Bagi Laily, mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di rumah mewah keluarga Arshawirya adalah sebuah keberuntungan—kesempatan kedua untuk mengubur masa lalu kriminalnya.
Jeffran Arshawirya adalah suami sempurna yang tampan dan penuh perhatian, sementara istrinya, Selina, tampak seperti wanita kaya yang tidak stabil dan gemar menyiksanya dengan aturan tak masuk akal.
Namun, di balik kemegahan rumah serbaputih itu, tersimpan gema masa lalu yang mengerikan. Sebuah rumor berbisik bahwa Selina pernah mencoba membunuh putrinya sendiri di bak mandi. Ketika batas profesional antara Laily dan Jeffran mulai mengabur dalam satu malam yang terlarang, Laily menyadari satu hal: di rumah ini, tidak ada yang benar-benar jujur.
Apakah Selina memang seorang psikopat yang berbahaya, ataukah ada skenario yang jauh lebih gelap yang sedang mengintai nyawa Laily? Ingat, di rumah ini, salah memilih langkah bisa berarti kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanizen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter tiga puluh lima
Hari Minggu adalah hari liburku, jadi aku menghabiskan sepanjang hari di luar rumah. Sekarang adalah hari musim panas yang indah—tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin—jadi aku berkendara ke taman lokal, duduk di atas bangku, dan membaca buku novel. Ketika aku berada di dalam penjara, aku melupakan kesenangan-kesenangan sederhana seperti itu. Hanya sekadar pergi ke luar dan membaca di taman. Terkadang aku sangat menginginkannya hingga rasanya secara fisik menyakitkan.
Aku tidak akan pernah kembali ke sana lagi. Tidak akan pernah.
Aku membeli makanan di layanan drive-through restoran cepat saji, lalu berkendara kembali ke rumah. Kediaman keluarga Arshawirya benar-benar indah. Meskipun aku mulai membenci Selina, aku tidak bisa membenci rumah itu. Itu adalah rumah yang indah.
Aku memarkir mobil di pinggir jalan seperti biasa dan berjalan menuju pintu depan rumah. Langit terus menggelap sepanjang perjalananku pulang, dan tepat ketika aku sampai di pintu, awan pecah dan butiran-butiran hujan deras tercurah dari langit. Aku menyentak pintu hingga terbuka dan menyelinap masuk sebelum tubuhku basah kuyup.
Ketika aku sampai di ruang tamu, Selina sedang duduk di sofa dalam kegelapan yang temaram. Dia tidak sedang melakukan apa-apa di sana. Dia tidak membaca, dia tidak menonton TV. Dia hanya duduk di sana. Dan ketika aku membuka pintu, matanya langsung tertuju tajam ke arahku.
"Selina?" Kataku. "Apakah semuanya baik-baik saja?"
"Tidak juga." Dia melirik ke arah ujung sofa yang lain, dan baru sekarang aku menyadari ada tumpukan pakaian di sebelahnya. Itu adalah pakaian yang sama dengan yang dia bersikeras berikan kepadaku saat aku pertama kali mulai bekerja di sini. "Kenapa pakaian-pakaian milikku bisa kutemukan dikamarmu?"
Aku menatapnya saat kilatan petir menerangi ruangan. "Apa? Apa maksud Anda? Anda yang memberikan pakaian-pakaian itu kepada saya."
"Aku memberikannya kepadamu?!" Dia melepaskan tawa menyalak yang menggema di seluruh ruangan, yang hanya sebagian saja teredam oleh gelegar guntur. "Mengapa aku harus memberikan pakaian seharga puluhan juta kepada pelayanku?"
"Anda"—Kakiku gemetar di bawah tubuhku—"Anda bilang pakaian itu sudah kekecilan untuk Anda. Anda bersikeras agar saya mengambilnya."
Kedua alisnya naik sangat tinggi, "Bagaimana bisa kau berbohong seperti itu?"
Dia mengambil langkah maju mendekatiku, mata coklatnya terasa sedingin es. "Kau mencuri pakaianku! Kau seorang pencuri!"
"Tidak..." Aku mengulurkan tangan mencari tumpuan sebelum kakiku lemas dan ambruk ke lantai. Namun tanganku hanya menggapai udara kosong. "Saya tidak akan pernah melakukan hal itu, Selina."
"Hah!" Dia mendengus. "Itulah akibatnya karena memercayai seorang mantan narapidana untuk bekerja di rumahku!"
Suaranya cukup keras hingga Jeffran mendengar keributan itu. Dia bergegas keluar dari ruang kerjanya dan aku melihat wajahnya yang tampan di puncak tangga, diterangi oleh sambaran petir lainnya. Oh Tuhan, apa yang akan dia pikirkan tentang diriku nanti? Sudah cukup buruk karena dia tahu tentang catatan penjaraku. Aku tidak ingin dia berpikir bahwa aku mencuri dari rumahnya sendiri.
"Selina?" Dia menuruni anak tangga dua sekaligus. "Ada apa ini sebenarnya?"
"Akan kuberi tahu apa yang sedang terjadi!" Serunya dengan nada penuh kemenangan.
"Laily di sini telah mencuri isi dari lemariku. Dia mencuri semua pakaian ini dariku. Aku menemukannya di dalam lemarinya."
Mata Jeffran perlahan-lahan melebar. "Dia..."
"Saya tidak mencuri apa pun!" Air mata mulai menggenang di mataku. "Saya bersumpah kepada Anda. Selina yang memberikan pakaian-pakaian itu kepada saya. Dia bilang pakaian itu tidak muat lagi untuknya."
"Seolah-olah kami akan memercayai kebohonganmu." Selina mencibir ke arahku. "Aku seharusnya memanggil polisi untuk menangkapmu. Apakah kau tahu berapa harga pakaian-pakaian ini?"
"Tidak, tolong jangan lakukan itu..."
"Oh, benar." Selina tertawa melihat ekspresi di wajahku. "Kau sedang dalam masa pembebasan bersyarat, bukan? Hal seperti ini akan langsung mengirimmu kembali ke penjara."
Jeffran menatap ke arah pakaian di atas sofa, ada kerutan yang dalam di antara kedua alisnya. "Selina..."
"Aku akan menelepon mereka." Selina mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. "Hanya Tuhan yang tahu, apa lagi yang sudah dia curi dari kita, kan, Jeffy?"
"Selina." Jeffran mengangkat pandangannya dari tumpukan pakaian tersebut.
"Laily tidak mencuri pakaian ini. Aku ingat kau mengosongkan lemarimu. kau memasukkan semuanya ke dalam kantong sampah dan bilang akan menyumbangkannya."
Dia mengambil sepotong gaun putih kecil. "Kau sudah tidak bisa muat memakai gaun ini sejak bertahun-tahun yang lalu."
Sangat memuaskan melihat cara pipi Selina langsung berubah menjadi merah muda. "Apa maksudmu? Bahwa aku terlalu gendut?"
Jeffran mengabaikan ucapannya. "Maksudku tidak mungkin dia mencuri ini darimu. Mengapa kau melakukan ini kepadanya?"
Mulut Selina ternganga. "Jeffy..."
Jeffran menengok ke arahku, yang sedang berdiri terpaku di dekat sofa. "Laily." Suaranya terdengar sangat lembut saat menyebut namaku. "Bisa tolong kau pergi ke lantai atas dan memberikan kami waktu privasi? Aku perlu bicara dengan Selina."
"Ya, tentu saja." Aku menyetujuinya. Dengan senang hati.
Mereka berdua berdiri di sana dalam keheningan sementara aku melangkah menaiki anak tangga menuju lantai dua. Ketika sampai di atas, aku berjalan ke arah pintu menuju loteng dan membukanya. Untuk sesaat, aku berdiri di sana, memikirkan langkahku selanjutnya. Kemudian aku menutup kembali pintu itu tanpa masuk ke dalam.
Dengan gerakan yang jauh lebih senyap kali ini, aku merayap kembali ke ujung tangga. Aku berdiri di tepi lorong, tepat sebelum tangga. Aku tidak bisa melihat Selina dan Jeffran, tetapi aku bisa mendengar suara mereka. Memang salah menguping pembicaraan orang, tetapi aku tidak bisa menahan diri. Bagaimanapun juga, percakapan ini hampir pasti akan melibatkan tuduhan-tuduhan Selina tentang diriku.
Kuharap Jeffran terus membelaku, bahkan saat aku tidak ada di ruangan itu. Apakah Selina akan meyakinkannya bahwa aku mencuri pakaiannya? Bagaimanapun juga, aku adalah seorang mantan narapidana. Begitu aku membuat satu kesalahan dalam hidup, tidak akan ada orang yang memercayaiku lagi.
"...tidak mengambil gaun-gaun ini." Jeffran sedang berbicara. "Aku tahu dia tidak melakukannya."
"Bagaimana bisa kau lebih membela dia daripada aku?" Selina membalas ucapan suaminya. "Gadis itu pernah dipenjara. kau tidak bisa memercayai orang seperti itu. Dia seorang pembohong dan pencuri, dan dia mungkin memang pantas untuk kembali ke penjara."
"Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu? Laily selama ini bekerja dengan sangat luar biasa."
"Ya, aku yakin kau berpikir begitu."
"Kapan kau menjadi sekejam ini, Selina?" Suara Jeffran gemetar. "Kau sudah berubah. kau menjadi orang yang berbeda sekarang."
"Semua orang berubah." Ketus Selina kepadanya.
"Tidak." Suara Jeffran merendah sehingga aku harus bersusah payah mendengarnya di antara suara tetesan air hujan yang jatuh di luar dan menghantam jalanan. "Tidak seperti kau. Aku bahkan tidak mengenalimu lagi. Kau bukan orang yang sama yang dulu membuatku jatuh cinta."
Ada keheningan yang panjang, yang kemudian dipecahkan oleh gelegar guntur yang menggelegar cukup keras hingga mengguncang fondasi rumah. Begitu suara itu mereda, aku mendengar kata-kata Selina selanjutnya dengan sangat keras dan jelas.
"Apa yang sedang kau katakan, Jeffy?"
"Aku mengatakan... Aku rasa, aku tidak mencintaimu lagi, Selina. Aku rasa kita sebaiknya berpisah."
"Lau tidak mencintaiku lagi?!" Serunya histeris. "Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu?"
"Aku minta maaf. Selama ini aku hanya menjalani rutinitas, menjalani hidup kita, dan aku bahkan tidak menyadari betapa tidak bahagianya diriku."
Selina terdiam untuk waktu yang lama seiring dia mencerna kata-kata suaminya. "Apakah ini ada hubungannya dengan Laily?"
.
.
.
.
.
.
To be continue....
Like gaess🥰 kalo suka konfliknya kasih gift dong🥺👉👈
btw, saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa, boleh singgah profile. terima kasih 🤭