NovelToon NovelToon
Villain & Villainess

Villain & Villainess

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hyacinthus Rainwood

Autumn Isabella, dua puluh dua tahun, memiliki profesi sebagai dokter hewan dan merupakan seorang ahli botani, dibunuh secara brutal oleh tunangannya yang berselingkuh.

Jasper Herasio, dua puluh enam tahun, seorang CEO yang tewas di tangan adik laki-lakinya karena masalah hak waris.

Keduanya, dalam takdir yang saling terikat, terlahir kembali di dalam sebuah novel yang berjudul "Enchanted Rose". Autumn, menjadi villainess utama dalam cerita: Amorette Ysandre Elowen. Jasper, menjadi villain utama dalam cerita: Algernon Leandor Remington.

Pertemuan dari takdir itu memaksa mereka untuk bertahan hidup bersama, sekaligus mengungkap kebusukan para tokoh utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18: Emberblossom Cookies

Hari Vane, atau hari Selasa, matahari baru saja naik tinggi di ufuk timur, namun Amorette sudah sibuk berkutat di bagian dapur khusus yang disediakan untuk anggota keluarga kerajaan.

Ruangan itu luas, bersih, dan berbau rempah segar, tempat di mana Amorette dan Esther berdiri di depan meja marmer lebar. Lengan baju Amorette digulung hingga ke siku, rambutnya diikat rapi ke belakang, dan tangannya kini bergerak sigap mengadon adonan tepung yang mulai terasa kenyal dan hampir kalis.

Di hadapannya, terdapat mangkuk kecil berisi cairan berwarna oranye kemerahan yang memancarkan aroma manis bercampur rasa hangat yang khas. Itulah ekstrak dari Emberblossom, bunga langka yang hanya tumbuh di sekitar kawasan pegunungan berapi. Tanaman ini memiliki sifat alami yang selalu hangat, dan khasiatnya sangat ampuh untuk menyembuhkan penyakit akibat hawa dingin ekstrem atau tubuh yang mengalami pembekuan. Musim dingin tinggal menghitung hari, dan Amorette tahu betul, produk ini akan menjadi barang paling dicari oleh rakyat maupun kaum bangsawan.

"Rasanya sedikit mirip buah anggur, tapi ada semburat rasa persik yang manis dan lembut di ujung lidah," gumam Amorette sambil mencicipi sedikit cairan itu dengan ujung sendok. "Sempurna. Rasa manisnya pas, dan efek hangatnya akan membuat siapa saja yang memakainya merasa nyaman seharian. Jika resep kukis ini berhasil, aku akan mengajukan izin untuk membudidayakan tanaman ini di kebun khusus kerajaan. Dengan pengetahuan botani yang aku miliki, aku yakin bisa menumbuhkannya bahkan di iklim yang tidak mendukung sekalipun."

Esther tersenyum lebar sambil menyerahkan cetakan kue. "Anda hebat sekali, Yang Mulia. Ini bukan sekadar makanan lezat, tapi ini adalah obat yang dikemas dalam bentuk camilan. Nanti Pangeran Algernon pasti sangat senang mendengarnya."

Namun, ketenangan dan suasana kerja yang nyaman itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berirama namun terdengar tidak sabar terdengar mendekat. Pintu dapur didorong terbuka kasar, dan tampaklah Elarise berdiri di sana mengenakan gaun sutra berwarna merah muda yang mencolok, wajahnya memasang ekspresi ingin tahu yang dipenuhi rasa iri.

"Jadi ini tempatnya... Kakakku tersayang sedang melakukan pekerjaan rendahan seperti biasa," ucap Elarise dengan nada manja namun penuh sindiran, berjalan masuk dan melihat-lihat barang di atas meja dengan pandangan meremehkan. "Kenapa tidak biarkan saja pelayan yang mengerjakannya? Kau kan seorang Putri, bukan juru masak."

Amorette tidak berhenti menguleni adonan, ia bahkan tidak menoleh sedikit pun. "Aku melakukan ini karena aku suka, dan ini bermanfaat. Jika kau tidak ada keperluan, Elarise, sebaiknya keluar. Tempat ini kotor dan tidak pantas untuk gaun mahalmu itu."

Elarise menghentakkan kakinya pelan, kesal karena diacuhkan. Ia berjalan mengelilingi meja, menyentuh wadah-wadah bahan baku dengan sembarangan hingga membuat Esther gelisah takut bahan-bahan itu tumpah.

"Apa ini? Kue apa yang sedang kau buat? Apa kau berniat memberikannya pada anjing jalanan? Atau... kau berniat meracuni seseorang dengan campuran tanaman aneh ini?" Elarise mengambil botol berisi ekstrak Emberblossom itu, memainkannya dengan tangan, seolah hendak menjatuhkannya.

Astaga, sifat aslinya keluar juga.

"Letakkan, Elarise. Itu bahan yang mahal dan langka," tegur Amorette dingin, berhenti bekerja dan menatap tajam adiknya.

"Ah, galak sekali. Aku hanya ingin melihat saja," cibir Elarise, lalu meletakkan botol itu kembali dengan kasar. Matanya kemudian tertuju pada pisau dapur tajam yang tergeletak di dekat talenan, tempat Esther baru saja memotong buah kering. Sebuah kilatan jahat melintas di manik mata Elarise. Ia tahu betul, hari ini Raja dan Ratu sedang berkeliling di sayap timur, tidak jauh dari sini. Dan ia masih ingat betul rasa malunya tempo hari. Ia harus membalasnya.

Dengan gerakan sangat cepat dan tak terduga, Elarise menyambar pisau itu sendiri. Sebelum Amorette dan Esther sempat bereaksi, Elarise menarik ujung gaunnya sendiri ke atas, lalu...

SRETT!

Darah segar seketika mengucur deras. Elarise telah menusuk pahanya sendiri cukup dalam menggunakan pisau itu, lalu dengan sigap dan cepat, ia memindahkan gagang pisau itu ke tangan Amorette yang masih kaku karena kaget.

"AAAAAA!!! SAKIT!!! KAK AMORETTE, KENAPA KAU MELAKUKANNYA PADAKU?!"

Elarise berteriak histeris sekuat tenaganya sambil jatuh berlutut ke lantai, darah merembes membasahi lantai keramik putih yang bersih. Esther menjerit kaget, sementara Amorette berdiri mematung, tangannya masih memegang pisau yang kini berlumuran darah, tatapannya tak percaya melihat drama gila yang baru saja terjadi.

"Kenapa kau membenciku sebesar ini?! Aku hanya ingin melihat saja... kenapa kau menusukku?!" Elarise terus berteriak, air mata mengalir deras, suaranya bergema ke seluruh lorong istana.

Tidak butuh waktu lama. Beberapa pengawal berlarian masuk, diikuti oleh Raja Julius, Ratu Mirelle, dan beberapa pelayan yang wajahnya pucat ketakutan. Pemandangan yang mereka lihat begitu jelas dan "nyata". Elarise terluka parah berdarah-darah di lantai, Amorette berdiri di dekatnya memegang pisau berdarah, dan Esther yang gemetar ketakutan.

"Amorette! Apa yang kau lakukan?!" bentak Ratu Mirelle histeris, langsung berlari memeluk Elarise yang merintih kesakitan. "Anak jahat! Kau benar-benar berniat membunuh adikmu sendiri?!"

Raja Julius berdiri di ambang pintu, wajahnya merah padam menahan amarah, namun ia belum berbicara. Ia menatap Amorette lekat-lekat.

"Bawa dia ke ruang sidang! Sekarang juga!" perintah Ratu Mirelle, sambil memerintahkan tabib untuk mengobati luka anaknya.

Di ruang sidang keluarga lagi-lagi Amorette berdiri sendirian di tengah ruangan. Kali ini bukti tampak begitu nyata. Pisau ada di tangannya, luka Elarise cukup dalam, dan saksi mata hanya ada Esther yang dianggap pelayan dan suaranya tidak sebanding dengan putri kerajaan.

"Jelaskan! Jelaskan padaku, Amorette! Kenapa kau melukai Elarise? Kenapa kau berbuat kejam sekali?!" Raja Julius akhirnya bersuara, suaranya berat dan kecewa.

Elarise yang duduk di kursi dengan kaki dibalut perban, terisik-isik di pelukan ibunya. "Ayahanda... aku hanya... aku hanya ingin melihat apa yang Kak Amorette buat. Aku tidak bermaksud buruk... tapi dia marah, dia bilang aku mengganggu, lalu dia langsung menusukku... Sakit, Ayah, sakit sekali..."

Ratu Mirelle menatap tajam ke arah Amorette. "Sudah jelas semuanya. Dia memang memiliki hati yang jahat. Seperti dulu, dia selalu ingin menyakiti Elarise. Hukumlah dia dengan berat, Baginda. Dia berbahaya!"

Namun, Amorette tetap berdiri tenang. Ia tidak gemetar, tidak menangis, dan tidak membela diri dengan teriak-teriak. Ia menatap lurus ke arah Raja Julius.

"Ayahanda, apakah Ayah percaya pada bukti yang dilihat mata saja? Atau Ayah percaya pada fakta dan akal sehat?" suaranya jernih dan tenang.

"Bukti sudah sangat jelas, Amorette!" potong Ratu Mirelle.

"Belum jelas, Ibu Ratu," jawab Amorette tegas. "Lihatlah tangan saya, Ayah." Ia mengangkat kedua tangannya. "Lihat, telapak tanganku penuh dengan sisa tepung dan minyak adonan. Kuku-kukuku ada noda ekstrak tanaman Emberblossom. Saya sedang membuat resep makanan, Ayah. Saya sedang bekerja untuk rakyat dan kerajaan. Kenapa saya harus berhenti, mengambil pisau, dan menusuknya? Apa untungnya bagi saya? Saat ini nama baik saya sedang naik, reputasi saya sedang dibangun indah. Kenapa saya harus merusak semuanya hanya karena melukai dia di tempat terbuka dengan banyak saksi?"

Amorette melangkah maju sedikit.

"Dan satu hal lagi, Ayahanda... Apakah Ayah lupa apa yang baru saja terjadi kemarin? Atau lusa? Elarise datang mengadu bahwa saya mempermalukannya di pesta teh, padahal kenyataannya dia yang malu sendiri dan berbohong pada Kak Cornelius. Hari ini, cerita dia sama persis: saya yang salah, saya yang jahat, dia yang korban. Berapa kali lagi Ayah akan percaya pada air matanya sebelum percaya pada bukti logika? Luka tusuk itu cukup dalam, Ayah. Jika saya menusuknya dengan kekuatan penuh seperti yang dia katakan, darah pasti akan memercik ke gaun saya atau wajah saya. Lihatlah saya... tidak ada setitik pun darah di baju saya. Semua darah ada di lantai dan di gaunnya saja."

Raja Julius terdiam. Kata-kata itu masuk akal. Sangat masuk akal. Ia teringat kejadian beberapa hari lalu, di mana ia sendiri yang membuktikan bahwa Elarise berbohong dan memutarbalikkan fakta. Kepercayaannya pada Elarise sudah retak, sementara kepercayaannya pada Amorette semakin kokoh karena prestasi dan kejujurannya.

"Elarise... benarkah apa yang dikatakan kakakmu ini?" tanya Raja Julius dingin.

Elarise menatap mata ayahnya yang tajam, dan rasa takut mulai menyusup. Ia tahu, ayahnya mulai meragukannya.

"Ak-Aku... tidak tahu... dia pasti membersihkan darahnya..." gumam Elarise tak berdaya.

"Cukup," potong Raja Julius. Ia berdiri dan menunjuk ke arah pintu. "Berdasarkan fakta dan rekam jejak terakhir, aku lebih percaya pada Amorette. Dia sedang bekerja untuk kerajaan, dia punya tujuan jelas, dan dia tidak punya alasan untuk melukaimu. Sebaliknya, kau Elarise... kau sudah terbuka pernah memutarbalikkan kebenaran. Luka di kakimu itu mungkin menyakitkan, tapi aku yakin itu bukan ulah Amorette. Mungkin kau tidak sengaja melukai dirimu sendiri saat bergerak tiba-tiba."

"Tapi Baginda!" seru Ratu Mirelle.

"Aku tidak ingin mendebat ini lagi! Amorette tidak bersalah. Dia boleh pergi dan melanjutkan pekerjaannya. Elarise, kau beristirahatlah di kamarmu, dan berhenti membuat masalah di dapur!" perintah Raja Julius tegas.

Amorette membungkuk hormat, menatap Elarise dan Ratu Mirelle sekilas dengan tatapan yang berkata: "Kalian kalah lagi," lalu ia berbalik pergi dengan anggun, kembali ke dapur seolah tidak ada hal buruk yang baru saja terjadi.

Kembali di dapur, Amorette mencuci tangannya dan menenangkan Esther yang masih gemetar ketakutan.

"Jangan khawatir, Esther. Mereka tidak bisa melukaiku lagi dengan cara seperti itu. Sekarang, mari kita selesaikan kue ini," ucap Amorette semangat kembali.

Ia melanjutkan pekerjaannya. Adonan kukis yang telah dibentuk dimasukkan ke dalam alat pemanggang sihir agar matang merata dan cepat. Tak lama kemudian, aroma harum semerbak memenuhi ruangan—aroma manis yang bercampur wangi hangat yang menenangkan hati.

Saat kukis itu matang sempurna, Amorette mencicipinya. Rasanya lezat sekali. Teksturnya renyah namun lembut di dalam, rasa manis buah anggur dan persik dari Emberblossom sangat pas, dan efek hangatnya langsung terasa menyebar ke seluruh tubuh begitu masuk ke kerongkongan.

"Enak sekali, Yang Mulia! Dan rasanya hangat sekali," puji Esther sambil tersenyum lebar.

Amorette mengangguk puas. Langkah selanjutnya adalah menemukan cara agar kue ini bisa tahan lama, mengingat produk ini akan dijual dan dikirim ke berbagai tempat. Ia kemudian memikirkan komposisi gula dan sifat alami tanaman Emberblossom yang anti-bakteri alami karena panasnya. Ia menambahkan sedikit madu murni dan teknik pengemasan kedap udara menggunakan sihir penyegel sederhana. Dengan begitu, kukis ini bisa bertahan segar hingga dua bulan lamanya.

...***...

Malam harinya, saat makan malam keluarga kembali diselenggarakan, Amorette membawa sekeranjang kecil berisi kukis Emberblossom yang dibungkus indah. Ia meletakkannya di tengah meja makan.

"Ayahanda, Ibundanda, ini adalah hasil kerja saya hari ini. Kukis Emberblossom. Makanan ringan yang lezat sekaligus obat pencegah penyakit dingin. Saya persembahkan untuk keluarga," ucap Amorette sopan.

Raja Julius langsung mengambil satu potong dan memakannya. Begitu ia mengunyah, matanya membelalak kaget lalu berbinar senang.

"Wah! Luar biasa! Rasanya manis dan unik, tapi... lihatlah, dadaku terasa hangat dan nyaman sekali. Rasanya seolah-olah baru saja minum sup hangat yang sangat bergizi!" Raja Julius memakan potongan kedua dengan cepat. "Amorette, kau jenius! Ini sangat lezat, dan khasiatnya nyata! Kau benar-benar menciptakan sesuatu yang hebat. Aku bangga padamu, sangat bangga! Mulai sekarang, kue ini harus tersedia di meja makan kita setiap hari, dan segera kirim contohnya ke para pejabat tinggi. Ini prestasi luar biasa!"

Pujian itu mengalir deras tanpa henti dari mulut Raja.

Di sisi lain meja, Ratu Mirelle dan Elarise juga mencicipinya karena terpaksa. Rasa kue itu memang lezat, bahkan sangat enak hingga mereka hampir tidak percaya buatan Amorette. Namun, mendengar pujian sang Raja yang begitu meluap-luap, kue yang ada di mulut mereka terasa pahit dan menjijikkan. Mereka menelan makanan itu dengan susah payah sambil tersenyum kaku.

Dasar pembual. Pasti dia meminta bantuan koki istana. Dia tidak mungkin sehebat itu, batin Ratu Mirelle mencibir dalam hati.

Enak sekali... sialan! Kenapa dia bisa membuat hal seindah ini?! Kenapa Ayah memujinya terus-menerus?! Dia hanya pembuat kue rendahan! Elarise menggertakkan giginya di balik senyum manisnya.

Mereka berdua duduk diam, mendengarkan Raja Julius terus-menerus membanggakan kecerdasan dan kehebatan Amorette sepanjang makan malam, sementara Amorette hanya duduk tenang dengan senyum puas, menikmati kemenangannya yang manis—persis seperti rasa kukis buatannya.

1
Agus Hidayat
rambutnya Amorette sebenarnya warna pirang apa hitam kok selalu berubah?
cynth: Kayaknya lupa kuubah deh. Seharusnya itu pirang (walau rencana awalnya hitam biar senada sama warna matanya). Terima kasih ralatnya ya, Kak (^-^)/
total 1 replies
kitty ❤
seru thor, lanjutkan 😍🔥
cynth: Thank you Kak (*^^*)
total 1 replies
MayAyunda
keren👍👍
cynth: Terima kasih udah mampir <3!
total 1 replies
cila_aa
baguss banget kak next nunggu chapter selanjutnyaa
cynth: Makasih udah mampir, Kak <3
total 1 replies
Sahabat Oleng
Keren 👍
cynth: Makasih Kak <3
total 1 replies
lidiaaa
semangat Kaa, ceritanya seru
cynth: Makasih Kak <3
total 1 replies
Davina Aurora
menarik ceritanya😍
cynth: Makasih Kak <3
total 1 replies
4revenge
hanssssss
4revenge
ini ni 😍
4revenge
seru padahal baru baca awal awal.
NonaMudaDesi
Kayaknya bagus nih cerita, konspenya kuereennn, tetep semangat kakk, aku mau nabung episode duku
cynth: Hai! Makasih banyak udah mampir <3
total 1 replies
Cattygril
semangat thor
Cattygril: sama-sama👌☺
total 2 replies
T28J
anggur sianida
T28J
kutu kupret juga si hans nih /Angry/
T28J
main catur saja biar akur kak 😂
MayAyunda
keren 👍👍
cynth: Terima kasih <3
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!