"Menikahlah. Jadi orang tua utuh untuk Kenzie. Jangan biarkan dia merasa kehilangan sosok ayah dan ibu. Tolong, jangan biarkan dia sendirian."
Demi wasiat kedua kakaknya. Aruna dan Gavin terpaksa menikah saat itu juga. untuk menggantika peran kedua kakaknya pada keponakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amillea24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Namun, tanpa disadari oleh Aruna yang sedang asyik memperhatikan Kenzie bermain dengan anak - anak lannya di dekat dirinya, dari kejauhan—tepat di balik pagar pembatas area luar museum—sebuah mobil minibus berwarna hitam pekat tampak terparkir diam di bawah bayangan pohon. Kaca mobilnya yang gelap perlahan-lahan turun beberapa sentimeter, menampilkan sebuah lensa kamera jarak jauh yang bergerak lambat, membidik tepat ke arah posisi duduk Aruna.
" Sepertinya itu wanita yang di maksud si Bos." Ucap seorang berbadan tambun. Sesekali dirinya menatap sebuah foto di genggamannya.
"Kayanya bukan deh. Tuh wadon pake kerudung dan ngga ada tahi lalat di pipinya. Sedangkan di foto kaga pake kerudung dan ada tahi lalat nya." Saut temannya sambil menunjukan sebuah foto pada rekannya.
" Lo bener juga. Berarti bukan dia ya yang kita cari ? Kalo begitu kita cabut aja dari sini." Ujur pria besar yang tadi membidik Aruna dengan kamera SLR nya.
"Ya iya. Mau ngapain lagi kita disini. Orang tuh wadon bukan yang kita cari." Ucap temannya si gendut dengan sinis.
Dua orang itu langsung kembali masuk kedalam mobil, lalu melesetkan mobil hitamnya meninggalkan area museum.
Kembali ke Aruna. Melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya sudah mau jam 1 siang. Wanita itu bergegas bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menuju ke rekan kerjanya.
"Miss Citra, sekarang sudah mau jam 1. Mari kita pindah ke lokasi berikutnya." Ucap Aruna memberitahu Citra, rekan kerjanya. Untuk berpindah lokasi ke museum berikutnya.
"Owhh... Kamu benar Miss Runa. Ayo takut pihak museum sudah menunggu rombongan kita disana."
Aruna dan Citra langsung memberitahu guru lainnya untuk mengumpulkan anak - anak yang sedang bermain di taman ini.
Anak - anak lucu dan menggemaskan itu langsung berbaris rapih mendengar Bu guru mereka memanggil untuk berbaris kembali seperti tadi.
"Semuanya sudah kembali ke barisan?"
"Sudah Miss." Seru anak - anak lucu itu dengan serempak.
"Oke saatnya kita menuju Bus dan berpindah lokasi menuju museum berikutnya."
Anak - anak itu langsung berlompatan gembira akan menuju museum yang sangat mereka nantikan sejak tadi.
Sedangkan Aruna kini kembali menggendong sang keponakan. Ditambah Kenzie sepertinya mulai mengantuk setelah bermain dengan kakak - kakak kelasnya.
"Kenzie sudah mengantuk ya ?" Tanya Aruna sambil mengelus kepala Kenzie dengan sayang.
"Hmm" bocah mengangguk lesu, kepala kecilnya ia senderkan di bahu sang tante dengan nyaman.
"Minum susunya di bus saja ya sayang." Lagi - lagi bocah kecil itu mengangguk sebagai jawabannya.
###
Didalam Bus..
Melihat Aruna sangat begitu kerepotan membuat susu untuk Kenzie. Salah satu orang tua murid dengan senang hati membantu Aruna membuatkan susu untuk bocah kecil yang mulai sedikit merengek di atas pangkuan Aruna.
"Hai jagoan. Sebentar ya tante buatkan susu mu dulu." Ucap ibu itu dengan cekatan membuat susu milik Kenzie.
Kebetulan ibu itu duduknya bersebelahan dengan Aruna. Melihat wanita muda disebelahnya kesusahan membuat susu membuat dirinya merasa kasihan dan menawarkan diri untuk membantu Aruna membuatkan susu untuk Kenzie.
"Ini susunya, Miss Aruna. Masih hangat, semoga dedeknya suka ya," ucap Ibu berkemeja motif bunga itu sembari mengangsurkan botol susu yang telah selesai dibuat.
Aruna mengembuskan napas lega, senyum tulus mengembang di wajahnya yang sedikit berkeringat. "Ya ampun, terima kasih banyak ya, Mama Inez. Saya benar-benar terbantu."
"Sama-sama, Miss. Wajar kok, bawa anak batita sambil mengawasi anak-anak TK emang butuh tenaga ekstra. Untung jagoannya pintar ya, gak rewel," sahut ibu wali murid itu ramah sebelum kembali membenarkan posisi duduknya.
Begitu ujung dot menyentuh bibirnya, Kenzie langsung mengenyutnya dengan rakus. Tangan mungilnya memegangi botol dibantu oleh tangan Aruna. Tidak butuh waktu lama, efek dari susu hangat, ayunan bus yang berjalan sedang, serta kelelahan setelah berlarian di taman museum membuat mata bulat Kenzie perlahan-lahan meredup. Kurang dari sepuluh menit, bocah kecil berbaju bebek itu sudah mendengkur halus, tertidur lelap dalam dekapan aman sang tante.
Aruna menyandarkan kepalanya di sandaran kursi bus yang bergetar lembut. Bus pariwisata yang membawa rombongan Children Smart School itu kini tengah membelah aspal menuju destinasi kedua yang paling dinantikan anak-anak: Teater IMAX dan Planetarium di kawasan Jakarta Pusat.
Di balik kaca jendela bus yang berdebu, Aruna menatap jalanan ibu kota dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Ia sama sekali tidak tahu bahwa beberapa kilometer di belakang mereka, sebuah badai kepanikan berskala besar sedang mengamuk di dalam sebuah mobil sedan mewah.
---
Pukul 13.15 WIB
Ciiiittt!!
Ban mobil mewah Gavin mencicit keras saat berhenti mendadak di area parkir luar Museum Nasional. Tanpa memedulikan posisi parkirnya yang agak serong, Gavin langsung mematikan mesin, menyambar ponselnya, dan melompat keluar dari kabin kemudi. Langkah kakinya yang panjang berderap cepat, hampir berlari memasuki area lobi museum.
Sorot matanya yang tajam dan dipenuhi kilat kecemasan bergerak liar menyapu setiap sudut ruangan. Namun, sejauh mata memandang, yang ada hanya rombongan turis asing dan beberapa anak kuliahan yang sedang melakukan penelitian. Tidak ada rombongan anak TK berseragam biru - cream. Gak ada tanda-tanda keberadaan Aruna maupun Kenzie.
Gavin menempelkan ponselnya ke telinga dengan gerakan kasar. Begitu panggilan tersambung, ia langsung menyalak, "Tian! Saya udah di Museum Nasional! Mana rombongannya? Gak ada siapa-siapa di sini!"
Di seberang telepon, suara Tian terdengar ikut tegang karena terus ditekan oleh sang atasan selama satu jam terakhir. *{Maaf, Pak Gavin. Orang suruhan kita baru saja menghubungi saya. Kalo rombongan Children Smart School ternyata sudah meninggalkan lokasi sejak jam satu siang tadi. Mereka mempercepat jadwal }
"Ke mana?! Kasih tahu saya lokasinya sekarang, Tian! Jangan buat saya khawatir !" bentak Gavin frustrasi. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya, membasahi kerah kemeja abu-abunya yang kini sudah tidak serapi tadi pagi.
Pikiran negatif mulai berputar-putar di dalam kepala Gavin bagai kaset rusak. Informasi dari Tian tentang minibus hitam misterius yang mondar-mandir di dekat apartemen dan sekolah benar-benar menghancurkan logikanya. Bagaimana kalau minibus hitam itu adalah orang-orang suruhan Bramantyo? Bagaimana kalau orang - orang itu akan mencelakai Aruna dan Kenzie?
Membayangkan skenario buruk di mana Kenzie menangis histeris atau Aruna terluka membuat dada Gavin mendadak sesak, seolah pasokan oksigen di sekitarnya menipis. Rasa dongkol karena didiamkan Aruna kini sepenuhnya berganti menjadi rasa takut kehilangan yang teramat sangat.
{T-tunggu sebentar, Pak...} Suara Tian terdengar menjauh dari gagang telepon, terdengar suara gemas ketukan kibor yang buru-buru. {Ini dia, Pak. Berdasarkan pesan yang diberikan orang suruhan kita, tujuan kedua mereka adalah Museum Sejarah Jakarta di kawasan Kota Tua. Mereka dijadwalkan tiba di sana pukul setengah dua siang.}
"Kota Tua?" Gavin menggeram. Jarak dari lokasinya sekarang ke Kota Tua dalam kondisi jam makan siang begini pasti akan dihadang kemacetan parah. "Oke, saya meluncur ke sana sekarang. Kamj terus pantau pergerakan mobil hitam misterius itu! Jangan sampai lepas!"
Bip.
Gavin memutuskan sambungan secara sepihak. Ia berbalik arah, berlari sekencang mungkin menuju mobilnya. Dalam pikirannya hanya ada satu: ia harus menemukan Aruna dan Kenzie sebelum orang lain dengan niat buruk menemukan mereka terlebih dahulu. Gavin menginjak pedal gas dalam-dalam, membuat mobilnya melesat membelah jalanan dengan kecepatan di atas rata-rata, mengabaikan klakson protes dari kendaraan lain.
Gavin kalang kabut. Pria yang biasanya selalu tenang, penuh perhitungan, dan angkuh itu kini benar-benar kehilangan kendali atas emosinya sendiri hanya karena seorang gadis cerewet dan seorang batita.
---
Pukul 14.30 WIB, Di Tempat yang Berbeda
Sementara Gavin sedang berjuang mati-matian membelah kemacetan menuju Kota Tua dengan jantung yang berdegup gila, orang yang dicarinya justru sedang duduk manis di dalam ruangan teater yang sejuk dan temaram.
Ya, Tian salah mendapatkan informasi. Rombongan sekolah Aruna tidak pergi ke Kota Tua, melainkan ke Planetarium.
"Wahhh! Intangnya anyak amim! ( Bintang nya banyak Mami )" bisik Kenzie dengan mata bulat yang berbinar terang. Bocah kecil itu mendongak, menatap langit-langit kubah teater yang menyajikan simulasi tata surya seolah-olah mereka sedang berada di luar angkasa.
"Iya, Sayang. Itu namanya planet Saturnus, yang ada cincinnya besar," sahut Aruna tak kalah lembut.
Kenzie yang sudah segar kembali setelah tidur siang di dalam bus kini duduk tenang di pangkuan Aruna. Tangannya yang mungil menunjuk-nunjuk antusias ke arah proyeksi bintang-bintang yang bergerak. Sesekali, Kenzie terkekeh geli saat melihat simulasi meteor jatuh, membuat beberapa guru di sekitar mereka ikut tersenyum melihat tingkah lucunya.
Aruna benar-benar menikmati momen ini. Rasa penat karena rutinitas mengajar dan kejengkelannya pada Gavin seolah melebur bersama keindahan rasi bintang di atas sana. Melihat senyum gembira dan tawa lepas keponakannya yang begitu tulus membuat Aruna merasa seluruh keputusan nekatnya pagi ini sangatlah berbalas.
Ia tidak butuh Gavin. Ia tidak butuh pria pembual yang sibuk bersenang-senang dengan wanita lain. Selama ia bisa menjaga dan membahagiakan Kenzie dengan tangannya sendiri, itu sudah lebih dari cukup.
---
Pukul 16.30 WIB
Gavin berjalan lunglai memasuki lobi kantornya sendiri. Penampilannya benar-benar kacau. Kemeja abu-abunya kusut, dasinya sudah dilepas dan disampirkan sembarangan di saku jas, sementara rambutnya acak-acakan karena frustrasi.
Ia gagal.
Gavin sudah mengitari kawasan Kota Tua sampai tiga kali, mendatangi setiap sudut Museum Sejarah Jakarta, bahkan sampai menanyakan ke petugas keamanan setempat, namun hasilnya nihil. Tidak ada rombongan Children Smart School di sana. Di tengah keputusasaannya, Tian baru menelepon dan memberi tahu bahwa ada kesalahan informasi yang ia dapat. Rombongan ternyata pergi ke Planetarium dan saat ini sudah dalam perjalanan pulang menuju sekolah.
Gavin terduduk di sofa lobi dengan kepala tertunduk dalam, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan. Rasa lelah secara fisik tidak sebanding dengan rasa lelah mental yang menderanya. Rasa bersalah, cemas, dan ketakutan yang campur aduk membuatnya merasa seperti lelaki lemah.
"Aku bener-bener bodoh," bisik Gavin lirih pada dirinya sendiri.
---
Pukul 18.15 WIB
Cklek.
Pintu utama apartemen terbuka. Suara tawa renyah Kenzie langsung memecah keheningan ruangan yang telah terjadi sejak pagi.
"Horeee! Eji puyang! Ain bombom! ( Main mobil )" celoteh Kenzie riang, langsung berhamburan turun dari gendongan Aruna begitu kaki mungilnya menyentuh lantai marmer.
Aruna melangkah masuk ke dalam apartemen dengan raut wajah yang tampak segar dan bahagia. Meskipun tubuhnya terasa pegal, senyum puas tidak bisa hilang dari bibir manisnya. Karyawisata hari ini sukses besar. Mereka berdua pulang dalam keadaan baik-baik saja, sehat walafiat, tanpa ada lecet sedikit pun. Kenzie bahkan membawa pulang sebuah balon gas berbentuk astronot kecil yang ia beli disana.
Namun, senyum di wajah Aruna mendadak surut saat pandangannya mendarat di ruang tengah.
Di atas sofa, Gavin tampak duduk tertegun. Pria itu menatap lurus ke arah kedatangan mereka dengan mata yang kemerahan dan gurat kelelahan yang luar biasa kentara. Begitu melihat Aruna dan Kenzie masuk dalam keadaan utuh dan ceria, Gavin langsung bangkit berdiri dari duduknya dengan tubuh yang sedikit gemetar.
Aruna yang melihat kehadiran Gavin langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi dingin dan datar. Ia melewati Gavin begitu saja seolah pria itu hanya pajangan baju, lalu beralih mengambil tas ransel Kenzie. Bendera perang dingin masih berkibar tinggi di hati Aruna.
"Kenzie, ayo masuk kamar. Kita mandi dulu ya, Sayang," ucap Aruna dengan nada suara yang sengaja dikeraskan, tanpa sudi melirik ke arah Gavin sedikit pun.
Gavin hanya berdiri terpaku di tempatnya, menatap punggung Aruna yang menjauh dengan rasa lega yang berhamburan di dadanya, sekaligus rasa bersalah yang semakin menumpuk.
" Sehabis membersihkan diri aku mau berbicara pada mu."
Bersambung...
tapi bagus run keren Badas Banggt dari pada pusing Meding enjoy sama ponakan
lagi dong Thor