⚠️⚠️
Bukan Cinta Yang Memiliki.
Tapi Obsesi Yang Menjerat.
⚠️⚠️
~•~
Aku bukan milikmu
tapi kamu tidak pernah melepaskanku.
- Disty -
Kamu milikku, dan tidak ada
yang berhak memilikimu selain aku.
- Javeno -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Pagi ini, sekolah di gempar kan dengan kedatangan murid baru yang sangat cantik.
Aurel tersenyum lebar saat melihat Javeno dan Disty yang baru saja sampai juga. Aurel segera mendekat dan menyapa Disty.
"Hai, kamu udah tau nama aku kemarin, tapi aku belum tau nama kamu. Bisa kita kenalan ulang?" tanya Aurel antusias mengulurkan tangannya pada Disty yang terdiam.
Namun tanpa sadar tubuhnya justru merespon dan menerima uluran tangan Aurel, membuat gadis itu semakin mengembangkan senyum.
"Aku Aurel," ucapnya memperkenalkan diri lagi walaupun kemarin sudah di kenalkan oleh Robert.
"Disty," sahut Disty tanpa sadar bicara dan mengulas senyum tipis.
"Woahhh Disty ngomong dan kenalan sama murid baru."
"Iya, bahkan Zayna dulu malah butuh waktu setahun loh, malah sekarang pertemanan mereka juga lagi nggak baik-baik aja."
"Kalau Zayna lihat ini gimana ya? Disty udah punya sahabat baru."
Mendengar bisik-bisik siswa lainnya membuat Disty tersadar dan melepas jabatan tangannya dengan Aurel.
"Zayna? Siapa? Temen kamu?" tanya Aurel bingung dengan bisik-bisik siswa itu.
Javeno segera menarik tangan Disty dan membawanya pergi secara kasar dari hadapan Aurel yang masih tampak bingung.
"Jav maaf, aku nggak sadar kalau aku ngomong tadi, aku...."
"Diam," sela Javeno dingin.
Disty menurut dan memejamkan mata sebentar menahan sakit di pergelangan tangannya yang di tarik kasar oleh Javeno.
"Bodoh Dis, harusnya lo jangan langgar larangan dia," batinnya.
"Disty sebentar, kamu ada di kelas berapa? Apa kita ada di satu kelas? Aku ada di IPA 2 sama kayak Javen, bahkan duduk bareng dia nanti, Om Robert udah atur itu kemarin malam," oceh Aurel yang mengejar keduanya.
Aurel berhenti saat Javeno dan Disty berhenti di depan lokal kelas IPS 5.
"Oh, kamu ada di kelas IPS, kita beda kelas dong," ucap Aurel tampak lesu.
Disty menatap pada Aurel, sebelum menatap Javeno yang baru saja bersuara.
"Masuk," titah Javeno.
Disty tidak mengangguk, tetapi ia juga langsung masuk dan duduk di tempat duduknya. Aurel menatap Javeno.
"Kamu kelihatannya galak banget ke Disty," ucapnya dengan berani menilai.
Javeno memberi tatapan tajam sebelum melangkah pergi masuk ke dalam kelasnya diikuti dengan Aurel. Kelas sudah ramai karena mereka hanya tinggal menunggu guru masuk.
"Kamu sama Disty sahabatan ya? Kata Om Robert kalian bersahabat kemarin, terus Disty juga numpang tinggal di rumah kamu karena dia punya masalah sama keluarganya," oceh Aurel setelah duduk di sebelah Javeno.
Yang Aurel tau memang seperti itu karena Robert tidak mengatakan yang sebenarnya pada Aurel tentang bagaimana Javeno yang mencintai Disty.
"Aku juga mau sahabatan sama Disty, dia keliatan nya baik, tapi kayaknya jarang ngomong ya, tapi pasti seru kalau...."
Brakk
Aurel diam saat Javeno menggebrak meja sekaligus menancapkan pulpen ke meja. Menatap takut pada Javeno yang memandang dingin.
"Diam atau gue rusak mulut lo pake pena ini," desis Javeno memberi ancaman.
Zayna terdiam ketakutan, dan memilih fokus pada guru yang mulai masuk dan mengajar. Hingga bel berbunyi, pertanda jam pelajaran sudah selesai dan di berikan waktu untuk istirahat.
Di kelas IPS 5.
Disty menatap dalam diam pada Zayna yang masih mencatat materi, istirahat sudah bunyi 2 menit lalu, tapi gadis itu belum selesai.
"Muka lo kelihatan pucat, Zay," batin Disty.
"Haii Disty!"
Disty menoleh kearah pintu, di mana Aurel yang melambaikan tangan dengan senyuman lebar. Bahkan Zayna pun juga menatap kearah pintu, lalu menatap sebentar pada Disty yang juga langsung menatapnya sebentar.
Zayna segera membereskan buku-buku nya dan berdiri, keluar dari kelas.
Aurel duduk di sebelah Disty setelah masuk. "Itu tadi yang namanya Zayna, 'kan? Aku nggak sengaja baca name tag nya tadi. Tapi kok dia langsung pergi? Kenapa kalian nggak ke kantin bareng? Atau emang bener kalau hubungan persahabatan kalian nggak baik-baik aja?" tanyanya.
Disty diam tanpa menjawab, lalu ia berdiri, keluar dari kelas dan menuju ke perpustakaan untuk belajar, selain itu untuk mencari ketenangan.
"Eh, kamu nggak ke kantin? Ayo ke kantin, aku lapar," ajak Aurel menarik tangan Disty.
Disty segera melepaskannya, menatap tajam pada Aurel sebelum ia pergi menuju ke taman. Mengganti tujuannya.
Aurel tidak mengikuti. "Kayaknya Disty bukan orang yang mudah di deketin deh. Huft, jangan buru-buru Rel, ke kantin sendiri aja," katanya dan pergi ke kantin seorang diri.
Disty sudah duduk di bangku taman, ia menghela napas. Memejamkan matanya setelah bersandar.
"Gue pengen ngobrol bareng lo dan duduk di kantin bareng lagi Zay, tapi kecewa gue masih ada, selain itu, gue juga jagain lo dari Javen. Kalau gue nekat deket lagi, yang ada Javen bakal lukai lo karena dia beneran marah sama kejadian seminggu lalu," batin Disty.
Disty menoleh saat merasa ada yang duduk di sebelahnya, ia merebahkan kepala saat orang itu adalah Javeno. Javeno yang langsung mengelus kepala Disty yang kembali memejamkan mata.
"Apa yang kamu pikirin?" tanya Javeno dingin.
Disty tidak ingin menjawabnya, jadi ia memilih memeluk Javeno. Dan Javeno sendiri juga tidak bertanya lebih lanjut, memilih ikut diam juga.