NovelToon NovelToon
PENAKLUK SEMESTA

PENAKLUK SEMESTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.

Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.

Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 PINTU MASUK SEKTE DAN UJIAN YANG TAK TERDUGA

 

Hari-hari kembali berjalan tenang namun penuh ketegangan yang tersembunyi bagi Lin Mo. Sejak pertemuan dengan Murong Hao, tidak ada lagi orang dari Sekte Pedang Cahaya yang datang mengganggu rumah Nenek He. Namun Lin Mo tahu bahwa hal itu bukan berarti masalahnya telah selesai. Ia dapat merasakan bahwa sejak hari itu, orang-orang sering berbisik-bisik saat melihatnya lewat di jalan. Beberapa orang yang mengenakan pakaian sekte sering lewat di depan rumah itu sambil melirik tajam ke arah halaman dan jendela kamarnya. Mereka tidak masuk dan tidak berbicara sepatah kata pun. Namun kehadiran mereka yang terus-menerus itu seakan menjadi peringatan senyap bahwa setiap gerak-geriknya kini telah diawasi.

Lin Mo tidak membiarkan rasa takut atau gelisah menguasai hatinya. Setiap pagi sebelum fajar menyingsing, ia tetap bangun dan menyelesaikan semua pekerjaan rumah dengan rapi dan tepat waktu. Sisa harinya ia gunakan untuk duduk bermeditasi di dalam kamar atau berjalan perlahan menuju hutan kecil di pinggir kota untuk berlatih dengan tenang. Lautan Qi di dalam perut bawahnya perlahan namun pasti semakin meluas dan semakin dalam. Meridian di seluruh tubuhnya pun semakin terbuka lebar dan bersih berkat bantuan batu hitam peninggalan leluhurnya. Setiap kali energi Qi mengalir keluar dan berubah menjadi energi spiritual, cahayanya kini terasa sedikit lebih terang dan jauh lebih tahan lama dibandingkan beberapa minggu sebelumnya.

Suatu pagi, saat Lin Mo sedang berjalan pulang setelah mengambil air dari sumur, ia melihat kerumunan orang berkumpul di alun-alun pinggir kota. Mereka berdesak-desakan sambil menatap selembar pengumuman besar yang dipasang di dinding batu. Beberapa orang membacakannya dengan suara lantang sehingga terdengar jelas hingga ke telinga Lin Mo. Ternyata Sekte Pedang Cahaya akan membuka pintu gerbangnya dan menerima murid baru dari seluruh Kota Qingyuan dan wilayah sekitarnya. Siapa pun yang berusia di bawah dua puluh tahun dan memiliki lautan Qi yang telah terbangun dipersilakan datang untuk mengikuti ujian masuk. Yang lulus akan diterima menjadi murid sekte dan mendapatkan bimbingan langsung serta sumber daya yang melimpah untuk melatih kemampuan mereka.

Mendengar pengumuman itu, hati Lin Mo berdenyut pelan namun kuat. Ia menyadari bahwa ini adalah kesempatan yang sedang ia tunggu-tunggu. Jika ia dapat masuk ke dalam Sekte Pedang Cahaya, maka ia akan memiliki kesempatan untuk mempelajari lebih banyak hal tentang dunia kultivasi, bertemu dengan orang-orang yang memiliki pengetahuan luas, dan mencari petunjuk tentang masa lalu keluarganya yang penuh misteri. Namun di sisi lain, masuk ke dalam sekte itu berarti ia akan tinggal di tempat yang sama dengan Murong Hao dan orang-orang yang memusuhinya. Ia akan berada di tengah-tengah lingkungan yang penuh persaingan licik dan kemungkinan besar bahaya yang mengancam nyawanya setiap saat.

Lin Mo berjalan perlahan kembali menuju rumah Nenek He. Ia duduk diam di beranda sambil membiarkan pikirannya tenang dan jernih. Lautan Qi di dalam perut bawahnya berdenyut lembut dan teratur seakan membantunya menimbang dengan tenang keuntungan dan kerugian dari keputusan yang akan diambilnya. Setelah merenung cukup lama, Lin Mo akhirnya mengambil keputusan. Ia akan ikut serta dalam ujian masuk sekte itu. Bahaya memang ada. Namun perlindungan dan kenyamanan tidak akan pernah didapat tanpa menempuh jalan yang sulit dan berbahaya. Jika ia terus bersembunyi di rumah Nenek He yang kecil itu, kemampuannya memang akan berkembang namun terlalu lambat dan terbatas. Ia harus melangkah maju menuju tempat yang lebih besar dan lebih berbahaya agar dapat tumbuh kuat dan menemukan kebenaran yang dicarinya.

Keputusan itu diambil. Namun Lin Mo tidak memberitahukannya kepada siapa pun termasuk Nenek He agar nenek tua itu tidak merasa khawatir dan takut. Ia hanya bersiap diam-diam. Sore harinya, setelah semua pekerjaan selesai dan Nenek He telah beristirahat, Lin Mo duduk bermeditasi di dalam kamarnya hingga larut malam. Ia membiarkan lautan Qi-nya mengalir lancar dan penuh hingga seluruh tubuhnya terasa segar dan bertenaga sepenuhnya. Cahaya putih keemasan samar bersinar lembut menyelimuti tubuhnya sebelum perlahan meredup kembali masuk ke dalam kulit.

Pagi harinya, saat fajar baru saja menyingsing dan udara masih terasa dingin, Lin Mo berjalan perlahan menuju gerbang utama Sekte Pedang Cahaya yang berdiri megah di atas bukit tinggi di tengah kota. Jalan menuju ke sana sudah dipadati oleh banyak pemuda dan pemudi yang datang dari berbagai penjuru kota dan desa-desa sekitarnya. Mereka tampak bersemangat dan penuh harapan. Sebagian besar mengenakan pakaian yang rapi dan bagus. Banyak pula yang memancarkan hawa energi Qi yang cukup kuat menunjukkan bahwa mereka telah berlatih cukup lama sebelum datang ke sini.

Lin Mo berjalan di antara kerumunan itu dengan pakaian sederhana dan wajah yang tenang. Ia tidak menonjolkan diri dan tidak pula berbicara dengan siapa pun. Ia hanya berdiri diam di bagian belakang kerumunan sambil menatap gerbang sekte yang besar dan megah itu dengan pandangan yang jernih dan tenang. Di dalam perut bawahnya lautan Qi berdenyut lembut namun kokoh. Batu hitam di dadanya terasa hangat dan nyaman seakan memberi kekuatan dan ketabahan.

Tak lama kemudian, gerbang sekte terbuka lebar. Dua orang pengawal bersenjata lengkap berdiri di kedua sisi pintu memberi isyarat agar para peserta ujian masuk secara berurutan. Di halaman luas di dalam gerbang sudah berdiri lima orang penilai yang mengenakan pakaian sekte berwarna putih dengan lambang pedang emas di dada. Salah seorang dari mereka berdiri di depan dan menyampaikan aturan ujian dengan suara yang lantang dan berwibawa. Ujian itu terbagi menjadi dua tahap. Tahap pertama adalah menguji apakah lautan Qi peserta sudah terbangun dan memiliki dasar yang cukup. Tahap kedua adalah menaiki tangga batu yang berjumlah seribu anak tangga. Setiap langkah yang diambil akan terasa semakin berat karena tekanan energi spiritual yang dipasang di sepanjang tangga itu. Yang mampu menaiki minimal tiga ratus anak tangga akan dinyatakan lulus.

Para peserta mulai maju satu per satu. Sebagian besar berhasil melewati tahap pertama dengan mudah. Namun saat tiba di tahap kedua, banyak yang berhenti setelah menaiki seratus atau dua ratus anak tangga lalu terpaksa turun karena tidak sanggup menahan tekanan yang semakin berat. Beberapa orang yang memiliki kemampuan lebih kuat mampu menembus angka tiga ratus dan disambut dengan tepuk tangan gembira dari penilai di bawah.

Lin Mo berdiri diam di tempatnya sambil memperhatikan setiap peserta yang naik dan turun. Ia melihat betapa tekanan itu bekerja. Semakin tinggi naik, semakin berat pula beban yang menekan tubuh dan lautan Qi di dalam perut bawah. Banyak peserta yang lautan Qi-nya kuat namun keruh dan kasar ternyata tidak sanggup bertahan lama. Mereka terburu-buru mendorong energi Qi keluar secara berlebihan hingga akhirnya habis dan tubuh mereka terpaksa turun.

Setelah cukup banyak peserta yang selesai gilirannya, akhirnya nama Lin Mo pun dipanggil. Ia melangkah maju perlahan dengan wajah yang tetap tenang. Penilai yang memeriksa tahap pertama menatap Lin Mo dari atas hingga ke bawah dengan pandangan yang sedikit meremehkan karena pakaiannya yang sederhana dan tubuhnya yang kurus. Namun saat Lin Mo mengulurkan tangan dan membiarkan energi Qi mengalir keluar perlahan lalu berubah menjadi energi spiritual yang bersinar lembut berwarna putih keemasan, mata penilai itu seketika membelalakkan penuh keheranan. Cahaya itu samar dan lemah dalam hal kekuatan. Namun kemurniannya sungguh luar biasa tinggi. Penilai itu menelan ludah dengan susah payah lalu memberi isyarat agar Lin Mo naik ke tangga batu itu dengan wajah yang masih tampak tak percaya.

Lin Mo berjalan perlahan menuju tangga batu yang lebar dan panjang itu. Ia melangkah naik tanpa terburu-buru. Setiap langkah yang diambilnya terasa berat seakan ada batu besar yang menekan pundaknya. Namun Lin Mo tidak mendorong energi Qi keluar secara berlebihan. Ia hanya membiarkan lautan Qi di dalam perut bawahnya berdenyut lembut dan teratur. Energi Qi mengalir perlahan menyusuri meridian tubuh dan berubah menjadi energi spiritual yang tipis namun murni dan kokoh menyelimuti seluruh tubuhnya. Lapisan pelindung tipis itu mampu menahan tekanan yang berat dengan tenang tanpa menghabiskan terlalu banyak tenaga.

Seratus langkah pertama dilewati dengan tenang. Dua ratus langkah pun dilewati tanpa terlihat sedikit pun tanda-tanda kelelahan. Tiga ratus langkah. Empat ratus langkah. Lima ratus langkah. Penilai di bawah halaman serta para peserta yang masih menunggu gilirannya serentak menatap Lin Mo dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Banyak peserta yang jauh lebih kuat dan berpengalaman dari Lin Mo hanya mampu bertahan hingga dua atau tiga ratus langkah. Namun pemuda yang tampak lemah itu terus berjalan naik perlahan namun pasti tanpa berhenti sekalipun. Wajahnya tetap tenang dan napasnya tetap teratur.

Saat tiba di enam ratus langkah, tekanan menjadi luar biasa berat. Lin Mo dapat merasakan seakan ada gunung kecil yang menindih punggungnya. Darah di dalam tubuhnya seakan berhenti mengalir. Lautan Qi di dalam perut bawahnya ikut tertekan hingga menyusut dan berdenyut dengan susah payah. Namun Lin Mo tidak terburu-buru dan tidak pula memaksakan diri. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia membiarkan hatinya tetap jernih dan tenang. Batu hitam di dadanya terasa semakin hangat dan mengeluarkan hawa sejuk yang kuat menjalar ke seluruh tubuhnya. Dengan bantuan itu, lautan Qi-nya perlahan kembali lancar dan energi spiritual pelindungnya kembali teguh menahan tekanan yang berat itu.

Lin Mo terus melangkah naik. Tujuh ratus langkah. Delapan ratus langkah. Cahaya matahari pagi menyinari tubuhnya yang berdiri tegak di ketinggian itu. Rambutnya yang hitam berkibar lembut ditiup angin bukit. Di bawah sana, di halaman sekte, keheningan yang luar biasa menyelimuti seluruh tempat itu. Bahkan para penilai yang berpengalaman sekalipun kini berdiri tegak dengan wajah penuh kekaguman dan rasa hormat yang mendalam. Mereka menyadari satu hal yang luar biasa. Pemuda itu tidak naik jauh karena lautan Qi-nya yang luas dan kuat. Ia mampu sejauh itu karena kemurnian lautan Qi-nya yang sungguh luar biasa tinggi dan ketenangannya yang tak tergoyahkan di bawah tekanan yang berat.

Saat tiba di sembilan ratus langkah, tekanan itu menjadi nyaris tak tertahankan. Tubuh Lin Mo sedikit membungkuk ke depan. Keringat halus menetes di pelipisnya. Namun matanya tetap jernih dan tenang. Ia menatap seratus langkah yang tersisa di hadapannya. Ia tahu bahwa ia mungkin tidak sanggup menempuhnya saat ini. Namun ia tidak akan berhenti sebelum benar-benar tak sanggup melangkah lagi.

Lin Mo melangkah maju lagi. Sembilan ratus sepuluh langkah. Sembilan ratus dua puluh langkah. Sembilan ratus tiga puluh langkah. Tubuhnya gemetar pelan namun tak runtuh. Energi spiritual pelindungnya perlahan menipis namun tetap teguh. Hingga akhirnya di sembilan ratus empat puluh langkah, Lin Mo berhenti melangkah. Ia berdiri diam di tempatnya cukup lama. Napasnya sedikit memburu namun tetap teratur. Wajahnya tetap tenang dan matanya tetap jernih menatap puncak tangga batu yang masih tertinggal enam puluh langkah lagi di hadapannya.

Lin Mo menarik napas panjang lalu perlahan berbalik badan. Ia tidak memaksakan diri melanjutkan. Ia tahu batas kemampuannya saat ini. Dengan tenang dan perlahan, ia berjalan turun kembali menuju halaman di bawah. Langkahnya tetap tegak dan teratur. Saat tiba di tanah datar, para penilai serentak berdiri dan menganggukkan kepala dengan penuh rasa hormat kepada pemuda yang baru saja mereka lihat. Bahkan pemimpin para penilai pun melangkah maju dan menatap Lin Mo dengan senyum bangga yang tulus.

Selamat ujar penilai itu dengan suara yang penuh kekaguman. Sembilan ratus empat puluh langkah. Itu adalah hasil terbaik yang pernah kulihat selama bertahun-tahun bertugas di sini. Dan kau melakukannya dengan lautan Qi yang masih muda dan belum berkembang sepenuhnya. Itu sungguh luar biasa. Selamat datang di Sekte Pedang Cahaya. Mulai hari ini kau adalah murid sekte kami.

Lin Mo menganggukkan kepalanya perlahan dengan sopan dan rendah hati. Wajahnya tetap tenang dan hatinya tetap damai. Ia tidak merasa bangga dan tidak pula merasa hebat. Ia hanya tahu bahwa ia telah melangkah masuk ke dalam tempat yang besar dan penuh tantangan. Di sini ia akan tumbuh, belajar, dan mencari kebenaran yang dicarinya. Dan meskipun bahaya mungkin menantinya di setiap sudut sekte itu, Lin Mo tidak merasa takut. Selama ia menjaga hatinya tetap jernih dan lautan Qi-nya tetap murni, maka ia siap menghadapi apa pun yang akan datang.

 

1
Predi Siswanto
katanya mau memahami kekuatan yg baru di dpat kan kok malah prgi lagi ...AQ jadi curiga jangan jangan kepala Ator nya lagi eror🤣🤣
Arman: maaf jika ada cerita/alur yg kurang memuaskan tapi ini cerita yg bertahap kakak baru baca awal bab jadi wajar jika tokoh utama Masi lemah
total 1 replies
Predi Siswanto
tu kan makin letoy
Predi Siswanto
tambah letoy
Predi Siswanto
tu kan mulai letoy
Predi Siswanto
Alang kah hebat nya oi..jangan jangan begitu keluar langsung keok keok🤣🤣🤣
Alia Chans
ceritanya keren thor/Smile/
Arman: terima kasih pujian mu semangat ku💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!