NovelToon NovelToon
JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB : RUANG SEMPIT RERUNTUHAN

Gemuruh mengerikan yang memecah keheningan gua itu perlahan-lahan mereda, digantikan oleh suara rontokan kerikil kecil yang bergesekan dengan lantai batu. Kegelapan total seketika menyergap, pekat dan mencekam, setelah bebatuan raksasa dari langit-langit runtuh akibat gempa magis utara, menutup rapat satu-satunya celah jalan keluar menuju dunia luar Lembah Shrouded. Udara di dalam ruangan yang tersekap itu mendadak menjadi sangat pengap, dipenuhi oleh debu tebal sisa reruntuhan yang membuat setiap tarikan napas terasa seperti bara api yang menyengat paru-paru.

Di sudut terdalam ruangan, Dion masih mendekap tubuh Mayang dengan sangat erat. Pria itu menjadikan punggung tegapnya sendiri sebagai perisai baja, melindungi wanita itu dari hantaman bongkahan batu yang sempat melesat liar beberapa saat lalu.

"Mayang... kamu bisa mendengarku?" bisik Dion, suara baritonnya yang berat bergema rendah di dekat telinga Mayang, bergetar bersama helaan napasnya yang memburu.

Mayang tidak langsung menjawab. Wanita itu mencengkeram kemeja tenun Dion dengan kedua tangan kurusnya yang masih gemetar hebat akibat sisa hisapan sihir dari rantai asap hitam tadi. Dadanya naik turun dengan ritme yang tidak beraturan. Ketakutan akan kegelapan yang menekan dari segala sisi sempat membuat jiwanya goyah, namun kehangatan dari dada bidang Dion yang menempel lekat pada tubuhnya perlahan menjadi satu-satunya jangkar waras yang ia miliki saat ini.

"D-Dion... aku di sini," jawab Mayang lirih, suaranya nyaris teredam oleh kesunyian yang mencekam. "Aku tidak apa-apa... hanya saja, udaranya... udaranya semakin menipis."

Dion melepaskan dekapannya perlahan, namun kedua tangan besarnya tetap bertumpu pada bahu Mayang, memastikan wanita itu tidak jatuh terjerembab di dalam kegelapan yang buta. Sepasang mata elang Dion mencoba menembus kepekatan udara, namun nihil. Tanpa pasokan cahaya sedikit pun, indera penglihatannya yang tajam sekalipun tidak mampu menangkap apa pun.

Pria itu menarik napas dalam-dalam, mencoba memanggil kembali esensi sihir di dalam nadinya. Tato naga di sepanjang punggung Dion mulai berpendar samar. Detik berikutnya, partikel kabut perak yang kini telah bercampur dengan pendar cahaya ungu murni mulai keluar dari pori-pori kulit tangannya, menerangi area di sekitar mereka dengan cahaya remang-remang yang eksotis.

Di bawah pendar cahaya ungu yang magis itu, wajah cantik Mayang tampak pias, dengan bulir-bulir keringat dingin yang membasahi kening dan leher jenjangnya. Pakaian biru lautnya ternoda oleh debu-debu abu-abu, namun hal itu sama sekali tidak mengurangi daya pikat keanggunannya yang intens di mata Dion.

"Kita terkurung," ucap Dion pendek, matanya beralih menatap tumpukan batu raksasa yang kini telah menggunung di depan lorong pintu masuk gua. "Runtuhannya terlalu masif. Jika aku memaksakan diri menggunakan pukulan naga untuk menghancurkan batu-batu ini dari dalam, getarannya justru akan meruntuhkan seluruh langit-langit gua dan menimbun kita hidup-hidup."

Mayang melangkah mendekati tumpukan batu tersebut, menyentuh salah satu permukaannya yang kasar dengan ujung jemarinya. Sebagai seorang tabib yang peka terhadap energi alam, ia bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada runtuhan ini. "Ini bukan gempa bumi biasa, Dion. Ada sisa residu sihir kutukan yang mengalir di balik sela-sela batu ini. Sinyal yang dikirim oleh pria tua tadi... sepertinya langsung mengaktifkan segel pengunci dari jarak jauh."

Dion berjalan mendekat, berdiri tepat di belakang Mayang hingga aroma maskulin kayu pinus dan mint dari tubuhnya kembali menyelimuti wanita itu, memberikan rasa aman yang posesif. "Artinya, Sekte Bayangan Darah tidak ingin aku keluar dari gua ini hidup-hidup sebelum mereka tiba untuk menjemput kekuatanku."

Rahang Dion mengeras sempurna. Sifat dominan dan harga dirinya sebagai pemburu nomor satu klan terusik hebat. Ia tidak suka terjebak seperti binatang buruan di dalam kandang. Namun, melihat tubuh Mayang yang masih lemas di hadapannya, ia tahu ia harus menekan amarahnya egoisnya. Keselamatan Mayang adalah prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar dengan apa pun.

Mereka mulai berjalan menyusuri sudut-sudut gua yang tersisa, mencari apakah ada celah atau terowongan air kuno yang bisa membawa mereka keluar. Pendar kabut ungu dari tangan Dion menjadi satu-satunya pemandu jalan di tengah keheningan yang semakin menekan batin.

Langkah kaki mereka membawa mereka kembali ke area altar pemujaan Gorgan yang telah hancur. Di sana, mayat pria tua bermata satu yang tewas bunuh diri tadi tergeletak kaku. Darah hitamnya yang membeku di atas batu tampak mengeluarkan aroma busuk yang aneh.

Namun, perhatian Mayang mendadak teralih pada bagian belakang dinding altar yang retak akibat hantaman energi kristal sebelumnya. Di balik lapisan batu pembatas yang pecah, tampak sebuah celah lorong baru yang mengarah lurus ke bawah, menuju ke dalam perut bumi yang lebih dalam.

"Dion, lihat ke bawah sana," tunjuk Mayang, tubuhnya sedikit merapat ke tubuh Dion saat merasakan hawa dingin yang luar biasa pekat berhembus keluar dari dalam lorong tersembunyi itu.

Dion mengarahkan tangannya yang bercahaya ke dalam celah lorong tersebut. Lorong itu berbentuk tangga batu kuno yang telah berlumut, dengan dinding-dinding yang dipenuhi oleh ukiran relief kuno yang telah usang dimakan waktu. Bentuk ukirannya sangat berbeda dengan kebudayaan Klan Kabut maupun sihir hitam milik Gorgan.

"Ini adalah jalan kuno," gumam Dion, matanya menyipit tajam mempelajari simbol-simbol di dinding lorong. "Melihat arah hembusan anginnya, lorong ini memiliki aliran udara dari dunia luar. Ini satu-satunya pilihan kita jika tidak ingin mati lemas di ruangan ini."

Mayang menatap Dion dengan pandangan yang sarat akan kekhawatiran. "Tapi kita tidak tahu apa yang ada di ujung bawah sana, Dion. Bagaimana jika ini adalah jebakan lain dari Sekte Bayangan Darah?"

Dion membalikkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam sepasang mata indah Mayang. Tangan besarnya bergerak maju, menggenggam jemari tangan Mayang yang dingin dengan remasan yang erat, hangat, dan penuh dengan janji pelindung yang mutlak. "Selama tanganmu berada di dalam genggamanku, Mayang... tidak akan kubiarkan kegelapan bawah tanah ini menyentuh atau melukaimu sedikit pun. Jika ada iblis di bawah sana, maka iblis itu harus membunuhku terlebih dahulu sebelum bisa melangkah mendekatimu."

Mendengar kalimat sakral yang keluar dengan begitu intens dari bibir pria yang teramat dicintainya itu, dada Mayang seketika berdesir hangat. Jerat gairah dan ikatan batin yang telah terjalin di antara mereka selama masa-masa sulit ini terasa semakin mengikat kuat jiwanya. Ia mengangguk pelan, mempererat remasan tangannya pada jemari kokoh Dion. "Aku percaya padamu, Dion. Bawa aku ke mana pun kamu melangkah."

Dengan Dion yang berjalan di depan sebagai perisai utama dan tangan yang tetap menggenggam erat Mayang di belakangnya, mereka berdua mulai melangkah turun menapaki satu demi satu anak tangga batu yang licin menuju kegelapan bawah tanah yang misterius.

Setiap langkah yang mereka ambil terasa begitu sunyi, hanya diiringi oleh suara tetesan air tanah yang jatuh membentur batuan gua. Suasana di dalam lorong kuno itu terasa semakin dingin, hingga embusan napas mereka berdua mulai mengeluarkan asap putih tipis ke udara.

Namun, baru berjalan sekitar beberapa puluh meter menuruni tangga, Dion mendadak menghentikan langkah kakinya dengan gerakan refleks yang sangat cepat. Tangan kirinya bergerak ke belakang, menahan tubuh Mayang agar berhenti di tempatnya.

"Dion? Ada apa?" bisik Mayang dengan jantung yang kembali berdegup kencang.

Dion tidak langsung menjawab. Matanya menatap tajam ke arah dinding batu di depan mereka. Pendar kabut ungunya menyingkap sesuatu yang mengerikan di atas permukaan dinding lorong. Puluhan simbol mata satu yang menangis darah—lambang asli Sekte Bayangan Darah—tampak terukir segar di sana, dan dari sela-sela ukiran tersebut, mengalir darah merah segar yang masih hangat, menetes membasahi anak tangga di depan mereka.

Bukan itu saja, dari kegelapan lorong terdalam di bawah sana, terdengar suara langkah kaki yang sangat berat, lambat, namun beritme konstan, seolah ada sesuatu yang berukuran sangat besar sedang berjalan naik mendekati posisi mereka berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!