Mengandung adegan dewasa, jadi mohon bijaklah dalam membaca ya ...!
Menceritakan tentang ketidak percayaan diri mengundang pernikahan yang tanpa diduga, pernikahan paksa dengan CEO Tampan yang posesif bernama, Xander.
Xander merasa sudah jatuh hati kepada seorang wanita cantik bernama, Sasya. Tetapi, akibat ketidak jujuran sang kakak, Sasya menjadi terjebak dalam ikatan yang tidak diinginkannya, sebab yang harus menikah dengan Xander adalah kakaknya yang bernama Rasya, bukan dengan dirinya.
Naas-nya, Sasya terpaksa menjalani pernikahan dengan Xander dan harus memutuskan hubungan dengan kekasihnya, akibat adanya ancaman.
Bagaimanakah cerita selanjutnya dari Sasya dan Xander?
Ikuti terus alur cerita selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Menik Kumalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 18 (Mulai Sadar)
"Gimana dok keadaan anak saya?" tanya Sita kepada dokter yang baru keluar dari ruangan Sasya.
"Pasien mengalami hipotermia, lalu dia juga perlu istirahat. Anda tidak perlu kawatir, pasti dia akan baik-baik saja," terang Dokter menenangkan Sita.
"Baik terimakasih dok, apakah kami bisa masuk?" tanya Surya.
"Bisa, silahkan. Tetapi jangan berisik ya, biarkan dia tetap istirahat dan jangan menyalakan pendingin ruangan terlebih dahulu. Saya permisi dulu mau ke ruangan ya, kalau membutuhkan sesuatu bisa lewat perawat yang ada di sekitar sini," terang Dokter tersebut.
"Baik, Dok terimakasih!"
Lalu Surya, Sita, dan Rasya masuk ke dalam ruangan Sasya.
...*****...
Ke esokan harinya di ruangan Sasya, semua sudah berkumpul termasuk Sadam dan sahabat-sahabatnya untuk menunggunya membuka mata.
"Maa... Sasya sudah mulai sadar!" terkejut Rasya langsung memberitahu Sita, dan semua fokus terhadap Sasya yang mulai membuka matanya.
"Nak, kamu sudah sadar?" tanya Sita lembut kepada Sasya.
Sasya yang bingung dengan dia yang di kerumuni orang-orang yang ia sayangi hanya diam.
"Kamu di rumah sakit nak, apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya Surya kawatir yang melihat anaknya hanya diam saja.
"Aku pusing," ucap Sasya lemas.
"Rasya, cepat panggilkan Dokter kesini!" sahut Sita.
"Tidak perlu ma, aku tidak apa-apa. Hanya saja aku merasa lapar sekarang," ucap Sasya sambil tersenyum lemas.
"Biar saya saja yang menyuapi Sasya Om , Tante. Kalian pulang kerumahlah terlebih dahulu bersama Kak Rasya juga. Disini saya dengan sahabat-sahabatnya Sasya akan menemaninya bersama," ucap Sadam dengan sopan.
"Baiklah, tolong jaga Sasya ya," ucap Surya yang di iyakan Sadam dan ke tiga sahabat Sasya. "Nak kami pulang dahulu ya!" Sambil tersenyum lembut dan Sasya membalasnya dengan tersenyum.
"Eh Sya, kamu tidak apa-apa kan? Maafin gue ya karena nggak antar loe sampai di depan rumah loe," ucap Belva yang merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, toh aku yang memintanya kan!" jawab Sasya tersenyum.
"Kenapa loe kok bisa kayak gini? Siapa yang ngelakuin ini ke loe sya?" tanya Ani yang kepo.
"Aku tidak tau," jawab Sasya, sembari membayangkan semalam yang telah terjadi.
"Beneran loe tidak tau? Gue bakal bantu balas dendam, kalau loe tau orangnya langsung saja bilang ke gue," sahut Ceysa yang mengkawatirkannya.
"Tidak ada, sudah tidak apa-apa. Mungkin itu cuma orang-orang yang emang gak suka sama aku!" Jawab lemas Sasya.
"Loe itu jangan terlalu baik gitu sya, sekali-kali loe ngebelain diri loe sendiri. Biar gue, Ceysa, dan Belva ngebantuin loe juga," ujar Ani dan perkataannya di setujui oleh Ceysa dan Belva.
"Aku tidak mau membesar-besarkan masalah, sudah biarkan saja. Yang terpenting aku sudah tidak apa-apa."
"Sudah hentikan pertanyaan kalian! Biarkan Sasya makan dulu, lalu minum obat dan kembali istirahat," sahut Sadam dan langsung di turuti oleh Ceysa, Belva, dan Ani.
...*********...
Dua hari kemudian, Sasya kembali untuk kuliah dengan sahabat-sahabatnya itu. Tentu saja dengan Sadam dan teman-temannya itu yang notabennya para gebetan sahabatnya Sasya yang sudah mulai semakin dekat.
"Hai sayang kamu sudah enakan?" tanya Sadam sambil mengecup kening Sasya lembut.
"Sudah sayang!" jawab Sasya dengan senyumannya.
"Wah, wahh masih jam berapa nih sudah mesra-mesraan aja!" seru Brylee.
"Bilang aja kalau iri kan? Haha...," ledek Cyrill yang ditertawakan oleh semuanya.
"Ngomong-ngomong kalian sudah jauh lebih dekat ya sekarang! Aku ikut senang melihatnya!" Sasya sambil tersenyum ke teman-temannya.
"Iya dong... Kita mah gak menyia-nyiakannya. Takut mubazir nanti hahah...," sahut Abel dan semua ketawa bersama.
Disuatu tempat yang tak jauh dari mereka, tanpa disadari ada yang sedang mengintai mereka, yaitu mata-mata dari Yama, langsung melaporkan semua yang telah di lihatnya kepada Yama.
Lalu sesuatu yang licik pula terlihat sedang di atur oleh Yama dan teman-temannya.
...Happy Reading!!...
smoga seru.
Vote Done.
Semangat