NovelToon NovelToon
The Failed Playboy

The Failed Playboy

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:204.7k
Nilai: 4.7
Nama Author: Nureti

Cerita ini tentang cowok 'penakut' yang selalu ditolak sama cewek.

Dia bernama Dafa, dimana dia selalu berteman dengan cewek dan dengan mudahnya dia jatuh cinta. Entah beneran cinta atau karena merasa iri sama yang lain yang bisa dengan mudahnya mendapatkan pacar. Dafa tipe orang yang mudah terbawa perasaan, sehingga jika ada seseorang yang baik kepadanya dia langsung suka. Tetapi sayangnya, yang dekat dengannya rata-rata hanya menganggap dia sebagai teman tidak lebih.

Ikuti ceritanya dalam judul THE FAILED PLAYBOY.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nureti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19

Di sekolah.

Waktu jam olahraga berlangsung.

Aku duduk di teras depan kelas, melihat teman-teman yang lagi bermain volly.

Tiba-tiba Ikhsan duduk di sampingku. Aku menoleh dan tersenyum. Dia memegang tanganku dan tersenyum.

"Aku suka kamu Nin." katanya menatap dalam mataku.

Aku mengangguk dan tersenyum.

"Aku juga suka kamu Ikhsan." kataku meneteskan air mata bahagia.

Dia memelukku erat dan mencium kepalaku. Aku membalas erat pelukannya. Aku merasa tidak mau kehilangannya. Dia melepaskan pelukannya dan menghapus air mataku.

"Sudah jangan menangis lagi." ucapnya menghapus air mataku.

Aku tersenyum kepadanya.

Ikhsan yang sudah berdiri dan hendak pergi.

"Mau kemana?" tanyaku memegang tangannya.

"Aku pergi dulu." katanya.

"Kemana?" tanyaku berdiri dan menatapnya.

Dia melepaskan tanganku, beralih memegang kedua pipiku. Dia mencium keningku begitu lama dan tersenyum menatapku.

Dia pergi meninggalkan aku yang mematung menatap kepergiannya.

"Nin, Nina bangun." teriak nenek mengetuk pintu kamar.

Aku terbangun dari tidurku.

"Ternyata itu mimpi." batinku.

"Nina bangun." teriak nenek.

"Iya nek, aku sudah bangun." kataku dengan suara khas orang bangun tidur.

Hari ini aku bangun sedikit lambat dari hari biasanya. Aku bergegas ke kamar mandi untuk menyegarkan diri dan berwudhu.

Aku keluar dengan handuk yang menutupi tubuhku dan mengambil baju sekolah. Aku memakainya dan melaksanakan shalat subuh.

Selesai semuanya aku berpamitan sama nenek untuk pergi ke sekolah.

Di sekolah.

Viana sudah duduk di kursinya. Aku menghampirinya dan bercerita soal mimpi tadi pagi.

Ada rasa bahagia ketika aku menceritakan mimpi ku itu. Iya siapa yang tidak bahagia ketika orang yang kita suka datang ke mimpi kita dan mengungkapkan perasaannya.

Tiba-tiba Dafa datang membawa kabar yang tidak seharusnya aku dengar di pagi ini.

"Eh Ikhsan meninggal." katanya.

Deg.

Jatungku seolah berhenti ketika mendengar kabar itu.

"Jangan becanda Dafa, ini tidak lucu." kataku coba menyakinkan kalau berita ini bohong.

"Ihh serius Nina, masa lu tidak tahu kabarnya. Dia meninggal kemarin karena kecelakaan." kata Dafa menjelaskan.

Tanpa sadar air mata ku jatuh membasahi pipi.

"Eh lu kenapa?" tanya Dafa yang kaget melihat aku menangis.

"Lu diam Dafa." bentak Viana.

Sebenarnya Viana sudah tahu kabar ini dari semalam. Viana kira aku juga sudah tahu tentang ini, tetapi dugaannya salah. Aku sama sekali tidak tahu. Bahkan aku pagi-pagi dengan gembiranya bercerita kalau Ikhsan ngungkapin cintanya lewat mimpi.

Viana memelukku erat, mencoba menenangkan aku. Aku menatap Viana dengan mata yang penuh dengan air mata, minta penjelasan kalau semua ini bohong. Ikhsan tidak meninggalkan aku.

Viana semakin erat memelukku dan aku menangis dipelukannya.

"Kita ke halaman belakang yah." kata Viana mengelus kepalaku.

"Sebentar lagi kelas ramai, malu kalau keadaan kamu seperti ini." katanya lagi.

Aku melepas pelukannya dan menghapus air mataku. Aku berdiri diikuti Viana. Aku melangkah pergi meninggalkan kelas. Tetapi langkah kaki ku terhenti di depan pintu ketika melihat Adit datang.

Adit adalah sahabatnya Ikhsan. Dia menatapku prihatin. Aku menundukan kepala dan melanjutkan langkahku ke halaman belakang sekolah diikuti Viana di sampingku.

Dafa yang tidak mengerti dengan semua ini, hanya mengikutiku dari belakang.

Di halaman belakang sekolah.

Aku terduduk di rerumputan menutup mukaku dengan memeluk erat kedua kakiku.

Viana duduk di samping kiriku dan Dafa duduk di samping kananku.

"Kenapa dia meninggalkan gue? kenapa hanya gue yang tidak tahu kabar ini?" ucapku serak dalam tangisan.

"Sudah Nin, Ikhlasin saja supaya dia tenang di alam sana. Dia juga tidak mau melihat lu menangis seperti ini." kata Viana memelukku.

Meski Viana juga tahu sangat sulit untuk mengikhlaskan semua ini. Tapi hanya itu yang bisa dia ungkapkan.

"Berarti kecelakaan kemarin yang aku dengar dari ibu-ibu itu kamu? dan mimpi tadi pagi itu, kamu benar-benar meninggalkan aku untuk selamanya?" batinku sakit ketika mengingat mimpi itu.

"Sudah Nin, gue yakin lu itu kuat. Lu bisa laluin ini semua." kata Dafa ikut menenangkan.

Aku kembali menangis mengingat waktu malam minggu di pasar malam itu, mengingat senyumannya.

"Kenapa semua ini begitu cepat ?" batinku.

Viana dan Dafa hanya membiarkan aku menangis sampai benar-benar aku merasa tenang.

Beruntungnya jam pelajaran pertama tidak ada guru yang masuk ke dalam kelas. Mereka sibuk berdiskusi dengan anggota OSIS, untuk menyumbangkan ke keluarga yang di tinggalkan.

Aku sudah berhenti menangis dan menghapus semua air mata yang mambasahi wajahku.

"Kita ke kamar mandi dulu yuk?" ucap Viana memegang lenganku.

Kita bertiga meninggalkan halaman belakang sekolah dan menuju ke kamar mandi untuk aku mencuci muka.

Sampai di kelas. Aku jalan menundukan kepala karena tidak mau mataku yang sembab karena menangis dilihat mereka.

Hari ini sekolah di pulangkan lebih awal karena sebagian pergi ke rumah duka.

"Lu mau ikut bareng mereka?" tanya Viana. Sebenarnya ragu untuk menanyakan ini.

"Gue belakangan saja." kataku yang sebenarnya masih ingin menangis tapi aku tahan.

"Iya sudah kita temenin lu kesana." kata Viana yang di setujui Dafa dan Lastri.

Kelas akhirnya sepi. Karena anak-anak sudah pergi ke rumah duka semua. Aku menatap tempat duduk Ikhsan dan terjatuhlah air mataku.

Aku meninggalkan kelas dan menuju ke tempat pemakaman. Ditemani ketiga sahabatku.

Aku terduduk di tanah yang masih banyak bunga-bunga segar di atasnya dan terdapat batu nisan yang tertuliskan namanya.

Aku sudah tidak bisa menahan air mata lagi. Aku menangis sambil mengelus namanya di batu nisan.

"Kenapa kamu meninggalkan aku secepat ini? aku bahkan belum sempat ngucapin terimakasih dari nenek. Kenapa kamu ngungkapin perasaanmu lewat mimpi? kenapa tidak waktu kita berdua menikmati pasar malam. Kenapa Ikhsan?" tanyaku yang bertubi-tubi disela tangisanku.

Aku menangis terisak di makamnya. Sahabat-sahabatku yang melihat aku sekacau ini. Mereka mencoba menenangkanku. Viana yang memeluku, Dafa menggenggam tanganku dan Lastri mencoba merayuku agar pulang dan menenangkan diri.

"Nin, kita pulang yuk, lu butuh istirahat. Ikhsan juga tidak mau melihat lu menangis di kediaman terakhirnya. Kita doakan dia supaya tenang di alam sana." kata Lastri mengelus pundakku.

Aku menghapus air mataku.

"Aku pulang dulu, kamu semoga tenang di sana. Aku tidak janji aku bisa kuat atas kepergianmu." kataku yang kembali menitikan air mata.

Aku pergi dari pemakaman itu dengan berat hati. Tetapi aku tidak langsung pulang ke rumah nenek. Aku berada di pinggir danau yang jaraknya tidak jauh dari tempat pemakaman. Aku menyuruh ketiga sahabatku pulang duluan karena aku butuh waktu sendiri saat ini.

"Kalian pulang saja." kataku yang duduk menatap kosong danau di depan.

"Kamu yakin?" tanya Dafa.

"Iya sudah kita pulang, kamu hati-hati disini." kata Viana menarik tangan kedua sahabatnya untuk meninggalkan aku sendiri.

"Biarkan dia sendiri dulu." kata Viana.

Mereka pergi meninggalkan aku seorang diri di danau ini.

...****************...

1
June
semangat terus kak
jangan lupa mampir di karyaku juga ya
Bryan Sbasthiant Pernandez
bacanya pusing
minding baca komik bobo
Jhie Abhy
ini tentang dafa ataw tentang nina... bikin pusing.. 🙈
Puan Harahap
mampir nih 10 like ya thor
Puan Harahap
salken thor, pria idola, mampir ya
Bahrudin Udin
anak rajin dan sholeha
Keii68
like buat cerita kakak, semangat selalu ya.

salam dari Barryneald :))
xiaoyu
yuuuhuuu aku mampir yak,, semangat buat karya karya baru lgi thorr 😘
Valerie Grachia
Hallo Kak salam kenal, mampir juga yuk ke novelku "Mengejar Cinta Rangga" siapa tahu suka, makasih
#Izin Thor
kh!@#g fu sh3=g
60 like hadir, semangat thor. salken"jangan panggil aku monster"
Agus Irawan
Yah kok End
HIATUS
Hai thor 👐
salam kenal 🤗
semangat berkarya 💖
jika ada waktu jgn lupa feedback ke karyaku "love in silence" dak tinggal kan jejak like dan comment mu sbg bentuk dukungan karayku 😘
Agus Irawan
Season 2 nya gak ada yah
Agus Irawan
kenapa belum Up
Dea Amira 🍁
ada nma ku tini 🤣🤣🤣smngt trus thor...
Dea Amira 🍁
aq mmpir thor...
Dream Sky
"Sayap Pelindungmu" Telah mampir nih! Dan memberi Like and Komen. Selalu semangat ya kakak! Dan di tunggu FeedBack kakak. Ayo kita sebagai penulis, saling support 😊.
Terima-kasih banyak.
Titin
semangat thor
Titin
like thor
Radin Zakiyah Musbich
aq hadir kembali 🥯🥯🥯

jgn lupa mampir juga di novelku dg judul "My Annoying wife" 🍇🍇🍇

kisah cewe bar bar yang jatuh cinta sama cowo polos ☘️☘️☘️

tinggalkan like and comment ya 🥭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!