Frida yang seorang wakil direktur perusahaan lebih memilih hidup sederhana di desa dengan seorang pemuda desa yang telah memikat hatinya sejak dipersatukan dalam pernikahan terpaksa di masa lalunya ketika usianya masih 18 tahun. Herdi, nama lelaki itu, telah menerima dirinya apa adanya dan mau menikahinya walau dirinya pernah depresi dan hamil karena menjadi korban perkosaan. Ketulusan Herdi dan kebaikannya tidak dapat dilupakan oleh Frida walau Papanya telah memaksa mereka berpisah setelah bayi itu lahir. Bahkan Herdi memohon agar bayi itu dirawat olehnya sebagai kenang-kenangan Frida. Pak Danu, papa Frida tentu saja senang dan tak perlu repot menyembunyikan bayi yang tak diharapkan itu. Setelah beberapa tahun kemudian, cinta Frida dan Herdi tak tergoyahkan. Cinta mereka penuh perjuangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L. ROSA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 CEMBURU
Usia kandungan Frida sudah 6 bulan. Herdi berencana akan memeriksakan kandungan Frida ke Obgin ke kota kabupaten. Dari mulai 4 bulan Frida hanya diperiksa ke bidan desa.Tapi tak ada masalah. Kandungannya baik-baik saja.
"Dek, besok kita ke kota, memeriksa kandunganmu ke dokter kandungan. Nanti nyewa mobil Pak Kamal," kata Herdi siang itu. Mereka sedang duduk bercengkrama di teras rumah. Mereka baru pulang dari kebun.
"Iya, Mas," jawab Frida. Merekapun asyik berbincang-bincang sambil menikmati teh hangat dan kue kering buatan Frida kemarin.
Keesokan harinya Frida sudah siap akan berangkat, Herdi juga sudah rapi dan siap akan berangkat, mereka baru akan keluar dari kamar. Tiba-tiba datanglah seorang gadis masuk ke rumah Herdi dengan tergesa-gesa.
"Mas, Mas..., Mas Herdi," panggil gadis itu tanpa mengetuk atau mengucap salam. Ia langsung saja masuk ke rumah. Herdi dan Frida terkejut, gadis itu juga terkejut. Gadis itu tidak menyangka ada seorang wanita yang bersama Herdi dengan perut sedang hamil di rumah itu. Otaknya langsung bereaksi, Herdi sudah menikah! Ia tidak tahu karena ia baru datang tadi malam. Gadis itu anak Pak Kamal yang kuliah di Yogyakarta.
"Oh, maaf. Saya terburu-buru," kata gadis itu pada Herdi dan Frida.
"Ada apa, Leni? Sejak kapan datang dari Yogya?" tanya Herdi.
"Aku datang dari semalam, Mas. Mas, tolong Bapak, Mas! Bapak pingsan. Bapak sebelumnya mengeluh pusing. Bantu Bapak bawa ke rumah sakit, Mas. Supir yang lain susah dihubungi. Mas juga tadi pagi susah ditelponnya," kata gadis yang bernama Leni.
Herdi dan Frida berpandangan.
"Kalian mau pergi ya? Tolonglah Mas, sekali ini saja! Benar-benar darurat!" kata Leni memohon.
Frida dalam hati merasa sebal. Tak sedikitpun gadis yang bernama Leni melihatnya, atau berusaha mengajaknya bicara juga. Gadis itu hanya tertuju pada Herdi.
Sedangkan Herdi sedikit bimbang. Di satu sisi ia tidak ingin mengecewakan Frida, tapi di sisi yang lain Pak Kamal Majikannya, lagipula Pak Kamal sakit parah.
"Ya sudah, Aku ke sana. Dek Frida, lain kali saja ya kita ke Dokter kandungannya," kata Herdi. Frida akan bicara, tapi Herdi tampaknya tidak akan menunggu jawabannya. Herdi langsung bergegas pergi dengan gadis itu.
"Ayo, Leni! Mana kunci motornya? Biar aku saja yang menyetir." Herdi dan Lenipun pergi naik motor yang dibawa Leni. Yang membuat Frida tambah sebal, Leni terlihat melingkarkan tangannya di perut Herdi.
Frida kesal sekali! Sudah mengacaukan acaranya. Si Leni itu juga tampaknya tidak suka padanya. Gadis itu sombong sekali. Tidak meminta maaf pada Frida karena telah mengganggu rencananya pergi ke Dokter Kandungan. Jangan-jangan Leni juga termasuk gadis yang menyukai Herdi.
Pikiran-pikiran buruk Frida membuatnya tidak tenang. Frida berjalan mondar-mandir. Akhirnya ia menelpon Lastri. Lama panggilan teleponnya tidak dijawab. Akhirnya setelah beberapa saat panggilannya dijawab juga.
"Ya, hallo?" kata suara Lastri di telepon.
"Mbak, antar aku ke Dokter Kandungan, Mbak," kata Frida.
"Hah? Memangnya Herdi kemana? Kok enggak sama Herdi?" tanya Lastri.
"Dia pergi mengantarkan Pak Kamal ke rumah sakit. Padahal kami udah mau pergi tadi. Tapi siapa itu, Leni, anaknya Pak Kamal maksa aja," kata Frida sedikit emosi.
"Ya udah nanti aja ke Dokternya. Lain kali bisa kan?" kata Lastri.
"Enggak. Aku maunya sekarang! Mas Herdi main pergi aja tanpa bertanya padaku," tukas Frida.
"Hmm ...., sebenarnya ini kenapa ya? Kayak ada aroma-aroma cemburu," tebak Lastri.
Sebenarnya tebakan Lastri benar. Bukan masalah gagal pergi ke Dokter kandungannya. Tapi ia merasa kesal dengan si Leni itu. Bisa-bisanya gadis itu melingkarkan tangannya di perut Herdi. Gak tahu apa, Herdi sudah punya istri.
"Bukan apa-apa. Aku besok-besok barangkali gak mood. Aku moodnya hari ini,. Aku udah dandan rapi. Mau antar enggak? Kalau gak mau, aku sendirian juga bisa" jawab Frida ngeles.
"Oke, oke. Terus mau naik apa? Ojeg? Mobil umum? Mobil umum jam segini udah gak ada yang ke kota. Udah terlalu siang, harus jam 7 pagi, " Lastri tidak mau berdebat. Takut Frida nekat pergi sendiri. Sebenarnya ia akan ke kebun tadinya.
"Mbak tahu rumah Alex? Nyewa mobil Alex aja," kata Frida.
"Ya udah. Nanti Mbak ke rumahmu," kata Lastri. Frida tersenyum. Akhirnya Mbak Lastri mau juga mengantar. Dengan sedikit mengancam tentunya, makanya mau.
Ketika di rumah Alex, ada sedikit masalah lagi. Alex sedang meriang. Jadi Alex tidak bisa mengantar Frida dan Lastri ke kota.
"Ya, sudah. Aku tetap akan menyewa mobil. Aku yang menyetir sendiri," kata Frida dengan enteng.
"What?! Serius kamu bisa nyetir mobil? Jangan-jangan mobilku jadi kelinci percobaan yang baru belajar nyetir mobil," Alex tak percaya Frida bisa menyetir. Lastri juga tampak kaget. Di daerahnya, termasuk langka, perempuan yang bisa menyetir mobil. Bahkan anak Pak Kamal yang punya mobil 5 juga anak perempuannya tidak bisa menyetir mobil sendiri.
"Tenang aja. Aku punya SIM kok. Di Jakarta, aku kemana-mana sering nyetir mobil sendiri," kata Frida meyakinkan.
"Baik. Tapi bener ya? Takutnya kamu bohong. Awas kalau mobilku kenapa-napa," kata Alex masih sedikit belum yakin.
"Beres! Tenang aja," ujar Frida sambil tersenyum.
Akhirnya Fridapun dapat menyewa mobil Alex. Frida pun mulai menjalankan mobil. Lastri yang duduk di samping Frida awalnya sedikit takut. Tapi lama-lama, mobil K***ng yang dikendarai Frida meluncur dengan stabil. Frida juga tampak percaya diri menyetir mobil. Jadi hilang ketakutan Lastri. Lastripun menikmati perjalanan.
"Udah tahu mau ke rumah sakit mana?" tanya Lastri.
"Kita tadinya mau ke Rumah Sakit A. Tapi sekarang aku mau ke Rumah Sakit B aja," jawab Frida.
"Tunjukkan jalannya ya," pinta Frida. Lastri mengangguk.
Sebenarnya alasan Frida mau ke Rumah Sakit B karena ia tadi samar-samar mendengar Leni berbicara pada Herdi di motor , mau pergi ke Rumah Sakit B. Makanya iapun mau ke sana. Ingin bikin sedikit kejutan pada mereka.
Sudah Satu setengah jam yang lalu. Bahkan Herdi belum memberi kabar pada Frida. Frida semakin kesal saja. Herdi mengabaikannya gara-gara gadis itu. Lastripun memberitahu Frida bahwa Rumah Sakit B sudah dekat. Fridapun memperlambat mobil itu. Setelah terlihat pintu masuk halaman Rumah Sakit B, mobilpun memasuki halaman Rumah Sakit, kemudian memarkirnya. Mobil diparkir sengaja dekat Ruang UGD. Kebetulan parkirannya belum banyak kendaraan yang parkir.
Benar saja perkiraan Frida, didepan ruang UGD duduk bergerombol Herdi dan yang lainnya. Ada beberapa orang laki-laki, mungkin teman Herdi, ada seorang ibu, dan si Leni itu.
Frida pun turun dari mobil, disusul Lastri. Herdi tampak terkejut melihat Frida. Orang-orang yang bergerombol itu pun tampak terpana melihat seorang perempuan sedang hamil bisa menyetir mobil sendiri. Termasuk Leni. Ia membuang muka sewaktu mereka beradu pandang
Herdi menghampiri Frida.
"Dek kenapa menyusul ke sini? Ingat, kamu lagi hamil," kata Herdi.
"Siapa yang menyusul? Aku ke sini mau ke bagian Obgin," jawab Frida santai.
"Kenapa sih, keras kepala? Dibilangin nanti lain waktu," kata Herdi.
"Aku maunya sekarang. Mungkin besok-besok Mas juga sibuk," sindir Frida.
"Ya enggaklah. Aku sempatin. Kalau sekarang kan situasinya gak memungkinkan. Mbak juga, ngapain sih ngebiarin Dek Frida ke sini?" kata Herdi mengernyitkan dahinya menahan marah.
"Daripada dia pergi sendiri," jawan Lastri.
"Mas, Bapak mau dipindahkan," Leni memanggil Herdi.
"Tunggulah di sini, aku mau ke dalam dulu," kata Herdi.
Herdipun berjalan ke arah pintu masuk UGD.
"Her, itu bojomu ya? Keren, bisa nyetir sendiri. Lagi hamil lagi. Luar biasa!" kata Anto, temannya, salah satu supir Pak Kamal juga. 2 orang temannya ikut mengantar Pak Kamal ke rumah sakit. Sedangkan 2 orang laki-laki lagi kerabat Pak Kamal.
Herdi hanya tersenyum mendengarnya, sedangkan Leni cemberut memdengarnya. Mereka semuapun masuk. Pak Kamal akan dipindahkan ke ruang perawatan.
Lima menit, sepuluh menit berlalu.
"Mbak, ngapain coba kita nungguin. Daftar dulu, keburu Dokternya pergi kalau kita nunggu,'" kata Frida
"Iya. Ayo kita daftar dulu," jawab Lastri.
Merekapun berjalan ke dalam Rumah Sakit mencari ke bagian pendaftaran. Setelah cukup mengantri. Fridapun maju ke tempat bagian pendaftaran. Frida lihat di pengumuman ada 3 dokter yang praktek hari itu di bagian obgin. Fridapun memilih dokter yang antriannya tidak terlalu panjang. Yang antriannya panjang, bisa jadi dokternya belum datang karena sedang melakukan operasi.
Setelah mendaftar, Fridapun duduk di tempat duduk yang telah disediakan.
Ada chat masuk di ponsel Frida.
Dek, kamu dimana? Mas masih lama. Kamu duluan aja daftar.
Ternyata dari Herdi. Fridapun membalas chat an Herdi.
Udah daftar dari tadi. Habisnya lama nungguinnya.
Frida mengetik dengan perasaan kesal.
Maaf. Leni gak mau ditinggal. Takut ada apa-apa.
Jawaban dari Herdi.
"Ngapain sih, Mas Herdi mau aja. Disana kan ada banyak orang yang ikut. Kayak enggak ada orang lagi aja," Frida menggerutu tanpa membalas chat an Herdi lagi.
"Iya. Ngapain lagi sih. Kan Pak Kamal udah dipindahin ke ruang perawatan. Berarti udah melewati masa kritisnya," jawan Lastri seakan tahu yang dipikirkan Frida.
Setelah sekian lama menunggu, nama Fridapun dipanggil. Frida dan Lastripun masuk ke ruangan dokter pilihannya.
Singkat cerita, Fridapun diperiksa di ruangan USG.
"Bayinya sehat, aktif. Tuh kakinya gerak-gerak," kata Dokter Wahyu sambil menempelkan dan menggerakkan alat USG. Di monitor tampak gambar yang bergerak-gerak.
"Bayinya laki-laki apa perempuan dok?" tanya Lastri.
"Perempuan," jawab Dokter Wahyu.
Setelah itu Dokter Wahyupun menjelaskan tentang hasil USG. dan menanyakan apakah ada keluhan selama kehamilan. Frida menjawab tidak ada. Fridapun diberi resep untuk ditebus. Frida dan Lastripun keluar.
Herdi tampak sedang mencari-cari Frida. Chat an darinya tidak dibalas Frida. Frida dan Lastri berjalan ke arah Herdi.
"Ayo pulang, Her. Udah selesai," kata Lastri. Frida memilih diam saja. Hatinya dongkol. Sampai pemeriksaan selesai Herdi baru menemuinya. Jadi Frida memilih mengacuhkan Herdi.
"Maaf ya Dek. Urusannya baru selesai. Mungkin lain kali Mas bisa ikut mengantar ke dalam," kata Herdi menyesal.
"Urusan apa?! Urusan sama si Leni?!" timpal Frida ketus.
Lastri mencium aroma pertengkaran. Lastri juga kesal sebenarnya pada Herdi. Herdi kok gak tegas pada Leni.
"Kok gitu sih bicaranya? Mas cuma menolong keluarga Pak Kamal," kata Herdi sambil mencoba meraih tangan Frida. Frida menepis tangan Herdi. Frida berjalan lebih cepat, meninggalkan Herdi. Herdi dan Lastri berlari menyusul langkah Frida.
"Dek Frida! Coba salah siapa, Mas juga kan bilang lain kali aja. Besok atau kapan. Kalau sekarang kan situasinya lagi bantuin orang," kata Herdi setelah mensejajarkan langkahnya.
Frida berhenti di bagian pengambilan obat. Frida menyerahkan resep dari dokter. Kemudian ia duduk menunggu dipanggil.
"Iya. Salahku. Semua salahku," jawab Frida masih ketus.
Herdi tidak berkata apa-apa lagi. Percuma bicara juga. Frida sedang marah.
Hingga di dalam mobilpun Frida masih mengacuhkan Herdi. Herdi yang menyetir mobil Alex. Frida duduk di sebelah Herdi di depan. Sedangkan Lastri duduk di belakang Herdi.
Mobilpun melaju dijalanan yang cukup ramai. Herdi menyetel musik yang ada di mobil untuk menetralisir kecanggungan diantara mereka. Tangan Herdi mencoba mengelus kepala Frida. Tapi Frida menghindar dengan mencondongkan tubuh ke depan. Herdi menghembuskan nafas. Baru kali ini Frida marah padanya sampai seperti itu. Akhirnya mereka pun hanya berdiam diri. Tak satupun yang mencoba untuk berbicara. Mereka melakukan perjalanan dalam keheningan.
****
HAPPY READING
Reader, Tinggalkan jejakmu ya! Thankyou!
Lemod
kalau gak suka yah jangan mau dibpaksa dong.