NovelToon NovelToon
Mahkota Kegelapan: Pewaris Dewa Hades

Mahkota Kegelapan: Pewaris Dewa Hades

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:448
Nilai: 5
Nama Author: Vedyta Hyuk

Arkanendra adalah seorang jaksa penuntut yang berdinas di kejaksaan agung, sepak terjangnya sebagai jaksa yang dingin dan tegas juga sering memenangkan kasus besar dan sulit, membuat Arka menjadi populer di kalangan penjahat. karena profesinya itu Arkanendra menghadapi bahaya yang sangat fatal, dia nyaris saja mati di racun oleh musuh nya.

sebuah pertolongan datang dari underworld, dia bisa tertolong namun dewa Hades memberikan syarat mutlak, Arkanendra harus menghisap energi hidup dari dewi Athena sebelum 40 hari, jika tidak maka dia akan mati dan binasa.

Dewi Athena yang tak pernah tertarik dengan pria, Dewi Athena yang lebih memilih menjadi Perawan seumur hidupnya, lalu apa yang terjadi ketika bagian dari kepingan jiwanya jatuh cinta pada Arkanendra yang notebene adalah kepingan jiwa dari Dewa Hades.

Apa sejarah akan berubah, atau jeratan cinta itu membuat Dewi perawan tak berdaya, cinta memang memiliki keajaiban luar biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Aku adalah seorang Jaksa.

Sinar matahari siang yang mulai meninggi tampaknya sama sekali tak mampu mengusik ketiduran seseorang di dalam kamar luas itu. Bahkan suara detak jam digital yang berdering di atas meja nakas pun tak berguna, tak sanggup membangunkan pria yang masih terlelap pulas itu.

"Astaga bocah ini... sampai kapan kamu mau tidur, Ar?" Bu Annastasia masuk ke kamar itu sambil menggelengkan kepala tak habis pikir. Dia meletakkan segelas susu coklat hangat di atas meja, lalu dengan sigap membuka seluruh tirai jendela besar berwarna krem. Cahaya matahari langsung menyergap masuk, membuat penghuni kasur itu mendesah kesal. Tangannya bergerak menarik selimut tinggi-tinggi hingga menutupi seluruh wajahnya.

"Yak, Arkanendra! Dasar pemalas! Sampai kapan kamu mau tidur, hah?!"

"Ngh... Mommy, tutup lagi tirainya, tolong..." suara serak pria itu terdengar tertahan di balik selimut tebal.

"Tidak mau!! Bangun sekarang juga! Tadi pagi adikmu sudah mengetuk pintu berkali-kali, tapi kamu abaikan saja. Ini sudah hampir jam sepuluh siang, ya ampun kamu ini anak macam siapa sih!"

"Mommy... aku baru tidur jam lima pagi lho... Masih ngantuk banget... hoam~" Arka merengek malas.

Bu Anna kembali menggeleng. Laporan dari pelayan rumah memang menyebutkan kalau jam empat pagi tadi Arka baru saja tiba pulang ke rumah orang tuanya. Inilah kenapa ibu itu tak pernah suka dengan pekerjaan anak laki-lakinya yang tak mengenal waktu.

"Ada pekerjaan berat di kantormu kemarin? Kamu itu selalu saja berangkat pagi, baru pulang saat malam sudah larut," Tanya Bu Anna prihatin.

Perlahan Arka bangkit duduk di atas ranjangnya, mengenakan kaos putih tipis yang dia pakai sebagai baju tidur. Dia mengucek matanya yang terlihat merah karena kurang tidur, lalu mengangguk pelan.

"Iya... Kemarin aku sama kepolisian menggerebek dan menangkap gembong narkoba besar di klub malam terkenal itu. Lalu... aku sempat beradu jotos sama anak buahnya," Jawab Arka santai.

"Ya ampun, Ar! Bibirmu luka juga gara-gara itu?!" seru Bu Anna khawatir.

Arka kembali mengangguk pelan, lalu menyambar gelas susu yang tadi diletakkan ibunya, meminumnya hingga tandas seketika.

"Kamu itu seorang Jaksa, bukan polisi! Kenapa sih harus ikut-ikutan turun tangan menangkap penjahat di tempat kejadian perkara?! Argh... kamu selalu saja bikin Mommy cemas setengah mati," Omel wanita paruh baya itu, sebuah tanda kasih sayang yang tak pernah berubah.

"Aku baik-baik saja kok, Mom. Sudahlah, aku mau mandi dulu... hoam... Nanti saja ceramahnya setelah aku selesai bersih-bersih," Tolak Arka sambil berjalan menuju kamar mandi.

"Kebiasaan banget sering tidur hampir pagi begini! Jagalah kesehatanmu, Nak. Sering begadang itu tidak baik untuk tubuh," nasihat Bu Anna mengikutinya dari belakang.

"Iya, Mommy tenang saja. Nanti sore aku baru ke kantor sebentar kok. Besok aku cuti, jadi santai saja. Tinggal menunggu kepolisian menyiapkan berkas pemeriksaan buat sidang pengadilan nanti," Jawab Arka santai.

"Huft... baiklah. Gunakan waktumu buat istirahat yang benar ya saat libur," Bu Anna menghela napas pasrah. Dia sempat membuntuti langkah anaknya sampai ke ruang ganti pakaian, melihat Arka mengambil jubah mandi putih dari lemari besarnya, sebelum akhirnya menyerah dan memilih keluar dari kamar itu.

"Abangmu sama istrinya sudah datang dari tadi. Kalau sudah siap, turun ke bawah ya, mereka menunggu," Pesan Bu Anna sebelummelangkah pergi.

"Eum, baiklah... Apa Zeva juga ikut?" tanyanya setengah berteriak.

"Iya... Dia bilang rindu mau main sama Om-nya. Ya sudah, Mommy pergi dulu," Jawab ibunya dari balik pintu.

Arka terkekeh pelan sambil mengangguk. Ia melemaskan otot-otot lehernya yang terasa sedikit kaku dan pegal. Pasti sisa efek berantem sama banyak anak buah Suhendra kemarin. Jujur saja, Arka sengaja pulang ke rumah orang tua hari ini karena rasanya enggan sendirian di apartemennya. Semalam dia tak bisa tidur nyenyak karena teringat ucapan orang jahat itu—yang mengaku-ngaku utusan dari dunia Dewa Hades.

"Omong kosong semua itu... "Batin Arka sinis. Dia sama sekali tak pernah percaya dengan cerita-cerita tahayul atau hal mistis semacam itu apalagi cerita tahayul aneh seperti itu.

Arka berjalan masuk ke toilet besar dengan dominan warna krem dan melucuti kaos dan celana piyama nya, hanya menyisakan tubuh kekar polosnya, lalu menatap bayangan nya di cermin besar wastafel dalam toilet.

"Argh gara gara mahluk sialan itu aku tak bisa tidur sampai pagi" Arka mengusap kaca cermin di depannya, kesal setengah mati dengan si cermin kenapa menampakkan diri nya yang setampan ini, sampai repot memikirkan juga ucapan si penjahat seperti Suhendra.

"Apa sih maksud omongan orang gila itu... 'Putrinya', putri siapa dia? Kebanyakan narkoba kali ya," Umpat Arka sendiri.

DIa menundukkan pandangannya ke bawah, menatap bagian tubuh bawahnya yang mendadak bereaksi sendiri.

"Ahh, sial! Bikin repot saja... masih pagi udah bangun langsung reaksi aja, dasar gue nafsuan!" Keluhnya yang lebih mirip omelan pada diri sendiri.

*

*

Arka turun ke ruang makan di rumah keluarganya yang seluas istana, setelah menyelesaikan ritual mandi hampir satu jam berdiri di bawah Shower dingin tadi, dia melihat ruangan itu ramai, ada ayahnya pak Mochtar Effendi Widjaya yang membaca koran menikmati kopi nya, lalu Abangnya Michael yang mengobrol dengan ayahnya dan istri sang kakak yang juga duduk di sana menyuapi anak sulung perempuan mereka, wanita itu tengah hamil anak ke dua mereka.

"Eiy~ ini dia yang di tunggu sejak tadi baru turun" Arka tersenyum, lalu berhighfive dengan Abang nya seperti seperti kebiasaan mereka berdua. Dia kemudian berjalan menghampiri putri kecil Michael, mencium pipi gembil anak itu dengan gemas.

"Zeva cantik... rindu Om ya?" Goda Arka.

Balita itu justru memprotes keras saat wajah gembilnya dicubiti-cubiti dan dikuyel-kuyel oleh pamannya. Arka tertawa, lalu duduk di sisi ayahnya yang menoleh, dan memperhatikan wajah dia lekat-lekat.

"Kenapa dengan bibirmu eum? Daddy rasa itu luka baru lagi kan"

"Nggak apa-apa ini hanya lecet sedikit kok" Michael dan Fanny si istri Abang nya hanya tersenyum maklum, jika tubuh Arka ada lecet-lecet pasti dia habis menyelesaikan kasus besar.

"Dad, adik ipar itu hebat lho, kasus itu kan sudah lama tak terpecahkan di negara ini, bahkan kepolisian hampir menyerah, dan tadi pagi kamu muncul di berita headline news, Ar kamu keren lho di penggerebekan penjahat semalam, hehehe~" Kakak iparnya terkekeh mengacungkan jempol, wanita hamil itu memang menonton berita tadi pagi dan melihat Arkanendra di adik ipar di layar TV tengah di serbu awak media di depan gedung klub malam, seusai penangkapan berakhir sukses.

Namun Pak Mochtar ayah nya, malah menggeleng sebal. "Bocah ini selalu saja sibuk mengurusi kasus ini, kasus itu, sampai dia lupa dengan masa depannya sendiri"

"Daddy, ayolah jangan mulai lagi----" Arka berdecak sebal.

"Kenapa hah?? Daddy mu ini benar kan? Huh Pak jaksa berapa umurmu sekarang hah, sudah 34 tahun, tapi sampai setua ini kamu ini cuma sibuk mencari penjahat mencari buronan, lalu kapan kamu mau mencari istri huh?" Pak Mochtar mengomel, padahal biasanya beliau tak banyak bicara, beda dari Bu Anna yang bawel terhadap Arka.

"Calon istri nya masih belum lahir mungkin Dad?" Celetuk Abangnya sambil tertawa.

"Atau masih tertinggal di kutub utara hehehe____" Fanny menimpalinya dengan tawa juga.

"Yak kak, kenapa kamu ikut ikutan usil seperti bang Michael sih??" Kuping Arka jadi mulai panas jika ayahnya dan kakaknya, mulai lagi menyinggung soal masa depannya, apalagi menyinggung soal istri. Aduh Arka pasti kesal dan memilih menghindar.

"Dad, kamu setuju tidak, jika aku mencoba menawarkan dia ke teman-teman arisan ku, siapa tahu kan ada salah satu dari putri mereka ada yang mau dengan bocah ini"

"Yak mommy aku ini bukan barang dagangan, pakai di tawarkan segala, kalian ini apa-apaan sih?" Bu Anna dengan pelayan yang baru masuk ke ruangan ini membawa kue brownies coklat hasil buatannya, ikut-ikutan berkicau seperti yang lainnya.

"Biar saja, salahmu sendiri setua ini masih melajang terus" Kesal sang ibu.

"Hahaha ya ampun, kalian ini tetap saja membuat ku terhibur" Fanny tertawa sambil mengusap perut buncitnya

"Yak kak !!! Ini bukan lawakan" Arka memarahi lagi kakak iparnya.

"Tawarin aja dia mom, kale aja dia bisa laku, keburu karatan jadi bujangan terus" Michael terkekeh menyesap kopinya, dia memang suka menggoda adik laki-lakinya yang seumur ini masih saja ke mana-mana sendiri, tak ada wanita yang di gandengnya.

"Pokoknya kalau kalian masih rese begini, aku balik ke apartemen aja deh! Nyebelin banget pulang ke rumah malah dibully habis-habisan!" Ancam Arka dengan memajukan bibirnya cemberut.

Dari dapur, Jesylyn si adik bungsu baru saja masuk, membawa minuman dingin dinampan lalu meletakan di meja. "Ckck dasar, kamu itu Ar selalu saja suka membantah mommymu?" Arka mencebikkan bibirnya karena omelan ayahnya, pria itu lalu men-comot kue brownies di meja, yang terlihat lezat itu.

Plakk...

"Auw aduh sakit mom!!" Pekik Arka.

"Kamu ini ya?! Main ambil kue saja dengan tangan, kuenya di iris dulu pake pisau, bukan di comot begitu" Arka mendumel sambil mengusap lengannya yang perih karena di pukul ibunya tadi.

"Haish mommy cerewet" Dumelnya.

"Jes, tolong ambilkan pisau di dapur untuk memotong kue!"

"Iya, Mom!" Jawab Jesylyn sigap.

Arka melirik sekilas ke arah gadis cantik yang berdiri di dekat meja itu. Dia sadar betul, sejak tadi Jesylyn tampak sengaja menghindari tatapannya dan tak banyak bicara. Padahal biasanya kalau ada kue buatan Mommy yang baru matang, Jesylyn dan Arka pasti akan berebutan dan berantem kecil memperebutkan potongan paling besar.

"Tumben banget dia diam saja... Ada apa ya?" Batin Arka bertanya-tanya dalam hati.

1
Ananda Boy
seruuu banget 🤭
Ananda Boy
next thor
Ananda Boy
kak kasian Naya🥹
Ananda Boy
lanjut ka author 😘🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!