Karena jalan yang lama sudah tidak bisa digunakan. Maka dibuatlah jalan yang baru. Sebuah jalur baru untuk para pemudik yang selalu rindu ingin pulang ke kampung halaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pawang
"Pak Bono tahu dimana kampung para begal itu?",
"Dari sini tinggal lurus saja lalu belok ke kanan mbak",
"Tempatnya tidak jauh dari jalan jalur baru",
"Berbatasan dengan lahan perhutanan",
"Begitu katanya",
Bono menjadi lebih serius dalam upaya membantu menemukan ibu dan adik Liontin yang hilang tanpa meninggalkan kabar.
Untuk pertama kalinya secara tidak sengaja Bono melihat foto ibu dan adik Liontin di wallpaper hp perempuan yang sedang mempekerjakan nya itu.
Bukan iba yang menjadi alasan utama.
Bono mempunyai sebuah petunjuk yang ia rahasiakan sendiri.
Yaitu ketika Bono pulang melewati jalur baru dalam perjalanan sebelumnya.
Bono melihat mereka berdua (ibu dan adik Liontin) di pinggir jalan.
Mereka berdiri dengan baju yang sama persis dipakai oleh keduanya terakhir kali memberikan pesan.
Mematung di pinggir jalan dengan tatapan kosong.
Wajah mereka sangat pucat.
Waktu itu Bono hanya berlalu saja karena yakin mereka adalah dua sosok penampakan.
Kaki mereka menggantung.
Apakah itu sebuah petunjuk untuk bisa menemukan mereka?
Ataukah sebuah pertanda jika mereka sudah tiada?
Percaya atau tidak percaya. Bono sebetulnya tidak terlalu suka berurusan dengan orang pintar atau hal yang semacamnya.
Tapi mungkin seseorang yang disebut tetua kampung itu bisa menjadi solusi.
Menjawab pertanyaan dan rasa penasaran Bono.
Memberi lampu terang kepada Liontin yang sedang dalam pencarian.
Kampung para begal
Entah mengapa begitu masuk ke kampung ini auranya terasa agak berbeda.
"Ini pak tempatnya?",
"Sepertinya iya mbak",
"Mau tanya sama siapa ya?",
"Baru masuk sore sudah tidak ada orang",
"Nah, itu ada orang pak",
"Biar aku saja mbak",
Bono turun dari mobil lalu menghampiri seseorang yang sedang menyalakan api.
"Permisi",
"Assalamualaikum",
Seorang warga yang sedang membakar dedaunan yang berfungsi untuk mengusir nyamuk dan serangga lain melihat ke arah Bono tanpa menyahut.
"Numpang tanya mas",
"Kalau rumahnya Mbah Buyut Boyo yang sebelah mana ya?",
Bono tidak menyerah biarpun didiamkan.
Namun orang itu justru pergi meninggalkan Bono lalu masuk ke dalam rumah.
"Apa aku kurang sopan ya?", pikir Bono.
Orang itu kembali keluar rumah bersama seorang penghuni rumah yang lain.
Seorang wanita yang ternyata adalah ibunya.
"Maaf pak, anak saya ini memang kurang pandai berinteraksi",
"Dia tuli",
"Ada yang bisa saya bantu?",
"Maafkan aku kalau begitu bu",
"Aku dan temanku datang ke desa ini dengan niat mau berkunjung ke rumah Mbah Buyut Boyo",
"Oh sampean cari Boyo",
"Kalau begitu tinggalkan saja mobilnya di sini",
"Biar anak saya yang awasi",
"Rumah Boyo ada di ujung sana dekat hutan",
"Bisanya cuma pakai jalan kaki",
"Mobil tidak bisa masuk",
"Terimakasih bu",
"Mari",
Tanpa menunda-nunda supaya tidak bertemu dengan petang.
Liontin dan Bono bergegas berjalan menuju ke arah hutan.
"Kalian siapa?",
Baru setengah perjalanan.
Rumah Boyo pun juga belum kelihatan.
Liontin dan Bono sudah dicegat oleh seseorang yang tua.
"Kami mau ke rumahnya Mbah Buyut Boyo",
"Aku tanya, kalian siapa?",
"Namaku Liontin dan ini Bono Mbah",
"Kenapa kalian mau bertemu dengan ku?",
Rupanya yang berada di hadapan Liontin dan Bono sekarang ini adalah Mbah Buyut Boyo itu sendiri.
"Patin yang menyarankan aku untuk bertamu ke rumah Mbah",
"Apa masalah mu perempuan ayu?",
"Ibu dan adik ku hilang di jalur baru Mbah",
"Aku sudah tahu",
"Keluar lah sekarang juga dari kampung ini",
"Menjauh lah dari jalur baru di malam hari",
"Bagaimana dengan ibu dan adikku yang hilang Mbah?",
"Bisakah Mbah Buyut Boyo menolong aku untuk mencari ibu dan adikku?",
"Aku akan membantu mu",
"Tapi tidak sekarang",
"Kalian tidak usah lagi datang kemari",
"Besok pagi",
"Aku yang akan datang ke tempat kalian",
"Baik Mbah",
Baik Liontin maupun Bono tidak meragukan lagi keunikan atau kesaktian yang dimiliki oleh Mbah Buyut Boyo.
Mereka berdua menahan mulut untuk tidak bicara satu patah kata pun sebelum benar-benar keluar dari kampung nya para begal.
Baru setelah sampai jalan raya.
Mereka mulai berani kembali mengeluarkan suara.
"Sekarang mau ke mana mbak?",
"Kita cari tempat penginapan yang layak pak",