Perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebetulan Atau Apa?
Jam sudah menunjukkan ibadah akan dimulai, Pendeta dan para pelayan gereja itu berjalan berjejer dari ruangannya menuju gedung gereja.
"Astaga....." ucap Elisya saat melihat mereka semakin mendekat. Ia berlari masuk ke dalam gereja. Dan tentu saja, kursi kursi gereja sudah dipenuhi oleh jemaat. Apalagi itu adalah ibadah pagi, selalu lebih ramai dibandingkan sesi siang ataupun sore.
"Aduh...... Kemana ini?" tanya Elisya bingung tak tau dimana harus duduk.
Tepat di jejeran kursi paling pinggir ternyata masih ada yang kosong. Ia berjalan cepat ke sana, dan langsung duduk.
Ting..... Ting..... Ting.....
Bel gereja berbunyi tanda acara ibadah akan segera dimulai. Sebelum dimulai selalu diawali doa dalam hati masing-masing dipimpin oleh pelayan dari depan.
Elisya melipat tangannya dan berdoa sesuai instruksi yang diberikan pelayan itu. Acara ibadah pagi itu dinikmati oleh Elisya. Meskipun ada rasa kesal di dalam hatinya tapi itu seketika hilang oleh hangatnya suasana di dalam gereja itu.
Sesi persembahan dimulai sebelum khotbah yang akan disampaikan pendeta. Kantong persembahan berpindah dari satu jemaat ke jemaat lainnya dengan tertib. Suasana gereja tetap tenang, diiringi nyanyian dan musik yang lembut.
Elisya menerima kantong persembahan dari orang di depannya, karna ia duduk paling pinggir. Setelah memasukkan persembahannya, ia akan meneruskannya ke sebelah kanannya.
Sambil tersenyum ia menyerahkannya, tapi saat menoleh matanya membesar.
"Eh....."
Di sebelah kanannya, duduk laki laki yang tadi tidak sengaja ditabraknya di halaman gereja. Mereka dipisahkan oleh satu orang perempuan yang duduk tepat di samping Elisya.
Laki-laki itu belum menyadarinya bahwa ada perempuan yang menabraknya tadi duduk sebangku dengannya.
Elisya sedikit buru buru memalingkan pandangannya ke depan, berusaha fokus pada ibadah.
Di sisi lain, laki- laki itu tampak tenang. Ia menerima kantong persembahan itu lalu meneruskannya ke jemaat berikutnya.
Sesi persembahan itu berakhir, kantongnya dikumpulkan oleh pelayan gereja ke depan. Dan sekarang saatnya memasuki khotbah.
"Syalom....." sapa pendeta itu pada jemaat setelah selesai berdoa.
"Syalom......" suara jemaat terdengar serentak saat menjawabnya.
"Sebelum saya bawakan firman renungan pagi ini, kita salam dulu kanan kiri kita." ajak pendeta itu kepada seluruh jemaat.
"Mari kita berdiri sejenak dan berikan salam damai kepada orang-orang di sekitar kita," ucapnya dari mimbar.
Suasana gereja yang semula tenang mendadak dipenuhi suara kecil. Jemaat saling tersenyum, berjabat tangan dan mengucapkan salam.
Laki-laki itu berdiri dan terlebih dahulu menyalam jemaat yang berada di sebelah kirinya.
Setelah itu, ia beralih ke kanan. Dia menyalam perempuan yang di sampingnya. Saat itu, ia melihat wajah orang yang berdiri di samping perempuan yang sedang disalamnya.
"Dia.....?" ucapnya dalam hati sambil menatap Elisya.
"Selamat hari Minggu, Ka....." ucap perempuan itu berpindah saat ingin menyalam Elisya.
"Oh.... Selamat hari Minggu." balas Elisya sedikit canggung.
Elisya langsung duduk setelah selesai menyalam perempuan tadi yang berada di samping kanannya.
Semua jemaat akhirnya duduk.
"Sudah semua?" tanya pendeta dari depan.
Laki-laki itu menoleh ke arah Elisya, dan Elisya menyadari bahwa ia sedang dilihat oleh laki- laki itu. Tapi ia pura-pura tidak tau dan duduk lebih tegak memandang ke depan.
Pendeta mulai menyampaikan renungan pagi itu. Tema yang diangkat adalah tentang kasih. Kasih yang tidak hanya diucapkan, tapi juga ditunjukkan melalui tindakan, kesabaran, dan kepedulian kepada sesama.
Suara pendeta terdengar hangat dan tenang, membuat suasana gereja semakin menjadi khidmat.
Beberapa jemaat mengangguk- anggukkan kepala mendengar setiap penjelasannya. Ada pula yang sesekali tersenyum saat pendeta menyelipkan ilustrasi ringan dalam khotbahnya.
Elisya berusaha fokus mendengarkan. Tapi di tengah khotbah, perempuan yang duduk diantara dia dan laki- laki-laki itu berbisik pelan meminta izin untuk lewat.
"Ka, permisi sebentar. "
Elisya segera menggeser kakinya agar perempuan itu bisa keluar.
"Iya, Ka."
Perempuan itu pun berjalan menuju luar ruangan. Setelah ia keluar, otomatis tempat itu menjadi kosong. Kini Elisya dan laki- laki-laki itu duduk tepat berdampingan.
Elisya yang menyadarinya sedikit merasa canggung. Mungkin karna rasa kurang enak setelah menabraknya tadi.
Di sampingnya, laki-laki itu tampak menyadari perubahan itu. Ia sempat melirik sekilas lalu kembali mengarahkan pandangan ke depan.
Pendeta di mimbar terus menjelaskan tentang pentingnya memperlakukan orang lain dengan kasih dan ketulusan.
Elisya tanpa sengaja menoleh ke arahnya, dan ternyata laki- laki itu juga menoleh. Mereka hampir bertatapan lagi tapi Elisya buru- buru mengalihkan pandangannya ke mimbar.
Perempuan yang tadi keluar kembali lagi. Ia berjalan membungkuk sedikit agar tak menganggu jemaat lain yang sedang mendengarkan khotbah.
"Ka, kaka aja yang geser masuk. Biar saya duduk di pinggir." bisiknya pada Elisya.
Tak sempat merespon lebih, Elisya menggeser posisi duduknya. Sekarang dia duduk tepat di samping laki- laki itu.
Laki- laki itu melirik sekilas dan mengarahkan pandangannya lagi ke depan dengan senyum tipisnya.
Tiba-tiba pendeta meminta jemaat membuka satu bagian ayat. Hampir bersamaan, Elisya dan laki- laki itu menunduk mencari ayat yang dimaksud. Gerakan itu terlalu serempak, siku mereka tanpa sengaja bersentuhan. Keduanya langsung saling menoleh.
"Maaf," bisik laki- laki itu.
"Ngak apa-apa." balas Elisya.
Sesi ibadah itu berlanjut lagi sampai penutupan. Mereka berdua tetap bisa mengikutinya dengan baik.
Saat jemaat sudah beranjak dari kursi masing-masing, Elisya buru- buru berdiri dan ingin keluar dari kursinya tapi tanpa sengaja jemaat yang ingin lewat menyenggolnya. Hingga ia sedikit terdorong ke belakang.
"Eh....!!" laki-laki itu langsung menahannya agar tak terjatuh.
"Tunggu sebentar lagi aja. Masih rame." ucap laki laki itu.
Elisya kembali duduk, menunggu sampai ia bisa keluar. Jemaat itu mulai sepi. Elisya kembali berdiri dan hendak ingin melangkah.
"Selamat hari Minggu." ucap laki- laki itu dari belakangnya membuat Elisya berhenti.
Elisya menoleh ke belakang dan melihat tangan laki- laki itu sudah terangkat.
"Selamat hari Minggu." jawab Elisya menerima tangan itu.
Habis itu, Elisya langsung pergi keluar meninggalkan laki- laki itu yang masih duduk.
"Elora kemana sih?"
Elisya mencoba menghubungi Elora tapi tak diangkat.
Elisya : Kamu dimana sih??"
Elisya akhirnya mengirimkan chat pada Elora. Tapi hasilnya tetap sama, hanya terkirim tanpa balasan bahkan tak dibaca sama sekali.
"Ini nih yang buat aku malas. Ditinggalin gitu aja. Katanya tadi sebentar. Kalo udah gini, trus aku harus gimana?" gerutu Elisya sendiri.
"Ka, uangnya jatuh." ucap seorang pria padanya tiba-tiba.
Elora reflek melihat ke bawahnya, sebenarnya dia tak percaya bagaimana bisa uangnya jatuh dari tasnya.
Elisya mengernyit bingung.
"Bercanda, Ka......." ucapnya lagi tiba-tiba.
Elisya semakin heran dengan tingkah pria itu. Tak mengerti apa tujuannya.