JANGAN DIBACA !!!
Cerita ini tidak akan sesuai harapan kalian. Nanti menyesal.
S1 : END
Kehilangan orang tua membuat Aruna harus berjuang demi rupiah untuk biaya hidupnya dan untuk membiayai adiknya yang masih duduk di bangku sekolah.
Berkat sepupunya akhirnya Aruna mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan yang cukup besar meskipun hanya sebagai Cleaning Service.
Namun siapa sangka dua pria tampan,putra dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja itu justru menaruh hati padanya. Dan di sisi lain ada sang sekretaris yang selalu berusaha menyingkirkannya demi mendapatkan sang pujaan hatinya.
Disinilah sebuah kisah cinta segi tiga di mulai. Hingga akhirnya kisah cinta ini membuatnya terjebak di antara dua hati. Membuatnya harus memilih cinta diantara dua cinta.
S2 : END
Hadirnya kembali sosok yang telah pergi tanpa pamit meninggalkan Aruna dan telah membawa separuh hatinya itu. Menghadirkan kebimbangan. Dan menjadi duri dalam kehidupan rumah tangganya. Akankah Aruna akan kembali ke dalam pelukannya dan mengakhiri rumah tangganya?
Ikuti kisahnya ...
ig@fhatt87
Cerita ini hanyalah fiksi. Tidak lebih hanya khayalan semata. Mohon maaf bila terdapat kesamaan tokoh,karakter,latar hingga alir cerita. Karya ini murni hasil pikiran penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CUA Bab 19
Dicko kembali ke tempat duduknya semula. Di depan Bram yang kini sudah kembali memutar posisi duduknya seperti sedia kala.
Dia masih memandangi Bram. Ucapan Aruna tadi masih terngiang di telinganya. Kata Aruna, orang yang sudah menyelamatkannya dari berandalan mesum itu adalah Jaka. Sementara waktu itu hanya ada Bram, Teddy, Bu Diana, dan Shanti. Lalu siapa Jaka? Apa Bram mengganti namanya saat dia menjadi OB? Pantas saja Dicko kesulitan menemukannya.
Bram meraih kopi yang di letakkan Aruna di depan Dicko. Sebab memang dialah yang meminta kopi itu. Tapi dia tidak menyangka kalau Aruna yang akan datang membawanya.
Perlahan Bram pun mulai menyesap kopi itu.
"Hmm..." Raut wajah Bram sesaat berubah, sepertinya ada masalah dengan kopi itu.
"Kenapa? Pahit?" Dicko menebak. Dia tahu kopi itu pasti pahit. Karena yang membuat kopi itu adalah orang yang sama.
Bram pun tersenyum mendengarnya, "Manis kok."
"Jangan di minum kalau memang kopinya pahit."
Bram seperti tidak mempedulikan perkataan Dicko. Dia malah kembali menyesap kopi itu dengan raut wajah aneh karena menahan rasa yang tidak biasa.
Dicko menatap Bram heran. Bram sudah tahu kopinya pahit kenapa malah di minum.
"Sudah...jangan di minum." Larang Dicko lagi.
"Ini manis kok, benar, manis." Kopi pahit pun terasa manis bagi Bram. Karena yang membuat kopi itu adalah orang yang spesial.
Bram tersenyum geli. Dicko pun semakin menatapnya aneh. Ada apa dengan Bram. Jelas kopinya pahit malah dibilang manis.
"Aneh, lidah kamu itu mungkin bermasalah."
Bram tidak peduli dan tetap menyesap kopi itu sedikit demi sedikit. Dan Dicko semakin heran di buatnya. Hal aneh apa yang telah terjadi pada adiknya itu.
Mengingat sebelumnya Aruna pernah membuatkan kopi pahit untuk Dicko, jadi mungkin dia berpikir kopi yang di buatkan Aruna kali ini sama pahitnya.
Ceklek
Hanna langsung membuka pintu ruangan Bram tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Dia datang membawa sebuah map di tangannya dengan senyum yang mengembang sempurna.
Serentak Bram dan Dicko pun berpaling ke arahnya yang berjalan menghampiri Bram. Dan kini dia sudah berdiri di sisi meja sebelah kiri tepat di samping Bram.
"Maaf, Bram. Ada berkas yang harus kamu tanda tangani," kata Hanna sembari meletakkan map itu di depan Bram.
"Lain kali ketuk pintu dulu," kata Bram mengingatkan.
Senyum merekah Hanna pun seketika memudar. Kini berganti dengan bibir yang mengerucut.
Bram tidak peduli dengan reaksi Hanna. Tanpa berlama - lama dia langsung menandatangani berkas itu kemudian menyerahkannya kembali pada Hanna.
"Tidak di baca dulu?"
"Tidak perlu. Aku percaya kamu orang yang handal," kata Bram asal.
Itu hanya alasan Bram saja agar Hanna segera keluar dari ruangannya.
Hanna pun tersenyum bangga mendengar pujian dari Bram. Sambil matanya terus menatap Bram dengan berbinar - binar. Rasanya Hanna semakin menyukai teman masa kecilnya itu.
"Kenapa senyum-senyum? Ada yang lain lagi yang harus saya tanda tangani?"
"Tidak ada. Tapi... "
"Ada apa?"
Hanna melirik ke arah Dicko yang tengah serius membaca berita online di ponselnya. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu. Tetapi dia kurang nyaman dengan keberadaan Dicko.
"Ada apa? sebenarnya kamu mau ngomong apa?" tanya Bram sekali lagi karena Hanna tampak ragu-ragu.
Akhirnya Dicko bangkit dari duduknya dan bermaksud kembali ke ruangannya. Karena dia pun punya pekerjaan yang harus di selesaikannya.
"Aku keluar dulu, silahkan kalian mengobrol." Dicko kemudian beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.
Dicko hanya ingin memberi mereka kesempatan berdua agar mereka bisa lebih saling mengenal satu sama lain. Mengingat rencana papa Danu tentang perjodohan mereka itu.
Setelah Dicko pergi, Hanna pun akhirnya merasa nyaman untuk bisa mengutarakan isi hatinya.
"Bram, kamu itu sebenarnya rindu atau tidak?" tanya Hanna santai tak peduli formalitas.
"Rindu apa?" tanya Bram sembari membuka laptopnya dan mulai menyibukkan diri dengannya.
"Rindu padaku." Sahut Hanna singkat dan jelas.
"Hah? Kamu bilang apa tadi?" Bram berpura-pura tidak mendengarnya.
"Kamu pura-pura tuli ya? Aku bicara sangat jelas tadi," Hanna mulai kesal "kenapa ya aku merasa kamu itu selalu berusaha menghindar dari aku."
"Menghindar apa?"
"Bram aku serius. Kamu kok aneh sih."
"Kamu ini bicara apa? Aku tidak mengerti."
"Bram kamu ini bodoh atau hanya pura-pura bodoh. Apa aku harus berterus terang?" Hanna pun semakin kesal.
"Kamu makin aneh. Sejak tadi kamu bicaranya makin ngawur. Ya sudah, lebih baik sekarang kamu kembali ke ruangan kamu. Kalau ada berkas, laporan, atau apapun yang harus aku tanda tangani, baru kamu ke sini lagi. Oke?"
Raut wajah Hanna semakin tak enak di pandang mata. Sangat jelas terlihat raut kekecewaan di wajah cantiknya itu.
Hanna gadis yang cukup berani. Dia tidak akan mudah menyerah untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Termasuk CINTA.
Tak peduli seberapa sering Bram berusaha menghindarinya. Tak peduli walaupun hatinya sudah menjadi milik orang lain. Bram adalah miliknya. HARUS MENJADI MILIKNYA. Bagaimanapun caranya.
***
Meskipun sebenarnya Dicko kurang yakin kalau rencana papa Danu ini akan berhasil, tapi setidaknya dia sudah berusaha walaupun belum sampai ke tahap membujuk Bram.
Dicko berjalan menuju ke ruangannya yang berjauhan dari ruangannya Bram. Namun langkahnya terhenti begitu dia melewati pantry. Sekilas pandangannya tertuju pada sosok gadis yang sedang duduk sendirian. Di depannya ada sebuah kotak makanan. Kini gadis itu mulai membuka kotak makanan itu.
Hari ini Shanti membawa bekal lebih dan dia berbaik hati membaginya dengan Aruna. Hal seperti ini sebenarnya sudah sering mereka lakukan sejak masih duduk di bangku sekolah dulu. Bahkan hingga kini kebiasaan itu masih ada diantara mereka.
Dengan santainya Aruna mulai menikmati bekal yang diberikan Shanti. Sesuap demi sesuap. Tanpa menyadari ada sepasang mata yang kini tengah mengawasinya.
Dan entah kenapa pemandangan itu menghentikan langkahnya. Pemandangan seperti ini sebetulnya sudah sering Dicko lihat. Tidak sedikit karyawannya yang lebih memilih membawa bekal ketimbang makan di luar. Tapi pemandangan yang satu ini spontan saja mencuri perhatiannya.
Tanpa sadar sebuah senyuman manis terukir di wajahnya. Senyum yang teramat langka yang belum pernah dilihat oleh siapapun termasuk semua karyawannya. Dan entah kenapa makhluk manis yang tengah lahap menikmati makanannya itu sudah membuatnya penasaran.
Sejak insiden kopi pahit itu Dicko mulai merasakan ada yang aneh dengan dirinya. Bayang wajah Aruna yang sering mengganggu pikirannya, bahkan getaran - getaran aneh itu sering dia rasakan hingga membuat hatinya berdebar.
Hal seperti ini belum pernah dia rasakan sebelumnya. Perasaan ini, entah apa namanya, dia sendiri bahkan tidak memahaminya.
Dan senyuman manisnya itu tanpa sengaja di lihat oleh Shanti yang hendak ke pantry. Shanti begitu tercengang melihat Dicko yang berdiri di balik pintu itu sambil memasang senyum menawannya.
"Siang Pak ..." Sapa Shanti sopan sambil perlahan melangkah masuk ke pantry.
Senyuman indah yang baru saja terbit di wajah tampan itu pun, kini terbenam kembali. Dicko kembali memasang wajah datarnya melirik ke arah Shanti yang tersenyum-senyum sendiri. Saking bahagianya melihat senyuman langka itu meski hanya sesaat.
Sebelum Aruna menyadari kehadirannya, Dicko pun segera beranjak dari tempat itu menuju ke ruangannya.
"Ya ampun Aruna ... kamu lihat tidak tadi? Senyumnya itu, senyumnya itu loh Run ..." Seru Shanti kegirangan membuat Aruna kaget dan menghentikan kegiatannya.
*
*
*
Bersambung
______________________________________________
TERIMAKASIH SUDAH MELUANGKAN WAKTUNYA 🙏😊
like😍