NovelToon NovelToon
Penulis Terakhir Langit Yang Retak

Penulis Terakhir Langit Yang Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur
Popularitas:196
Nilai: 5
Nama Author: Tubagus Abidin

Di Kekaisaran Xuan-Mo, realitas adalah tinta, dan kekuasaan adalah keindahan goresan. Mereka yang bisa menulis hukum alam dengan kuas emas diperlakukan sebagai dewa, sementara mereka yang gagal hanyalah noda yang harus dihapus.
Ren Zexian lahir dengan kutukan "Mata Void"—ia tidak bisa melihat keindahan ilusi dunia, hanya kerangka rapuh di baliknya. Dianggap sampah oleh klan kaligrafer elit, ia bekerja sebagai penghapus buku terlarang, hidup dalam diam hingga suatu hari ia menemukan sebuah halaman kosong yang berdarah.
Saat "The Fade" mulai menelan desa asalnya, mengubah manusia menjadi hampa tanpa ingatan, Ren menyadari bahwa kekacauan ini bukanlah bencana alam, melainkan suntingan yang disengaja oleh Dewan Langit. Dengan kuas patah dan teknik terlarang yang memungkinkan ia "menghapus" keberadaan musuh, Ren memulai perjalanan berbahaya mendaki 9 Provinsi Mengambang.
Ia bukan pahlawan yang akan melukis dunia baru. Ia adalah editor yang akan memotong bagian-bagian busuk dari cerita ini,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tubagus Abidin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak di Atas Salju Abu

Hutan Bayangan tidak memiliki nama lain karena alasan yang tepat. Di sini, pepohonan bukan terbuat dari kayu dan daun, melainkan dari tumpukan gulungan mantra yang gagal, kertas-kertas usang, dan sisa-sisa tinta yang mengeras menjadi bentuk akar dan duri. Langit di atas kanopi hutan ini selalu tertutup kabut abu-abu pekat, memblokir cahaya matahari maupun bulan, menciptakan keabadian senja yang suram dan mencekik.

Ren Zexian berlari menembus semak-semak kertas yang rapuh. Setiap langkah kakinya menghancurkan lapisan debu tipis yang menutupi tanah, meninggalkan jejak kaki yang segera terhapus oleh angin dingin. Di punggungnya, Lin tertidur lelap, napasnya dangkal namun stabil berkat pil pemulihan darurat yang diberikan Su Yan sebelum mereka berpisah di perbatasan kota.

Su Yan telah memilih jalannya sendiri. Setelah menyerahkan Lin, gadis itu menatap Ren dengan tatapan rumit—campuran antara kekaguman, ketakutan, dan rasa bersalah. "Klan Su akan menyangkal keterlibatanku," katanya saat itu, suaranya bergetar. "Tapi aku akan mengirim pesan kepada Master Wei. Temui dia di tempat biasa. Jangan percaya siapa pun selain dia."

Kemudian ia menghilang ke dalam kerumunan pasukan penjaga yang sedang mencari mereka, mengalihkan perhatian dengan ledakan ilusi warna-warni dari kipas sutranya. Ren tidak menunggu untuk mengucapkan terima kasih. Ia tahu bahwa dalam dunia ini, utang nyawa adalah beban terberat, dan ia belum siap membayarnya.

Sekarang, ia sendirian. Hanya dia, adiknya, dan keheningan Hutan Bayangan yang mencekam.

Ren berhenti sejenak di bawah naungan pohon raksasa yang terbuat dari ribuan lembaran surat cinta yang tak pernah terkirim. Daun-daunnya berdesir pelan, membisikkan kata-kata penolakan dan kesedihan yang tertahan selama berabad-abad. Ia menurunkan Lin dengan hati-hati, membaringkannya di atas hamparan lumut hitam yang lembut. Wajah gadis kecil itu masih pucat, garis-garis hitam di kulitnya tampak lebih pudar dibandingkan saat di laboratorium, tapi belum hilang sepenuhnya.

"Kita aman untuk sekarang, Lin," bisik Ren, mengelus rambut adiknya. Tapi kata-kata itu terasa kosong bahkan di telinganya sendiri. Aman? Tidak ada kata aman bagi buronan Klan Naga. Mereka memiliki mata di mana-mana. Mereka memiliki anjing pelacak yang bisa mencium bau ketakutan.

Ren duduk bersila di samping Lin, menutup matanya. Ia perlu memikirkan langkah selanjutnya. Master Wei adalah satu-satunya harapan, tapi pertemuan dengan pria tua itu selalu datang dengan harga. Dan kali ini, harganya mungkin jauh lebih tinggi daripada sekadar latihan fisik atau mental.

Tiba-tiba, desiran daun di sekitarnya berubah nada. Dari bisikan sedih menjadi geraman rendah.

Ren membuka matanya. Mata Void-nya aktif seketika. Dunia menjadi hitam putih. Dan di antara pepohonan kertas, ia melihat sesuatu yang bergerak. Bukan manusia. Bukan hewan biasa.

Makhluk-makhluk itu muncul dari balik batang pohon, tubuh mereka terbentuk dari gumpalan tinta kental yang menggumpal, dengan mata-mata merah menyala yang tidak memiliki pupil. Ink Stalkers—pemangsa alami Hutan Bayangan yang memakan sisa-sisa Qi dari makhluk hidup yang tersesat. Ada tiga dari mereka, mengitari Ren dan Lin dengan gerakan cair yang mengancam.

Ren berdiri perlahan, tangan kanannya meraih kuas patahnya. Ia lelah. Energi Qi-nya hampir habis setelah pertarungan di laboratorium dan penggunaan teknik Jembatan Hampa. Tapi ia tidak punya pilihan. Jika ia jatuh di sini, Lin akan menjadi mangsa.

Pemimpin kawanan itu, yang lebih besar dari yang lain dengan cakar seperti pisau kertas, menerjang pertama. Gerakannya cepat, meninggalkan jejak hitam di udara.

Ren tidak menghindar. Ia menyambut serangan itu. Dengan gerakan pergelangan tangan yang minimal, ia menggoreskan karakter "Keras" (Ying) di udara, lalu menamparkannya ke tanah di bawah kakinya sendiri.

Tanah di bawahnya memadat seketika, memberikan pijakan kokoh untuk menahan dampak. Saat cakar makhluk tinta itu menghantam perisai Qi tipis di depan dada Ren, ia tidak terpental. Sebaliknya, ia menggunakan momentum serangan musuh untuk meluncur ke samping, menghindari cakaran kedua dari makhluk di sebelah kirinya.

"Tiga lawan satu," gumam Ren, napasnya berat. "Tidak adil. Tapi hidup memang tidak pernah adil."

Ia mengamati pola serangan mereka. Makhluk-makhluk ini tidak cerdas. Mereka menyerang berdasarkan insting lapar. Mereka bereaksi terhadap gerakan dan emisi Qi. Dan Ren memiliki ide gila.

Alih-alih menyerang mereka langsung, Ren mulai menulis di udara. Bukan karakter serangan. Bukan karakter pertahanan. Ia menulis karakter "Cermin" (Jing).

Goresan itu bersinar redup, membentuk bidang transparan di tengah ruangan clearing kecil itu. Makhluk-makhluk tinta itu bingung sejenak, menghentikan serangan mereka. Mereka mencium bau Qi segar dari Ren, tapi juga melihat pantulan diri mereka sendiri di bidang transparan itu.

Bagi makhluk yang terbuat dari kekacauan emosi dan sisa tinta, melihat diri mereka sendiri adalah pengalaman yang membingungkan. Mereka mulai menyerang pantulan mereka sendiri, saling bertabrakan, cakar-cakar mereka saling mengoyak tubuh tinta rekan-rekan mereka.

Dalam kekacauan itu, Ren bergerak. Ia tidak membuang energi untuk membunuh mereka. Ia menggunakan kesempatan itu untuk lari. Ia mengangkat Lin kembali ke punggungnya, lalu melesat masuk ke dalam kegelapan hutan yang lebih dalam, meninggalkan ketiga Ink Stalker yang saling menghancurkan diri mereka sendiri dalam kebingungan eksistensial.

Satu jam kemudian, Ren mencapai reruntuhan kuil kecil yang tersembunyi di jantung Hutan Bayangan. Ini adalah tempat pertemuan rahasianya dengan Master Wei. Kuil ini setengah terkubur oleh tumpukan buku-buku terlarang yang dibuang oleh Dewan Langit berabad-abad lalu.

Di altar yang retak, Master Wei sudah menunggu. Pria tua itu tidak terlihat terkejut melihat kondisi Ren yang babak belur, baju robek, dan wajah penuh luka gores.

"Kau membawa barang berharga," kata Wei, matanya tertuju pada Lin yang masih tertidur di pangkuan Ren.

"Aku membawa adikku," koreksi Ren tajam, meletakkan Lin dengan hati-hati di atas alas jerami bersih yang disediakan Wei. "Dan aku membawa bukti."

Ren mengeluarkan buku catatan bersampul kulit dari bajunya, melemparkannya ke hadapan Wei. Buku itu mendarat dengan bunyi berat.

Wei membukanya, matanya menyapu halaman-halaman berisi nama-nama korban eksperimen. Ekspresinya semakin gelap setiap halamannya dibalik. Saat ia mencapai halaman dengan nama Lin, tangannya berhenti. Jari-jarinya yang keriput menyentuh nama itu dengan kelembutan yang mengejutkan.

"Lin Zexian..." gumam Wei. "Subjek #409. Aku ingat anak ini. Dia salah satu dari sedikit yang selamat dari batch pertama. Kami kira dia mati."

"Dia hampir mati," kata Ren, suaranya bergetar karena amarah yang tertahan. "Mereka memanennya, Guru. Mereka menyedot ketahanannya terhadap The Fade untuk digunakan oleh elit mereka. Dan sekarang, dia retak. Jiwanaya retak."

Wei menutup buku itu perlahan. Ia menatap Ren langsung ke mata. "Kau tahu apa artinya ini, Ren? Jika kau menyimpan buku ini, kau tidak hanya menjadi buronan. Kau menjadi ancaman eksistensial bagi Dewan Langit. Mereka akan membunuhmu. Mereka akan membunuh semua orang yang kau cintai. Mereka akan menghapus namamu dari sejarah."

"Aku tahu," jawab Ren datar. "Itulah sebabnya aku tidak berencana untuk bersembunyi selamanya."

Wei terdiam lama. Kemudian, ia tersenyum. Senyuman yang sedih, tapi bangga.

"Aku telah melatih banyak murid, Ren. Beberapa menjadi jenderal. Beberapa menjadi pengkhianat. Tapi kau... kau adalah yang pertama yang berani menantang penulis takdir itu sendiri." Wei bangkit, berjalan menuju rak buku di belakang altar. Ia mengambil sebuah gulungan kecil yang disegel dengan lilin merah darah.

"Ini adalah peta menuju Lembah Pengasingan," kata Wei, menyerahkan gulungan itu kepada Ren. "Di sana, terdapat seorang tabib tua bernama Dokter Mo. Dia adalah mantan ahli alkimia Klan Naga yang dibuang karena menolak melakukan eksperimen pada anak-anak. Dia mungkin satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan Lin... atau setidaknya, menghentikan proses kepudaran itu."

Ren mengambil gulungan itu, hatinya berdebar-debar. Harapan. Akhirnya, ada harapan nyata.

"Terima kasih, Guru," kata Ren, berlutut hormat.

"Jangan berterima kasih dulu," potong Wei. "Perjalanan ke Lembah Pengasingan melewati Terowongan Gema. Di sana, suara pikiranmu akan diperkuat seribu kali. Ketakutanmu, keraguanmu, dosa-dosamu... semuanya akan berteriak padamu. Banyak yang gila di sana. Pastikan kewarasanmu lebih kuat dari tintamu."

Ren mengangguk. Ia sudah menghadapi neraka di laboratorium bawah tanah. Terowongan Gema hanyalah ujian berikutnya.

Ia membangunkan Lin perlahan. Gadis kecil itu membuka matanya, masih bingung. "Kakak? Kita di mana?"

"Kita akan bertemu orang baik, Lin," kata Ren lembut, membantu adiknya berdiri. "Orang yang bisa membuatmu merasa utuh lagi."

Lin tersenyum lemah, memegang tangan Ren erat-erat. "Selama Kakak ada, aku tidak takut."

Kalimat sederhana itu menghancurkan benteng terakhir di hati Ren. Air mata menggenang di matanya yang hampa, tapi ia menahannya. Ia tidak boleh lemah. Tidak sekarang.

Mereka meninggalkan kuil, memasuki kegelapan Hutan Bayangan yang lebih dalam. Di belakang mereka, Master Wei menonton kepergian mereka, lalu membakar buku catatan curian itu dengan api biru kecil. Asapnya naik ke langit kelabu, membawa serta rahasia-rahasia kelam Klan Naga ke angin.

Perang tinta telah dimulai. Dan Ren Zexian, si penghapus dari Lembah Abbu, baru saja menulis bab pertamanya dengan darah dan air mata. Sekarang, ia harus menulis bab penyembuhan. Karena sebelum ia bisa merobek langit, ia harus memastikan bahwa satu-satunya bintang di hidupnya tidak padam.

Angin berhembus kencang, membawa aroma hujan tinta yang akan datang. Ren menarik tudungnya, melindungi Lin dari tetesan pertama. Langkah mereka mantap, menuju ke arah timur, menuju lembah yang terlupakan, menuju kemungkinan terakhir untuk menyelamatkan jiwa yang retak.

1
Anime aikō-kā
..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!