Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau Wanita Paling Beruntung
“Renald, aku sudah tiba di bandara.”
“Langsung ke kantor.”
“Oke.”
Hari ini adalah hari kedatangan Feri, asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan Renald yang baru saja dipindahkan dari pusat perusahaan di luar negeri.
Ia sudah lama menjadi tangan kanan Renald, mengenalnya bukan hanya sebagai atasan, tetapi juga sebagai sahabat.
Namun, meski ada persahabatan di antara mereka, Feri tetap menaruh rasa hormat yang besar. Renald baginya tetaplah seorang bos yang tidak bisa disamakan dengan pria lain.
Saat melangkah masuk ke ruangan kerja Renald, Feri mendapati sesuatu yang membuat langkahnya tertahan. Di atas sofa yang cukup balik besar itu, Renald tidak sedang sendirian. Ada seorang wanita di sebelahnya, duduk dengan ekspresi tak nyaman.
Kening Feri berkerut. Siapa wanita itu? Sejauh yang ia tahu, Renald tidak pernah membawa perempuan ke ruang kerjanya.
Bahkan wanita yang mencoba mendekati Renald terdahulu pun tidak ada yang berani tampil sedekat ini di depan mata orang lain. Wanita itu jelas bukan orang biasa bagi Renald.
Takut mengganggu suasana yang terkesan tegang dan intim, Feri memilih mundur pelan, menutup pintu kembali, lalu menunggu di luar hingga gadis itu keluar.
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Wanita itu—yang tak lain adalah Kinara—melangkah keluar dengan wajah menunduk, seakan membawa beban yang berat. Hanya sekilas tatapan yang singgah, lalu ia berlalu tanpa suara.
Begitu keadaan kembali tenang, Feri pun masuk. Ia berdiri tegak di hadapan Renald, menahan rasa ingin tahunya yang membuncah.
“Siapa gadis itu, Ren?” tanyanya hati-hati.
Renald bersandar di sofa, menautkan jemari dan tersenyum tipis. “Aku akan jelaskan. Duduklah.”
Dan mulailah Renald menceritakan semuanya dari awal—tentang pertemuannya dengan Kinara, tentang hutang yang mengikatnya, tentang hubungan yang tidak sepenuhnya jelas apakah itu transaksi atau… sesuatu yang lain.
“Wanita yang malang,” gumam Feri lirih, nyaris tak terdengar.
Namun, telinga Renald cukup tajam. “Apa katamu?” tanyanya cepat.
Feri menggeleng. “Tidak, hanya… apa rencanamu selanjutnya terhadap wanita itu?”
“Tentu saja aku akan tetap bersamanya,” jawab Renald tenang, namun nada bicaranya dingin. “Hingga aku bosan. Dan aku ingin ia menjadi sekretaris pribadiku.”
Feri menatap bosnya itu lama, lalu menarik napas. “Hati-hati, Ren. Jangan sampai kau justru jatuh cinta padanya.”
“Itu tidak mungkin.” Renald menjawab dengan tegas. Menurutnya, Kinara hanyalah pelipur sementara. Cepat atau lambat, ia pasti akan bosan.
Namun, Renald juga tahu bahwa untuk memastikan keinginannya berjalan mulus, ia membutuhkan sesuatu yang lebih kuat. Sebuah surat perjanjian.
•••
Hari ini, Kinara memutuskan untuk pulang lebih awal. Ia berniat membeli beberapa perlengkapan yang masih kurang di apartemennya. Namun, begitu membuka pintu, langkahnya terhenti.
“Ka-kau… apa yang kau lakukan di sini? Dan… apa ini semua?” serunya terperangah.
Apartemennya kini dipenuhi barang-barang baru—sofa elegan, tempat tidur besar, peralatan memasak lengkap, bahkan perabotan kecil lain yang terlihat serba mahal.
Kinara menatap semua itu dengan bingung. Ia tahu pasti, dirinya tidak pernah membeli apapun.
Renald berdiri santai di tengah ruangan, seolah ini memang tempat miliknya. “Ini semua untukmu. Anggap saja… bayaran atas apa yang kau berikan padaku.”
Wajah Kinara memucat. Ia merasa terjebak semakin dalam, dengan permainan pria ini.
Renald mendekat, menatapnya dengan senyum yang membuat Kinara bergidik. “Oh ya… kasur ini,” katanya sambil menunjuk ke arah ranjang baru. “Tempat tidur lamamu sepertinya hampir roboh. Mungkin kalau aku melakukannya sekali lagi di sana, kayunya akan benar-benar patah.”
“Renald!” Kinara berteriak, mendorongnya. “Menjauh dariku!”
Renald mengangkat alisnya, wajahnya berubah dingin. “Kau berani berteriak padaku? Lupa kah kau dengan uang sepuluh miliar yang sudah kau pinjam?”
Kinara terdiam. Kata-kata itu seperti belenggu yang melilit lehernya.
“Atau begini saja,” lanjut Renald, kali ini suaranya lebih rendah namun menusuk. “Kita buat surat perjanjian. Jika kau bisa mengembalikan uang itu dalam waktu setengah tahun, kau bebas. Tapi selama belum, kau harus selalu datang padaku kapanpun aku mau.”
“Aku nggak mau!” Kinara menolak bulat-bulat.
Renald mendengus. “Baiklah. Kalau begitu, aku akan menuntutmu karena melanggar syarat pinjaman. Jangan lupa, kau sendiri yang datang menemuiku di hotel Aston, kamar 108, malam itu. Kau sendiri yang setuju.”
Kinara terperanjat, tubuhnya kaku. Air mukanya murung, namun bagi Renald, ekspresi itu justru tampak… menggemaskan.
“Tapi tenang,” ucap Renald dengan senyum miring. “Aku bukan orang sekejam itu. Aku akan tetap membayarmu meski kau hanya melakukan tugasmu padaku.”
“Dan bila aku tidak bisa melunasi dalam enam bulan?” Tanyanya hati-hati.
“Kalau begitu… kau akan jadi milikku. Selamanya.”
Dadanya terasa sesak. Bagaimana bisa ia harus hidup di sisi pria seperti Renald seumur hidupnya dan menjadi pelampiasan nafsu? Ia juga ingin, seperti wanita lain, memiliki rumah sederhana dan keluarga kecil yang bahagia.
Dengan sisa keberanian, ia berkata lantang, “Baik! Aku akan bekerja keras. Aku akan melunasi hutangku padamu.”
Renald hanya tersenyum sinis. Ia tidak percaya Kinara bisa mengumpulkan uang sebesar itu. Namun, ia tetap menuliskan sebuah surat perjanjian.
Dengan terpaksa, Kinara menandatanganinya. Tak ada satu pun pasal yang menguntungkan dirinya. Kini ia hanya bisa memikirkan cara untuk mencari uang sebanyak mungkin, secepat mungkin.
Renald pergi dengan perasaan puas setelah mendapat tanda tangan itu.
Begitu pintu menutup, Kinara jatuh terduduk di sofa baru itu. Ia memandang barang-barang mewah di sekelilingnya dengan mata panas.
Saat itu juga, matanya tertuju pada satu sofa melengkung yang jelas ia tahu. Ia pernah melihat sofa itu di salah satu film panas.
Seketika wajahnya memerah. “Renald sialan…!” untuk pertama kalinya Kinara mengumpat nama bosnya.
Setelahnya, ia pun mulai membereskan apartemennya. Kasur lama ia keluarkan dengan bantuan petugas kebersihan.
Beberapa barang dari Renald, termasuk sofa yang menurutnya tak berguna itu ia ketepikan. Hingga satu jam berlalu, Kinara pun akhirnya menyelesaikan tugasnya.
Di tengah rasa lelahnya, ia merasakan perutnya berbunyi. Setelah merasa tak ada lagi tenaga untuk membeli makan dari luar, ia memutuskan untuk makan malam sederhana hanya mie dan telur. Sambil mengunyah, pikirannya penuh dengan kekhawatiran, tapi juga tekad.
“Sabar, Kinara. Hanya enam bulan. Setelah itu kau bebas,” bisiknya pada diri sendiri.
Pagi berikutnya, Kinara datang ke kantor lebih awal. Ia merasa lebih segar setelah tidur nyenyak semalam, meski pikirannya masih kacau.
Namun, setibanya di kantor, ia mendapati banyak tatapan aneh dari rekan-rekan kerjanya. Ada yang menatap sinis, ada pula yang berbisik-bisik.
“Apa ada yang salah dengan wajahku? Atau pakaianku?” gumamnya gelisah.
Tak lama, Gisella, sahabat kerjanya, berlari kecil menghampiri. “Kinara!”
“Gisel, ada yang aneh denganku? Kenapa semua orang menatapku?” Bisiknya mencoba bertanya.
“Bukan wajahmu yang salah,” jawab Gisella sambil tersenyum kecut. “Mereka hanya iri. Kau akan dipindahkan.”
“Dipindahkan? Maksudmu?” l
Belum sempat Gisella menjelaskan, seorang staf datang, menyampaikan bahwa kepala bagian memanggilnya.
“Benar, Kinara,” ucap kepala bagian saat ia masuk. “Mulai hari ini kamu akan dipindahkan menjadi sekretaris pribadi Pak Renald. Ini permintaan langsung dari beliau.”
Kinara membelalak. “Tapi… bukankah beliau sudah punya sekretaris, Pak?”
“Itu sekretaris untuk urusan luar. Kamu diminta menjadi sekretaris yang selalu berada di sisinya, mengurus kebutuhan pribadinya.”
Kepala bagian sendiri tak paham alasan Renald, tapi ia enggan mempertanyakannya lebih jauh. “Sudah, jangan banyak tanya. Segera bereskan barangmu. Pak Renald tidak suka menunggu.”
“Baik, Pak,” jawab Kinara lesu.
Saat kembali ke meja kerjanya, Gisella langsung memeluknya. “Kinara! Aku iri padamu. Kau wanita paling beruntung. Siapa yang tak ingin dekat dengan Pak Renald setiap hari?”
Kinara nyaris kelepasan. “Beruntung darimana, Gisel? Dia itu sering…” Ia buru-buru menutup mulut, hampir saja membongkar semuanya. “Sudahlah. Kau tetap baik-baik di sini. Walau kita jarang bertemu, nanti waktu istirahat tetap ajak aku makan ke kantin, ya. Telepon aku.”
Gisella mengangguk ceria, tidak menyadari betapa berat hati Kinara.
Sementara itu, dalam hati, Kinara hanya bisa merutuki nasibnya. Menjadi sekretaris pribadi berarti ia akan semakin sering berada di dekat Renald. Dan itu sama saja dengan menjerumuskan dirinya lebih jauh ke dalam cengkeraman pria itu.