pada Rabb adalah kekecewaan. Sungguh perbedaan yang sangat nyata ketika kedua cinta itu dialami oleh manusia sepertiku.
Leona Rain.
di karya ini, semoga dapat menghapus kesalahan di masa lalu terhadap penulisan Novel ini. Saya masih merancang jadi tolong bersabarl
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 0409 Ni Luh Budarwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18-Sah??
Selamat Membaca 🐣
"Aku tidak percaya ini, aku akan menikah SEKARANG?" Viana hanya dapat bicara dalam hatinya saja.
Viana turun dari tangga, hanya beberapa orang yang hadir dalam acara pernikahannya. Beberapa karyawan dari pihak Tantenya dan beberapa dari Harry. Pernikahannya yang mendadak seperti ini membuat Viana begitu syok, mau di kata apa. Sekarang semuanya menjadi nyata, ketakutan dan penolakan sudah tidak berarti.
Sedari tadi Viana hanya diam saja, hingga kata 'sah' terucap dari bibir Harry. Serasa dunia Viana hancur, hanya ada kegelapan saja. Air matanya menetes, sebelum jatuh tangan Harry sudah menangkapnya. Hari yang begitu bahagia bagi yang lain, terutama Rita. Sebaliknya ini adalah neraka bagi Viana, menangis darah.
"Jangan menangis di depan ku!" Harry menatap Viana dengan jengah.
"Lalu apa, tertawa?" tanya Viana tersenyum simpul.
"Vi sebenarnya--"
"Engga ada gunanya, sekarang kita sudah menikah. Tinggal siapkan saja surat perceraiannya!" Viana meninggalkan acara ke dalam kamarnya.
"Sabar Harry," suara lembut Rita menyadarkan Harry.
"Terima kasih Tante. Tante kapan nikahnya?"
"Menikah, benar juga ya. Sepertinya Tante harus membuka hati sebelum kamu dan Viana punya anak."
"Hahaha," mereka bersenda gurau.
Rita hanya bercanda, karena dia sudah memutuskan untuk tidak menikah. Lagipula umurnya juga sudah terlalu tua menurut dirinya, Rita mempunyai alasannya sendiri. Jika mau sudah dari dulu dirinya menikah, sayangnya hati Rita belum sembuh dari rasa sakitnya.
*****
Viana membersihkan dirinya, dia tidak berniat untuk makan. Viana hanya berdiri di belakang balkon kamarnya, menatap bintang di tengah malam. Viana cukup lama melamun hingga dia tidak sadar Harry sudah datang, Harry bahkan sudah selesai mandi. Tapi Viana masih melamun di sana.
"Mau sampai kapan melamun?" suara Harry membuat Viana menoleh.
"...." Viana diam, tidak menjawab. Hanya tatapan kebencian yang terlukis di wajahnya.
Harry berjalan mendekati tempat Viana berdiri, sebelum Harry memeluk Viana. Sudah terlebih dahulu Viana menghindar meninggalkan Harry, Viana mendahului untuk tidur.
"Hari ini kamu boleh menghindari ku, tapi tidak untuk seterusnya." Harry tiba-tiba sudah berbisik di telinga Viana, membuat Viana bergidik.
"Tidak, aku tidak boleh membuka mata." Viana masih berpura-pura untuk tidur.
"Aku tahu, kamu belum tidur kan?" tanya Harry yang sudah tahu, Viana hanya berpura-pura.
Harry membuka bajunya, tapi Viana masih menutup matanya. Tidak berani untuk membukanya. Harry dengan nakal memeluk Viana dari belakang, tangan Harry sudah memeluk perut Viana. Tangannya semakin nakal untuk naik, bahkan nafas Harry dapat Viana rasakan di lehernya.
Viana POV
Aku takut untuk membuka mata, tapi jika tetap seperti ini dia akan. Oh tidak, apa yang harus aku lakukan?
Aku tidak bisa tinggal diam lagi, jadi aku memutuskan untuk bangun dan mendorong Harry. Ku lihat dia tersenyum penuh kemenangan, segera saja aku lari ke kamar mandi. Aku mengunci kamar mandi.
"Viana, buka pintunya!" suara Harry ku dengar, dia mengetuk pintu kamar mandi.
"Enggak, aku engga mau."
"Buka, ini udah malam ayo tidur!" Harry sepertinya masih menyender di depan pintu.
"Engga, aku tidur di sini saja." sungguh aku akan tidur di kamar mandi, dari pada harus tidur dengannya.
"Kamu gila ya?"
"Iya, aku gila. Puas!" jawab ku yang sebenarnya tidak terima di bilang gila.
"Vi, buka pintunya!" Harry terus menyuruh ku untuk membuka pintu.
"Engga mau, duluan aja tidur!" Aku tetap menolaknya.
"Vi, buka aku mau buang air kecil!"
"Engga percaya, alasan kamu aja."
"Serius, kamu mau aku buang air kecil di sini?" tanyanya yang lebih tidak masuk akal.
"Di luar aja, kan ada."
"Cepat Vi, aku dobrak ya!" Harry mengancam ku, dasar suami bre***k.
"Vi, keluar engga. Aku serius!"
Dengan terpaksa aku keluar dari kamar mandi, Harry terlihat tersenyum. Dia melewati ku, ku pikir dia bohong. Baru saja aku melangkah, tangan ku sudah di tariknya. Kini Harry mengunci kamar mandi, membuat perasaan ku tidak enak. Benar kan ini akal-akalannya, duh kenapa aku bodoh gini.
"Ayo tidur!" Harry membuat ku mengangga.
"Tidur?" tanya ku.
"Katanya mau tidur di kamar mandi kan?"
"Dasar licik," ucapku dan berniat untuk keluar.
"Mau kemana?" Harry menarik ku hingga membentur dadanya.
"Aku ngantuk mau tidur, l-lepaskan!" Harry memegang erat tangan ku.
"Boleh, setelah kita-" Harry tidak melanjutkan ucapannya, dia memepet ku hingga membentur dinding kamar mandi.
********
Saat aku bangun, aku sudah ada di kamar ku. Ku dapati diriku yang tidur dalam pelukan Harry, saat aku membuka selimut. Aku baru mengingat apa yang Harry lakukan pada ku.
Aku mendahului Harry untuk bangun, selesai membersihkan diri. Aku duduk di depan cermin, dari sana juga terlihat Harry menatap ku sedari tadi. Aku seolah tak melihatnya, kemudian aku memutuskan untuk turun ke bawah.
"Dosa, engga bangunin suami." Harry masih menatap ku dengan senyuman, ku balas dengan muka datar.
Aku meninggalkan Harry, lebih baik aku membantu bibi untuk masak. Setelah sekian lama, aku memasak lagi di rumah ini. Tante Rita sudah siap untuk berangkat, dia tersenyum melihat ku.
"Viana, Tante-"
"Iya," jawab ku singkat.
Aku sudah tahu apa yang akan dia katakan. Tante Rita melangkah ke arah ku dengan wajah rasa bersalah, tapi suara telephon sudah membuat dia mengurungkan niatnya. Bibi yang saat itu ada di dekat ku, berusaha untuk menghibur ku dengan candaannya. Percuma saja, hidup ku terlalu pahit.
"Non, biar saya saja yang siapkan." bibi mengambil alih untuk menata makanan.
"Ia bi, saya ke atas dulu."
Aku menuju ke atas untuk memanggil Harry, saat aku hendak membuka pintu. Ku dengar Harry sedang berbicara dengan seseorang. Aku jadi bimbang, antara membuka pintu atau tidak. Dia sepertinya sedang menelepon seseorang. Entah lah aku tak tahu.
Kriett, suara pintu kamar di buka.
"Viana, kenapa engga masuk?" tanya Harry menatap ku.
"A- itu makanan sudah siap." Aku benar-benar gugup, takut dia akan marah.
Harry memeluk ku beberapa saat, kemudian kami turun ke bawah bersama. Meski aku marah padanya, tapi aku sadar aku seorang istri. Yah istri 7 hari, setelahnya kami akan berpisah seperti yang Harry katakan.
Aku menuangkan nasi dan lauknya di piring Harry, aku juga menyiapkan minuman untuknya. Harry menatap ku dengan senyuman manis yang pernah dia tunjukkan, seolah tidak ada masalah apapun di antara kami.
******
"Vi, tadi orang kantor menelpon. Aku ijin ya sama kamu, aku harus ke kantor. Aku sebentar kok, setelah mettingnya selesai langsung pulang." Harry membantu ku untuk membersihkan piring-piring kotor.
"Iya, kamu engga usah bantuin. Aku aja yang kerjain, entar kamu terlambat." Aku berusaha untuk bersikap biasa saja.
Harry pergi ke atas untuk bersiap, tak lama bibi datang untuk membantu ku. Karena haus aku mengambil minuman di dalam kulkas, saat aku berbalik Harry sudah di belakang ku. Dia langsung memelukku, romantis kalau saja pernikahan ini bukan karena dendam.
"Aku berangkat sekarang ya." Harry sedari tadi terus mengembangkan senyum.
Aku hanya di rumah untuk saat ini, sekitar jam 9 Tante menelpon ku. Katanya berkasnya ketinggalan, dia meminta ku untuk membawakannya. Karena Tante Rita akan berangkat ke Belanda, mau tidak mau aku yang harus ke kantor. Artinya aku harus bertemu dengan Harry.
Bersambung 🌻
Budayakan like ya😊😚