KISAH SANTRI PESANTREN MANBAUS SALAM. NO PROMO!
✍️ NASKAH DALAM PROSES REVISI. Please jika ada kesalahan tulisan, mohon tulis di kolom komentar, ya. Atau, apa pun segala yang berhubungan dengan cerita.
Kesedihan, tawa, romantisme hubungan pernikahan, kemarahan, mawas diri, muhasabah, cinta dan akhlak seorang santri.
⚠️⚠️ Plagiat? Langsung sy serahkan urusan itu antara Anda dg Tuhan.🙏 Cerita ini tidak terinspirasi dr satu pun novel di platform ini.
Novel pembangun jiwa yang dilatarbelakangi pesantren salaf milik seorang Yai Makrus dan Bu Nyai Hindun.
Kisah kasih perjuangan santri yang ingin menggapai surga dengan jalan menghafalkan Alquran. Penuh tirakat, ujian, berlomba-lomba ngalap berkah.
Ranaa ialah putri kesayangan aba yg bercita-cita menjadi hafizah mutqin. Sayangnya, harapan tak semanis dengan realitanya.
Melalui ujian dan seluruh keluh kesah yang dialaminya, bagaimana caranya dia memperjuangkan Alquran? Caranya menjaga hati sahabat-sahabatnya? Teguh di atas kaki sendiri hingga dia dipertemukan dengan kekasih hati yang sebenarnya.
Wahai Merpati Putihku, jika suatu saat kamu terbang jauh, ingatlah bahwa Tuanmu ada di sini yang setia menunggu." Begitu kata sang kekasih di suatu malam penuh bintang gemintang, tapi disertai ratapan tak biasa.
Bagaimana kelanjutannya? Check it out.
👉 Tempat dan nama tidak berhubungan dengan siapa pun.
Selamat membaca. Semoga dapat diambil manfaat dan ibrahnya. 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuni Umdatun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham
⚠️⚠️Demi memudahkan pembaca, bagi yang tidak memahami bahasa jawa, langsung pergi ke kata yang bertanda kurung (terjemahannya). Abaikan cetak miring. Setiap pengulangan bahasa jawa, tetap saya berikan terjemahan meskipun kata tersebut telah diulang sebelumnya.
🌹🌹🌹
Jika ada yg ditanyakan bisa tulis di kolom komentar. 😊🙏
🌷(Masuk cerita) 🌷
Aku sudah kembali ke kamar. Betapa banyak mbak-mbak santri yang rela menungguku hanya demi pertanyaan dengan siapa aku menikah. Mereka ingin mendapatkan jawaban yang sebenar-benarnya. Padahal, acara sema’an sudah dimulai setengah jam lalu. Harusnya mereka ada di dapur atau di depan menyambut tamu undangan.
“Mbak, kamu menikah dengan siapa? Gus Asyam?”
“Bagaimana wajahnya?”
“Gus Asyam muncul di depan banyak orang?”
“Kamu yakin menikah dengan orang yang kukira hanya halu?”
Dari sekian banyak pertanyaan yang memberondongku, aku hanya tersenyum.
“Ayolah, Mbak Ran, kasih tahu!” Aku malah dipaksa.
“Kalian nanti akan tahu sendiri.”
Namun, ada yang berceletuk di depan pintu, entah siapa aku belum hafal namanya.
“Sama Kang Nawi. Kalau tidak salah namanya itu.”
“Kang Nawi yang dekat dengan Gus Adnan itu?”
Aku heran. Mereka sungguh tahu dengan siapa Kang Nawi dekat.
“Benar, Mbak Ran?”
“Ya begitulah.”
Aku bangkit mengganti pakaian dengan gamis warna cream. Kuhapus riasan wajahku karena aku tidak mau tampil di panggung dengan keadaan masih mencuri perhatian banyak orang.
“Mbak Rana cantik, tapi aku pernah tahu Kang Nawi itu. Dia sama sekali tidak ganteng. Kasihan lo, ya.”
“Heh, tapi mereka itu kayaknya dijodohin. Paling, ya, Abah Yai. Mesti barakahlah kalau Abah Yai yang jadi perantaranya.”
Ada yang sedang membisikkan kalimat itu. Aku mendengarnya samar-samar. Kulirik dua mbak santri yang ada di pinggir bingkai pintu.
“Aku ke panggung dulu.”
Aku ke sana sendirian. Ning Naina segera melambaiku dari panggung, menyuruhku dekat di sisi kirinya. Aku masih baru saja selesai bernapas lebih panjang dan Ning Naina sudah memberiku microfon. Aku langsung diutus ngaji.
Aku memulai dengan awalan basmalah. Kulanjutkan juz tiga dengan irama bayyati. Irama yang cocok untuk mengiringi pagi yang segar. Karakternya yang berwibawa dan puitis bisa melekat ke dalam suasana. Sengaja kupilih tempo at-tadwir. Aku tidak ingin membaca cepat seperti Ning Naina. Aku belum berani.
Irama bayyatiku mengiringi datangnya satu per satu undangan. Para tamu alumni melebur menjadi satu dengan santri-santri. Tidak lama setelah itu, datang satu mobil, mereka adalah para hafizah yang ditunggu-tunggu. Ada lima hafizah yang diundang khusus oleh ndalem. Penerima tamu yang bertugas menggirimg tamu VIP mengantarkan sampai ke tempat duduk. Aku menyalimi mereka satu per satu sambil terus membaca. Lantas mereka duduk di depan meja, memeluk bantal yang sudah disiapkan satu per satu.
Satu jam kemudian tamu undangan sudah hampir penuh. Mbak-mbak santri minggir memberikan kelonggaran tempat duduk—lesehan. Jatah konsumsi yang disiapkan di depan, kurang lebih masih bersisa dua ratusan kardus jajan. Jatahku membaca sudah selesai. Aku menyelesaikan kurang lebih empat puluh menit. Giliran Mbak Bahiroh sudah mendapatkan setengah juz tiga. Target acara selesai ba’da zuhur sekitar pukul tiga sore, mendekati asar. Sehingga nanti di akhir acara diakhiri dengan salat jamaah asar. Sema’an, salat zuhur jamaah, ceramah, ramah tamah, lalu salat asar jamaah.
“Ning, saya pamit undur diri riyen (dahulu), nggeh (ya)?”
“Ndak usah, Mbak. Pawone wis akeh sing nyekel. Sampeyan nyemak nang kene ae.”
Terjemah: (Tidak perlu, Mbak. Dapur sudah banyak yang mengurus. Kamu menyimak di sini saja.)
Ning Naina menyuruhku makan makanan ringan yang ada di meja. Meja yang penuh dengan buah-buahan, kue, botol minuman, teh dan kopi, makanan ringan.
Aku mengajak Mbak Bahiroh makan.
“Mbak, kamu dimantu Yai Makrus?” tanya Mbak Bahiroh.
Pertanyaan itu masih kudengar. Apa karena aku duduk di panggung di samping Ning Naina? Seharusnya berita aku menikah dengan siapa sudah bisa diketahui kejelasannya. Kugelengi pertanyaannya.
“Enak banget, Mbak, kuenya.” Aku menyelimur.
Bumi pesantren Manbaus Salam terus didengungi Alquran. Malaikat-malaikat turun menjadi saksi. Rahmat Allah pun pasti akan tersebar kepada seluruh pembaca dan penyimak. Tenda yang disulap bak ruangan putih menyegarkan suasana terus menerus, padahal siang sudah mulai beranjak. Desain yang berbeda dari tahun lalu. Ini khusus permintaan dari Ning Naina. Beberapa tamu undangan ada yang terkantuk-kantuk, tapi tak sedikit yang masih kuat membelalakkan mata demi ngalap barakah.
Ceramah usai. Waktunya ramah tamah. Seluruh santri bergerak serentak aling membantu agar semua tamu cepat mendapatkan makanan. Pelayan tamu undangan dan tamu VIP dipisahkan. Aku ingin turut membantu mereka, tapi Ning Naina tidak menghendaki.
“Mbak, ndak usah nang ndi-endi. Manten anyar ki nyenuk anteng wae nang kene.”
Terjemah: (Mbak, tidak perlu ke mana-mana. Pengantin baru itu duduk diam di sini saja.)
Aku agak menyeringai.
Pukul 15.20 WIB acara selesai setelah jamaah asar. Tamu undangan berdesak-desakan keluar seperti semut.
Aku pergi ke ndalem (rumah) yai dan Gus Adnan sendirian untuk mengantarkan makanan. Sayangnya aku tidak berani masuk. Lelaki yang waktu itu pernah kulihat separuh wajahnya di teras ndalem ini sedang duduk dengan kaki bertumpu dan mulut terus komat-kamit di ruang tamu. Aku langsung balik badan tatkala dia memergoki kedatanganku.
“Lelaki itu siapa sebenarnya? Dia misterius,” gumamku. []
dengan datangnya mantan☺️
akan kucoba
menjodohkan Rana dan Asyam sejak kecil ya....
penuh dengan pelajaran
dan sisi religi kita memang sekali2. kadang merindukan ketenangan dalam hidup , novel yg pas untuk selalu ingat akan Sang Maha Pencipta
meskipun disela2 waktu kita harus tetap lihat Akhirat ya😊😊
Fastabiqul Khoirot
terimakasih sudah membuat novel sebagus dan bermanfaat
maturswn sanget thor..
karya nya begitu luar biasa..
di bab bab tertentu cmn bs komen MashaAllah sambil berderai,meresapi karya panjenengan..