NovelToon NovelToon
Putri Titipan Mantan

Putri Titipan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Anak Genius / Duda
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Karita Ta

"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.

Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.

"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.

Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.

Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PTM | BAB 14

Begitu masuk ke ruang kerjanya, Dinda langsung menjatuhkan tubuh di kursi dengan napas berat. Kepalanya terasa pening.

Belum cukup dengan masalah rumah tangganya, kini kemunculan Raka justru membuat semuanya terasa semakin rumit.

Tok. Tok. Tok.

Suara pintu diketuk pelan.

“Masuk,” sahut Dinda tanpa semangat.

Bu Indri muncul dengan dua gelas minuman di tangannya. Begitu melihat wajah kacau asistennya, wanita itu langsung menghela napas kecil.

“Ribut lagi?”

Dinda mengusap wajahnya kasar.

“Capek, Bu.”

Bu Indri meletakkan minuman tersebut di meja, lalu duduk di hadapan Dinda.

“Tadi itu mantan kamu?” tanya Bu Indri dengan penuh kehati-hatian.

Pertanyaan tersebut membuat Dinda mengangguk pelan. “Iya, Bu. Dulu waktu kuliah.”

“Masih kontak?”

“Enggak.” Wanita itu menggeleng cepat. “Baru ketemu lagi hari ini.”

Bu Indri memperhatikan wajah Dinda beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum tipis.

“Dia masih perhatian sama kamu.” Seketika Dinda langsung mengalihkan pandangannya.

“Jangan bercanda, Bu.” Dinda mencoba mengelak.

“Ibu perempuan, Din. Jadi ibu tahu cara laki-laki lihat perempuan yang masih dia sayang.” Kalimat itu membuat Dinda terdiam.

Jujur saja, dirinya pun sempat merasa aneh melihat sikap Raka tadi. Pria itu terlihat terlalu nyaman berbicara dengannya, seolah jarak lima tahun di antara mereka tidak pernah ada.

“Sekarang saya nggak mau mikirin soal hubungan lagi, Bu.” lirih Dinda pelan. “Saya cuma pengen hidup tenang.”

Dan itu memang benar. Hatinya sudah terlalu lelah untuk kembali memulai sesuatu.

*****

Di sisi lain, Ervin melajukan mobilnya dengan emosi yang masih berantakan. Bayangan Raka bersama Dinda terus terputar di kepalanya.

Terutama saat melihat istrinya tersenyum pada pria lain.

Tangannya mengepal kuat di atas setir. “Sial...” makinya frustrasi. Baru kali ini ia merasakan ketakutan sebesar ini.

Takut Dinda benar-benar pergi. Takut wanita itu menemukan kebahagiaan bersama orang lain. Dan yang paling menyakitkan—Ervin sadar dirinya tidak lagi punya hak untuk melarang.

Ponselnya berdering.

Nama Jenita muncul lagi di layar.

Dengan kesal, pria itu langsung mengangkatnya menggunakan headset. “Ada apa?”

“Kak...” suara gadis itu terdengar pelan. “Bisa pulang cepet nggak?” di seberang sana, Jenita bisa tahu, pria itu sangat kesal kepadanya.

Dan terbukti, Ervin memijat pelipisnya ketika mendengar ucapan Jenita.

“Kenapa lagi?”

“Bayinya nangis terus dari tadi.”

Pria itu langsung menghela napas panjang.

“Ya udah.”

Sambungan telepon terputus. Namun semakin lama, Ervin merasa hidupnya semakin kacau.

Rumah tangganya hancur, Dinda menjauh, dan sekarang ia harus menghadapi kenyataan yang dulu justru menjadi sumber kesalahannya sendiri

*****

Malam harinya, Ervin tiba di apartemen tempat Jenita tinggal sementara. Begitu pintu terbuka, suara tangisan bayi langsung memenuhi telinganya.

“Kak...” Jenita terlihat panik sambil menggendong bayi mungil tersebut. “Dia dari tadi nggak berhenti nangis.”

Ervin langsung mendekat. Wajahnya masih terlihat lelah. “Udah dikasih susu?”

“Udah.” Jenita mengangguk sambari mengusap peluh di pelipisnya.

“Popok?”

“Udah juga.” Jawab si wanita dengan putus asa. Tangisan bayi itu justru semakin keras.

Untuk sesaat, Ervin hanya menatap anak kecil di hadapannya dengan bingung. Jujur saja, dirinya sama sekali belum siap menjadi seorang ayah.

Bahkan sampai sekarang pun, semuanya masih terasa tidak nyata.

“Kak...” panggil Jenita pelan.

“Hm?”

“Kakak nyesel punya anak ini?”

Deg.

Pertanyaan itu langsung membuat Ervin membeku. Sedangkan Jenita mulai menundukkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca.

“Aku tahu Kakak berubah sejak Kak Dinda pergi,” lirihnya. “Aku juga tahu Kakak sebenarnya lebih milih dia daripada aku.”

Hening, namun tangisan bayi masih terdengar memenuhi ruangan. Ervin justru merasa kepalanya semakin berat.

“Aku nggak pernah bilang nyesel sama anak ini,” jawabnya pelan.

“Tapi Kakak nyesel sama aku?” Lagi-lagi Ervin terdiam. Karena jauh di dalam hatinya—Jawabannya memang iya.

Pria itu menyesal telah membuka hubungan terlarang dengan Jenita.

Menyesal karena kelemahannya sendiri menghancurkan rumah tangga yang selama ini ia bangun bersama Dinda.

“Aku capek jadi orang jahat,” bisik Jenita tiba-tiba sambil menangis kecil. “Semua orang benci aku sekarang.”

Ervin memejamkan matanya perlahan.

“Termasuk Kakak?” Pertanyaan itu terasa begitu lirih. Namun cukup membuat dada Ervin terasa sesak.

Ia tidak membenci Jenita. Karena sebesar apapun kesalahan gadis itu, dirinya tetap pihak yang paling bertanggung jawab.

“Aku cuma benci diri aku sendiri,” jawabnya akhirnya. Dan kalimat itu sukses membuat suasana berubah semakin sunyi

*****

Sementara itu di rumah orang tuanya, Dinda masih terjaga meski waktu sudah hampir tengah malam. Wanita itu duduk di depan meja kecil kamarnya sambil menatap album foto lama.

Album masa kuliah.

Tangannya berhenti pada sebuah foto dirinya bersama Raka di acara wisuda. Mereka tersenyum begitu bahagia saat itu.

Dinda bahkan hampir lupa bahwa dulu dirinya pernah dicintai dengan begitu tulus oleh pria tersebut.

Tok. Tok.

Pintu kamarnya diketuk pelan, kemudian mulai didorong perlahan oleh seseorang. “Belum tidur?” tanya sang ibu yang masuk membawa sepiring buah.

Dinda tersenyum kecil.“Belum ngantuk, Buk."

Namun sang ibu justru memperhatikan album di tangan putrinya. “Itu mantan kamu dulu ya?” Dinda mengangguk pelan.

“Iya.”

“Masih ganteng ternyata.” Sontak Dinda terkekeh kecil mendengar komentar ibunya.

“Ibuk ini gimana sih.” Untuk sesaat, wanita itu terkekeh ringan karena ucapan sang ibu.

Namun, senyum kecil itu perlahan memudar ketika pikirannya kembali teringat Ervin. Mengingat semua kenangan mereka justru membuat dadanya terasa nyeri lagi.

“Aku masih sayang sama Mas Ervin, Buk...” lirihnya tiba-tiba. Sang ibu langsung menatap putrinya lembut.

“Tapi... aku juga sakit banget.”

Dan malam itu—Untuk pertama kalinya, Dinda benar-benar merasa berada di persimpangan hidupnya sendiri.

1
vita
jd penasaran apa yg d lakukan raka, apa berobat ya.
Happy Kids
pertanyaan macam apa ini
Happy Kids
inget bukkk.. yg bikin dinda gini ya anakmuuu.. gila ibuknya bener bener
Happy Kids
pret
Happy Kids
asli ni perempuan muna bgt. gatau malu.
Happy Kids
krn dirimu dah nemu yg baru wkwkkw jenita ups
Happy Kids
caper. aslinya bersorak soraii. orang kl emng nyesel nyakitin rumah tangga org lain hrs nya sadar diri. bukan malah living together 🤣 inimah nikmati aja dia alurnya 😅
Happy Kids
kasih tau tu anaknya. jgn kumpul kebo mulu
Happy Kids
apasiiii kepoo. bukan istri tp kaya nuntut laporan mulu. sbnernya dah niat bgt tu jenita ngerebut. tp sok sok an aku gamau nyakitin orang. hilih
Happy Kids
kan uda ada jenita yg masih kinyis kinyis trs kasih anak ke dia..
Happy Kids
kalau kaya gtu, dirimu yg semena mena dong wkwk slalu anggap bakal dimaafin mulu
Happy Kids
mreka tinggal bareng? kumpul kebo?
Happy Kids
munak aja ni anak org 🤣
Happy Kids
pulang? wajib bgt gtu? lagian ibu nya jenita katanya kecewa, tp dianya sendiri ngebiarin anaknya sering2 interaksi sama bojo orang 😅 pada ga punya pendirian dan prinsip. hrsnya dg gt dia ajak anaknya pulang dan awasi biar gausa aneh aneh. kl ngebiarin gini ya sama aja dia ga didik. pake sok sok an bilang gagal didik anak.
Happy Kids
anak org caper bgt
Happy Kids
nah mulai dia ga bisa lepas dr jenita. itulah. dahlah sama jenita aja
Happy Kids
katanya lelah nyakitin org. tp dianya nempelin ervin mulu dan berharap dicintai ervin. muna bgt dah
Happy Kids
punya otak? menurutmu?
vita
hanya bs kasih secangkir kopi n seiket bunga buat nemenin nulis ceritanya 💪💪💪💪
Karita Ta: Hai kaak vitaa, salam kenal dari karitaa yaa. Terimakasih sudah menyempatkan mampir dan tinggalkan jejaknya. Semoga hari-harimu menyenangkan yaa 😍🫰
total 1 replies
vita
sll suka sama ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!