NovelToon NovelToon
BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan

Kevin yang baru saja menyemburkan asap tipis rokok menatap ke arah Renald dengan wajah usilnya yang khas. “Ku kira selama ini kau tidak normal.” Ucapnya santai, tapi penuh ejekan.

Seketika teman-temannya yang lain ikut terkekeh, menertawakan Renald tanpa rasa sungkan.

“Sialan!” Renald mendengus, merasa panas karena ditertawakan.

William yang duduk santai dengan minuman di tangannya menimpali dengan nada bercanda tapi menyengat. “Benar kata Kevin. Dari kita berempat, yang belum pernah mencoba hal itu ya cuma dia. Jangan-jangan… seleramu memang berbeda dari kami.”

Renald melirik tajam, tapi dengan wajah tenang ia menjawab. “Iya, seleraku memang berbeda. Tidak asal pilih."

“Halah, buat apa juga milih-milih. Bentuk tubuh wanita kan sama aja. Yang penting kita para pria merasa puas. Itu inti dari semuanya.” Kevin menyeringai penuh percaya diri.

Feri, yang sedari tadi hanya diam sambil memutar gelas minumannya, akhirnya buka suara. Nadanya lebih serius dibanding yang lain. “Tapi… apa yang kau lihat dari dia, Renald? Jangan bilang kau cuma mau mempermainkan. Aku kasihan kalau perempuan itu harus jadi mainanmu.”

Renald menyandarkan tubuhnya, lalu tersenyum tipis, tatapannya mengarah ke langit-langit seakan sedang mengingat sesuatu.

“Entahlah. Aku cuma tertarik sejak pertama kali melihat dia. Ada sesuatu yang beda. Dan waktu dia datang untuk meminjam uang dari perusahaan, aku sadar—dia sedang kesusahan. Jadi ya, kupikir kenapa nggak sekalian ku manfaatkan situasi itu?”

Ucapan itu meluncur ringan dari bibirnya, seolah sama sekali tidak merasa bersalah.

Ketiga temannya yang mendengar hal itu saking berpandangan. Mereka memang sudah lama mengenal Renald, pria itu memang dingin, kejam dan tak berperasaan.

Kevin, yang terkenal paling flamboyan di antara mereka berempat, hanya tersenyum miring lalu berkomentar pelan, “Malang sekali nasib perempuan itu.”

Obrolan pun berlanjut, ditemani dentuman musik dan beberapa wanita penghibur yang sudah mereka panggil. Semua tampak larut dalam kesenangan malam itu, kecuali Renald.

Meski banyak wanita yang diam-diam melirik dan berharap bisa dibawa pulang olehnya, ia tetap dingin dan tak tertarik sama sekali.

•••

Pagi harinya, di tempat lain, Kinara berlari-lari kecil ke arah kamar mandi dengan wajah panik.

“Aduh sial, jam delapan?! Bisa-bisanya aku bangun di jam segini!” Ia menggerutu sambil menyalakan keran, mencuci muka cepat-cepat.

Alarm yang ia set semalam ternyata beberapa kali ia matikan dengan mata setengah terpejam. Ranjang empuk yang baru ia tiduri sejak semalam membuatnya terlena.

“Sialan ini semua karena kasur empuk itu. Gara-gara kasur Renald aku jadi telat!” Batinnya, kesal pada diri sendiri tapi tetap melimpahkan kesalahan pada orang lain.

Dengan terburu-buru ia menuruni tangga, dan sudah melihat motornya yang terparkir rapi di halaman. Satpam yang berjaga segera menyodorkan kunci.

“Pagi, Nona. Ini kunci motornya tadi dititipkan sama orang." Ucapnya sopan.

Kinara hanya mengangguk cepat, mengambil kunci itu. “Ah, biarlah hari ini aku dimarahi. Salah dia juga kasih ranjang empuk!” Ujarnya dalam hati, mencoba menghibur dirinya.

Sementara itu, Renald sudah tiba di kantor lebih awal seperti biasa. Disiplin waktu adalah prinsip utamanya. Baginya, setiap menit sangat berharga.

Karena itu, saat ia melangkah masuk ke ruangannya dan tidak melihat sosok sekretaris barunya menyambut, wajahnya langsung mengeras.

“Mana dia? Baru hari kedua sudah berani main-main waktu.” Gumamnya dingin.

Feri, yang kebetulan baru saja datang, sempat menyapa. Namun, sapaan itu hanya dibalas dengan makian dari Renald. “Kau juga telat, Feri! Jangan ulangi lagi!”

Feri mengangkat tangan, menyerah, lalu buru-buru meninggalkan ruangan. Ia tahu, suasana hati Renald sedang tidak bagus.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan pelan terdengar. Renald tidak merespons, malas menjawab karena sedang jengkel. Tapi pintu tetap terbuka dari luar.

Sosok yang muncul adalah Kinara, dengan wajah gugup tapi berusaha tenang.

Renald langsung berdiri dari kursinya, mendekat dengan langkah cepat. “Kenapa kamu terlambat?! Baru hari kedua kerja, sudah begini. Apa kamu tidak niat bekerja denganku? Apa kamu mau kupecat sekarang juga?” Suaranya meninggi, penuh amarah.

“Ma… maaf, Pak. Saya ketiduran.” Ucap Kinara lirih.

“Ketiduran? Kamu pikir ini sekolah? Kamu itu sekretarisku! Kamu harus menyiapkan semua kebutuhanku sebelum aku tiba di kantor. Atau kamu sengaja ingin dihukum di ranjang jadi seenaknya datang terlambat begini?” Ucap Renald sinis, matanya menyipit.

Kalimat mesum itu membuat Kinara spontan meradang. Ia mengepalkan tangan, lalu berkata lantang. “Dengar ya, Renald Dirgantara! Ini semua salahmu juga. Siapa yang suruh anda mengirim tempat tidur empuk itu ke apartemenku hah? Karena kasurmu aku jadi susah bangun!”

Renald terbelalak. “Apa maksudmu? Apa hubungannya tempat tidur dengan keterlambatanmu?”

“Karena kasur anda terlalu empuk! Saya jadi malas bangun!” Teriak Kinara tanpa merasa bersalah.

Renald mengusap wajahnya, nyaris tidak percaya dengan alasan absurd itu. Bibirnya bergetar menahan emosi. “Perempuan ini… benar-benar…”

Ia menghela napas dalam, mencoba meredam amarah. “Sudahlah. Buatkan aku kopi. Cepat.”

“Tapi—”

“Tidak ada tapi-tapi!”

Kinara terdiam, lalu menunduk. “Baik, Pak.”

Renald sempat menatapnya tajam. “Dan berhenti panggil aku ‘Pak’. Sudah kukatakan, kalau hanya kita berdua, panggil saja namaku.”

Kinara menelan ludah, wajahnya bersemu merah. “Baik… Renald.”

Sepuluh menit kemudian, Kinara kembali membawa secangkir kopi. Ia meletakkannya dengan hati-hati di meja kerja Renald.

Renald, tanpa banyak pikir, langsung menyesapnya. Tapi begitu kopi panas menyentuh lidahnya, ia terbatuk dan hampir menyemburkannya kembali.

“Apa-apaan ini, Kinara?! Apa kau mau bunuh aku dengan kopi mendidih ini?!” Bentaknya spontan.

Kinara terlonjak, wajahnya pucat. “Maaf… saya ingin bilang tadi, tapi takut. Saya… saya memang tidak bisa membuat kopi.”

Matanya seketika memerah. Sedari tadi ia terus dibentak, dan sekarang hatinya tidak kuat lagi menahan perasaan. Ia mencoba menahan agar tidak menangis saat itu juga.

Renald membeku. Suara Kinara yang terdengar bergetar, membuat dadanya sesak. Untuk pertama kalinya, ia merasa bersalah.

Dengan langkah pelan ia mendekat, lalu tanpa banyak kata menarik tubuh Kinara ke dalam pelukannya.

“Sudah… jangan menangis. Maafkan aku. Aku terlalu keras padamu.” Kini suaranya terdengar jauh lebih lembut dari sebelumnya.

Kinara terkejut, tubuhnya kaku dalam pelukan pria itu. Air matanya mengalir deras, bukan hanya karena dimarahi, tapi karena ini pertama kalinya ada seseorang yang menenangkannya seperti ini.

Renald mengusap punggungnya, bahkan mengecup pelan puncak kepalanya. Ia sendiri juga tidak menyangka dengan tindakannya yang tiba-tiba—bagaimana bisa ia, yang selalu dingin pada wanita, tiba-tiba selembut ini?

Tanpa sadar, ia yang tadinya berdiri kini kembali duduk dan membawa Kinara ke dalam pangkuannya, masih dalam pelukannya. Tangis Kinara perlahan mereda, hanya menyisakan mata bengkak dan wajah yang memerah.

Menyadari posisinya, Kinara buru-buru bangkit, menjauh dengan wajah panik. “Maaf… saay… saya tidak seharusnya—”

Renald menatapnya lama, lalu kembali menegakkan tubuh. “Sudahlah. Untuk sekarang, aku masih ada pekerjaan. Nanti kalau aku perlu bantuan, aku akan panggil kamu.”

Ia menunjuk ke arah meja kosong di sampingnya. “Itu mejamu. Mulai sekarang kamu kerja disana.”

Kinara menoleh sedikit. Meja itu rapi, lengkap dengan perlengkapan kerja baru. Padahal semalam saat ia pulang, ia tidak melihat meja itu di sana.

Ia hanya bisa mengangguk langsung berjalan dan duduk perlahan di kursi itu. Dalam hati, ia bertanya-tanya—sejak kapan Renald menyiapkan semua ini untuknya?

Dan yang lebih membingungkan lagi… kenapa jantungnya berdetak begitu cepat kali ini?

1
sandi sanda
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!