Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.
Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."
Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.
Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.
Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?
Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.
Tapi sudah terlambat.
Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.
Dan dia tidak akan melepaskannya.
🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 018
Mobil di Bawah Gedung
Louisa kembali ke mejanya dengan suara kertas diremas masih tertinggal di telinga.
Area divisi berpura-pura sibuk.
Jessica mengetik terlalu cepat. Staf junior yang tadi bertanya soal resign menunduk dalam-dalam ke layar. Raymond berdiri di dekat jendela, memegang ponsel, tetapi matanya mengikuti Louisa sampai ia duduk.
Tidak ada yang bertanya keras-keras.
Namun kantor punya cara sendiri untuk berbicara. Kursi yang berhenti berdecit. Chat yang tiba-tiba sepi. Tatapan yang bergerak cepat saat Louisa mengangkat wajah.
Louisa membuka laptop dan mulai membuat daftar handover.
Proyek vendor Q4.
Draft event foundation.
Database sponsor.
Kontak hotel untuk gala tahunan.
File-file yang selama ini hidup di kepalanya mulai ia pindahkan ke dokumen bersama. Satu per satu. Rapi. Tidak karena ia ingin menyenangkan siapa pun, melainkan karena ia tidak ingin pintu yang ia tutup menyisakan ekor masalah yang bisa ditarik kembali kepadanya.
Raymond akhirnya mendekat.
"Lulu."
"Ya?"
Ia meletakkan satu cup kopi susu di sisi meja. "Gue beli kebanyakan."
Louisa melihat cup itu.
"Terima kasih, Ray."
Raymond menggaruk pelipis. "Gue... soal kemarin, harusnya gue ngomong lebih jelas di meeting."
"Tidak apa-apa."
"Itu bukan tidak apa-apa."
Louisa menatapnya.
Raymond tampak canggung. Ia bukan orang yang pandai meminta maaf, apalagi di kantor yang penuh telinga. Namun setidaknya ia berdiri di sana.
"Aku tahu kamu lihat," ucap Louisa. "Tapi melihat dan ikut menahan itu dua hal yang berbeda."
Raymond mengangguk pelan. "Iya."
"Semoga setelah aku pergi, kamu lebih cepat bicara kalau lihat hal seperti itu terjadi pada orang lain."
Kalimat itu membuat wajah Raymond berubah.
Ia tidak membela diri.
"Gue usahain."
"Jangan usahain. Lakukan."
Raymond menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk lebih tegas. "Oke."
Setelah Raymond pergi, Jessica datang.
Tentu saja.
"Aku dengar kamu mau pakai sisa cuti untuk notice period," katanya.
"Sedang dibicarakan dengan HR."
"Enak juga ya. Tinggal pergi begitu saja."
Louisa tetap mengetik. "Aku sedang menyiapkan handover."
"Handover tidak sama dengan bertanggung jawab."
Jari Louisa berhenti di keyboard.
Ia mengangkat wajah. "Jessica, aku bertanggung jawab atas pekerjaanku. Bukan atas cara kamu mengklaimnya."
Warna wajah Jessica berubah tipis.
Beberapa orang di sekitar mereka berhenti mengetik.
Louisa tidak menaikkan suara. Justru karena tenang, kalimat itu terdengar lebih jelas.
"File vendor sudah aku rapikan. Catatan risk sudah masuk. Email ke legal sudah ada. Kalau kamu butuh penjelasan, semua tertulis di handover."
Jessica tersenyum kaku. "Kamu sekarang percaya diri sekali."
"Seharusnya dari dulu."
Jessica tidak punya jawaban cepat untuk itu.
Ia berbalik dengan bahu tegang, dan untuk pertama kalinya, Louisa tidak merasa perlu mengecil agar orang lain tetap nyaman.
***
Sore menjelang, HR mengirim email resmi.
Pengunduran diri diterima.
Masa notice period tiga puluh hari dapat dikompensasikan dengan sisa cuti dan handover intensif selama beberapa hari ke depan, menunggu persetujuan akhir manajemen.
Kevin belum membalas email itu.
Namun pukul 17.18, ia mengirim pesan pribadi.
Kevin: Kita belum selesai bicara.
Louisa membaca pesan itu saat sedang memasukkan mug jeruk kecil dari meja kantor ke dalam tote bag.
Mug itu bukan mug mahal. Darren membelinya di bazar kampus, gambarnya sudah sedikit pudar. Dulu mug itu selalu berada di meja Tanuwijaya Group, di antara print-out, post-it, dan dokumen Kevin. Hari ini ia membawanya pulang.
Louisa: Untuk urusan kerja, semua sudah saya tulis di handover.
Kevin: Aku bicara soal kamu.
Louisa menatap kalimat itu.
Dulu, kalimat seperti itu mungkin akan membuat jantungnya berlari. Aku bicara soal kamu. Seakan Kevin akhirnya melihat dirinya.
Sekarang ia hanya merasa lelah.
Louisa: Aku juga sudah jelas.
Ia mengunci ponsel.
Tidak lama kemudian, pintu ruang Kevin terbuka. Kevin keluar, tetapi berhenti ketika melihat beberapa manajer datang dari arah lift. Mereka langsung mengajaknya bicara soal meeting investor. Kevin menoleh kepada Louisa sekali, jelas ingin menyelesaikan percakapan yang menurutnya belum selesai.
Louisa menunduk, memasukkan buku catatan terakhir ke tas.
Untuk kali ini, ia tidak menunggu.
Ia mengirim file handover final ke HR, cc Kevin, Raymond, Jessica, dan legal. Setelah itu ia mematikan komputer, membersihkan meja, dan melepas sticky note lama di sisi monitor.
Ada satu sticky note kecil yang sudah menguning.
`Kev: reminder meeting 10.00`
Tulisan itu miliknya sendiri.
Louisa menatapnya sejenak, lalu membuangnya ke tempat sampah.
Suara kertas kecil itu jatuh hampir tidak terdengar.
Namun bagi Louisa, suara itu seperti pintu yang benar-benar menutup.
***
Pukul 18.02, Louisa turun ke lobby.
Ia tidak membawa banyak barang. Hanya tote bag berisi mug jeruk, buku catatan, beberapa kuas yang dulu ia simpan untuk mencoret ide saat lembur, dan salinan tanda terima HR. Kartu akses masih harus dikembalikan setelah handover resmi selesai, tetapi hari itu meja kerjanya sudah tidak lagi terasa seperti tempatnya.
Lobby Tanuwijaya Group ramai oleh karyawan pulang kantor.
Beberapa orang menatapnya. Beberapa pura-pura tidak melihat. Di dekat kafe, dua staf junior berbisik, lalu cepat-cepat diam saat Louisa lewat.
Louisa berjalan lurus.
Di luar, langit PIK mulai berubah jingga keabu-abuan. Udara membawa bau aspal panas dan kopi dari tenant lantai dasar. Ia berhenti di bawah kanopi drop-off, membuka aplikasi Grab dengan gerakan otomatis.
Sebelum ia sempat memesan, sebuah sedan hitam berhenti tepat di depannya.
Sopir turun dan membuka pintu belakang.
Louisa mengangkat wajah.
Nathanael berdiri di sisi lain mobil, kemeja kerjanya masih rapi, mata gelapnya langsung mencari wajah Louisa. Tidak ada pertanyaan di sana. Hanya kehadiran yang tenang, seperti semalam.
Louisa menatap ponselnya.
Ia tidak pernah memberi tahu Nathanael bahwa hari ini ia menyerahkan surat pengunduran diri.
Ia juga tidak memberi tahu jam berapa ia turun.
"Kamu..." Suaranya berhenti.
Nathanael membuka pintu lebih lebar.
"Pulang?"
Satu kata.
Louisa berdiri dengan tote bag di tangan, di depan gedung yang selama bertahun-tahun membuatnya merasa harus selalu berguna.
Di belakangnya, pintu kaca lobby terbuka dan tertutup, membawa potongan suara kantor yang dulu selalu membuatnya menoleh. Nama proyek. Jadwal meeting. Panggilan dari resepsionis. Semua suara itu masih ada, tetapi untuk pertama kalinya tidak ada satu pun yang berhasil menarik langkahnya kembali.
Ia memegang tali tote bag lebih erat. Mug jeruk di dalamnya berbenturan pelan dengan buku catatan, suara kecil yang mengingatkannya bahwa barang-barang miliknya sudah ikut keluar.
Louisa tidak melihat ke belakang.
Kali ini, yang ia pilih adalah pintu yang terbuka di depannya, tanpa menawar lagi.
Lalu ia masuk ke mobil Nathanael.