NovelToon NovelToon
Istri Bisu Pilihan Ibu

Istri Bisu Pilihan Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pembantu / Orang Disabilitas / Cinta setelah menikah / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

​Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.

​Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pindah Rumah

Perjalanan panjang menuju rumah Ezra akhirnya berakhir saat mobil yang dikendarai Ezra akhirnya memasuki pekarangan sebuah hunian mewah. Rumah itu berdiri megah dengan hiasan tanaman bougenville merah yang merambat cantik di dinding.

Begitu mesin mobil mati, Ezra tidak membuang waktu. Ia segera melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Azizah sendirian di kursi belakang.

Azizah masih terpaku, ia tidak langsung beranjak. Matanya masih sembab karena sisa-sisa air mata yang jatuh saat perpisahan dengan Laksmi di villa tadi. Kepergian neneknya kembali ke desa terasa seperti mencabut satu-satunya jangkar yang ia miliki di dunia ini.

Tatapan Azizah kemudian beralih pada rumah megah di depannya lewat kaca jendela mobil. Ia tahu, di balik bangunan itu, tidak akan ada kehangatan yang menantinya.

Namun Azizah tidak menyerah begitu saja. Dengan mantap, ia akhirnya membuka pintu mobil, lalu membuka bagasi mobil dan menarik kopernya keluar. Ia menyeret beban bawaan itu masuk ke dalam rumah. Begitu masuk, suasana yang menyambutnya justru jauh dari kesan dingin dan kaku yang ia bayangkan. Sebuah ruang tamu yang terasa begitu nyaman dan hangat langsung menjadi pusat perhatiannya.

Azizah mengedarkan pandangan ke sekeliling. Rumah Ezra didominasi oleh perpaduan warna hijau tua dan putih dengan sentuhan furnitur kayu gelap yang memberikan kesan klasik namun santai. Suasana di rumah itu terasa sangat berbeda dengan kemewahan glamour di kediaman Amisha. Entah kenapa, rumah Ezra lebih terasa seperti tempat untuk benar-benar beristirahat.

Azizah berhenti sejenak di depan sofa empuk ruang tamu lalu menyentuh bantal-bantal hijau yang serasi dengan aksen ruangan. Di rumah itu, ia merasa benar-benar sendiri. Tidak ada Laksmi, tidak ada keramaian keluarga Amisha. Yang ada hanya ia dan bayang-bayang Ezra yang seolah bersembunyi di balik dinding-dinding rumah itu.

Ia pun membiarkan kopernya tergeletak begitu saja di lantai ruang tamu, lalu mulai melangkah mengelilingi rumah itu.

Sepi.

Tidak ada tanda-tanda keberadaan Ezra atau satu pun asisten rumah tangga yang sibuk di rumah orang kaya seperti ini.

Azizah terus melangkah dan meninggalkan ruang tamu menuju koridor di sisi kanan rumah. Rasa penasaran membawanya menjelajahi setiap sudut hingga ia sampai di sebuah ruangan yang diberi sekat kaca dengan bingkai hijau. Di dalamnya, dapur dan meja makan digabung menjadi satu.

Ia berhenti di depan meja makan, lalu menyentuh kelopak bunga segar yang tertata cantik di dalam vas kaca. Sambil membelai lembut bunganya, mata Azizah memerhatikan kondisi dapur yang begitu bersih dan tertata rapi.

‘Apa dia begitu suka bunga?’ batin Azizah bertanya-tanya.

Sejak ia menginjakkan kaki di rumah itu, Azizah memang menyadari kehadiran banyak bunga segar di berbagai sudut ruangan. Hal itu tentu terasa ganjil baginya, mengingat sosok Ezra yang selama ini ia tahu sebagai pria yang dingin, kasar, dan penuh amarah. Apalagi bunga-bunga itu tampak begitu terawat. Seperti ada tangan yang rutin mengganti air dan memangkas tangkainya agar tetap mekar sempurna.

Azizah kemudian beralih ke koridor kiri rumah. Di sana, sebuah tangga kayu membentang dan menghubungkan lantai dasar dengan lantai dua.

Azizah mendongakkan kepala dan mengintip keadaan di atas sana. Ia sempat terpikir kalau Ezra ada di lantai atas. Namun tidak ada suara apa pun yang terdengar dari arah lantai dua.

Tatapan Azizah kemudian teralih pada sudut ruangan di bawah tangga. Di mana area itu ditata dengan baik. Lengkap dengan sofa dan meja untuk bersantai.

Azizah membayangkan betapa tenangnya duduk di sofa itu. Mungkin sambil membaca buku atau sekadar melamun di tengah rumah yang terasa begitu luas bagi dirinya seorang diri.

Langkah Azizah tidak berhenti begitu saja. Tatapannya kemudian tertuju pada koridor yang berseberangan dengan tangga itu. Setelah melintasi lorong, ia tiba di sebuah ruang keluarga yang tertata cantik.

Di salah satu sisi, terdapat lemari pajang yang berisi koleksi hiasan. Sementara di dinding lainnya, diisi sebuah televisi yang terpasang rapi.

“Wanita bisu! Di mana kau?!”

Suara yang menggelegar itu berhasil membuat Azizah tersentak. Ia pun segera berlari kecil kembali menuju ruang tamu. Di sana, Ezra sudah berdiri dengan raut wajah memerah dengan ponsel retaknya yang digenggam erat.

“Cepat katakan pada Mamaku untuk mengembalikan Mbak Ida!” seru Ezra dengan napas memburu.

Azizah mengernyitkan dahi. Ia bingung. Siapa itu Mbak Ida? Ia sama sekali tidak mengenalnya.

“Astaga, aku lupa kalau kau bisu,” ucap Ezra dengan nada meremehkan. Ia kembali menempelkan ponsel ke telinganya, “Ma... mana mungkin aku mengurus rumah sebesar ini tanpa Mbak Ida? Aku sangat membutuhkannya!”

Ezra terdiam, mendengarkan jawaban dari ujung telepon. Wajahnya semakin masam.

“Tapi, Ma...”

Tut... Tut... Tut...

“Sial!” Umpat Ezra. Ia kemudian menatap Azizah dengan tatapan tajam dan penuh kebencian, “Gara-gara kau, Mama memberhentikan Mbak Ida! Sekarang, kau yang menjadi pembantu di rumah ini!”

Azizah merasakan dadanya sesak, namun ia tidak ingin tunduk begitu saja. Ia mengeluarkan ponsel dari tas selempang sederhananya dan mengetik dengan cepat.

‘Tidak tepat kau menyebutku sebagai pembantu. Aku sudah menjadi istrimu, jadi untuk mengurus rumah ini sudah menjadi tanggung jawabku.’

Ezra tersenyum miring yang tampak jelas seperti hinaan, “Pembantu tetaplah pembantu. Darah pembantu yang mengalir dalam tubuhmu tidak akan pernah hilang!”

Azizah tidak membiarkan hinaan itu berlalu. Ia kembali mengetik.

‘Aku bahkan baru bekerja beberapa hari di rumah Mamamu.’

“Terserah!” sentak Ezra, “Lagipula, dalam beberapa hari kau bekerja di sana, kau ternyata pandai juga dalam menjebak Mamaku dalam kebaikan palsumu itu. Kau pasti dari awal berniat mengincar keluarga kaya seperti keluargaku untuk menjadi menantu dan menguras hartaku.”

Astaghfirullahalazim, batin Azizah, ia memejamkan mata sejenak untuk menguatkan hatinya.

“Kau memang hebat, Azizah. Bahkan aktor film pun kalah dengan sandiwara palsumu itu,” ejek Ezra lagi.

Azizah lagi-lagi mengetik dengan tegas dan penuh penekanan.

‘Aku sama sekali tidak peduli kau menganggapku apa. Tapi ini semua demi Mamamu. Kau pikir aku mau menikah dengan pria kosong sepertimu? Tidak! Hanya karena kesehatan Mamamu, aku melakukannya, karena dia begitu baik padaku. Jika kau berharap aku menangis karena perlakuan buruk atau kata-kata kasar darimu, maka berkhayalah! Karena kau tidak akan pernah melihat air mata mahalku!’

“Kau!” Ezra melangkah maju, siap meledak.

Namun, Azizah sudah mengetik kalimat selanjutnya.

‘Prinsipku adalah menikah sekali dalam hidup. Maka aku akan mempertahankan pernikahan ini. Aku juga akan bersikap layaknya istri untukmu. Kau juga harusnya sadar mana kewajiban yang harus kau lakukan sebagai seorang suami.’

Ezra menggeleng tidak percaya. Ia tertawa sinis, “Selamanya, kau tidak akan pernah menjadi istriku.” Tekannya sambil menghunus tatapan tajam pada Azizah. Ia kemudian menunjuk ke arah koridor kanan yang berdekatan dengan dapur, “Tempatmu di sana! Di kamar pembantu! Aku tidak sudi satu kamar denganmu!”

Setelah mengatakan itu, Ezra melangkah keluar dengan penuh amarah. Azizah membalikkan badan, menatap dari balik jendela saat mobil Ezra melesat pergi meninggalkan pekarangan.

Begitu deru mesin mobil menghilang, Azizah tidak lagi mampu menahan tubuhnya. Ia terduduk lemas di sofa. Tenaganya seolah tersedot habis oleh luapan amarah Ezra. Walaupun hatinya perih, ia berjanji untuk tetap berani. Ia tidak akan membiarkan pria itu merendahkannya lebih jauh lagi.

Drrt.. drrt..

Ponsel di genggaman Azizah bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor asing.

‘Hai, Azizah sayang. Ini Mama, Nak. Aku mendapatkan nomormu dari Dewi. Mulai sekarang kalau ada apa-apa hubungi Mama lewat nomor ini. Oh ya, Mama yang menyuruh Mbak Ida pindah ke rumah Mama agar kau dan Ezra semakin dekat di rumah itu. Mama juga mengirim nomor Ezra di bawah pesan ini. Anak itu pasti tidak memberi nomornya padamu.

Semangat ya, Nak. Mama mendukungmu.’

Azizah menghela napas panjang setelah membaca isi pesan itu. Ternyata, kepergian Mbak Ida adalah skenario yang sengaja dirancang oleh Amisha. Dengan perasaan yang campur aduk, ia akhirnya berdiri dan menyeret kopernya menuju ruangan yang ditunjuk Ezra sebelumnya.

Begitu pintu terbuka, Azizah terpaku sejenak. Di hadapannya tersaji sebuah kamar yang baginya tampak cukup mewah. Meskipun masih terlihat beberapa tumpukan barang milik wanita di meja dekat jendela, Azizah merasa tidak keberatan sedikit pun. Kamar itu bahkan jauh lebih luas dibandingkan ruang tamu di rumahnya.

Jika kamar asisten rumah tangga saja sudah sebagus ini, Azizah membayangkan betapa jauh lebih indahnya kamar-kamar lain di rumah megah itu. Ia melangkah masuk, membiarkan keindahan ruangan itu sedikit mengobati rasa lelah setelah perdebatan sengit dengan sang suami beberapa saat yang lalu.

1
Maulidia Okta
ah.... Melow Ya Thor...
Maulidia Okta
jadi ikut mewek /Sob/
Lilik Juhariah
bismillah moga Ezra menerima pernikahan yg yg menyebut nama Allah dan disaksikan para Malaikat, lelaki sejati adalah lelaki yg tak pernah ingkar janji
falea sezi
bkin pergi aja dah males bgt di injak2 terus
falea sezi
buat si bisu di sukain cogan lain😒 biar dia cmburu
falea sezi
laki sialannn😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!