NovelToon NovelToon
Hujan di Ranting

Hujan di Ranting

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.

Kesimpulan Yu: dia pasti model.

Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.

Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.

"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16: Gerbang Sentul

"Tidur."

Itu jawaban Zhen ketika Yu akhirnya membuka pintu kamar malam sebelumnya.

Ia tidak bertanya apa yang Yu kerjakan. Tidak mencoba melihat laptop. Tidak memaksa masuk. Hanya berdiri di depan pintu dengan wajah mengantuk, lalu menunjuk lampu kamar.

"Matikan sebelum jam dua."

"Kamu seperti alarm manusia."

"Alarm berguna."

"Alarm menyebalkan."

"Tetap berguna."

Setelah itu ia pergi.

Yu seharusnya tidur.

Namun selama dua malam berikutnya, justru Zhen yang membuatnya tidak bisa tidur.

Setiap malam sekitar pukul sebelas, pintu kamar utama terbuka. Zhen keluar dengan jaket gelap, membawa helm, sarung tangan, dan tas kecil. Kadang ia tidak pulang sampai lewat pukul dua. Kadang ada aroma bensin samar yang masuk lebih dulu sebelum langkahnya.

Kalau hanya sekali, Yu bisa menganggapnya latihan biasa.

Kalau dua kali, mungkin jadwal private coaching.

Kalau tiga kali, rasa ingin tahunya berubah menjadi penyakit baru.

Malam ketiga, saat Zhen keluar lagi, Yu berdiri di balik pintu kamar dengan hoodie hitam dan celana jeans. Ponselnya sudah membuka aplikasi transportasi online. Ia menunggu sampai suara lift menutup, lalu keluar dengan langkah pelan.

Burger mengangkat kepala dari dekat sofa.

"Ssst," bisik Yu. "Aku cuma cari udara."

Burger menatapnya seperti tidak percaya.

Yu menutup pintu unit sangat hati-hati.

Di lobby, ia melihat Zhen masuk ke mobil hitamnya dan keluar dari area apartemen. Yu menunggu dua menit sebelum mobil GrabCar yang ia pesan datang.

"Ikuti mobil hitam itu, Pak," kata Yu begitu duduk.

Pengemudi, pria paruh baya dengan topi lusuh, menoleh lewat kaca spion.

"Mbak lagi syuting?"

Yu membeku.

"Bukan. Itu... teman saya. Saya mau kasih kejutan."

"Kejutan kok ngikutin."

"Dia orangnya susah dikejutkan."

Pengemudi itu tertawa kecil, lalu mengangguk. "Baik, Mbak. Tapi kalau ini urusan mantan, saya tidak mau ikut drama."

"Bukan mantan."

"Syukurlah. Mantan biasanya lebih bahaya dari macet Jagorawi."

Yu tidak tahu harus menjawab apa.

Mobil Zhen melaju keluar Jakarta menuju arah tol. Semakin lama, gedung-gedung tinggi berganti dengan lampu jalan yang lebih jarang. Hujan tidak turun malam itu, tapi udara tetap basah. Yu menempelkan dahi ke kaca, mencoba meyakinkan diri bahwa ia tidak sedang melakukan hal gila.

Ia hanya ingin tahu.

Hanya memastikan.

Hanya memahami pekerjaan orang yang rekeningnya baru ia isi lima puluh juta.

Ponselnya bergetar.

Lily: Tidur?

Yu mengetik cepat:

Iya.

Lily: Bohong. Kalau tidur, nggak jawab secepat itu.

Yu menutup chat.

Semua orang di hidupnya perlu berhenti menggunakan pola jawaban cepat sebagai alat deteksi kebohongan.

Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil Zhen keluar tol dan memasuki area yang lebih gelap. Tidak lama, papan besar muncul di sisi jalan.

Sentul International Circuit.

Yu duduk lebih tegak.

Jadi benar.

Sirkuit.

Namun pemandangan di depannya tidak membuatnya lebih tenang.

Gerbang depan terang oleh lampu putih. Beberapa mobil sport masuk satu per satu. Ada orang-orang berpakaian rapi, beberapa perempuan dengan heels, beberapa laki-laki membawa kamera, dan petugas keamanan yang memeriksa daftar nama. Musik samar terdengar dari dalam, bercampur suara mesin yang meraung jauh di belakang.

Mobil Zhen berhenti di pos.

Seorang perempuan dengan clipboard mendekat. Rambutnya dikuncir tinggi, jaketnya bertuliskan Sentul Track Night. Yu tidak bisa mendengar jelas, tapi ia melihat perempuan itu tersenyum kepada Zhen, lalu menunjuk ke arah dalam. Zhen memberikan sesuatu, mungkin kartu akses, mungkin dokumen. Perempuan itu mengangguk.

GrabCar Yu berhenti agak jauh di bahu jalan.

"Mbak, kita ikut masuk?" tanya pengemudi.

"Jangan. Di sini saja."

"Temannya masuk tempat balap itu?"

"Kayaknya."

Pengemudi bersiul pelan. "Wah, mahal itu. Anak orang kaya."

Anak orang kaya.

Model event.

Private coaching.

VIP guest.

Semua potongan informasi berputar di kepala Yu seperti roda mobil.

Zhen turun dari mobil. Ia memakai jaket balap hitam, lalu mengambil helm dari kursi belakang. Di bawah lampu gerbang, tubuhnya terlihat berbeda. Lebih tajam. Lebih jauh. Orang-orang di sekitar seperti otomatis memberi ruang ketika ia lewat.

Yu melihat dua orang laki-laki menghampirinya. Salah satunya menepuk bahu Zhen, lalu menunjuk mobil sport hitam di dalam. Zhen tidak tersenyum, hanya mengangguk.

Seseorang menyebut, cukup keras sampai terdengar samar:

"Z sudah datang."

Z.

Bukan Zhen.

Z.

Yu meremas ponsel.

Di dalam gerbang, lampu lintasan menyala panjang seperti garis rahasia. Mobil-mobil mahal, orang-orang asing, perempuan clipboard, tamu VIP, uang sepuluh juta, akun populer tanpa wajah, semua berkumpul di satu tempat yang terlalu jauh dari dunia kampus biasa.

Kalau ini hanya balapan, mengapa terasa seperti masuk ke wilayah yang tidak boleh dilihat orang luar?

Kalau ini hanya olahraga, mengapa ada daftar nama, tamu VIP, dan pembayaran aneh?

Yu tahu ia mungkin sedang salah paham.

Masalahnya, sejak pertama kali bertemu Zhen, semua kesalahpahamannya selalu punya bukti pendukung.

Mobil sport hitam di dalam dinyalakan. Suaranya menggeram sampai kaca GrabCar bergetar. Zhen memakai helm. Wajahnya hilang di balik visor gelap.

Untuk sesaat, ia menoleh ke arah luar gerbang.

Yu refleks menunduk.

Jantungnya berhenti satu ketukan.

Apakah dia melihat?

Ketika Yu berani mengangkat kepala, Zhen sudah berjalan masuk ke area pit. Gerbang terbuka, lalu tertutup lagi setelahnya.

"Mbak?" pengemudi memanggil pelan. "Mau turun?"

Yu menatap gerbang Sentul yang tertutup.

Di baliknya, suara mesin kembali meraung. Terlalu keras, terlalu asing, terlalu mahal.

"Nggak," jawab Yu akhirnya, suara nyaris berbisik. "Pulang saja."

Mobil berputar perlahan.

Saat Sentul International Circuit menjauh di kaca belakang, Yu menatap layar ponselnya yang gelap dan merasa satu hal makin jelas.

Apa pun pekerjaan Zhen sebenarnya, dunia malamnya bukan dunia yang bisa dimasuki Yu hanya dengan alasan ingin menyentuh tangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!